Hari guru memang sudah lewat, tapi kami baru bisa
memperingatinya hari ini. Tak masalah, bahkan harusnya kita tak butuh satu hari
paten untuk memperingati hari guru, bukan? Hari ini, tepat saat pelaksanaan Apel pagi
yang rutin dilaksanakan tiap hari Senin kami rangkaikan dengan perayaan hari
guru. Membuat upacara pagi ini sedikit berbeda dengan apel-apel sebelumnya.
Sebenarnya cukup sederhana dan biasa, tapi cukup berkesan. Kali
ini bukan para santri yang bertugas memimpin berjalannya Apel. Mulai pemimpin
upacara, protokol, pembacaan tilawah, pembacaan ayat keyakinan, juga pembacaan
do’a, semua dipimpin langsung oleh para guru.
![]() |
| Suasana Apel pagi ini: Senin, 28 November 2016 |
Seluruh santri berbaris rapi di lapangan, pun tim
paduan suara. Yang membuat pagi ini sedikit berbeda karena barisan depan yang
biasa diisi santri kini diambil alih oleh para guru yang sudah bersiap
menggantikan posisi santri yang biasanya bertugas.
Bagian paling menarik dan mengharukan dari rangkaian apel
pagi ini adalah saat pemimpin upacara memberikan nasehat. Kali ini dipimpin
oleh Ibu Syamsiah Sa’ad, Ibu manager operasional SPIDI. Singkatnya, di akhir speach
beliau mengenang guru-guru yang pernah berjasa mengajar dan mendidik beliau. Mengucapkan
rasa terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala jasa mereka. Bahwa tanpa
mereka, para guru, beliau tak akan bisa berdiri hari ini seperti yang kami
saksikan. Dan masih banyak lagi yang beliau sampaikan. (Lagu tentang guru
mengalun lirih mengiringi kalimat-kalimat beliau, membuat suasana pagi ini
semakin mengharukan)
Pujian dan ucapan terima kasih ini diucapkan secara langsung
pada guru-guru beliau yang sampai hari ini masih berstatus sebagai guru di
SPIDI. Menyebutkan nama mereka satu-persatu. Diantaranya ada Ibu Heri, Ibu Fatimah, Ibu Ida,
Ibu Dima, mereka yang hingga kini masih setia dengan profesi yang amat mulia. Hari
ini mereka menyaksikan satu dari sekian banyak amal jariah mereka berterima
kasih dengan tulus. Tentu amat membanggakan dan membahagiakan bagi mereka bisa
menyaksikan hari ini.
Sebagai apresiasi terima kasih mereka diundang ke tengah
lapangan. Ibu Syamsiah menyerahkan secara langsung bingkisan untuk mereka, sambil bersalaman dan berpelukan. Pemandangan yang mengharukan! Butiran bening
mengalir tulus dari mata para hadirin. (music terus mengalun)
Di barisan depan, barisan para guru saya berdiri takzim
menyaksikan pemandangan mengharukan ini. Tak kuasa menahan air mata menyaksikan
semuanya. Bukan hanya karena peristiwa ini memang mengharukan. Tapi karena
mereka, para guru yang berdiri di tengah lapangan itu, mereka juga adalah
guru-guruku. Guru yang amat berjasa membagikan ilmu mereka, memberikan
keteladanan seorang guru yang sesungguhnya.
Yah.. mereka, para guru yang dengan bangga selalu kuceritakan tentang
mereka pada teman-teman kuliahku; bahwa saya mempunyai guru-guru yang luar
biasa. Guru yang mengajari kami dengan tulus. Ah.. butuh tulisan khusus untuk menceritakan mereka. Dalam catatan
khusus mungkin.
Barisan bubar, segera kutemui mereka, guru-guruku. Memulainya
dari Ibu Ina, guru idola dan fafvoritku. Kusalami dan kucium tangannya. Kupeluk
erat beliau. Jujur, baru kali ini saya memeluk beliau seperti ini. ingin sekali
kuucap terima kasih tak terkira dan memohon maaf, tapi lidahku seakan kelu. Tak
ada sepatah katapun mampu terucap, hanya air mata yang terus mengucur deras. Tapi
beliau membisikkan beberapa kalimat yang terus terngiang sampai saat ini. Beliau
terus memegang kepalaku dan mengucapkan harapan-harapan beliau padaku. Itulah
yang sempat kutangkap dari setiap kalimatnya. Sesaat sebelum para santri ikut
bergabung, berlomba menyalaminya.
Aku melangkah, menemui guruku yang lain. Menyalami dan
memeluk erat Ibu Fatimah, kami sama-sama menangis. Tanpa kata-kata, hanya ada
air mata. Begitu juga dengan Ibu Ida, kusalami dan kupeluk beliau. Sayangnya tak
sempat kusalami Ibu Heri, beliau sudah jauh bergabung dengan para santri yang
juga sibuk menyalami para guru. Saya memilih menunduk, menyembunyikan muka saat
santri-santri menyalamiku. Ah.. saat seperti ini, tak perlu kata-kata untuk
menjelaskan perasaan kita, setiap kejadian sudah cukup memberi penjelasan atas
suasana hati kami saat ini.
Terima kasih untuk hari ini. Hari yang memberikan kesempatan
untukku bisa memeluk erat guru-guruku. Merasakan kembali betapa berjasanya
mereka. Semoga kami bisa menjadi salah satu amal jariyah bagi kalian. Mari saling
mendo’aakan.
Aqilah El-Hafizhah








