“Barang siapa yang
beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata baik atau diam
(HR. Bukhari & Muslim)
Berapa banyak kata yang terlontar
dari lisan kita dalam sehari? Adakah yang bisa menghitungnya? Kebanyakan kita
tentu tak mampu menghitung jumlah kata yang telah terucap, okelah. Lalu,
seberapa bermanfaatkah ucapan-ucapan kita yang tak terhitung itu? Adakah
mengandung banyak kebaikah dan manfaat yang bisa menambah pundi-pundi pahala
kita? ataukah justru menambah pundi-pundi dosa yang sudah tak terhitung?
Ah.. terlalu banyak tanya yang
tak sanggup kujawab. Beginilah jika diri masih selalu abai pada nasihat-nasihat
agama. Bukankah Rasulullah telah menasihatkan untuk cukup berucap yang
baik-baik, dan jika tak mampu berucap yang baik maka diamlah. Inilah nasihat
agama yang sering terabaikan. Sehingga tanpa sadar banyak yang terluka akibat
permainan kata yang tak terkontrol.
Berpikirlah sebelum berucap. Apakah
yang akan kita ucapkan ini akan membawa manfaat dan kebaikan atau justru akan
menjadi dosa? Adakah yang akan tersakiti jika aku berucap demikian? Pertimbangkan
segala kemungkinan sebelum kalimat itu terlontar. Sekali sudah terucap, maka
sulit untuk memperbaikinya.
Mengontrol ucapan bukan perkara
mudah. Seringkali ucapan itu terlontar dengan spontan, dan tersadar setelah
ucapan itu terlanjur melukai orang lain. Karena itulah pentingnya membiasakan
diri dengan ucapan yang baik. Jika sejak kecil kita hanya terbiasa dengan
kata-kata yang baik, maka sulit bagi kita berucap yang buruk-buruk. Kembali pada
pembiasaan.
Adakalanya diam adalah yang terbaik
meski kita tahu segalanya. Diam adalah pilihan walau sebenarnya kita mampu
mendebat, karena kita sadar bahwa ucapan kita tak akan bermanfaat. Maka bijaklah
dalam berucap, paham kapan harus bicara dan kapan harus diam. Sebuah pepatah
arab mengatakan:
“Barang siapa yang
diam maka selamatlah ia”
Hal lain yang harus kita ingat,
bahwa tulisan mengambil hukum ucapan. Maka berhati-hatilah saat harus menulis,
apalagi di sosmed. Berpikirlah sebelum melepas sebuah status atau memberikan
komentar, pikirkan baik dan buruknya. Jangan sampai tulisan kita memberi dampak
negative.
Ketahuilah, dalam banyak situasi
diam seringkali menjadi pilihan terbaik. Dengan diam, kita bisa selamat dari
banyak kemungkinan buruk. Maka pandailah membaca situasi.
Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost
Pekan Ke-5: Hari Ketiga

2 komentar:
Untunglah aku pendiam, Mbak.
Sekali sudah terucap, tidak bisa ditarik kembali.
Kalo soal menulis, mungkin harus berpikir matang-matang ya, Mbak. :D
Terima kasih telah mengingatkan.^^
Adakalanya kita harus diam juga berkata. Betul, kaka... kita harus pandai dalam membaca situasi.
Posting Komentar