Kamis, 08 Maret 2018

Mushaf Kenangan

Suatu sore di bulan Ramadhan, bertahun-tahun lalu, di masjid jami. Aku dan seorang kawan menatap takjub pada seorang jama'ah masjid yang sedang khusyuk mengaji di shaf pertama bagian perempuan. Di tangannya tergenggam sebuah mushaf ukuran sedang dengan lembaran qur'an yang sudah menguning termakan usia. Mushaf model lama, yang tulisannya tebal dan hitam. Yang membuat kami menatapnya sedemikian takjub, ia mengaji tanpa menengok ke mushaf sedikitpun. Mushaf itu hanya dipegang dan dibuka untuk berpindah ke lembaran berikutnya. Ia menghafalnya dengan sangat lancar. Beliau memang dikenal sebagai hafizhah.

Kala itu kawanku bergumam, "Wah, coba lihat mushafnya, kertasnya sudah kuning. Mungkin karena sudah lamanya ia menggunakan mushaf itu."

"Mungkin sudah sangat nyaman menghafal dengan satu mushhaf saja"

Demikian kira-kira percakapan kami kala itu. Lalu ide itu tiba-tiba muncul. Ide untuk mengikuti jejak beliau untuk bertahan menghafal dengan satu mushaf sampai kapanpun. Kami pun melirik Al Qur'an masing-masing, dan sepakat bahwa mushaf itulah yang akan terus kami pakai selama menghafal.

Sore itu kami bertekad menggunakan mushaf yang kami pegang saat itu. Teriring harapan,  semoga esok kami juga bisa menghafal seperti beliau.
Kejadian bertahun lalu yang selalu lekat dalam ingatan. Setiap menatap mushaf hafalanku, ingatan itu kembali terputar dengan sendirinya.

Iya, sampai detik ini, setelah sekitar sepuluh tahun berlalu, Aku masih dengan mushaf yang sama sore itu. Mushaf yang masih setia menemani perjalanan muraja'ahku yang berjalan merangkak. Saat menatapnya kadang tanya menggema, "kapan aku bisa melancarkan hafalanku seperti anganku sore itu?"



Tanya yang tak berujung jawab. Hanya do'a yang bisa kurangkai panjang, berharap akan tiba saa Dia mengijabah. Sambil melihat setiap ikhtiar yang masih diperjuangkan.

***

Kau yang bersamaku sore itu, masih ingatkah moment ini? Atau hanya diri ini yang terjebak dalam kenangan lama yang sudah usang.

Aqilah El-Hafizhah