Untuk seseorang yang bagiku Ia adalah sahabat. Dia yang kuanggap hadir sebagai hadiah untukku. Hadiah dari Allah, seorang sahabat yang shalihah. Hanya saja, saya terkadang merasa tak enak dan tak pantas menjadi teman buatnya. Saya banyak mengambil manfaat darinya, tapi dia.. entah apa yang ia dapatkan dengan berteman denganku.
Dia, dengan ilmunya yang jauh melebihiku, tak pernah pelit saat saya bertanya.
Dengan pemahaman agamanya, Ia mampu memberikan saran, komentar, dan apapun itu yang bisa menjadi solusi untuk permasalahanku.
Dia, dengan kemurahan hatinya, bersedia menjadi pendengar yang baik untuk setiap keluhan dan permasalahan yang kusampaikan.
Dan saya, dengan segala kekuranganku, sikap tak bijakku, dan lainnya, entah apa yang sudah kuberi.
Seingatku, dia tak pernah mengeluhkan permasalahannya dan meminta saranku. Bukan karena dia menganggapku lebih rendah sehingga tak pantas ditempati berbagi. Bukan. Itu semata-mata karena dia memang bukan sosok lemah dan cengeng yang dengan mudah mengeluhkan segala hal.
Dia hanya menjadi pendengar dan saya yang terus mau didengarkan.
Dan saya, seolah tak pernah tahu dan mau tahu, adakah dia tak pernah punya masalah? Ataukah dia begitu tangguh untuk setiap permasalahan yang dihadapi.
Saat ngomong via telepon, saya lagi-lagi lebih mendominasi pembicaraan. Dan membuatnya lagi-lagi menjadi pendengar untuk setiap celotehanku. Saya yang terlalu cerewet bertanya ini dan itu, dan ia akan panjang bercerita, untuk menjawab pertanyaanku.
Dan satu hal yang pasti, awal yang membuat kami dekat karena kami merasa nyambung saja saat cerita. Dia teman diskusi yang baik. Dulu istilahnya beda, bukan diskusi, tapi debat.
Kebersamaan dengan dia sering membuat saya bebas mengatakan apapun. Be myself naturally.
Tapi belakangan, tiba-tiba saja saya merasa tidak enak sama dia. Iya, saya mulai berpikir bahwa kami berteman saat kami di pesantren dulu, kira-kira 3 tahun bersama dengan intensitas kedekatan yang lebih. Setelahnya, Ia melanjutkan kehidupannya di tempat yang jauh. Bertemu dengan orang-orang baru. Mungkin juga menemukan teman diskusi dan hal yang biasa kami lakukan bersama. Tapi dengan teman yang jauh lebih baik dariku. Teman-teman yang bisa merubah hidupnya sampai bisa seperti sekarang. Dan, saat saya berceloteh panjang, tiba2 saya merasa tidak enak. Mungkin saya mengganggu, atau, yah.. lagi-lagi saya ngeluh dan curhat seolah semua masih seperti dulu tanpa tahu bahwa baginya banyak hal sudah berubah.
Dia, dengan ilmunya yang jauh melebihiku, tak pernah pelit saat saya bertanya.
Dengan pemahaman agamanya, Ia mampu memberikan saran, komentar, dan apapun itu yang bisa menjadi solusi untuk permasalahanku.
Dia, dengan kemurahan hatinya, bersedia menjadi pendengar yang baik untuk setiap keluhan dan permasalahan yang kusampaikan.
Dan saya, dengan segala kekuranganku, sikap tak bijakku, dan lainnya, entah apa yang sudah kuberi.
Seingatku, dia tak pernah mengeluhkan permasalahannya dan meminta saranku. Bukan karena dia menganggapku lebih rendah sehingga tak pantas ditempati berbagi. Bukan. Itu semata-mata karena dia memang bukan sosok lemah dan cengeng yang dengan mudah mengeluhkan segala hal.
Dia hanya menjadi pendengar dan saya yang terus mau didengarkan.
Dan saya, seolah tak pernah tahu dan mau tahu, adakah dia tak pernah punya masalah? Ataukah dia begitu tangguh untuk setiap permasalahan yang dihadapi.
Saat ngomong via telepon, saya lagi-lagi lebih mendominasi pembicaraan. Dan membuatnya lagi-lagi menjadi pendengar untuk setiap celotehanku. Saya yang terlalu cerewet bertanya ini dan itu, dan ia akan panjang bercerita, untuk menjawab pertanyaanku.
Dan satu hal yang pasti, awal yang membuat kami dekat karena kami merasa nyambung saja saat cerita. Dia teman diskusi yang baik. Dulu istilahnya beda, bukan diskusi, tapi debat.
Kebersamaan dengan dia sering membuat saya bebas mengatakan apapun. Be myself naturally.
Tapi belakangan, tiba-tiba saja saya merasa tidak enak sama dia. Iya, saya mulai berpikir bahwa kami berteman saat kami di pesantren dulu, kira-kira 3 tahun bersama dengan intensitas kedekatan yang lebih. Setelahnya, Ia melanjutkan kehidupannya di tempat yang jauh. Bertemu dengan orang-orang baru. Mungkin juga menemukan teman diskusi dan hal yang biasa kami lakukan bersama. Tapi dengan teman yang jauh lebih baik dariku. Teman-teman yang bisa merubah hidupnya sampai bisa seperti sekarang. Dan, saat saya berceloteh panjang, tiba2 saya merasa tidak enak. Mungkin saya mengganggu, atau, yah.. lagi-lagi saya ngeluh dan curhat seolah semua masih seperti dulu tanpa tahu bahwa baginya banyak hal sudah berubah.
Semua sudah berbeda. Dia dengan teman-teman baru yang jauh lebih baik. Sedanh saya yang hanya selalu membuat repot dengan segala cerita dan pertanyaanku. Saya sungguh merasa seperti pengganggu.
Tapi, apapun dan bagaimanapun itu, saya sungguh bahagia dan bersyukur bisa mengenalnya. Meskipun sekarang tentu sudah berbeda dengan dulu, saat kami masih bersama di pesantren. Sekarang sudah terpisah jarak yang jauh. Juga dengan teman-teman baru, semua tentu mempengaruhi.
Semoga Allah membalas segala kebaikannya dengan sebaik-baik balasan. Dan semoga kami bisa berteman hingga di akhirat kelak. Allaahumma aamiin.
Aqilah El-Hafizhah


