Tampilkan postingan dengan label EVERLASTING MEMORY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label EVERLASTING MEMORY. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Maret 2018

Mushaf Kenangan

Suatu sore di bulan Ramadhan, bertahun-tahun lalu, di masjid jami. Aku dan seorang kawan menatap takjub pada seorang jama'ah masjid yang sedang khusyuk mengaji di shaf pertama bagian perempuan. Di tangannya tergenggam sebuah mushaf ukuran sedang dengan lembaran qur'an yang sudah menguning termakan usia. Mushaf model lama, yang tulisannya tebal dan hitam. Yang membuat kami menatapnya sedemikian takjub, ia mengaji tanpa menengok ke mushaf sedikitpun. Mushaf itu hanya dipegang dan dibuka untuk berpindah ke lembaran berikutnya. Ia menghafalnya dengan sangat lancar. Beliau memang dikenal sebagai hafizhah.

Kala itu kawanku bergumam, "Wah, coba lihat mushafnya, kertasnya sudah kuning. Mungkin karena sudah lamanya ia menggunakan mushaf itu."

"Mungkin sudah sangat nyaman menghafal dengan satu mushhaf saja"

Demikian kira-kira percakapan kami kala itu. Lalu ide itu tiba-tiba muncul. Ide untuk mengikuti jejak beliau untuk bertahan menghafal dengan satu mushaf sampai kapanpun. Kami pun melirik Al Qur'an masing-masing, dan sepakat bahwa mushaf itulah yang akan terus kami pakai selama menghafal.

Sore itu kami bertekad menggunakan mushaf yang kami pegang saat itu. Teriring harapan,  semoga esok kami juga bisa menghafal seperti beliau.
Kejadian bertahun lalu yang selalu lekat dalam ingatan. Setiap menatap mushaf hafalanku, ingatan itu kembali terputar dengan sendirinya.

Iya, sampai detik ini, setelah sekitar sepuluh tahun berlalu, Aku masih dengan mushaf yang sama sore itu. Mushaf yang masih setia menemani perjalanan muraja'ahku yang berjalan merangkak. Saat menatapnya kadang tanya menggema, "kapan aku bisa melancarkan hafalanku seperti anganku sore itu?"



Tanya yang tak berujung jawab. Hanya do'a yang bisa kurangkai panjang, berharap akan tiba saa Dia mengijabah. Sambil melihat setiap ikhtiar yang masih diperjuangkan.

***

Kau yang bersamaku sore itu, masih ingatkah moment ini? Atau hanya diri ini yang terjebak dalam kenangan lama yang sudah usang.

Aqilah El-Hafizhah

Minggu, 14 Mei 2017

Saat-Saat Terakhir Bapak

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati"
(QS. Al-Anbiya': 35)

Cara terbaik memaknai kematian itu adalah saat kita ditinggal orang yang teramat dekat dengan kita. Saya percaya bahwa setiap kita akan mati. Kematian demi kematian terjadi di sekitarku, bagaimana bisa saya tak percaya? Tapi, untuk memaknai hakekat kematian itu, saya belajar saat orang terkasih harus pergi meninggalkanku. 

Kematian Bapak. Membuatku untuk pertama kali sadar sesadar-sadarnya bahwa dia tak akan kembali lagi. Bahwa saat seseorang meninggal, maka itulah batas akhir kebersamaan kita di dunia. Sebesar apapun rindu kita padanya, Ia tak akan kembali lagi. Hanya do'a yang bisa kita kirimkan untuknya.


***

Sudah lewat pukul 22.00 malam itu. Saya dan teman kelompokku sudah hampir selesai membereskan sisa buka puasa dan makan malam di masjid Jami'.

Kami dikagetkan oleh motor yang tiba-tiba berhenti tepat di depan kamar mandi masjid, tempat kami sedang mencuci piring. Lampu yang remang-remang membuat kami sulit mengenali siapa yang datang.

"Ada Ima?"

Saya mengenal suara itu, dan memang namaku yang disebut.

Dengan perasaan tak karuan saya beranjak menemuinya.

"Kondisi bapak makin buruk, bagian kakinya sudah mulai dingin. Saya sudah minta izinkan untuk pulang. Mari saya antar balik ke kampus, nanti pulang jalan kaki saja sama Ira," ucapnya buru-buru.

Tanpa diperintah lagi saya bergegas untuk pamit pada ketua kelompokku setelah memberikan penjelasan singkat.

Pikiranku kacau sepanjang jalan, kemungkinan buruk mulai terpikir. Saya teramat takut.

Karena jarak masjid Jami dan kampus puteri cukup dekat jika ditempuh dengan motor,  kami sampai lebih cepat.

"Saya pulang duluan, yah. Kamu tinggal pamit sama pembinamu."

Saya hanya mengangguk, belum sanggup bicara.  Lalu bergegas ke kamar setelah kakakku pergi. Kudapati Ira menungguku, dia sudah siap. Saya hanya mengganti isi tas dengan beberapa barang yang mau kubawa.

Dengan buru-buru saya pamit dengan teman kamar yang dari tadi menatap kami iba. Lalu mempercepat langkah ke kamar pembina untuk pamit.

Sepanjang jalan pulang tak ada percakapan antara saya dan adikku. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

Rumah kami masih dalam kompleks Pesantren Darul Istiqamah sehingga tak butuh waktu lama untuk tiba di rumah.

Sampai di rumah saya langsung ke kamar bapak. Mama dan beberapa kakakku duduk di samping bapak. Semua saudaraku sudah berkumpul, kecuali Kak Liman yang saat itu masih menempuh pendidikan di Pakistan. Hanya mendapat setiap informasi  lewat telepon.

Saya duduk bersandar di lemari. Menatap tubuh bapak yang berbaring dengan infus di tangannya. Kondisi yang sama sejak sembilan hari yang lalu. Baring tanpa gerakan, suara, dan mata yang tak sekalipun terbuka. Stroke telah mernggut semuanya. Perlahan air mataku mengalir, lalu sesegukan dengan tangis tertahan. 

Tak sanggup menyaksikannya saya bergegas keluar.  Terus menangis di kamar sebelah hingga tertidur karena letih.

* * *

"Sholah, sholatullail. Sholah, sholatullail. Jam sudah menunjukkan pukul satu lewat lima puluh menit. Sepuluh menit lagi shalat lail akan dimulai."

Saya terbangun oleh suara speaker masjid yang membangunkan warga untuk shalat lalil.  Saya langsung ke kamar bapak. Mama dan semua kakakku terlihat masih di kamar.

"Ada yang mau ke masjid shalat lail?"

"Bagaimana kita ke masjid sementara kondisi bapak seperti ini? Kaki sampai lututnya sudah dingin," jawab Kak Sali.

"Kami ini belum ada yang pernah tidur." Kakakku yang lain mengomentari.

Saya tersadar bahwa kondisi bapak sedang tidak baik-baik saja. Perasaan takut kehilangan kembali hadir.

"Kalian shalat lail jama'ah di rumah saja. Biar saya dulu yang jaga bapak." Mama memerintah.

Kami wudhu bergantian lalu shalat lail berjama'ah. Setiap selesai dua raka'at Kak Mukmin ke kamar bapak mengecek suhu dingin di kaki bapak.

Selesai shalat subuh, seperti hari-hari sebelumnya saya membacakan adzkar pagi ditelinga bapak.

Setelah baca adzkar Mama meminta Kak Mukmin membacakan syahadat di telinga bapak dan yang lain untuk mengaji di sekitarnya agar yang Ia dengar hanya suara mengaji.

Sekitar pukul tujuh kami masih berkumpul di kamar bapak dengan pakaian shalat. Kak Mukmin masih setia membacakan syahadat. Mama melarangnya berhenti.

"Nak, minta maaflah satu-persatu di telinga bapak."

Entah apa yang dipikirkan Mama, tapi dia menginstruksikan kami meminta maaf. Kak Mukmin yang duduk paling dekat memulai. Satu-persatu kami mendekat dan membisikkan maaf.

Air mataku sudah mengalir tiada henti. Tiba giliranku, dengan berat kuucap maaf ditelinganya dengan deraian air mata. Pemandangan makin menyesakkan saat kulihat ternyata air mata bapak juga mengalir deras.  Saya bergetar menahan agar tangisku tidak bersuara.

Ini sudah hari ke sepuluh sejak Ia terbaring kaku tanpa suara, juga dengan mata yang terus tertutup. Tapi pagi ini, saat kami bergantian meminta maaf, air matanya mengalir deras. Tetap tanpa ekspresi. Hanya air matalah yang meyakinkan kami kalau dia mendengarkan.

Kak Mukmin kembali dengan posisi semula. Mentalqin Bapak. Sejak tiba dari Jakarta dia memang terus disamping bapak kecuali jika harus shalat, makan, dan  ke kamar mandi.

Ibu, saudara-saudara, dan beberapa keluarga bapak sudah tiba dari Sidrap. Mereka langsung memenuhi kamar. Saya tidak lagi di kamar. Kak Saidah memintaku mengayun anaknya yang menangis.

Pukul sepuluh lewat beberapa menit Kak Fira memanggilku berulang-uLang. Saya masuk ke kamar bapak terburu-buru.

"Beritahu nenek, bapak sudah pergi," ucapnya sambil menangis.

Air mataku tumpah. Berjalan cepat ke kamar tempat nenek berada.

"Kenapa?" tanteku bertanya lebih dulu melihatku menangis.

"Bapakku sudah pergi," jawabku susah payah disela tangis.

Semuanya bergegas ke kamar. Rumah sudah bergema dengan suara tangis.

Kugendong keponakanku yang masih menangis dari ayunan. Saya ke kamar, semakin terguncang melihat Bapak yang masih dengan posisi yang sama, tapi sudah tak bernyawa. Tak ada lagi tangis tertahan. Semua tumpah melepas kesedihan. Bapak benar-benar sudah tiada.

Suasana duka menghiasi rumah. Bergantian pelayat memadati rumah kami.

Sesuai yang disunnahkan, semua proses dipercepat. Tak ada keluarga lagi yang harus ditunggu.

Bapak dimakamkan setelah shalat zuhur yang dilanjutkan dengan shalat jenazah di masjid pesantren.  Kemudian dimakamkan di pekuburan Pesantren Darul Istqamah.

Hari ketiga Ramadhan bapak menutup kehidupannya. Meninggalkan kami dengan pelajaran-pelajaran tak terhitung. Untuk pertama kalinya saya merasakan pahitnya ditinggal orang terdekat.


Aqilah El-Hafizhah

Senin, 28 November 2016

Peringatan Hari Guru

Hari guru memang sudah lewat, tapi kami baru bisa memperingatinya hari ini. Tak masalah, bahkan harusnya kita tak butuh satu hari paten untuk memperingati hari guru, bukan? Hari ini, tepat saat pelaksanaan Apel pagi yang rutin dilaksanakan tiap hari Senin kami rangkaikan dengan perayaan hari guru. Membuat upacara pagi ini sedikit berbeda dengan apel-apel sebelumnya. 

Sebenarnya cukup sederhana dan biasa, tapi cukup berkesan. Kali ini bukan para santri yang bertugas memimpin berjalannya Apel. Mulai pemimpin upacara, protokol, pembacaan tilawah, pembacaan ayat keyakinan, juga pembacaan do’a, semua dipimpin langsung oleh para guru.

Suasana Apel pagi ini: Senin, 28 November 2016

Seluruh santri berbaris rapi di lapangan, pun tim paduan suara. Yang membuat pagi ini sedikit berbeda karena barisan depan yang biasa diisi santri kini diambil alih oleh para guru yang sudah bersiap menggantikan posisi santri yang biasanya bertugas.

Bagian paling menarik dan mengharukan dari rangkaian apel pagi ini adalah saat pemimpin upacara memberikan nasehat. Kali ini dipimpin oleh Ibu Syamsiah Sa’ad, Ibu manager operasional SPIDI. Singkatnya, di akhir speach beliau mengenang guru-guru yang pernah berjasa mengajar dan mendidik beliau. Mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala jasa mereka. Bahwa tanpa mereka, para guru, beliau tak akan bisa berdiri hari ini seperti yang kami saksikan. Dan masih banyak lagi yang beliau sampaikan. (Lagu tentang guru mengalun lirih mengiringi kalimat-kalimat beliau, membuat suasana pagi ini semakin mengharukan)

Pujian dan ucapan terima kasih ini diucapkan secara langsung pada guru-guru beliau yang sampai hari ini masih berstatus sebagai guru di SPIDI. Menyebutkan nama mereka satu-persatu. Diantaranya ada Ibu Heri, Ibu Fatimah, Ibu Ida, Ibu Dima, mereka yang hingga kini masih setia dengan profesi yang amat mulia. Hari ini mereka menyaksikan satu dari sekian banyak amal jariah mereka berterima kasih dengan tulus. Tentu amat membanggakan dan membahagiakan bagi mereka bisa menyaksikan hari ini.

Sebagai apresiasi terima kasih mereka diundang ke tengah lapangan. Ibu Syamsiah menyerahkan secara langsung bingkisan untuk mereka, sambil bersalaman dan berpelukan. Pemandangan yang mengharukan! Butiran bening mengalir tulus dari mata para hadirin. (music terus mengalun)

Di barisan depan, barisan para guru saya berdiri takzim menyaksikan pemandangan mengharukan ini. Tak kuasa menahan air mata menyaksikan semuanya. Bukan hanya karena peristiwa ini memang  mengharukan. Tapi karena mereka, para guru yang berdiri di tengah lapangan itu, mereka juga adalah guru-guruku. Guru yang amat berjasa membagikan ilmu mereka, memberikan keteladanan seorang guru yang sesungguhnya.

Yah.. mereka, para guru yang dengan bangga selalu kuceritakan tentang mereka pada teman-teman kuliahku; bahwa saya mempunyai guru-guru yang luar biasa. Guru yang mengajari kami dengan tulus. Ah.. butuh tulisan khusus untuk menceritakan mereka. Dalam catatan khusus mungkin.

Barisan bubar, segera kutemui mereka, guru-guruku. Memulainya dari Ibu Ina, guru idola dan fafvoritku. Kusalami dan kucium tangannya. Kupeluk erat beliau. Jujur, baru kali ini saya memeluk beliau seperti ini. ingin sekali kuucap terima kasih tak terkira dan memohon maaf, tapi lidahku seakan kelu. Tak ada sepatah katapun mampu terucap, hanya air mata yang terus mengucur deras. Tapi beliau membisikkan beberapa kalimat yang terus terngiang sampai saat ini. Beliau terus memegang kepalaku dan mengucapkan harapan-harapan beliau padaku. Itulah yang sempat kutangkap dari setiap kalimatnya. Sesaat sebelum para santri ikut bergabung, berlomba menyalaminya.

Aku melangkah, menemui guruku yang lain. Menyalami dan memeluk erat Ibu Fatimah, kami sama-sama menangis. Tanpa kata-kata, hanya ada air mata. Begitu juga dengan Ibu Ida, kusalami dan kupeluk beliau. Sayangnya tak sempat kusalami Ibu Heri, beliau sudah jauh bergabung dengan para santri yang juga sibuk menyalami para guru. Saya memilih menunduk, menyembunyikan muka saat santri-santri menyalamiku. Ah.. saat seperti ini, tak perlu kata-kata untuk menjelaskan perasaan kita, setiap kejadian sudah cukup memberi penjelasan atas suasana hati kami saat ini.

Terima kasih untuk hari ini. Hari yang memberikan kesempatan untukku bisa memeluk erat guru-guruku. Merasakan kembali betapa berjasanya mereka. Semoga kami bisa menjadi salah satu amal jariyah bagi kalian. Mari saling mendo’aakan.


Aqilah El-Hafizhah 

Jumat, 27 Februari 2015

EP V B IS IN MEMORY


Entah mengapa, tiba-tiba aku teringat kalian. Tiba-tiba aku ingin menulis tentang kalian, meski aku tak tahu pasti apa yang akan aku tulis tentang kalian. Mungkin aku rindu sama kalian, mungkin juga, karena aku sedang sendiri dan merasa bosan, maka kalian hadir mengisi ruang kosongku.

                                 

EP V B, ini nama kelas kita. setidaknya nama terakhir yang bisa kukenang, karena tiap semester nama kelas kita pasti berubah, tapi EP V B adalah nama terakhir yang bisa kukenang, sebelum kita menjadi kelas B 1.

            Flashback dikit yah…
Tahun 2012 yang lalu, adalah awal kita memulai langkah pertama perjalanan ini. Awal kita memulai tekad untuk berjuang kurang lebih empat tahun kedepan. Awal yang menjadikan kita saling mengenal, meski belum sedekat seperti sekarang.

Tahun pertama, kita masih berada dalam kelas besar. Dengan seragam yang tentu takkan kalian lupa. Seragam yang paling norak menurutku, jilbab kuning + baju merah + rok hitam J. Tapi pada akhirnya seragam itu menjadi nyaman dipakai, tepatnya kita keenakan memakainya. Seragam itu tetap bisa mengukirkan senyum di wajah-wajah polos kita.

Semester berikutnya, disinilah kita mulai menjadi lebih dekat. Saat kelas kita dibagi dua sesuai stambuk. Kita kelas EP … B,(titiknya diganti sesuai semester J ).

Ada banyak hal yang kadang membuat kita sakit hati dengan kelas ini  (ngaku deh! ) mengapa? Kadang kita merasa ada diskriminasi antara kelas kita dan kelas sebelah (ngerti kan kelas sebelah itu yang mana.. J). Kita bahkan pernah dibandingkan secara jujur oleh seorang dosen bahwa kita ini memang sangat beda dengan kelas sebelah. Katanya personilnya mereka pintar-pintar. Lalu kita?
 Entahlah.. dan apa tanggapan kalian? EGEPE… yang penting happy, hehe.. kalian hebat. Betul banget, ngapain dipikirin? Yang penting enjoy lah.

Sejak kelas dipisah, aku melihat mulai ada banyak pertentangan antara kelas kita dan kelas “sebelah”. Dan secara jujur, kita selalu iri pada mereka, karena mereka selalu terlihat “lebih” dari kita. personil mereka kebanyakan anak-anak kesayangan “ibu”.

Waktu berlalu sangat cepat. Membawa kita pada putaran waktu saat ini. Tak terasa sudah dua tahun lebih kita berjuang bersama. Menyisakan banyak kenangan bersama kalian, entah kenangan macam apa yang sudah terbentuk diantara kita.

Kalian adalah sahabat-sahabatku yang telah menemaniku melewati dua tahun lebih dunia perkuliahan. Waktu yang singkat sebenarnya, tapi cukup berarti buatku. Aku sungguh bahagia pernah mengenal kalian. Melewati banyak hal bersama kalian, belajar dan tertawa bersama.

            Who are we…??

Kelas kita selalu ramai, ada Eki sebagai ketua suku (baca:ketua tingkat) terhebat yang pernah ada. Ketua yang selalu berjuang dan berkorban membala EP V B. selalu menjadi terdepan untuk membela kelas kita.. (hehe… apa gak berlebihan? Udah macam pejuang banget nih eki..) eki yang selalu ceria, sekaligus galau tingkat dewa jika ada masalah dengan si “dia” maka jadilah dia curhat di depan kita semua, dia sangat terbuka. Eki, ketua tingkat kita yang super  cuantik ( dia paling senang kalau dibilang cantik), katanya dia pengen jadi cover novel aku jika nanti aku berhasil nulis novel. Walah.. gak tau kapan tuh terwujud…. J. Udah kelewat panjang mendeskripsikan eki..

Ada Ifah yang… jago banget speakingnya, buat aku jadi iri banget. Paling suka gifo, masang wajah yang sooo imoet banget, dan untung jadinya beneran imut, dan suka membuat kami terpaksa harus menjadi fansnya, meski tak pernah mengidolakannya J. Ada partner setianya, Tari dengan gayanya yang tomboy abis, punya gaya yang sangat berbeda. Bagiku, kamu pribadi yang unik. Mereka partner sejati, bisa dibilang begitu, kalo satunya terlambat masuk kelas, maka yang satunya pasti ikut terlambat. Karena mereka memnang berangkat bareng. Katanya aneh kalau mereka datang tidak telat.. J

Ada Rahmi sebagai personel yang juaranya ketawa, kalau Ami ketawa maka seluruh ruang hanya akan menggemakan suaranya, dunia seolah sudah jadi miliknya… ami, kalau aku ingat kamu pasti aku teringat tawamu J. Soal tawa… ternyata ami punya saingan, Barmawati, yang lebih dikenal dengan intan, aku juga gak ngerti nyambung dimana nama ini bisa jadi Intan. Sosok yang juga punya tawa yang membahana. Tapi maaf, aku tak bisa jadi juri untuk kalian berdua. Intan, pribadi yang serius tapi simpel, kalo ada tugas dia paling gak mau pusinng, katanya santai aja..

Selanjutnya, ada Icha yang kalem banget. Cewek kretif dan rajin. Catatannya selalu menyenangkan dibaca, rapi. Senang banget membuat tempelan2 pembatas dengan beragam warna di binderna. Satu-satunya teman di kelas yang pernah minta kita nulis biodata di buku catatan khusus, care banget kan? Kalo bicara soal icha, maka otomatis kita bakal teringat seorang personel EP V B yang lain. Nisha, dia partnernya icha. Kamana-mana selalu bersama. Sosok bertanggung jawab. Secara tidak langsung sering memudahkan urusannya ketua tingkat, membantu menghubungi dosen misalnya..

Makhluk unik lainnya, dan yang ini yang terunik menurutku. Aya’, dengan gaya terunik di EP V B. sosok yang sempurna bisa membuat kita tertawa ngakak, gokil abis. Hal yang tak pernah luput darinya, bukan Aya kalo ngerjain tugas dan hasilnya hanya 2-3 lembar. Kalo kita buat tugas hanya 2-3 lembar, maka tak usah kaget kalau tugas dia 10-15 lembar, aya’ banget nih… kalau bicara, pasti semangat extra dan heboh. Aya.. kamu cocok banget dengan slogan, ‘gak ada lo gak rame’.

Bicara soal Aya, maka aku teringat teman berantemnya, teman adu mulutnya, sekaligus partnernya.. siapa lagi kalo bukan sosok Wati. Bisa dibilang… dia ini lumayan misterius (cieh… ) dia pernah dijuluki, ‘diam-diam menghanyutkan’. Soalnya, dia keseringan diam, tapi sekali bicara… yah begitulah. Dia sangat pendiam (dari luarnya aja..), tapi kalo kenal dia lebih jauh… ternyata dia lumayan cerewet juga. Dia pemilik catatan kuliah terlengkap di kelas kami.

Masih ada lagi nih personel kelas kami, Imut alias inna. Rajin banget sms cari info soal jadwal n tugas. Ini bukti bahwa kamu masih care sama pelajaran… teman yang baik dan santai banget. Dan kembaran namanya… Mutma, atau kadang hanya dipanggil Mut, tapi kalo Wati yang panggil, kadang buat saya bingung juga, soalnya dia selalu memanggilku dan mutma dengan panggilan yang sam, Mu’. Cewek cantik dan… agak cuek. Paling sering bingung kalo ada tugas, karena ingin mengusahakan yang terbaik yang pada akhirnya gak kesampaian J (yg penting udah usaha, colek aku juga J). Walhasil kami (aku n dia) selalu menyelesaikan tugas paling akhir. Merasa sering diuji kalo ada tugas. Teman seperjalananku pulang-pergi kampus, melewati pinggiran kanal yang… indah (semoga J)

Selanjutnya ada Yurni, paling dikenal dengan dua hal ; make up, dan tab-nya. Ke kampus tanpa pulpen dan buku tak jadi masalah besar baginya, yang penting. Alat make up dan tab-nya gak kelupaan.  Tika, kalau aku bilang Wati itu pendiam maka kamu lebih pendiam lagi. Aku tak tahu banyak tentang kamu karena kamu agak jarang bersuara. Kamu benar-benar pendiam, kawan.

Jumi, mahasiswi transferan dari pertanian. Orang yang paling feminim di EP V B, sekaligus yang paling sibuk. Itu karena dia kerja sambil kuliah. Saking sibuknya, beberapa kali gak mengikuti perkuliahan. Selain Jumi, ada kak Eni yang juga transferan dari Fakultas Ilmu Komputer. Dia ini, bisa dibilang antara ada dan tiada. Bahkan semester ini, ia menghilang tanpa kabar. Meski begitu, dia tetap tercatat sebagai keluarga EP V B.

Dua sosok yang juga sempat hadir menghiasi kelas kita, Noni dan Lela. Noni yang akhirnya memutuskan pindah jurusan kedokteran gigi. Dan Lela, demi memenuhi keinginan ibunya, ia akhirnya beralih ke psycoteraphy (entah tulisannya sudah benar atau.. salah J). Meski hanya setahun bersama kami, kalian tetap bagian dari kami.

Dan sosok terakhir dalam EP V B adalah… aku sendiri, Muallimah. yang kadang nama indah ini bermetamorfosis menjadi Mu’el, Mue’, kak Mue’… dan entah akan menjadi apa lagi nama ini, ada-ada ajha kalian ini. Tapi seorang dari kalian memanggilku dengan cara berbada, meski belum lama kamu memanggilku dengan “Imah..” dan aku suka dengan panggilan ini. Makasih ketua tingkatku yang paling cantik J

Lalu, apa peranku dalam kelas ini? Aku tak cukup pandai menulis tentang diriku. Karena aku tak tahu bagaimana kalian menilaiku. Aku tak tahu, sebagai sosok bagaimana diriku dalam sudut pandang kalian. Maka biarlah kalian yang menilai dan memikirkannya sendiri. Yang pasti… aku adalah bagian dari kalian, bagian dari cerita perjalanan ini, dan bagian dari keluarga EP V B.

Maka cukuplah aku menjadi pengamat buat kalian. Mengamati kalian adalah hiburan tersendiri buat aku. kalian dengan segala keunikan kalian, mampu membuatku senyum sendiri. Kalian, dengan apa adanya… telah membuatku kembali sadar, bahwa kalian adalah sahabat-sahabatku. Setidaknya sahabatku selama aku mngenal dunia kampus. Sahabat yang bersama kalian aku belajar dalam satu kelas.

Kalian,  sahabat yang telah menemaniku melewati putaran waktu yang sebatas empat tahun ini. Yah… kurang lebih empat tahun, inilah batas kebersamaan kita. Dan sebentar lagi, kita akan sampai pada batas akhir kisah perjalanan ini.

Setiap kita punya alasan masing-masing mengapa kita berada di kelas ini. Mungkin ada yang memang pengen jadi guru, seperti saya. Mungkin juga karena keinginan orang tua, atau boleh jadi karena ingin mendalami bahasa inggris. Atau mungkin, awalnya hanya penasaran gimana rasanya jadi mahaisswa, atau.. dari pada nganggur, mending kuliah… (semoga nggak).

Entahlah, apa alasan kalian. Tapi yang jelas, sekarang kita berada dalam kelas yang sama. Maka aku pengen, kita bisa belajar bersama. Tak ada pilihan lain buat kita kecuali belajar sungguh-sungguh. Atau kita akan menyesal di kemudian hari.
Masih ada waktu untuk kita maksimal belajar. Jangan lewatkan masa berharga ini atau kita akan menanggung penyesalan. Meski waktu kita tak banyak lagi, tapi mari kita lebih bersungguh-sungguh lagi dari kemarin-kemarin.

Semerter berikut dan berikutnya lagi tentu akan semakin berat. Maka lebih bersungguh-sungguhlah. Jika semester lalu kita masih kurang serius dan malas-malasan. Maka Lupakanlah bagaimana kita kemarin. Jangan ulangi lagi, dan mari saling bergandengan tangan mengejar mimpi kita. melewati perjalanan ini dengan penuh semangat.

Hingga akhirnya,,, kita akan sampai pada hari kelulusan, garis finish dari perjalanan ini.  Hari di mana kita mengenakan toga bersama, di ruangan yang sama. Yah… aku berharap kita bisa lulus bersama-sama, tak kurang seorang pun. Kita memulainya bersama, maka semoga kita bisa mengakhirinya juga bersama. Aamiin..

Terakhir, aku pengen minta maaf sama kalian. Mungkin karena aku salah menuliskan sesuatu tentang kalian. Maafkanlah kawan, karena aku selalu butuh maaf kalian..

Tulisan gaje… (gak jelas)
Kupersembahkan untuk sahabatku
Di EP VB

Aqilah El-Hafizhah

Minggu, 25 Januari 2015

Mengenang Kalian - Tahfizh Putri Darul Istiqamah



04 November 2007.
Waktu yang tak terlupakan. Tujuh tahun silam saat kita kembali membuat sejarah. Bersama menghidupkan kembali Tahfidzul Quran putri Darul Istiqamah yang sempat vakum selama enam tahun. Dan kita berhasil memulai kembali amal jariah itu, tentu saja berkat keinginan dan kegigihan Ust. Iqbal Coing selaku pimpinan Tahfidz putri. 

Ada banyak perjuangan dan pengorbanan mengiring langkah kita. Pengorbanan pertama itu adalah meninggalkan bangku sekolah. Kita rela meninggalkan bangku sekolah sebagai harga yang harus kita bayar untuk cita-cita mulia menjadi seorang hafidzah. Dan dari sekian banyak santri, ternyata hanya enam belas yang siap dengan resiko ini. Maka bersyukurlah kawan, karena kita salah satu yang terpilih. Kita terpilih untuk berjuang lebih. Kitalah Ashshaabiquunal awwaliin..

Perjuangan adalah harga mati sebuah cita-cita mulia. Mulai dari menyulap gudang menjadi asrama, membuat tempat yang sebenarnya tak layak dihuni lagi menjadi harus layak huni. Mau bagaimana lagi, yang tersisa hanya gudang. Dan tentu saja ada begitu banyak keterbatasan lain yang membuat kita harus tabah menjalaninya. Mengawali kebaikan memang penuh tantangan.

Sejak hari itu, Al-Quran resmi menjadi sahabat. Setiap hari menjadi kitab wajib untuk dibaca dan dihafal. Setiap hari mempelajari tafsir dan terjemahannya bersama Ust. Iqbal. Ayat demi ayat. Selain itu, tiga kali seminggu kita kembali mempelajari tafsirnya dalam pengajian tafsir yang dibawakan pimpinan pesantren. Tidak lupa belajar tajwid tentunya.

Setiap hari kita membuka dan menutup hari kita dengan Al-Quran.
Ada tangis saat hafalan sulit masuk, sementara waktu nyetor sudah habis. Maka tentu ada sanksi yang harus diterima. Ada gelora semangat menghafal untuk saling mengejar hafalan. Ada sakit hati saat ternyata kita dipandang sebelah mata sebagai kelompok kecil oleh beberapa santri. Ada kecewa saat merasa kita di-anak-tirikan. Terkadang ada rasa iri saat melihat teman-teman pulang-pergi sekolah, mengulang pelajaran di masjid dsb. Tapi, selalu ada tawa dan senyum di setiap jejak yang kita lewati. Kebersamaan sungguh menjadi penawar mujarab untuk semua rasa  negatif yang sering kali menghias hari kita. Ahh…ada begitu banyak rasa yang silih berganti mengisi hati kita. Maklumlah..kita masih dalam proses mengontrol hati untuk benar-benar ikhlas lillahi ta’ala.

Ada banyak cerita yang tersimpan rapi dalam memori kita. kenangan yang sangat luar biasa meski hanya sebentar. Kenangan yang menghadirkan kerinduan untuk kembali bersua saat mengingatnya. Saat memori itu kembali diputar, bibir ini tersenyum tanpa sadar, ada begitu banyak kekonyolan yang kita lakukan. Dan aku yakin, selalu ada air mata jika mengingat semua yang telah kita lewati bersama. Semua terasa begitu indah. Inilah moment-moment indah yang tak terlupakan.

Sahabat,
Jarak telah memisahkan kita. kenangan itupun sudah tertinggal sangat jauh. Maka aku berharap, meski kita telah berpisah, semoga Al-Quran tetap menjadi sahabat. Tetap menjadi bacaan kita setiap hari. Tetap menghafal dan terus menjaganya.

Ingat,, kita bertemu karena Al-qur’an, kita hidup bersama dengan Al-Qur’an, maka aku berharap kita akan kembali berkumpul di jannah-Nya sebagai Ahlul Qur’an. Maka tetaplah dengan impian kita menjadi seorang Hafidzah. Pegang erat impian itu, jangan pernah membiarkannya lepas. Jika ternyata saat ini pegangan itu mulai renggang bahkan mungkin lepas… rebut kembali impian itu, peluk erat dan jangan pernah melepaskannya lagi. Sungguh impian menjadi seorang hafidzah itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Maka jangan pernah membiarkannya hilang dari hidupmu.

            You all the best of  my life. Terima kasih telah hadir dalam sepenggal hidupku. Terima kasih atas ukhuwah yang begitu indah. Terima kasih telah menjadi sahabat-sahabat luar biasaku. 

Tulisan ini spesial buat sahabat-sahabatku
di Tahfidzul Qur'an putri Darul Istiqamah

Dariku yang merindukan kalian

Aqilah El-Hafizhah