Senin, 07 Maret 2016

Who am I?

Part 1: Metamorfosis Sebuah Nama

Perkenalan diri. Ini tema pekan kedua di ODOP. Sesuatu yang selalu membuatku tak tenang jika diminta melakukannya. Aku tak sepandai kebanyakan orang memperkenalkan dirinya. Tak tahu apa yang harus kuperkenalkan, ini alasan sebenarnya. Kalau sekedar memperkenalkan nama, mudah saja. Namaku Muallimah. Nama panggilan, aku mulai bingung dengan pertanyaan ini, entah harus bilang apa. Tapi setidaknya, menulis sedikit lebih mudah dibanding harus menjelaskan secara lisan. Menulis adalah cara terbaik mengungkapkan segalanya, tak akan ada yang bisa membatasi dan protes. Selama tidak menyangkut kehidupan orang lain, ‘mereka’ tidak akan terusik.

Muallimah yang berarti ‘Guru’, nama yang disematkan kedua orangtuaku. Bukan sekedar nama, tapi sebuah do’a dan harapan dari mereka yang menyayangiku. Nama yang akhirnya mengembalikanku pada cita-cita masa kecil, menjadi seorang guru. Cita-cita yang telah terkubur lama dan berganti dengan seabrek cita-cita baru. Tapi nama itu, mungkin menjadi do’a yang ijabah karena telah diucapkan oleh orang-orang yang do’anya terijabah. Sejalan dengan orangtua yang memberikan nama itu dengan ketulusan dan harapan. Adakah yang bisa mengalahkan kekuatan ini? Baca selengkapnya di arti sebuah nama.

Kembali perihal nama panggilan. Nama indah ini akhirnya bermetamofosis menjadi serangkaian nama dengan sejarahnya masing-masing. Mulai dari Muallimah, ima, mu’el, Mu’ sampai beberapa nama yang tak nyambung pun juga ada. Katanya panggilan sayang. Semoga. Dan aku lebih suka dipanggil Muallimah, meski jarang yang memanggilku demikian. yang setia dengan panggilan itu hanya beberapa, termasuk yang memberikan nama, orangtuaku. Juga orang-orang yang baru mengenalku. Awalnya mereka akan memanggilku dengan nama lengkap, karena saat berkenalan aku tak pernah menyebut nama panggilan kecuali saat diminta. Seiring berjalannya waktu mereka akan mulai mengeluh dan bertanya, “Muallimah terlalu panjang, panggilannya apa sih?” Aku sudah tahu, akhirnya akan begini. Siklus yang tak berubah. Maka mulailah mereka memilih nama yang mereka lebih nyaman, dan memanggilku dengan nama itu.

Mamaku pernah komentar soal nama anak-anaknya yang terasa asing di kupingnya. “Kenapa nama kalian jadi seperti itu? Padahal mama sudah pilihkan nama yang bagus-bagus untuk kalian,” dan aku lemparkan kesalahan pada mereka yang ‘entah’, mereka yang telah memodifikasi nama kami sampai seaneh itu bagi mama.

Jadi begini, aku dan kedua adikku yang masng-masing berjarak dua level sekolah di tempat yang sama. Sebuah sekolah berasrama. Aku kelas sebelas, Humairah kelas sembilan, dan si bungsu Muzakkirah kelas tujuh. Jadilah tiga nama indah ini berkeliaran di sekolah yang sama, Muallimah, Humairah, dan Muzakkirah. Sekali lagi, nama yang menjadi do’a dan harapan dari orangtua kami. Sayangnya, dengan sejarahnya masing-masing, nama ini bermetamorfosis. Muallimah jadi Mu’el, Humairah jadi Humer, dan Muzakkirah jadi Muzek. Dan satu sekolah akrab memanggil kami dengan nama-nama baru ini. Saudara dan keluarga lainnya pun ada yang mulai memanggil kami dengan nama-nama ini.

Bagaimanapun orang-orang menyingkat atau memplesetkan nama kami. Mamaku, sosok yang tetap selalu setia memanggil kami dengan nama pemberiannya. Dia tak terpengaruh siapa pun. Baginya, nama kami adalah apa yang telah mereka sematkan sejak kami harus diberi nama. Sekali lagi, nama itu adalah do’a dan harapan dari mereka yang amat menyayangimu.


jika berkenan, panggil aku Muallimah. Maka aku akan sangat berterima kasih karena telah mendo’akanku. Lalu bagaimana dengan Aqilah El-Hafizhah? Nama yang kerap kali muncul diakhir setiap tulisanku. Semoga ada waktu untuk membahasnya secara tersendiri.

Akhirnya hanya bisa nulis soal nama, maafkanlah.

Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost
Pekan ke-2: Hari pertama

10 komentar:

Raida mengatakan...

Namanya sangat indah, dan maknanya juga dalem banget..

Nychken Gilang mengatakan...

Kok jadi muzek yah. Muzem online. Hehe bercanda

Ai-Raa mengatakan...

Metamorfosis nama hahaha
call me airaa :v

Juni_Riyanti mengatakan...

Mualimah, nama yang indah

Juni_Riyanti mengatakan...

Mualimah, nama yang indah

Sasmitha A. Lia mengatakan...

Salam kenal mbak Mualimah..^_^

Fika AJ mengatakan...

Wah, nama ketiganya bagus-bagus.^^

Salam kenal ya Mbak Muallimah.^^

Ainayya Ayska mengatakan...

Keren, kaka... top dah

Unknown mengatakan...

Salut utk orangtua mbka Muallimah mereka telah memberikan nama yg indah pada anak2nya.

elsapuspita mengatakan...

Muallimah... nama yang bagus.