Selasa, 23 Mei 2017

Hadiah Dari Allah

Untuk seseorang yang bagiku Ia adalah sahabat. Dia yang kuanggap hadir sebagai hadiah untukku. Hadiah dari Allah, seorang sahabat yang shalihah. Hanya saja, saya terkadang merasa tak enak dan tak pantas menjadi teman buatnya. Saya banyak mengambil manfaat darinya, tapi dia.. entah apa yang ia dapatkan dengan berteman denganku.

Dia, dengan ilmunya yang jauh melebihiku, tak pernah pelit saat saya bertanya.

Dengan pemahaman agamanya, Ia mampu memberikan saran, komentar, dan apapun itu yang bisa menjadi solusi untuk permasalahanku.

Dia, dengan kemurahan hatinya, bersedia menjadi pendengar yang baik untuk setiap keluhan dan permasalahan yang kusampaikan.

Dan saya, dengan segala kekuranganku, sikap tak bijakku, dan lainnya, entah apa yang sudah kuberi.

Seingatku, dia tak pernah mengeluhkan permasalahannya dan meminta saranku. Bukan karena dia menganggapku lebih rendah sehingga tak pantas ditempati berbagi. Bukan. Itu semata-mata karena dia memang bukan sosok lemah dan cengeng yang dengan mudah mengeluhkan segala hal.

 Dia hanya menjadi pendengar dan saya yang terus mau didengarkan.

Dan saya, seolah tak pernah tahu dan mau tahu, adakah dia tak pernah punya masalah? Ataukah dia begitu tangguh untuk setiap permasalahan yang dihadapi.

Saat ngomong via telepon, saya lagi-lagi lebih mendominasi pembicaraan. Dan membuatnya lagi-lagi menjadi pendengar untuk setiap celotehanku. Saya yang terlalu cerewet bertanya ini dan itu, dan ia akan panjang bercerita, untuk menjawab pertanyaanku.

Dan satu hal yang pasti, awal yang membuat kami dekat karena kami merasa nyambung saja saat cerita. Dia teman diskusi yang baik. Dulu istilahnya beda, bukan diskusi, tapi debat.

Kebersamaan dengan dia sering membuat saya bebas mengatakan apapun. Be myself naturally.

Tapi belakangan, tiba-tiba saja saya merasa tidak enak sama dia. Iya, saya mulai berpikir bahwa kami berteman saat kami di pesantren dulu, kira-kira 3 tahun bersama dengan intensitas kedekatan yang lebih. Setelahnya, Ia melanjutkan kehidupannya di tempat yang jauh. Bertemu dengan orang-orang baru. Mungkin juga menemukan teman diskusi dan hal yang biasa kami lakukan bersama. Tapi dengan teman yang jauh lebih baik dariku. Teman-teman yang bisa merubah hidupnya sampai bisa seperti sekarang. Dan, saat saya berceloteh panjang, tiba2 saya merasa tidak enak. Mungkin saya mengganggu, atau, yah.. lagi-lagi saya ngeluh dan curhat seolah semua masih seperti dulu tanpa tahu bahwa baginya banyak hal sudah berubah.

Semua sudah berbeda. Dia dengan teman-teman baru yang jauh lebih baik. Sedanh saya yang hanya selalu membuat repot dengan segala cerita dan pertanyaanku. Saya sungguh merasa seperti pengganggu. 

Tapi, apapun dan bagaimanapun itu, saya sungguh bahagia dan bersyukur bisa mengenalnya. Meskipun sekarang tentu sudah berbeda dengan dulu, saat kami masih bersama di pesantren. Sekarang sudah terpisah jarak yang jauh. Juga dengan teman-teman baru, semua tentu mempengaruhi. 

Semoga Allah membalas segala kebaikannya dengan sebaik-baik balasan. Dan semoga kami bisa berteman hingga di akhirat kelak. Allaahumma aamiin. 


Aqilah El-Hafizhah

Minggu, 14 Mei 2017

Saat-Saat Terakhir Bapak

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati"
(QS. Al-Anbiya': 35)

Cara terbaik memaknai kematian itu adalah saat kita ditinggal orang yang teramat dekat dengan kita. Saya percaya bahwa setiap kita akan mati. Kematian demi kematian terjadi di sekitarku, bagaimana bisa saya tak percaya? Tapi, untuk memaknai hakekat kematian itu, saya belajar saat orang terkasih harus pergi meninggalkanku. 

Kematian Bapak. Membuatku untuk pertama kali sadar sesadar-sadarnya bahwa dia tak akan kembali lagi. Bahwa saat seseorang meninggal, maka itulah batas akhir kebersamaan kita di dunia. Sebesar apapun rindu kita padanya, Ia tak akan kembali lagi. Hanya do'a yang bisa kita kirimkan untuknya.


***

Sudah lewat pukul 22.00 malam itu. Saya dan teman kelompokku sudah hampir selesai membereskan sisa buka puasa dan makan malam di masjid Jami'.

Kami dikagetkan oleh motor yang tiba-tiba berhenti tepat di depan kamar mandi masjid, tempat kami sedang mencuci piring. Lampu yang remang-remang membuat kami sulit mengenali siapa yang datang.

"Ada Ima?"

Saya mengenal suara itu, dan memang namaku yang disebut.

Dengan perasaan tak karuan saya beranjak menemuinya.

"Kondisi bapak makin buruk, bagian kakinya sudah mulai dingin. Saya sudah minta izinkan untuk pulang. Mari saya antar balik ke kampus, nanti pulang jalan kaki saja sama Ira," ucapnya buru-buru.

Tanpa diperintah lagi saya bergegas untuk pamit pada ketua kelompokku setelah memberikan penjelasan singkat.

Pikiranku kacau sepanjang jalan, kemungkinan buruk mulai terpikir. Saya teramat takut.

Karena jarak masjid Jami dan kampus puteri cukup dekat jika ditempuh dengan motor,  kami sampai lebih cepat.

"Saya pulang duluan, yah. Kamu tinggal pamit sama pembinamu."

Saya hanya mengangguk, belum sanggup bicara.  Lalu bergegas ke kamar setelah kakakku pergi. Kudapati Ira menungguku, dia sudah siap. Saya hanya mengganti isi tas dengan beberapa barang yang mau kubawa.

Dengan buru-buru saya pamit dengan teman kamar yang dari tadi menatap kami iba. Lalu mempercepat langkah ke kamar pembina untuk pamit.

Sepanjang jalan pulang tak ada percakapan antara saya dan adikku. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

Rumah kami masih dalam kompleks Pesantren Darul Istiqamah sehingga tak butuh waktu lama untuk tiba di rumah.

Sampai di rumah saya langsung ke kamar bapak. Mama dan beberapa kakakku duduk di samping bapak. Semua saudaraku sudah berkumpul, kecuali Kak Liman yang saat itu masih menempuh pendidikan di Pakistan. Hanya mendapat setiap informasi  lewat telepon.

Saya duduk bersandar di lemari. Menatap tubuh bapak yang berbaring dengan infus di tangannya. Kondisi yang sama sejak sembilan hari yang lalu. Baring tanpa gerakan, suara, dan mata yang tak sekalipun terbuka. Stroke telah mernggut semuanya. Perlahan air mataku mengalir, lalu sesegukan dengan tangis tertahan. 

Tak sanggup menyaksikannya saya bergegas keluar.  Terus menangis di kamar sebelah hingga tertidur karena letih.

* * *

"Sholah, sholatullail. Sholah, sholatullail. Jam sudah menunjukkan pukul satu lewat lima puluh menit. Sepuluh menit lagi shalat lail akan dimulai."

Saya terbangun oleh suara speaker masjid yang membangunkan warga untuk shalat lalil.  Saya langsung ke kamar bapak. Mama dan semua kakakku terlihat masih di kamar.

"Ada yang mau ke masjid shalat lail?"

"Bagaimana kita ke masjid sementara kondisi bapak seperti ini? Kaki sampai lututnya sudah dingin," jawab Kak Sali.

"Kami ini belum ada yang pernah tidur." Kakakku yang lain mengomentari.

Saya tersadar bahwa kondisi bapak sedang tidak baik-baik saja. Perasaan takut kehilangan kembali hadir.

"Kalian shalat lail jama'ah di rumah saja. Biar saya dulu yang jaga bapak." Mama memerintah.

Kami wudhu bergantian lalu shalat lail berjama'ah. Setiap selesai dua raka'at Kak Mukmin ke kamar bapak mengecek suhu dingin di kaki bapak.

Selesai shalat subuh, seperti hari-hari sebelumnya saya membacakan adzkar pagi ditelinga bapak.

Setelah baca adzkar Mama meminta Kak Mukmin membacakan syahadat di telinga bapak dan yang lain untuk mengaji di sekitarnya agar yang Ia dengar hanya suara mengaji.

Sekitar pukul tujuh kami masih berkumpul di kamar bapak dengan pakaian shalat. Kak Mukmin masih setia membacakan syahadat. Mama melarangnya berhenti.

"Nak, minta maaflah satu-persatu di telinga bapak."

Entah apa yang dipikirkan Mama, tapi dia menginstruksikan kami meminta maaf. Kak Mukmin yang duduk paling dekat memulai. Satu-persatu kami mendekat dan membisikkan maaf.

Air mataku sudah mengalir tiada henti. Tiba giliranku, dengan berat kuucap maaf ditelinganya dengan deraian air mata. Pemandangan makin menyesakkan saat kulihat ternyata air mata bapak juga mengalir deras.  Saya bergetar menahan agar tangisku tidak bersuara.

Ini sudah hari ke sepuluh sejak Ia terbaring kaku tanpa suara, juga dengan mata yang terus tertutup. Tapi pagi ini, saat kami bergantian meminta maaf, air matanya mengalir deras. Tetap tanpa ekspresi. Hanya air matalah yang meyakinkan kami kalau dia mendengarkan.

Kak Mukmin kembali dengan posisi semula. Mentalqin Bapak. Sejak tiba dari Jakarta dia memang terus disamping bapak kecuali jika harus shalat, makan, dan  ke kamar mandi.

Ibu, saudara-saudara, dan beberapa keluarga bapak sudah tiba dari Sidrap. Mereka langsung memenuhi kamar. Saya tidak lagi di kamar. Kak Saidah memintaku mengayun anaknya yang menangis.

Pukul sepuluh lewat beberapa menit Kak Fira memanggilku berulang-uLang. Saya masuk ke kamar bapak terburu-buru.

"Beritahu nenek, bapak sudah pergi," ucapnya sambil menangis.

Air mataku tumpah. Berjalan cepat ke kamar tempat nenek berada.

"Kenapa?" tanteku bertanya lebih dulu melihatku menangis.

"Bapakku sudah pergi," jawabku susah payah disela tangis.

Semuanya bergegas ke kamar. Rumah sudah bergema dengan suara tangis.

Kugendong keponakanku yang masih menangis dari ayunan. Saya ke kamar, semakin terguncang melihat Bapak yang masih dengan posisi yang sama, tapi sudah tak bernyawa. Tak ada lagi tangis tertahan. Semua tumpah melepas kesedihan. Bapak benar-benar sudah tiada.

Suasana duka menghiasi rumah. Bergantian pelayat memadati rumah kami.

Sesuai yang disunnahkan, semua proses dipercepat. Tak ada keluarga lagi yang harus ditunggu.

Bapak dimakamkan setelah shalat zuhur yang dilanjutkan dengan shalat jenazah di masjid pesantren.  Kemudian dimakamkan di pekuburan Pesantren Darul Istqamah.

Hari ketiga Ramadhan bapak menutup kehidupannya. Meninggalkan kami dengan pelajaran-pelajaran tak terhitung. Untuk pertama kalinya saya merasakan pahitnya ditinggal orang terdekat.


Aqilah El-Hafizhah

Sabtu, 06 Mei 2017

Musik

Saya dalam perjalanan ke rumah salah satu santri kami yang baru saja menyelesaikan penyetoran hafalan Al-Qur'an 30 Juz. Kunjungan ini dalam rangka syukuran orangtauanya atas keberhasilan sang anak dalam menghafal Al-Qur'an. Bersama seluruh santri tahfizh, teman-teman kelasnya, dan segenap guru yang sempat, kami berangkat menggunakan bus.

Dan saat sini, di tengah keramaian para santri, saya duduk dengan headset di telinga. Memutar murottal dengan volume full, berusaha melawan riuhnya musik yang menggema di seluruh sudut bus.



Entahlah, mendengar musik yang memekakkan telinga ini tiba-tiba melahirkan rasa resah dan sedih. Kuakui, dulu, saya termasuk penikmat musik. Meski tidak semua jenis musik.

Hingga satu waktu, saya penasaran dengan sebuah judul ceramah, "Musik Bagiku Halal". Ceramah yamg dibawakan oleh Ust. Syafiq Riza Basalamah yang membahas panjang lebar tentang hukum musik. Penjabaran yang membuatku berpikir ulang mengenai hukum musik.

Beliau tidak bilang, musik itu haram atau halal. Sebatas memaparkan pendapat para ulama salaf mengenai musik. Dan membiarkan kami berpikir dan memilih pendapat yang dianggap meyakinkan.

Awalnya masih bingung untuk menentukan sikap. Maka untuk lebih aman, kupilih untuk menghindarinya. Tiap kali ingin memutar nasyid selalu muncul pemikiran, "Kenapa tidak putar murottal saja? Bukannya ini lebih bermanfaat dan bisa sekaligus untuk mengulang hafalan?"

Pemikiran inilah yang selalu muncul tiap ingin memutar musik. Dalam waktu yang cukup lama.

Hingga Allah mengujiku dengan musibah kehilangan. Hp-ku raib, berarti koleksi musikku pun hilang. Alhamdulillaah, setelah ganti hp tidak lagi kuisi dengan lagu ataupun nasyid. Harapannya agar musik bisa semakin jauh. Dan saya akhirnya terbiasa dengan itu.

Maka, jika hari ini gelisah itu ada. Mungkin itu bagian dari penolakan hati ini terhadap musik. Sesuatu yang hadir perlahan, sangat pelan, sampai saya sendiri tak sadar kapan tepatnya telinga ini mulai merasa tak nyaman dengan berbagai macam musik.

Persoalan haram dan halalnya, wallâhu a'lam. Saya hanya berusaha menghindari hal-hal yang menjadi perdebatan. Semoga ini salah satu bentuk kehati-hatian terhadap perkara syubhat.

Aqilah El-Hafizhah 

Selasa, 02 Mei 2017

My Beloved Mother



Sudah kurang lebih sebulan kepergian kakak pertamaku. Duka itu perlahan sembuh seiring berjalannya waktu, meski sesekali ia kadang tiba-tiba hadir. Overall, semuanya mulai membaik.

Salah satu hikmah yang sangat kusyukuri dari musibah ini adalah bisa tinggal bersama kembali dengan mama. Kehadirannya di rumah teramat berarti. Meskipun tidak begitu banyak waktu yang bisa kami habiskan bersama karena padatnya aktivitas di luar sepanjang hari.

Tapi, ada moment-moment sederhana yang amat berkesan dan bisa membuatku sangat bahagia dan bersyukur. Seperti saat saya pamit untuk beraktivitas. Menyalami telapak tangannya yang lembut dan mengecup punggung tangan yang sudah keriput. Lalu dia yang tak pernah luput berbisik sebelum saya berlalu, "Perbaiki niat selalu, Nak."

Sederhana, tapi penuh makna.

Pun saat pulang di sore hari, saat lelah tak terelakkan.  Menemuinya, menanyakan bagimana sepanjang harinya di rumah, lalu kamipun bertukar cerita tentang sepanjang hari itu. Meski kadang lebih banyak keluhan yang kusampaikan. Dia mendengar segalanya, lalu menasehatiku.

Menentramkan! Inilah definisi lain dari bahagia.

Bakda maghrib, mengaji berdampingan dengannya, atau kadang dia hanya sekadar duduk mendengarkanku muraja'ah. Lalu sesekali kami diskusi tentang sulitnya memelihara hafalan dan begitu mudahnya ia hilang.

Sebuah sharing yang menyenangkan.

Saat membuka mata, dirinyalah yang selalu kulihat pertamakali. Dia yang sedang khusyuk bermunajat pada-Nya. Atau hanya sempat mendengar dia membaca lembar-lembar kalam-Nya saat saya agak telat bangun.

Kemudian, shalat subuh berjama'ah dengannya menjadi aktivitas terakhir yang kami lakukan bersama. Saya sudah harus bersiap-siap untuk memulai aktifitas kembali.

Rabbi, terima kasih untuk setiap moment ini. Singkat dan sederhana, tapi penuh makna. Jaga ia selalu, berikan kesehatan, kekuatan, dan umur yang berkah untuknya. Rahmati dia, selalu, hingga di akhir usianya. Allaahumma aamiin.


Aqilah El-Hafizhah
Terima kasih telah menjadi Ibu yang luar biasa untuk kami, anak-anakmu.