Rabu, 09 Mei 2018

Pemeriksaan Pertama

Kemarin, bersama suami Aku ke puskesmas untuk pemeriksaan awal kehamilan. Tidak ada yang kami tahu soal prosedur dan lain-lainnya, ini merupakan pengalaman pertama menginjak puskesmas untuk kami. Cukup rasa optimis dan percaya diri sebagai bekal untuk kami berani ke puskesmas.

Mungkin kami terlihat aneh di sana, sepasang suami istri yang hanya berdiri kebingungan tak tahu harus memulai dari mana. Saling berbisik dan menertawai diri kami yang terlihat bodoh. Hingga seorang petugas menyapa dan menanyakan apa yang kami perlukan. Syukurlah, akhirnya kami diarahkan harus melakukan apa.

Petugas meminta KK, kujawab belum ada. KTP? Tak ada pula. Kalau KK yang lama ada? Dengan senyum malu-malu kembali kujawab "Tidak Ada". Aduh, kami terlalu berani ke puskesmas tanpa membawa surat atau pengenal apapun. Dengan alasan saat ini sementara pengurusan KK baru dan belum jadi, petugas itu berbaik hati memproses kami. Memberikan kartu pengobatan dan lainnya. Dengan syarat, pemeriksaan selanjutnya sudah harus membawa KK.

Selanjutnya aku hanya mengikuti prosedur yang diminta. Mulai pemeriksaan BB, tensi, ukur lingkar lengan, tinggi badan, sampai diminta baring untuk pemeriksaan perut. Ada banyak pertanyaan yang harus kujawab, seperti kapan terakhir haid, apa keluhan dan lain-lain. Saya juga harus ke lab untuk pemeriksaan goldar dan hb, terus masuk ke bagian gizi karena BB saya yang tidak memenuhi standar. Ini akibat penyakit malas makan yang sudah akut.

Terakhir, ke apotik menebus resep. Lalu pulang dengan 2 dos biskuit Ibu hamil sebagai makanan tambahan dan satu buku berwarna pink yang berisi hasil pemeriksaan sekaligus menjadi buku bacaan wajib untuk bumil. Dan, tentunya dengan pengalaman baru menginjak puskesmas, hehe..

Ini pengalaman pertama sebagai Ibu hamil. Proses yang suka tak suka dan mau tak mau harus kulewati. Banyak hal yang harus kupelajari dan kupaksakan untuk dilakukan. Saatnya tidak hanya memikirkan diri sendiri, tapi juga janin yang kukandung. Iya, demi dia.



Aqilah El-Hafizhah
Datarang, Rabu 09 Mei 2018 M
23 Sya'ban 1439 H


Kamis, 03 Mei 2018

Entah Harus Kusebut Awal Atau Akhir Penantian

Penantian menjadi kata yang sangat akrab di kalangan remaja. Biasanya diartikan sebagai masa menanti jodoh datang, itulah penantian. Tapi entahlah, bagiku, masa itu tak pernah menjadi saat aku betul-betul serius menanti. Pasalnya, aku tak pernah merasa dalam situasi menanti, semua mengalir begitu saja. Hingga Ia datang.

Tapi, saat ini, after married, aku justru merasakan masa penantian yang sesungguhnya. Saat sebuah harapan baru merekah, seperti pasangan suami-istri pada umumnya, kamipun demikian. Mulai menunggu saat-saat Allah bermurah kasih menitipkan amanah untuk kami jaga. Iya, sebuah harapan yang begitu kuat. Dan aku baru merasa dalam masa penantian yang sesungguhnya. Berharap Allah segera menitipkan amanah-Nya.

Karena beberapa gejala Ibu Hamil mulai kurasakan, kuputuskan melakukan testpack untuk mengetahui secara pasti. Alhamdulillah.. Menjelang subuh kabar bahagia itu nyata, dua garis merah pada alat test membuatku tersenyum penuh syukur. Akhirnya Allah menitipkan amanah itu di rahimku. Terima kasih, yaa Rabbanaa..


Bahagia tentu saja. Meskipun tak kupungkiri, sedikit rasa khawatir juga hadir membersamai kebahagiaan ini, khawatir jika gagal mendidiknya kelak.

Bismillaah... Semoga tdk demikian. Allah melihat segala ikhtiar hamba-Nya. 

Ucapan syukur dan sederet do'a kupanjatkan.  Semoga kami mampu menjadi sebaik-baiknya orangtua untuk buah hati kami. Menjaga Amanah ini dengan cara terbaik yang bisa kami lakukan.

Entah harus kusebut ini akhir penantian, ataukah ini justru sebuah awal untuk kembali menanti kehadirannya di dunia?

Ah, itu tak penting..

Sembilan bulan, semoga Allah memberikan selalu kekuatan dan kesehatan untuk kami bersua.

Aqilah El-Hafizhah
Datarang, 03 Mei 2018 M
17 Sya'ban 1439 H

Kamis, 08 Maret 2018

Mushaf Kenangan

Suatu sore di bulan Ramadhan, bertahun-tahun lalu, di masjid jami. Aku dan seorang kawan menatap takjub pada seorang jama'ah masjid yang sedang khusyuk mengaji di shaf pertama bagian perempuan. Di tangannya tergenggam sebuah mushaf ukuran sedang dengan lembaran qur'an yang sudah menguning termakan usia. Mushaf model lama, yang tulisannya tebal dan hitam. Yang membuat kami menatapnya sedemikian takjub, ia mengaji tanpa menengok ke mushaf sedikitpun. Mushaf itu hanya dipegang dan dibuka untuk berpindah ke lembaran berikutnya. Ia menghafalnya dengan sangat lancar. Beliau memang dikenal sebagai hafizhah.

Kala itu kawanku bergumam, "Wah, coba lihat mushafnya, kertasnya sudah kuning. Mungkin karena sudah lamanya ia menggunakan mushaf itu."

"Mungkin sudah sangat nyaman menghafal dengan satu mushhaf saja"

Demikian kira-kira percakapan kami kala itu. Lalu ide itu tiba-tiba muncul. Ide untuk mengikuti jejak beliau untuk bertahan menghafal dengan satu mushaf sampai kapanpun. Kami pun melirik Al Qur'an masing-masing, dan sepakat bahwa mushaf itulah yang akan terus kami pakai selama menghafal.

Sore itu kami bertekad menggunakan mushaf yang kami pegang saat itu. Teriring harapan,  semoga esok kami juga bisa menghafal seperti beliau.
Kejadian bertahun lalu yang selalu lekat dalam ingatan. Setiap menatap mushaf hafalanku, ingatan itu kembali terputar dengan sendirinya.

Iya, sampai detik ini, setelah sekitar sepuluh tahun berlalu, Aku masih dengan mushaf yang sama sore itu. Mushaf yang masih setia menemani perjalanan muraja'ahku yang berjalan merangkak. Saat menatapnya kadang tanya menggema, "kapan aku bisa melancarkan hafalanku seperti anganku sore itu?"



Tanya yang tak berujung jawab. Hanya do'a yang bisa kurangkai panjang, berharap akan tiba saa Dia mengijabah. Sambil melihat setiap ikhtiar yang masih diperjuangkan.

***

Kau yang bersamaku sore itu, masih ingatkah moment ini? Atau hanya diri ini yang terjebak dalam kenangan lama yang sudah usang.

Aqilah El-Hafizhah