Sabtu, 21 November 2015

🌹TAQWA ITU PERISAI🌹


Sekitar sebulan yang lalu seorang teman mengirim sebuah pertanyaan melalui WA.
Awalnya dia bertanya, "Salahkah kalau saya cuek sama cowok?" Setelah menjawabnya dengan sedikit penjelasan dia kembali bertanya, dan inilah yang menjadi fokus tulisan saya.

"Imah, sebenarnya saya heran. Agama kan melarang pacaran, tapi maaf, kenapa malah yang taat beribadah itu banyak yang pacaran. Tidak usah saya sebutkan namanya, tapi dia ada di sekitar kita. Dia sangat sholehah, tapi kok pacaran?"

Aku tersenyum sejenak sebelum menjawab, "Pertanyaan yang sangat sering kudapatkan," batinku.

Aku mulai mengetik..

Itu bukan sesuatu yang mengherankan,  saya banyak menemukan kasus serupa.
Dulu, waktu nyantri di pondok pesantren, beberapa santri kedapatan pacaran. Padahal pacaran adalah pelanggaran nomor satu di pesantrenku.

Lihatlah, siapa yang pacaran?

Mereka adalah orang-orang yang paham dasar-dasar agama, yang mengkaji dan membaca Al-Qur'an.  Mereka berada dalam lingkungan yang sangat mendukung untuk tidak berbuat demikian. Berada dalam pengawasan langsung oleh para pembina dan ustadzah. Tapi toh tetap pacaran. Seolah mereka berusaha mencari celah untuk memenuhi kehendak mereka.

Mengapa demikian?

Jawabannya sangat sederhana, itu karena mereka lebih mendahulukan hawa nafsu dari pada mentaati perintah Rabbnya. Mereka juga hanya manusia biasa yang kadang terjerumus dalam dosa, maka do'akanlah... semoga mereka bisa kembali pada ketaatan.

Al-hamdulillah...
Jawaban singkat ini bisa membuatnya paham, bahwa tak semua orang yang paham agama mutlak menjalankan semua perintah Rabbnya. Mereka juga kadang terjerumus pada dosa dan kesalahan. Maka, jangan jadikan mereka sebagai tolak ukur dan acuan kita dalam beramal. Al-Qur'an dan As-Sunnah tetaplah menjadi pijakan utama kita, meski tak dapat dipungkiri bahwa mereka yang lebih paham agama harus memberi keteladanan.

Kecondongan pada hawa nafsu menjadi penyebab terjerumus pada dosa. Menjadikan seorang hamba kadang lupa pada perintah dan larangan- Nya. Inilah bahayanya mengikuti hawa nafsu.

Aku teringat sebuah hadits :
إِتَّقُ اللَّهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ
"Bertaqwalah engkau dimanapun engkau berada"

Subhanallah... hadits ini secara tidak langsung mengabarkan pada kita bahwa memang ada di antara manusia yang takut pada Allah di saat-saat tertentu saja, tapi kehilangan rasa takutnya di waktu yang lain. Karena itu, hadits ini menjadi peringatan untuk senantiasa bertaqwa dalam kondisi apapun, baik di tengah keramaian apalagi di saat sedang sendiri.

Ada banyak kasus tentang ikhwan/akhwat yang 'ghoddul bashor' di khalayak ramai, tapi berchatting ria dengan lawan jenis di saat sendiri. Hal ini tentu bertentangan dengan perintah untuk bertaqwa di manapun berada, namun inilah realitas yang terjadi. Seringkali kita menutup-nutupi keburukan kita dengan menampilkan kebaikan di hadapan orang banyak karena malu jika keburukan kita diketahui. Padahal, hakikat taqwa itu tidaklah mengenal batas. Jika memang Taqwa, maka itu akan 'menjaga' kita dari maksiat di manapun kita berada.

Inilah mungkin yang belum bisa diaplikasikan banyak orang. Sehingga lain yang nampak, lain pula yang tersembunyi. Hal ini tentu berdampak buruk pada orang-orang yang masih dalam proses pembelajaran mengenal islam lebih dekat. Membuat mereka heran dan boleh jadi berprinsip, "Dia saja yang paham agama seperti itu, bagaimana lagi dengan saya."

Seandainya perintah taqwa dapat diaplikasikan oleh tiap individu, tentu kasus-kasus seperti ini tidak akan terjadi. Sejatinya, taqwa itu akan menjaga dari perbuatan dosa.

Bagaimanapun kuatnya hawa nafsu menggoda untuk berbuat dosa, jika taqwa itu senantiasa melekat pada diri, maka itu mampu menjadi senjata untuk melawan godaan apapun. Karena itu, bertaqwalah di manapun engkau berada. Yakinlah bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap gerak-gerik kita, jika perasaan taqwa menancap kuat pada diri, masih adakah keberanian untuk berbuat dosa?
Ittaqullaah..!

📝 Aqilah El-Hafizhah
Jeneponto, 08 November 2015

Kamis, 16 April 2015

SAAT IA MELUPAKANKU


Entah harus kumulai dari mana kisah ini. Kisah tentang dia yang telah menjadi sahabat sekaligus telah kuanggap adik. Yah... sampai saat ini aku masih menganggapnya demikian meski aku harus menerima kenyataan pahit bahwa saat ini, dia tak lagi mengenalku seperti dulu. Tepatnya, dia telah melupakanku, melupakan segala memori yang pernah kami lewati bersamm.

oh... aku salah! sebenarnya dia tidak melupakanku, dia hanya kehilangan memorinya karena sebuah sebab, yang berarti dia melupakan segalanya. Menyakitkan memang! Saat orang yang dianggap sangat dekat harus melupakan kita. Sangat menyakitkan saat bertemu dengannya dan kita menjadi orang asing baginya, bahkan tak lagi mengenal wajah dan nama kita. Rasanya ingin menangis bahwa semua ini nyata. Kadang aku berfikir kalau ini hanya cerita fiktif seperti cerita-cerita sinetron, tapi sekuat apapun aku berfikir demikian, ini benar-banar nyata,

Dia yang selalu sangat ceria setiap kali berjumpa dengan semua orang yang dikenalnya, menyapa semua orang dengan wajah ceria kini hanya diam tanpa sapaan sedikitpun, dia benar-benar lupa kalau ia pernah mengenalnya.

Dia yang kukenal sebagai sosok yang selalu semangat dan antusias dalam segala hal kini lebih sering bingung tentang apa yang akan dilakukannya.

Dia yang selalu datang padaku dengan segudang cerita dan informasi, bercerita dengan semangat, kini entah kapan dia akan kembali datang menemuiku seperti dulu.

Dia yang selalu memujiku dengan pujian berlebihan dan selalu menganggapku hebat. Masih kuingat sebuah sms yang ia kirim untukku, sms yang panjang dan berisi pujian darinya. Katanya, baginya aku adalah motivator terhebat melebihi seorang Mario Teguh, yang apabila aku bicara maka tersihirlah dunia. Aku tersenyum saat membacanya sekaligus menangis karena sms panjang itu aku tahu bagaimana dia menilaiku berlebihan... "aku masih jauh dari semua itu, dek!".

Dia... yang tanpa ragu mencerikan segala hal tetang dirinya dan rahasianya karena dia selalu percaya padaku. Dia, yang sekaligus menjadi figur dan penyemangatku untuk bersama menjadi seorang penulis. Aku kembali menulis setelah mengenalnya, karena aku belajar banyak darinya.

Aku selalu bangga padanya, seperti dia yang selalu bangga padaku.

Persahabatan ini berawal sejak kami menjadi teman sekamar. Di sanalah kami saling mengenal dan akhirnya saling percaya. Persahabatan yang terbentuk karena proses kebersamaan.

 Dan sekarang...dia melupakanku. Persahabatan itu entah bagaimana nasibnya karena saat ini aku dan yang lainnya sama di matanya. Awal bertemu kembali dengannya aku berusaha bersikap seperti dulu, bahwa kami sangat akrab, tapi saat melihatnya bingung, aku sadar bahwa dia tak lagi mengenalku seperti dulu. Diam-diam aku menangis, sangat menyedihkan saat mengetahui fakta menyakitkan ini.

Hubungan ini harus dimulai dari awal, tapi kesempatan untuk kembali seperti dulu sangat sulit karena kami tak lagi tinggal bersama. Kami hanya bertemu sekali-sekali dan pertemuan itu sangat biasa, benar-banar aneh rasanya.

Meski aku bersyukur karena bukan aku yang lupa padanya. Bagiku, akan lebih menyakitkan jika aku harus melupakan orang yang sangat berharga. Biarlah dia yang melupakanku karena aku tak sanggup melupakannya, semua ini menjadi kenangan buatku, aku hanya berharap kebaikan salalu padanya. Semoga dia akan kembali menemukan orang -orang yang bisa ia percaya. Orang yang tentu akan menggantikan tempatku.

Tentangmu yang kini
telah 'berbeda'

Aqilah El-Hafizhah

Jumat, 27 Februari 2015

EP V B IS IN MEMORY


Entah mengapa, tiba-tiba aku teringat kalian. Tiba-tiba aku ingin menulis tentang kalian, meski aku tak tahu pasti apa yang akan aku tulis tentang kalian. Mungkin aku rindu sama kalian, mungkin juga, karena aku sedang sendiri dan merasa bosan, maka kalian hadir mengisi ruang kosongku.

                                 

EP V B, ini nama kelas kita. setidaknya nama terakhir yang bisa kukenang, karena tiap semester nama kelas kita pasti berubah, tapi EP V B adalah nama terakhir yang bisa kukenang, sebelum kita menjadi kelas B 1.

            Flashback dikit yah…
Tahun 2012 yang lalu, adalah awal kita memulai langkah pertama perjalanan ini. Awal kita memulai tekad untuk berjuang kurang lebih empat tahun kedepan. Awal yang menjadikan kita saling mengenal, meski belum sedekat seperti sekarang.

Tahun pertama, kita masih berada dalam kelas besar. Dengan seragam yang tentu takkan kalian lupa. Seragam yang paling norak menurutku, jilbab kuning + baju merah + rok hitam J. Tapi pada akhirnya seragam itu menjadi nyaman dipakai, tepatnya kita keenakan memakainya. Seragam itu tetap bisa mengukirkan senyum di wajah-wajah polos kita.

Semester berikutnya, disinilah kita mulai menjadi lebih dekat. Saat kelas kita dibagi dua sesuai stambuk. Kita kelas EP … B,(titiknya diganti sesuai semester J ).

Ada banyak hal yang kadang membuat kita sakit hati dengan kelas ini  (ngaku deh! ) mengapa? Kadang kita merasa ada diskriminasi antara kelas kita dan kelas sebelah (ngerti kan kelas sebelah itu yang mana.. J). Kita bahkan pernah dibandingkan secara jujur oleh seorang dosen bahwa kita ini memang sangat beda dengan kelas sebelah. Katanya personilnya mereka pintar-pintar. Lalu kita?
 Entahlah.. dan apa tanggapan kalian? EGEPE… yang penting happy, hehe.. kalian hebat. Betul banget, ngapain dipikirin? Yang penting enjoy lah.

Sejak kelas dipisah, aku melihat mulai ada banyak pertentangan antara kelas kita dan kelas “sebelah”. Dan secara jujur, kita selalu iri pada mereka, karena mereka selalu terlihat “lebih” dari kita. personil mereka kebanyakan anak-anak kesayangan “ibu”.

Waktu berlalu sangat cepat. Membawa kita pada putaran waktu saat ini. Tak terasa sudah dua tahun lebih kita berjuang bersama. Menyisakan banyak kenangan bersama kalian, entah kenangan macam apa yang sudah terbentuk diantara kita.

Kalian adalah sahabat-sahabatku yang telah menemaniku melewati dua tahun lebih dunia perkuliahan. Waktu yang singkat sebenarnya, tapi cukup berarti buatku. Aku sungguh bahagia pernah mengenal kalian. Melewati banyak hal bersama kalian, belajar dan tertawa bersama.

            Who are we…??

Kelas kita selalu ramai, ada Eki sebagai ketua suku (baca:ketua tingkat) terhebat yang pernah ada. Ketua yang selalu berjuang dan berkorban membala EP V B. selalu menjadi terdepan untuk membela kelas kita.. (hehe… apa gak berlebihan? Udah macam pejuang banget nih eki..) eki yang selalu ceria, sekaligus galau tingkat dewa jika ada masalah dengan si “dia” maka jadilah dia curhat di depan kita semua, dia sangat terbuka. Eki, ketua tingkat kita yang super  cuantik ( dia paling senang kalau dibilang cantik), katanya dia pengen jadi cover novel aku jika nanti aku berhasil nulis novel. Walah.. gak tau kapan tuh terwujud…. J. Udah kelewat panjang mendeskripsikan eki..

Ada Ifah yang… jago banget speakingnya, buat aku jadi iri banget. Paling suka gifo, masang wajah yang sooo imoet banget, dan untung jadinya beneran imut, dan suka membuat kami terpaksa harus menjadi fansnya, meski tak pernah mengidolakannya J. Ada partner setianya, Tari dengan gayanya yang tomboy abis, punya gaya yang sangat berbeda. Bagiku, kamu pribadi yang unik. Mereka partner sejati, bisa dibilang begitu, kalo satunya terlambat masuk kelas, maka yang satunya pasti ikut terlambat. Karena mereka memnang berangkat bareng. Katanya aneh kalau mereka datang tidak telat.. J

Ada Rahmi sebagai personel yang juaranya ketawa, kalau Ami ketawa maka seluruh ruang hanya akan menggemakan suaranya, dunia seolah sudah jadi miliknya… ami, kalau aku ingat kamu pasti aku teringat tawamu J. Soal tawa… ternyata ami punya saingan, Barmawati, yang lebih dikenal dengan intan, aku juga gak ngerti nyambung dimana nama ini bisa jadi Intan. Sosok yang juga punya tawa yang membahana. Tapi maaf, aku tak bisa jadi juri untuk kalian berdua. Intan, pribadi yang serius tapi simpel, kalo ada tugas dia paling gak mau pusinng, katanya santai aja..

Selanjutnya, ada Icha yang kalem banget. Cewek kretif dan rajin. Catatannya selalu menyenangkan dibaca, rapi. Senang banget membuat tempelan2 pembatas dengan beragam warna di binderna. Satu-satunya teman di kelas yang pernah minta kita nulis biodata di buku catatan khusus, care banget kan? Kalo bicara soal icha, maka otomatis kita bakal teringat seorang personel EP V B yang lain. Nisha, dia partnernya icha. Kamana-mana selalu bersama. Sosok bertanggung jawab. Secara tidak langsung sering memudahkan urusannya ketua tingkat, membantu menghubungi dosen misalnya..

Makhluk unik lainnya, dan yang ini yang terunik menurutku. Aya’, dengan gaya terunik di EP V B. sosok yang sempurna bisa membuat kita tertawa ngakak, gokil abis. Hal yang tak pernah luput darinya, bukan Aya kalo ngerjain tugas dan hasilnya hanya 2-3 lembar. Kalo kita buat tugas hanya 2-3 lembar, maka tak usah kaget kalau tugas dia 10-15 lembar, aya’ banget nih… kalau bicara, pasti semangat extra dan heboh. Aya.. kamu cocok banget dengan slogan, ‘gak ada lo gak rame’.

Bicara soal Aya, maka aku teringat teman berantemnya, teman adu mulutnya, sekaligus partnernya.. siapa lagi kalo bukan sosok Wati. Bisa dibilang… dia ini lumayan misterius (cieh… ) dia pernah dijuluki, ‘diam-diam menghanyutkan’. Soalnya, dia keseringan diam, tapi sekali bicara… yah begitulah. Dia sangat pendiam (dari luarnya aja..), tapi kalo kenal dia lebih jauh… ternyata dia lumayan cerewet juga. Dia pemilik catatan kuliah terlengkap di kelas kami.

Masih ada lagi nih personel kelas kami, Imut alias inna. Rajin banget sms cari info soal jadwal n tugas. Ini bukti bahwa kamu masih care sama pelajaran… teman yang baik dan santai banget. Dan kembaran namanya… Mutma, atau kadang hanya dipanggil Mut, tapi kalo Wati yang panggil, kadang buat saya bingung juga, soalnya dia selalu memanggilku dan mutma dengan panggilan yang sam, Mu’. Cewek cantik dan… agak cuek. Paling sering bingung kalo ada tugas, karena ingin mengusahakan yang terbaik yang pada akhirnya gak kesampaian J (yg penting udah usaha, colek aku juga J). Walhasil kami (aku n dia) selalu menyelesaikan tugas paling akhir. Merasa sering diuji kalo ada tugas. Teman seperjalananku pulang-pergi kampus, melewati pinggiran kanal yang… indah (semoga J)

Selanjutnya ada Yurni, paling dikenal dengan dua hal ; make up, dan tab-nya. Ke kampus tanpa pulpen dan buku tak jadi masalah besar baginya, yang penting. Alat make up dan tab-nya gak kelupaan.  Tika, kalau aku bilang Wati itu pendiam maka kamu lebih pendiam lagi. Aku tak tahu banyak tentang kamu karena kamu agak jarang bersuara. Kamu benar-benar pendiam, kawan.

Jumi, mahasiswi transferan dari pertanian. Orang yang paling feminim di EP V B, sekaligus yang paling sibuk. Itu karena dia kerja sambil kuliah. Saking sibuknya, beberapa kali gak mengikuti perkuliahan. Selain Jumi, ada kak Eni yang juga transferan dari Fakultas Ilmu Komputer. Dia ini, bisa dibilang antara ada dan tiada. Bahkan semester ini, ia menghilang tanpa kabar. Meski begitu, dia tetap tercatat sebagai keluarga EP V B.

Dua sosok yang juga sempat hadir menghiasi kelas kita, Noni dan Lela. Noni yang akhirnya memutuskan pindah jurusan kedokteran gigi. Dan Lela, demi memenuhi keinginan ibunya, ia akhirnya beralih ke psycoteraphy (entah tulisannya sudah benar atau.. salah J). Meski hanya setahun bersama kami, kalian tetap bagian dari kami.

Dan sosok terakhir dalam EP V B adalah… aku sendiri, Muallimah. yang kadang nama indah ini bermetamorfosis menjadi Mu’el, Mue’, kak Mue’… dan entah akan menjadi apa lagi nama ini, ada-ada ajha kalian ini. Tapi seorang dari kalian memanggilku dengan cara berbada, meski belum lama kamu memanggilku dengan “Imah..” dan aku suka dengan panggilan ini. Makasih ketua tingkatku yang paling cantik J

Lalu, apa peranku dalam kelas ini? Aku tak cukup pandai menulis tentang diriku. Karena aku tak tahu bagaimana kalian menilaiku. Aku tak tahu, sebagai sosok bagaimana diriku dalam sudut pandang kalian. Maka biarlah kalian yang menilai dan memikirkannya sendiri. Yang pasti… aku adalah bagian dari kalian, bagian dari cerita perjalanan ini, dan bagian dari keluarga EP V B.

Maka cukuplah aku menjadi pengamat buat kalian. Mengamati kalian adalah hiburan tersendiri buat aku. kalian dengan segala keunikan kalian, mampu membuatku senyum sendiri. Kalian, dengan apa adanya… telah membuatku kembali sadar, bahwa kalian adalah sahabat-sahabatku. Setidaknya sahabatku selama aku mngenal dunia kampus. Sahabat yang bersama kalian aku belajar dalam satu kelas.

Kalian,  sahabat yang telah menemaniku melewati putaran waktu yang sebatas empat tahun ini. Yah… kurang lebih empat tahun, inilah batas kebersamaan kita. Dan sebentar lagi, kita akan sampai pada batas akhir kisah perjalanan ini.

Setiap kita punya alasan masing-masing mengapa kita berada di kelas ini. Mungkin ada yang memang pengen jadi guru, seperti saya. Mungkin juga karena keinginan orang tua, atau boleh jadi karena ingin mendalami bahasa inggris. Atau mungkin, awalnya hanya penasaran gimana rasanya jadi mahaisswa, atau.. dari pada nganggur, mending kuliah… (semoga nggak).

Entahlah, apa alasan kalian. Tapi yang jelas, sekarang kita berada dalam kelas yang sama. Maka aku pengen, kita bisa belajar bersama. Tak ada pilihan lain buat kita kecuali belajar sungguh-sungguh. Atau kita akan menyesal di kemudian hari.
Masih ada waktu untuk kita maksimal belajar. Jangan lewatkan masa berharga ini atau kita akan menanggung penyesalan. Meski waktu kita tak banyak lagi, tapi mari kita lebih bersungguh-sungguh lagi dari kemarin-kemarin.

Semerter berikut dan berikutnya lagi tentu akan semakin berat. Maka lebih bersungguh-sungguhlah. Jika semester lalu kita masih kurang serius dan malas-malasan. Maka Lupakanlah bagaimana kita kemarin. Jangan ulangi lagi, dan mari saling bergandengan tangan mengejar mimpi kita. melewati perjalanan ini dengan penuh semangat.

Hingga akhirnya,,, kita akan sampai pada hari kelulusan, garis finish dari perjalanan ini.  Hari di mana kita mengenakan toga bersama, di ruangan yang sama. Yah… aku berharap kita bisa lulus bersama-sama, tak kurang seorang pun. Kita memulainya bersama, maka semoga kita bisa mengakhirinya juga bersama. Aamiin..

Terakhir, aku pengen minta maaf sama kalian. Mungkin karena aku salah menuliskan sesuatu tentang kalian. Maafkanlah kawan, karena aku selalu butuh maaf kalian..

Tulisan gaje… (gak jelas)
Kupersembahkan untuk sahabatku
Di EP VB

Aqilah El-Hafizhah

Rabu, 11 Februari 2015

Untukmu Yang Entah..



Mungkin judul ini teramat tidak jelas. Tapi aku hanya ingin menulis untukmu yang entah siapa. Aku ingin berterima kasih kepadamu yang entah. Mengapa kukatakan yang entah? Karena aku tak mengenal siapa engkau sebenarnya, tapi kamu telah berjasa padaku. Mungkin sekedar sebuah tulisan tanda terima kasih selain do’a.  Meski engkaupun tak pernah membacanya, karena kau sama halnya denganku, kau tak pernah mengenalku.

 Lewat perantaramu Allah memperlihatkan hidayah itu. Kamu adalah jalan awal aku mengenal yang kunamai ‘kebenaran’. Melalui kamu kumengenal syariat ini lebih dalam. Melalui kamu kumengenal manhaj salaf, dan dengan perantara kamu aku berteman banyak orang yang akhirnya menjadi jalan aku belajar manhaj salaf. Meski kamu tak pernah tahu semua ini.

Aku tak mengenalmu dengan baik. Aku mengenalmu sebatas nama dan tulisan-tulisanmu di facebook. Lewat tulisan itu aku mulai mencari tahu lebih dalam. Meski demikian, aku sangat berterima kasih meski aku tak tahu entah siapa engkau sebenarnya.

 Biarlah tulisan ini sekedar menjadi tanda terima kasihku padamu. Yang sekali lagi entah siapa. Entah berada dimana engkau, tapi semoga Allah senantiasa merahmati dan memberkatimu dan kehidupanmu.

 Untukmu yang entah… siapapun engkau, sekali lagi… aku sangat berterima kasih. Semoga Allah membalas dengan sebaik-baik balasan.


Aqilah El-Hafizhah

Kamis, 05 Februari 2015

AKU DAN JILBABKU


Aku bukanlah tipe orang yang amat repot dengan pakaian. Bersih dan rapi, itu sudah cukup. Pakaian yang kupakai sama dengan yang lazimnya dipakai santri di pesantrenku; gamis longgar dan jilbab menutupi dada. Kadang pula memakai baju potongan dan rok. Kalau bepergian maka cukup dengan memakai jilbab segi empat agar terlihat lebih formal, tambahkan kos kaki. Cukup, hanya seperti ini. Aku teramat pede dan nyaman dengan busana seperti ini.

Memasuki dunia kampus/perkuliahan membuatku semakin mengenal banyak hal, juga melihat begitu banyak macam busana yang digunakan para mahasiswa. Aku mulai merasa risih. Merasa teramat beda dengan teman-temanku. Di kelas, aku merasa asing dengan busana yang tiba-tiba terlihat kedodoran di tengah-tengah 'mereka' dengan pakaian ketat dan jilbab transparan. Sebenarnya aku tidak sendiri, ada seorang lagi. Dia bahkan berhijab lebih dariku. Dia seorang akhwat berjilbab besar. Meski kami berdua, itu tak membuatku tiba-tiba pede. Apalagi kami tidak akrab. Kami hanya berdua dari lima puluh lebih teman sekelas.

Seiring berjalannya waktu aku mulai terbiasa dan bisa beradaptasi. Apalagi aku tinggal bersama orang-orang yang berpakaian sama denganku di asrama Tahfizh UMI. Meskipun akhirnya aku harus sendiri dengan busana kedodoran di kelas setelah kami dipecah menjadi dua kelas. Tapi,  semakin lama di kampus semakin membuatku sadar, ternyata ada banyak juga yang berbusana sama denganku, meski tidak sekelas. Aku kini tetap bangga dan merasa nyaman dengan hijabku.

Masih di awal perkuliahan, ada sesuatu yang mulai mengusik batinku. Ada sesuatu yang terasa mulai hilang. Sesuatu yang kini kurindukan. Perasaan tenang dan damai. Perasaan yang belakangan mulai hilang dariku. Mungkin ada yang telah berubah hingga perasaan itu perlahan menguap hingga menyisakan rasa hampa. Mungkin juga karena aku bukan orang yang terbiasa dengan pergaulan bebas antara perempuan dan laki-laki, dan hal itu kini menjadi sebuah keniscayaan. Entahlah.

Maka tak hentinya kuminta dalam setiap untaian do’a agar hati ini selalu tenang dan damai. Do’a yang sama selama beberapa waktu terus kupinta. Berharap hati ini menemukan rasa damai dan tenang itu kembali. Terus berdo’a tanpa henti, bosan dan dengan penuh keyakinan.

Suatu malam, mama menyuruhku mengantarkan makanan ke rumah kakak. Aku sibuk mencari jilbab untuk kugunakan keluar. Akhirnya kupinjam jilbab besar milik kakakku, jilbab yang biasanya hanya ia pakai saat mengikuti pengajian. Persis jilbab-jilbab yang sering digunakan para akhwat di kampus. Dengan jilbab besar aku keluar ditemani adikku. Entah mengapa, tiba-tiba sebuah perasaan hadir dalam diriku. Perasaan yang lama kurindukan itu tiba-tiba memenuhi perasaanku. Aku merasa begitu tenang dan damai dengan jilbab besar ini. Ini adalah pertama kali aku menggunakan jilbab besar, dan sempurna kutemukan perasaan itu kembali. Perasaan damai.

Apakah ini petunjuk? Mungkinkah ini adalah jawaban dari setiap doa-doaku?. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akhirnya menari-nari  dalam pikiranku. Terus terang, menggunakan jilbab besar adalah hal yang berat kulakukan. Jujur, tak pernah sekalipun terbesit dalam hatiku untuk menggunakannya. Kupikir pakaian itu terlalu merepotkan. Aku selalu bilang pada seorang teman bahwa saya tak pernah mau menggunakan jilbab besar. “Yang biasa ajalah…yang penting syar’i” inilah yang selalu kuucapkan setiap melihat akhwat dengan jilbab besarnya. Lalu bagaimanalah sekarang? Aku tak suka, tapi darinya kutemukan  apa yang kucari.

Aku berhadapan pada pilihan yang sulit.

Memilih selalu menjadi hal yang sulit. Pun, yang kualami saat itu. Sebuah dilema panjang. Butuh setahun lebih untuk memutuskannya, membangun keyakinan penuh atas apa yang akan kuputuskan. Banyak pertimbangan dan lebih banyak lagi keraguan. Ini sungguh bukan perkara mudah. Aku kembali teringat perkataan seorang teman di pesantren  “ jika kamu dihadapkan pada pilihan, maka pilihlah yang amat berat diterima hawa nafsumu.”

 Aku sadar, berjilbab besar tentu adalah pilihan yang amat berat diterima hawa nafsuku. Inikah yang harus kupilih? Aku selalu merasa belum siap dengan pilihan ini. Bingung, inilah yang kurasakan. Tapi jika teringat do’aku dan apa yang  kurasakan saat menggunakan jilbab besar, kurasa inilah yang harus kuputuskan. Mungkin jilbab yang lebih tertutuplah yang kubutuhkan di lingkungan bebas seperti ini.

 Sebuah sentakan mulai merobohkan semua argumenku untuk memilih tidak. Buat apa aku meminta dalam setiap doaku selama ini jika pada akhirnya aku tak bisa menerima petunjuk itu?? Yah… seharusnya aku tak perlu bingung, karena ini adalah jawaban dari permintaanku sendiri. Bukankah keraguan itu datangnya dari syaitan?

Selasa, 1 April 2014

Ini adalah hari pertama aku menggunakan jilbab besar. Hari aku memutuskan untuk hijrah dari pakaian sebelumnya. Bukan berarti aku menggunakannya karena sudah yakin seratus persen. Perasaan ragu itu tak pernah hilang, maka kuputuskan melawan keraguan itu dengan menggunakannya tanpa berpikir panjang. Menunggu yakin seratus persen hanya akan membuang waktu. Aku takut, jika keraguan pada akhirnya akan menghentikanku. Aku tak akan kalah.

 Maka inilah keputusanku.  

Apa yang terjadi? Keyakinan itu justru jadi bulat seratus persen saat aku memakai jilbab itu. Keputusanku telah menelan habis semua keraguan itu. Terkikis habis sudah perasaan ragu dan bingungku. Kenapa aku terlalu lama dalam keraguan? Inilah yang kusesali. Ternyata keraguan itu hanya bisa dikalahkan dengan sedikit keyakinan untuk betindak. Sebuah pelajaran berharga lagi buatku.

Beginilah aku saat ini. Dengan busana baruku. Sebuah perubahan yang awalnya tidak semua bisa diterima oleh orang-orang dekatku. Juga mendapat tatapan heran dari teman-teman kelasku. Tapi aku mendapatkan apa yang kucari. Aku semakin yakin dengan pilihanku dan bersyukur dengan pilihan ini. Semooga aku senantiasa istiqamah. Aamiin.


                                                                                                Aqilah El-Hafizhah                              

Selasa, 03 Februari 2015

AKU, FLP, DAN DAKWAH KEPENULISAN

Tulisan ini adalah tulisan yang saya buat sebagai persyaratan untuk ikut dalam kegiatan perekrutan sebagai anggota FLP.

Lewat Tulisan, Aku Berdakwah!
Aku…
Aku seorang gadis dengan banyak angan dan impian. Tumbuh dengan segala impian yang senantiasa kugenggam erat hingga saat ini. Berawal dari hobi membaca, aku bermimpi menjadi seorang penulis. Aku selalu senang setiap membaca, mendapat banyak inspirasi darinya. Dunia membaca selalu  terasa menyenangkan. 

Aku merasa terdidik lewat bacaan. Itulah mengapa aku ingin menjadi seorang penulis, agar bisa berbagi lewat tulisan. Berharap orang lain merasakan apa yang kurasakan saat membaca. Aku ingin menginspirasi banyak orang, dan berharap orang lain juga terdidik melalui bacaan, seperti diriku. Aku ingin semua  ini tercapai lewat coretan pebaku.

“Bacaan menciptakan manusia seutuhnya”. Demikianlah isi ungkapkan Francis Bacon. Aku tertegun sejenak setelah membaca kalimat ini. Begitu besar pengaruh bacaan terhadap seseorang. Berkaca pada diriku, memang demikianlah. Akupun, sedikit-banyaknya terbentuk lewat bacaan-bacaanku. Aku percaya tulisan bisa memberi pengaruh besar terhadap pembacanya. Ini membuatku semakin yakin dengan impianku menjadi seorang penulis.

FLP…
Aku mengenal FLP sejak tahun 2005, saat masih berstatus santri di pesantren. Aku mengenalnya  sebagai sebuah organisasi yang bergerak dalam dunia tulis-menulis. Beberapa kali aku ikut dalam seminar kepenulisan yang diadakan di pesantrenku oleh FLP. Kadang mengundang penulis nasional seperti Mbak Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Izzatul Jannah dan beberapa penulis lokal lainnya. Beberapa senior dan Pembina di pesantren juga merupakan pengurus FLP. Namun, aku tak pernah tahu dan tak pernah mencari tahu tentang apa yang mereka lakukan dalam organisasi ini, karena sifatku yang memang relatif pendiam. Sehingga semua berlalu begitu saja.

Memasuki dunia baru berarti bertemu dengan orang-orang baru. Perguruan tinggi menjadi dunia baruku. Mulailah aku bertemu orang-orang yang mengenalkan FLP lebih dalam. Aku mengenal FLP sebagai sebuah forum yang juga melatih orang-orang yang ingin menjadi penulis. Inilah yang kubutuhkan. Sebenarnya ada banyak forum yang bergerak dalam dunia kepenulisan, lalu mengapa aku lebih memilih FLP? Karena FLP berusaha menghasilkan karya-karya yang bernuansa islami. Bukan hanya sekedar kisah fiktif, tapi juga menghadirkan nilai-nilai islam. Aku banyak membaca karya-karya yang diterbitkan FLP dan semuanya adalah novel islami. Ini cukup bagiku untuk menilai FLP.

Dakwah Kepenulisan…

            Salah satu guruku di pesantren pernah bilang, “di manapun kalian, sebarkan islam dengan cara kalian masing-masing”. Maka aku ingin menyebarkan islam lewat karya-karyaku. Jika temanku yang ingin jadi sutradara bilang, “Lewat film aku berdakwah”, maka akan kukatakan, “Lewat tulisan aku berdakwah!”. Moga bersama FLP semua bisa tercapai. Allahumma ‘aamiin..

            Tulisan ini sudah lama, tapi baru terpikirkan bahwa niat awal aku masuk FLP adalah tujuan dakwah lewat tulisan. Aku mulai berpikir, apa yang telah aku tulis? Sudahkah aku berdakwah lewat tulisan? Atau keberadaan aku dalam FLP sama sekali tidak memberi andil  dalam dakwah? Entahlah…

Aku sangat ingin jika aku benar-benar bisa menjadikan tulisan sebagai sarana dakwah. Tapi aku lebih sering bingung harus menulis apa. Semua karena keterbatasan. Ilmu yang terbatas, juga kemampuan menulis yang masih sangat terbatas.
 Aku sangat senang mendengar ungkapan “semua butuh proses”, mungkin terdengar seperti sekedar alasan untuk berlindung. Tapi inilah kenyataannya. Aku masih dalam proses. Aku masih tidak tahu harus membagi apa pada orang lain. Maka biarlah waktu yang membawaku untuk sampai pada masa di mana aku adalah orang yang pantas untuk berbagi ilmu.

Bersama rasa iri pada mereka yang
telah menghasilkan karya-karya bermanfaat.

Aqilah El-Hafizhah


Minggu, 25 Januari 2015

Mengenang Kalian - Tahfizh Putri Darul Istiqamah



04 November 2007.
Waktu yang tak terlupakan. Tujuh tahun silam saat kita kembali membuat sejarah. Bersama menghidupkan kembali Tahfidzul Quran putri Darul Istiqamah yang sempat vakum selama enam tahun. Dan kita berhasil memulai kembali amal jariah itu, tentu saja berkat keinginan dan kegigihan Ust. Iqbal Coing selaku pimpinan Tahfidz putri. 

Ada banyak perjuangan dan pengorbanan mengiring langkah kita. Pengorbanan pertama itu adalah meninggalkan bangku sekolah. Kita rela meninggalkan bangku sekolah sebagai harga yang harus kita bayar untuk cita-cita mulia menjadi seorang hafidzah. Dan dari sekian banyak santri, ternyata hanya enam belas yang siap dengan resiko ini. Maka bersyukurlah kawan, karena kita salah satu yang terpilih. Kita terpilih untuk berjuang lebih. Kitalah Ashshaabiquunal awwaliin..

Perjuangan adalah harga mati sebuah cita-cita mulia. Mulai dari menyulap gudang menjadi asrama, membuat tempat yang sebenarnya tak layak dihuni lagi menjadi harus layak huni. Mau bagaimana lagi, yang tersisa hanya gudang. Dan tentu saja ada begitu banyak keterbatasan lain yang membuat kita harus tabah menjalaninya. Mengawali kebaikan memang penuh tantangan.

Sejak hari itu, Al-Quran resmi menjadi sahabat. Setiap hari menjadi kitab wajib untuk dibaca dan dihafal. Setiap hari mempelajari tafsir dan terjemahannya bersama Ust. Iqbal. Ayat demi ayat. Selain itu, tiga kali seminggu kita kembali mempelajari tafsirnya dalam pengajian tafsir yang dibawakan pimpinan pesantren. Tidak lupa belajar tajwid tentunya.

Setiap hari kita membuka dan menutup hari kita dengan Al-Quran.
Ada tangis saat hafalan sulit masuk, sementara waktu nyetor sudah habis. Maka tentu ada sanksi yang harus diterima. Ada gelora semangat menghafal untuk saling mengejar hafalan. Ada sakit hati saat ternyata kita dipandang sebelah mata sebagai kelompok kecil oleh beberapa santri. Ada kecewa saat merasa kita di-anak-tirikan. Terkadang ada rasa iri saat melihat teman-teman pulang-pergi sekolah, mengulang pelajaran di masjid dsb. Tapi, selalu ada tawa dan senyum di setiap jejak yang kita lewati. Kebersamaan sungguh menjadi penawar mujarab untuk semua rasa  negatif yang sering kali menghias hari kita. Ahh…ada begitu banyak rasa yang silih berganti mengisi hati kita. Maklumlah..kita masih dalam proses mengontrol hati untuk benar-benar ikhlas lillahi ta’ala.

Ada banyak cerita yang tersimpan rapi dalam memori kita. kenangan yang sangat luar biasa meski hanya sebentar. Kenangan yang menghadirkan kerinduan untuk kembali bersua saat mengingatnya. Saat memori itu kembali diputar, bibir ini tersenyum tanpa sadar, ada begitu banyak kekonyolan yang kita lakukan. Dan aku yakin, selalu ada air mata jika mengingat semua yang telah kita lewati bersama. Semua terasa begitu indah. Inilah moment-moment indah yang tak terlupakan.

Sahabat,
Jarak telah memisahkan kita. kenangan itupun sudah tertinggal sangat jauh. Maka aku berharap, meski kita telah berpisah, semoga Al-Quran tetap menjadi sahabat. Tetap menjadi bacaan kita setiap hari. Tetap menghafal dan terus menjaganya.

Ingat,, kita bertemu karena Al-qur’an, kita hidup bersama dengan Al-Qur’an, maka aku berharap kita akan kembali berkumpul di jannah-Nya sebagai Ahlul Qur’an. Maka tetaplah dengan impian kita menjadi seorang Hafidzah. Pegang erat impian itu, jangan pernah membiarkannya lepas. Jika ternyata saat ini pegangan itu mulai renggang bahkan mungkin lepas… rebut kembali impian itu, peluk erat dan jangan pernah melepaskannya lagi. Sungguh impian menjadi seorang hafidzah itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Maka jangan pernah membiarkannya hilang dari hidupmu.

            You all the best of  my life. Terima kasih telah hadir dalam sepenggal hidupku. Terima kasih atas ukhuwah yang begitu indah. Terima kasih telah menjadi sahabat-sahabat luar biasaku. 

Tulisan ini spesial buat sahabat-sahabatku
di Tahfidzul Qur'an putri Darul Istiqamah

Dariku yang merindukan kalian

Aqilah El-Hafizhah

Minggu, 18 Januari 2015

Arti Sebuah Nama

Apa arti nama bagi Anda? Pentingkah? Atau… nama tak lebih dari sekedar bagaimana Anda dipanggil dan dikenal. Hanya sebatas identitas, tak lebih dan tak kurang. 

Setiap orang tentu punya persepsi masing-masing tentang makna sebuah nama bagi mereka. Atau bahkan ada yang memilih cuek memikirkan namanya. Yang penting dia punya nama.

Bagiku, nama mempunyai arti besar dalam hidup. Juga memegang perang penting dalam perjalanan kehidupan ini, setidaknya untukku pribadi. Pernahkah anda mendengar ungkapan bahwa nama adalah do’a? mungkin inilah yang terjadi pada namaku. Meski awalnya aku tak pernah berpikir bahwa nama itu sungguh akan menjadi do’a untukku.

MUALLIMAH. Inilah nama yang disematkan orangtuaku. Singkat tapi punya makna tentunya. Nama yang diberikan padaku tidak dengan asal-asalan. Nama yang diberikan dengan harapan besar bahwa kelak aku akan menjadi seperti yang mereka harapkan. Dengan kata lain, mereka yakin bahwa nama itu akan menjadi do’a buat anaknya. Tanyakanlah pada orangtua masing-masing, maka anda akan menemukan bahwa ada alasan dibalik nama anda. So, begitu besar arti sebuah nama. Nama adalah harapan dari mereka yang sangat menyayangimu.

Dulu, aku tak pernah pede dengan namaku. Aku bahkan tak suka dengan namaku. Aku selalu malu jika harus memperkenalkan diri. Karena bagiku, nama adalah aibku. Jika dikelas guru mengabsen, maka aku akan gelisah menunggu namaku disebut. Berharap agar kelas ribut saat namaku disebut, agar tak seorangpun mendengarnya. Sekali lagi, aku sangat tak pede dengan namaku. Bukan hanya saat aku SD, bahkan sampai saat aku SMP/MTS. Cukup lama aku harus gelisah dengan namaku. Terkadang aku bahkan jengkel pada orangtuaku yang memberikan nama jelek untukku (versiku waktu itu). Meski semua hanya kusimpan dalam hati.

Muallimah yang berarti Guru. Saat SD aku memang bercita-cita ingin menjadi guru. Jika dikelas kami ditanya tentang cita-cita maka jawabanku pastilah guru. Mungkin karena itulah profesi yang paling dikenal oleh anak-anak. Jika anda bertanya pada anak-anak jaman dulu tentang cita-cita mereka, maka anda akan mendapat jawaban guru, dokter, polisi, dan pilot sebagai pilihan mereka. Inilah cita-cita anak jaman dulu, tak terkecuali aku.

Entah sejak kapan aku akhirnya mengalah dengan namaku. Aku mulai menerimanya dengan tulus bahwa itulah nama yang diberikan orangtua padaku. Hingga akhirnya aku bangga dengan namaku. Tak lagi risih apalagi malu. Nama ini tiba-tiba indah di telingaku. Mungkin karena sudah mulai ada yang memuji bahwa namaku bagus. Mungkin juga karena namaku semakin sering disebut karena beberapa prestasi yang berhasil kuperoleh. Semakin banyak yang menyebut namaku berarti semakin banyak yang berdo’a agar aku menjadi guru, karena Muallimah berarti guru.

Apakah aku masih bercita-cita menjadi guru? Kurasa keinginan itu tak lagi menjadi cita-citaku. Keinginanku menjadi guru luluh sedikit demi sedikit hingga tak berbekas sama sekali. Semakin banyaknya pengalaman dan buku yang kubaca membuatku merangkai mimpi-mimpi baru. Meninggalkan cita-cita masa kecilku. Tapi namaku tak pernah berubah. Dan tetap menjadi do’a bagi yang memanggilku. Meski impianku sudah berubah.

Setelah lulus MA/SMA, aku mengikuti program wajib di pesantren untuk mengabdi  selama setahun. Masa pengabdian ini menjadi saat di mana kami harus mengajarkan apa yang telah kami dapatkan selama di pondok. Di sinilah aku mengajar layaknya seorang guru sungguhan. Aku bahkan mendapat pujian bahwa aku berbakat menjadi guru. Cara aku menjelaskan cukup mudah dipahami kata mereka. Yah, aku memang berusaha maksimal pada apa yang diamanahkan saat itu. Dan aku menikmati posisiku sebagai pengajar meski aku masih belum mengharapkannya menjadi profesiku kelak. Cukup di masa pengabdian ini, pikirku.

Training Quantum Teaching adalah sebuah pelatihan untuk menjadi guru yang professional yang diadakan pihak pesantren untuk semua tenaga pengajar. Akupun turut dalam kegiatan ini. Training yang luar biasa menurutku. Kami belajar banyak tentang hakikat seorang guru. Bagaimana posisi seorang guru sebenarnya, dan bagaimana kami seharusnya menjadi seorang guru. Sangat banyak ilmu yang kuperoleh dari training ini karena aku mengikutinya dengan penuh semangat. Apakah setelah training ini aku tiba-tiba ingin menjadi guru? Jawabannya, belum. Meski kuakui, aku salut pada orang yang bisa menjadi guru professional. Dari training ini kutemukan pengalaman dan bekal berharga yang pasti akan berguna dalam kehidupanku kelak. Apapun profesiku.

Tibalah saatnya mendaftar ke perguruan tinggi. Karena beberapa alasan akhirnya UMI menjadi pilihanku. Memilih jurusan menjadi hal membingungkan buatku. Aku tak tahu harus memilih jurusan apa. Awalnya aku mmemilih Sastra Indonesia karena salah satu impianku adalah menjadi penulis. tapi sebuah pemikiran membantahku. Bukannya aku bisa belajar menulis tanpa harus menjadi mahasiswa sastra? Yah, beberapa orang yang kukenal jago nulis bukanlah berlatar belakang sastra. Maka kemungkinan itu juga berlaku untukku. Akhirnya kuputuskan untuk memilih Sastra Inggris karena aku memang senang dengan bahasa inggris.

Sebuah kesalahan kecil terjadi dalam  pengisian formulirku. Karena khawatir tidak lulus di Sastra Inggris maka kurencanakanlah Pendidikan Bahasa Inggris sebagai pilihan keduaku. Yang terpenting aku masih bisa belajar bahasa inggris. Tapi, Sastra Inggris yang seharusnya menjadi pilihan pertamaku justru kutulis pada kolom pilihan kedua, maka jadilah Pendidikan Bahasa Inggris sebagai pilihan pertamaku. Ini tentu di luar rencanaku.

Hal terpenting dari semua perjalanan ini adalah do’a. Aku sadar bahwa kekuatan terbesar adalah milik-Nya maka pada-Nya-lah semua harapanku berlabuh. Semua harapan kusampaikan lewat do’a kepada-Nya. Termasuk dalam memilih jurusan. Aku tidak meminta secara langsung bahwa aku ingin lulus pada Sastra Inggris. Yang aku minta adalah apa yang terbaik buatku, bukan yang aku inginkan. Rumus takdir dalam surah Al-Baqarah : 216 selalu menjadi pijakanku bahwa Allah-lah yang paling tahu apa yang terbaik buat hamba-hamba-Nya.

Fakultas Sastra, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Muslim Indonesia. Di sinilah akhirnya aku bergelut dalam dunia pendidikan. Mengkaji bahasa inggris dan mendalami proses mengajar. Mengenal dunia pendidikan lebih dalam. Menemukan banyak hal unik, menarik dan mengagumkan dari kepribadian peserta didik. Semua ini sempurna membuatku jatuh cinta pada dunia pendidikan. Mencintai dunia mengajar dan anak-anak didik. Membuatku kembali pada cita-cita kecilku. Menjadi seorang guru.  

Aku ingin dan sunguh ingin menjadi seorang guru. Aku ingin karena aku paham dunia ini. Bukan sekedar ikut-ikutan apalagi terpaksa. Dunia yang menurutku sangat menarik dan penuh tantangan. Dunia yang akan menjadi awal untuk membangun dan memajukan sebuah peradaban. Dunia pendidikan, di sinilah aku dengan sebuah impian besar untuk menjadi seorang guru yang kelak akan mengantarkan anak didikku menuju cahaya kesuksesan. Bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat. Mungkin impian ini terlalu muluk. Tapi aku tak peduli apakah semua ini akan berakhir sukses seperti harapan dan impianku. Aku hanya akan berusaha sebisa yang aku mampu, biarlah Allah yang membuat jalan ini lebih indah dengan cara-Nya.

Sungguh, nama itu adalah do’a. Maka pilihlah nama terbaik dan panggilan terbaik untukmu dan anak-anakmu kelak. Semoga dengan nama itu dia bisa menjadi seseorang yang sesuai dengan harapanmu sebagai orangtua.


Aqilah El-Hafizhah


Matahari Tak Pernah Ingkar



Hujan semakin deras. Angin bertiup kencang. Kilat bak lampu seratus watt menerangi pekarangan rumah yang gelap. Sambung-menyambung suara guntur menggelegar di segala penjuru. Memekakkan telinga. Membuat suasana malam semakin mencekam. Mungkinkan alam murkah pada manusia yang tak hentinya berbuat kerusakan?. Tanyaku  membatin.
Berkemul dibalik selimut tentu pilihan terbaik saat cuaca seperti ini. Menyembunyikan diri di balik selimut tebal, menghindari suasana hujan yang mencekam. Tapi tidak bagiku, tidak untuk kali ini. Saat aku bingung harus membuat keputusan terbaik. Dari jendela kaca yang terbuka, aku duduk menatap hujan yang berselimut gelap. Membiarkan angin dan percikan hujan menerpa tubuhku.  Musim hujan tahun ini adalah musim hujan ke enam setelah kepergiannya. Setelah mengucap janji kepadaku, janji matahari katanya. Tepat seperti saat ini, membuatku kembali mengenang pertemuan terakhir kami.
***
“Nay, ada yang ingin kusampaikan.” Aku mengernyit, derasnya hujan membuat suara Randi tak terdengar. “Ada yang ingin kusampaikan,” Randi menambah volume suaranya.
“Bicaralah”. Teriakku tak kalah keras dengan suara Randi. Warung kopi Bu Warto lengang, membuat kami lebih leluasa bicara.
“Aku akan pergi,” Suaranya melemah tak terdengar, tapi aku paham lewat gerak mulutnya. Aku terdiam. Aku tak paham mengapa tiba-tiba kalimat itu yang terucap. Aku beralih menatap hujan yang semakin deras mengguyur kampungku. Menunggu penjelasan.
“Fadil mengajakku ke Jayapura. Di sebuah pulau terpencil. Kami berencana merintis usaha di sana. Kamu tahu kan, aku sendiri di sini. Aku tak punya keluarga. Mungkin saatnya aku mulai memikirkan masa depanku, masa depan kita. Tanpa harus bergantung pada orang lain.”
Bibirku kelu tak mampu berucap mendengar penjelasannya. Semua ini amat mengejutkan buatku. Semuanya terlalu tiba-tiba.
Kami terdiam lama. Menyisakan suara tetes hujan disertai guntur yang menggelegar. Hatiku tak terima, mengapa dia tiba-tiba ingin pergi.
“Bagaimana dengan hubungan kita?” Akhirnya aku bicara.
“Aku pasti akan kembali. Aku berjanji seperti janji matahari. Kau tahu, matahari selalu menepati janji. Setiap hari, di waktu dan tempat yang sama ia berjanji untuk kembali membagi cahayanya. Itulah janji yang tak terucap. Tak pernah ingkar sekali pun. Percayalah, meski belum tentu kapan, aku pasti kembali.”
Aku tersenyum getir mengingat percakapan terakhir kami. Janji matahari katamu. Janji matahari yang tak pernah ingkar. Kau meyakinkanku dengan janji matahari. Tapi benarkah kau adalah sosok yang bisa menepati janji seperti matahari? Kau pergi tanpa kabar hingga hari ini. Haruskah aku setia menunggu janjimu? Entah sudah berapa orang yang datang menawarkan janji kebahagiaan kepadaku. Sempurna aku menolak, memilih setia pada janji mataharimu.
Di mana kau sebenarnya? Saat aku di ambang putus asa menunggu janjimu. Saat seseorang kembali datang menawarkan kebahagiaan. Seseorang yang juga teramat penting buatku. Faris, sahabat terbaikku. Dia meminangku. Haruskah aku menolaknya dengan alasan yang sama seperti yang datang sebelumnya? Sementara aku sendiri mulai ragu pada janji mataharimu. Bagaimananapun, aku harus memutuskan yang terbaik.
“Nay, kenapa jendelanya dibiarkan terbuka? Hujan sangat deras, kamu bisa sakit.” Kak Reina mendekat, menutup jendela. Menatapku prihatin, seolah paham apa yang kupikirkan. Dia ikut duduk di sampingku.
“Sudahlah, kakak tahu kau mencintainya. Tapi mungkinkah dia akan kembali setelah pergi tanpa secuil kabar pun untukmu? Kakak tidak ingin kamu terluka lebih dalam.” Kak Reina berhenti sejenak, menatapku dalam. ”Maaf, tapi kamu akan sangat terluka jika dia datang barsama seseorang sebagai penggantimu.” Aku menoleh, menatap Kak Reina tajam sebelum kembali menatap jendela kaca yang berembun. Membuat Kak Reina seketika diam. Tak ada percakapan beberapa menit.
“Kau mengenal Faris lebih dari siapapun. Cobalah beri dia kesempatan, dan belajarlah memulai kembali. Kau sudah terlalu lama menunggu.” Kak Reina berucap pelan sebelum berlalu meninggalkanku yang masih membisu.
Aku tak bergeming, masih asyik menatap hujan berwujud gelap. Membiarkan hatiku menyelami apa yang sesungguhnya kurasakan. Aku tak suka ucapan Kak Reina, meski sepotong hatiku yang lain membenarkan. Dia benar, saatnya aku memberi kesempatan pada orang lain.
***
            “Ada tamu mencari Tante Nayla, dia menunggu di luar.”
            “Siapa?” Aku bertanya penasaran. “Aku tidak mengenalnya.” Ita, putri Kak Reina menjawab singkat lalu berlalu.
            Segera kugendong putriku yang masih menangis. Membujuknya sambil melangkah ke ruang tamu. Seseorang menungguku di luar.
Langkahku terhenti melihat siapa yang datang mencariku. Randi berdiri tepat di depan figura foto pernikahanku bersama Faris tiga tahun lalu. Menatap. Menoleh saat menyadari kehadiranku bersama Farah yang masih sesegukan. Tersenyum ramah padaku, senyuman tulus. Aku seolah membeku, tak sanggup bergerak.  Dia beranjak ke kursi, membuatku tersadar kembali. Aku mendekat, duduk berhadapan. Tak berani menatapnya.
“Bagaimana kabarmu, Nay?”
“Seperti yang kau lihat. Aku baik,” jawabku singkat sembil menepuk-nepuk putriku.
“Syukurlah. Selamat atas pernikahan kalian, mungkin ucapan ini sangat terlambat.”
“Tak mengapa, terima kasih.”
            Kami diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
            “Ada banyak alasan mengapa aku tak pernah memberi kabar, meski semua sudah tak penting lagi. Seperti yang pernah kukatakan, matahari tak pernah ingkar janji. Hari ini aku datang memenuhi janji, tapi kita memang tak ditakdirkan bersama. Hanya ini yang bisa kukatakan.” Suaranya sedikit bergetar. Aku menatapnya sekilas.
Diam sejenak.
 “Salam buat Faris, aku pamit.”
Aku hanya diam, membiarkanmu berlalu. Menatap sosokmu yang semakin menjauh. Kamu masih seperti dulu. Tak berubah kecuali kulitmu yang sedikit gelap dan penampilanmu yang semakin modis. Kau selalu baik dan ramah. Meski aku bisa menangkap luka di matamu. Luka karena aku.
Kau benar, matahari tak pernah mengingkari janji. Dan janjimu adalah janji matahari. Janji yang tertepati. Maafkan aku yang mergukanmu. Maafkan aku yang tak bisa setia menunggu. Cintamu hanya pantas buat seseorang yang istimewa. Seseorang yang selalu percaya pada janji mataharimu.

SEKIAN

Cerpen ini telah terbit pada koran CAKRAWALA
Edisi, 20 Desember 2014

Aqilah El-Hafizhah