Senin, 28 November 2016

Peringatan Hari Guru

Hari guru memang sudah lewat, tapi kami baru bisa memperingatinya hari ini. Tak masalah, bahkan harusnya kita tak butuh satu hari paten untuk memperingati hari guru, bukan? Hari ini, tepat saat pelaksanaan Apel pagi yang rutin dilaksanakan tiap hari Senin kami rangkaikan dengan perayaan hari guru. Membuat upacara pagi ini sedikit berbeda dengan apel-apel sebelumnya. 

Sebenarnya cukup sederhana dan biasa, tapi cukup berkesan. Kali ini bukan para santri yang bertugas memimpin berjalannya Apel. Mulai pemimpin upacara, protokol, pembacaan tilawah, pembacaan ayat keyakinan, juga pembacaan do’a, semua dipimpin langsung oleh para guru.

Suasana Apel pagi ini: Senin, 28 November 2016

Seluruh santri berbaris rapi di lapangan, pun tim paduan suara. Yang membuat pagi ini sedikit berbeda karena barisan depan yang biasa diisi santri kini diambil alih oleh para guru yang sudah bersiap menggantikan posisi santri yang biasanya bertugas.

Bagian paling menarik dan mengharukan dari rangkaian apel pagi ini adalah saat pemimpin upacara memberikan nasehat. Kali ini dipimpin oleh Ibu Syamsiah Sa’ad, Ibu manager operasional SPIDI. Singkatnya, di akhir speach beliau mengenang guru-guru yang pernah berjasa mengajar dan mendidik beliau. Mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala jasa mereka. Bahwa tanpa mereka, para guru, beliau tak akan bisa berdiri hari ini seperti yang kami saksikan. Dan masih banyak lagi yang beliau sampaikan. (Lagu tentang guru mengalun lirih mengiringi kalimat-kalimat beliau, membuat suasana pagi ini semakin mengharukan)

Pujian dan ucapan terima kasih ini diucapkan secara langsung pada guru-guru beliau yang sampai hari ini masih berstatus sebagai guru di SPIDI. Menyebutkan nama mereka satu-persatu. Diantaranya ada Ibu Heri, Ibu Fatimah, Ibu Ida, Ibu Dima, mereka yang hingga kini masih setia dengan profesi yang amat mulia. Hari ini mereka menyaksikan satu dari sekian banyak amal jariah mereka berterima kasih dengan tulus. Tentu amat membanggakan dan membahagiakan bagi mereka bisa menyaksikan hari ini.

Sebagai apresiasi terima kasih mereka diundang ke tengah lapangan. Ibu Syamsiah menyerahkan secara langsung bingkisan untuk mereka, sambil bersalaman dan berpelukan. Pemandangan yang mengharukan! Butiran bening mengalir tulus dari mata para hadirin. (music terus mengalun)

Di barisan depan, barisan para guru saya berdiri takzim menyaksikan pemandangan mengharukan ini. Tak kuasa menahan air mata menyaksikan semuanya. Bukan hanya karena peristiwa ini memang  mengharukan. Tapi karena mereka, para guru yang berdiri di tengah lapangan itu, mereka juga adalah guru-guruku. Guru yang amat berjasa membagikan ilmu mereka, memberikan keteladanan seorang guru yang sesungguhnya.

Yah.. mereka, para guru yang dengan bangga selalu kuceritakan tentang mereka pada teman-teman kuliahku; bahwa saya mempunyai guru-guru yang luar biasa. Guru yang mengajari kami dengan tulus. Ah.. butuh tulisan khusus untuk menceritakan mereka. Dalam catatan khusus mungkin.

Barisan bubar, segera kutemui mereka, guru-guruku. Memulainya dari Ibu Ina, guru idola dan fafvoritku. Kusalami dan kucium tangannya. Kupeluk erat beliau. Jujur, baru kali ini saya memeluk beliau seperti ini. ingin sekali kuucap terima kasih tak terkira dan memohon maaf, tapi lidahku seakan kelu. Tak ada sepatah katapun mampu terucap, hanya air mata yang terus mengucur deras. Tapi beliau membisikkan beberapa kalimat yang terus terngiang sampai saat ini. Beliau terus memegang kepalaku dan mengucapkan harapan-harapan beliau padaku. Itulah yang sempat kutangkap dari setiap kalimatnya. Sesaat sebelum para santri ikut bergabung, berlomba menyalaminya.

Aku melangkah, menemui guruku yang lain. Menyalami dan memeluk erat Ibu Fatimah, kami sama-sama menangis. Tanpa kata-kata, hanya ada air mata. Begitu juga dengan Ibu Ida, kusalami dan kupeluk beliau. Sayangnya tak sempat kusalami Ibu Heri, beliau sudah jauh bergabung dengan para santri yang juga sibuk menyalami para guru. Saya memilih menunduk, menyembunyikan muka saat santri-santri menyalamiku. Ah.. saat seperti ini, tak perlu kata-kata untuk menjelaskan perasaan kita, setiap kejadian sudah cukup memberi penjelasan atas suasana hati kami saat ini.

Terima kasih untuk hari ini. Hari yang memberikan kesempatan untukku bisa memeluk erat guru-guruku. Merasakan kembali betapa berjasanya mereka. Semoga kami bisa menjadi salah satu amal jariyah bagi kalian. Mari saling mendo’aakan.


Aqilah El-Hafizhah 

Jumat, 18 November 2016

Kalimat jleb dari Syekh Abdurrahman Bakr

Sudah lama saya tidak menambah catatan apapun di blog. Tapi hari ini sesuatu memaksaku untuk menulis. Bagi orang mungkin ini terdengar sederhana, tapi tidak denganku.  Karena itulah saya ingin sekali menuliskannya. Tentang hari ini dalam kegiatan DAURAH METODE BACA QUR’AN AT-TIBYAN


***

Hari ini melelahkan. Duduk selama kurang lebih enam jam menyimak pelajaran cukup menjadi alasan lelah. Tapi saya sangat menikmati dan bersemangat mengikuti setiap rangkaian kegiatan daurah ini.

Ada banyak hal yang membuat saya begitu bersemangat sebenarnya. Tapi yang ingin kutuliskan malam ini cukup satu hal saja dulu.

Tentang sederet kalimat yang diucapkan Syekh Abdurrahman Bakr di awal pertemuan. Tepatnya pada bagian pengantar. Kalimat yang amat menusuk dan membekas buat saya pribadi. Kalimat yang menjadi pemicu semangatku belajar. Syekh bilang,

“Hal pertama yang harus diluruskan adalan Niat. Tanamkan dalam diri bahwa saya mengajar ini lillaah. Saat ingin keluar rumah untuk ngajar, katakan, ‘Saya keluar ngajar ini lillaah’. Sebelum masuk kelas katakan lagi ‘Saya akan ngajar ini lillaah’, kita melakukan segala sesuatunya itu lillaah. Dengan begitu kita akan mengajar sepenuh hati dan sebaik mungkin. Kita tidak memperbaiki cara ngajar kita hanya saat direktur atau pengawas hadir menyaksikan kita, lalu mengajar santai dan asal-asalan saat tak ada direktur ataupun pengawas. Yakinlah bahwa setiap detik yang kita habiskan dalam kelas itu berada dalam pengawasan Allah.”

Ini sedikit dari yang bisa kuingat. Kalimat ini jleb banget buat saya. Rasanya seperti baru kali ini saya mendengar nasehat tentang pentingnya niat dalam aktivitas kita, terkhusus saat mengajar. Saya menunduk, mataku terasa panas menahan sesuatu agar tak sampai keluar. Tanpa diperintah memoroku mulai memutar kembali saat-saat saya mengajar.

Ah.. menjadi guru itu tidak mudah. Penuh tanggung jawab. Dan apa kata Syekh tadi, setiap detik yang kita habiskan dalam kelas itu adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Ya Rabb, bagaimanalah ini.  Tetiba saya merasa takut sekaligus semangat untuk belajar lebih baik lagi.

Ada banyak hal menarik dari kegiatan daurah hari ini. Tapi cukup ini saja dulu yang kutulis. Daurah ini masih berlangsung hingga enam hari kedepan. Semoga Allah memberi kesehatan dan kesempatan untuk kami kembali belajar bersama Syekh Abdurrahman Bakr.

Jazaakallaahu khair, Syekh.. nasehat ini amat berkesan buat saya.

Aqilah El-Hafizhah





Minggu, 09 Oktober 2016

Fatamorgana Kebahagiaan

Pagi ini, menyempatkan membaca chat di grup WA yang sudah menumpuk. Ada satu tulisan yang sangat berkesan dan ingin 'kuamankan' di sini. Mungkin esok atau lusa, aku butuh untuk kembali membacanya. Rumah ini semoga menjadi tempat yang tempat untukku kembali saat waktu itu tiba..

Tentang bagaimana memperoleh ketentraman hati dengan segala kerumitan hidup yang kita hadapi.
___________________________

💦 :: *_Fatamorgana Kebahagiaan_*::

🍃Banyak para pekerja di ibukota sebenarnya tertekan. Namun karena mereka sudah terbiasa harian tertekan, maka mereka tak mengakuinya.

 Tekanan kemacetan, tekanan saat dikreta, dan finansial.

💔Bayangkan, berangkat di hari masih belum terang betul, tetap ada peluh akibat kemacetan dan kereta yang penuh sesak.

💦Pulang di hari masih ada terang, terjebak macet atau kereta yang sesak lagi hingga baru bisa melihat *senyuman* istri di hari sudah gelap betul. Itu pun jika istri tak bekerja jauh.

🌴Tidak bisa dihindari lagi. Kebutuhan ekonomi. Harus bekerja sepeluh itu. Semua itu dijalani oleh manusia ibukota, walau tidak semua.

💐Kaum Ibu pun hari harinya tak kalah lelah dan penat dengan para pekerja itu, mereka harus menghadapi rengekan anak, keterbatasan finansial, mendidik dan membentengi anak anak mereka dari pemahaman yang merusak aqidah dan akhlak mereka, begitu sangat melelahkan, penat, dan menjenuhkan.

❣Ada diantara mereka yang berusaha mengalihkan *"keperihan jiwa dan tekanan hidup"* dengan kebahagiaan yang *_semu_*, bermain game saat dikreta meski sesak, membaca berita, menonton tv, mensetel mp3  Banyak sekali, Tapi rata-rata setel lagu, Layaknya meminum air laut  bukannya menghilangkan dahaga hanya menambah dahaga.

🌱Maka jadilah hati hati kita, hati yang penuh dengan kegersangan. Tubuh lelah dengan aktifitas, qalbu galau karena 'rindu' akan PemilikNya (Allah)....

🌷Karenanya tidak heran bila selalu saja ada yang mewartakan berita kejahatan dimedia atau banyak yang masuk RS Jiwa.

🌺Himpitan ekonomi, tekanan pekerjaan, rutinitas yang menjenuhkan namun qalbu tak mendapatkan 'kesegaran', jadilah kita mayat mayat hidup.

💦Mungkin ada baiknya kita merubah kebiasaan untuk menyegarkan jiwa yang seolah teriak dan berontak dengan ibadah, agar ketentraman qalbu tetap bisa kita rasakan meski ditengah pahit dan getirnya kehidupan...

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah."
(Qs. Al Balad : 4)

🍃Karenanya kita takkan menemukan dalam sejarah ada Nabi atau Sahabatnya yang stres atau bunuh diri karena beban kehidupan, meski sama sama kita ketahui ujian mereka jauh lebih berat dibanding tekanan hidup kita.

💖Karena mereka memahami petunjukNya :

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram."(Qs. Ar Ra'd : 28).

Karena.... *_"Bila qalbu baik, maka baiklah seluruh anggota tubuh."_*

📚Sekedar masukan, Ada beberapa Ibadah yang bisa kita lakukan untuk "menyegarkan" jiwa jiwa yang "lelah"....


💖 (1) *SHALAT.*
Bersyukurlah kita menjadi seorang mukmin, min 5 kali sehari kita bisa menyegarkan jiwa kita, belum lagi bila ditambah dengan shalat sunnahnya.

Resapi bacaannya, Resapi gerakannya, -insya Allah- kita akan merasakan NIKMATNYA Ibadah shalat. Shalatlah dengan berjama'ah (bagi laki2).

Shalāt adalah ibadah yang sangat dicintai Allah Subhanahu wa Ta'ala.

🌿Bahkan saking agungnya perkara shalat, saking nikmatnya perkara shalat, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata kepada Bilāl:

يَا بِلَالُ, أَقِمِ الصَّلَاةَ ! أَرِحْنـــَا بِهَا

"Ya Bilāl, dirikanlah shalāt, *istirahatkanlah* kami dengan shalāt."

(HR Abu Daud nomor 4333, versi Baituk Afkar Ad Dauliyah nomor 4985)

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mendapati shalāt adalah tempat istirahat, shalāt adalah ketenangan.

🌿Dalam riwayat yang lain kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

وَجُعِلَ قُرَّةٌ عَيْنِيْ فِيْ الصَّلَاةِ

"Dijadikan *kesejukan* pandanganku pada shalāt."

(HR Imam Ahmad nomor 11845)

Dan terlalu banyak faedah serta dalil yang menunjukkan keutamaan shalāt.

💖 *(2) Membaca alQur'an Dengan Metadaburrinya / Mensetel Murotal*

❣Allah _subhanahu wa ta'ala_ berfirman;

ﺃَﻓَﻠَﺎ ﻳَﺘَﺪَﺑَّﺮُﻭﻥَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﺃَﻡْ ﻋَﻠَﻰٰ ﻗُﻠُﻮﺏٍ ﺃَﻗْﻔَﺎﻟُﻬَﺎ

*_"Maka apakah mereka tidak mentadabburi (menghayati makna) Al Quran ataukah hati mereka terkunci?."_*
[QS. Muhammad: 24]

❣ Berkata Imam Ath Thabari rahimahullah ;

‏ﺇﻧﻲ ﻷﻋﺠﺐ ﻣﻤﻦ ﻗﺮﺃ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﻟﻢ ﻳﻌﻠﻢ ﺗﺄﻭﻳﻠﻪ ﻛﻴﻒ ﻳﺘﻠﺘﺬ ﺑﻘﺮﺍﺀﺗﻪ

_"Sungguh aku heran dengan seseorang yang membaca Alquran namun tidak mengetahui tafsirnya,_

*_Bagaimana ia bisa merasakan KELEZATAN dalam membacanya_?*

💖 *(3) Memperbanyak Istighfar.*
Dosa itu racun hati, racun yang dapat menggelisahkan jiwa, membuat jiwa galau dan gersang, dan obatnya adalah taubat dan istighfar. Dosa itu karena meninggalkan yang Allah perintahkan, atau melakukan yang Allah larang, dan induk dosa itu ada tiga, yakni : Syirik, bid'ah, dan maksiat.

❣Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu mengatakan :

"Engkau merasakan PAHITNYA KEGELISAHAN karena MAKSIAT kepada-Nya, tetapi engkau tidak mencari KEDAMAIAN HATI dengan ta'at kepada-Nya."

(Fawaidul Fawaid, Pustaka Imam Asy Syafi'i, hal 501).

💖 *(4) Memperbanyak dzikir.*
Baik dzikir masuk / keluar toilet, dzikir mau tidur, terutama dzikir selepas shalat 5 waktu, dan dzikir pagi dan petang.
Luangkan waktu selepas shalat shubuh untuk membaca dzikir pagi dan selepas ba'da asar membaca dzikir petang.

❣  "Siapa yang merenungkan makna bacaan dzikir pagi dan petang, dia akan mendapatkan bahwa bacaan tersebut berisi PUJIAN bagi Allah, dan DO'A dari orang yang merasa BUTUH kepadaNya. Semakin TINGGI rasa kebutuhan Anda kepada Rabb Anda, semakin nampak pula siapa sejatinya diri Anda, dan akan HILANGdari diri Anda, sikap sombong dan ujub."

[Imama Masjid al Ghazali, kuwait. Murid Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin 13/4/2014 l twitulama.com]

*Inilah amaliyah yang mudah namun sangat dahsyat....*
*Ia (dzikir) adalah sebaik baik vitC-emangat...*

💐  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Siapa yang tak sanggup menghidupkan malam dengan ibadah, pelit dengan harta untuk berinfak dan takut melawan musuh dalam jihad, maka hendaknya dia memperbanyak berdzikir mengingat Allah” (Shahih at Targhib 1496)

[ Dr Hisyam al Husani, anggota dewan pendidikan di Uni Emirat Arab, s3 dalam bidang fikih muamalah, s2 dalam bidang akidah 7/4/2014 l twitulama.com]

⛔ *Lalai darinya berbuah kegalauan, kemalasan , dan kepenatan...* 💔

❗"Betapa celaka, orang yang mencelakai dan menghancurkan dirinya dengan lalai dari berzikir mengingat RabbNya."

[Dr Muhammad Jabir al Qahthani Dosen Ilmu al Quran di Universitas King Khalid, Abha | twitulama.com]

🌷Berkata Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu :

"Dzikir kepada Allah meliputi dzikir dengan asma asma dan sifat sifatNya, dzikir dengan (mengingat) perintah dan laranganNya, serta dzikir dengan (mengamalkan) firmanNya. dzikir dzikir tersebut MENUNTUT seseorang untuk :

✅1. MengenalNya,
✅2. MengimaniNya,
✅3. dan Mengimani sifat sifat kesempurnaanNya,
✅4. dan sifat sifat keagunganNya.

Dzikir dalam hal ini juga meliputi puji pujian kepadaNya dengan berbagai pujian mulia. Sungguh amal yg demikian tidak dapat dilakukan seseorang kecuali dengan TERLEBIH DAHULU mentauhidkanNya."

[Fawaidul Fawaid, hal 601-602, Pustaka Imam Asy Syafi'i]

Semoga amaliyyah harian ini bisa menjadi pelipur lara kita, ditengah pahit dan getirnya kehidupan, dan berbuah manjs diakhirat. Allahumma aamiin...

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

*_"sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu."_*

(Qs. Asy Syam : 9 )

__________
✍🏻 7 Muharram 1438H, Ba'da Shubuh.
Randi Abu Nasywah


•┈┈•❀❁🍃🌷🌼❣🌼🌷🍃❁❀•┈┈•

Repost by :
💝 *_..UNTAIAN FAWAID.._* 📝


💝 Join Channel @UntaianFawaid di Telegram: https://goo.gl/kun8Mj

*****

Demikian,,

Selasa, 27 September 2016

Hari Bahagia Fika

Hari ini, rasa bahagia tak terkira kembali kurasakan saat menyaksikan satu santri kami berhasil menyelesaikan hafalan juz 30-nya. Hafalan yang sudah dimulai sejak 21 Juli lalu akhirnya berhasil diselesaikan hari ini, 26 September 2016. Mungkin ada yang bilang, “Itu waktu yang cukup lama untuk hafalan satu juz,” ataupun komentar lainnya.

Yah! hafalannya memang tak secepat teman-teman yang lain. Fika menjadi satu-satunya santri di halaqoh kami yang masih berkutat pada juz 30 saat teman yang lain sudah beralih menghafal Juz 1 ataupun Juz 2. Salah satu penyebab utamanya karena dia memang baru mulai menghafal, sementara kebanyakan temannya sudah punya hafalan sebelumnya.

Apakah dia iri melihat hafalan teman-temannya yang sudah lebih jauh? Tentu saja, dia saaangat iri. Dia pun ingin seperti teman yang lain, sangat ingin mulai menghafal Juz 1. Apakah Ia pernah merasa bosan? Tentu saja!  Apakah dia pernah mengeluh? Tak diragukan lagi, entah berapa kali ia mengeluh.
 
“Ustadzah, macam mana nih hafalan, susah betul dihafal”
“Aku sudah capek, Ustadzah”
“Capek betul aku ulangi ustadzah, tapi tidak mau lancar”
(Dengan logat khas-nya)

Seperti inilah kerap kali keluhan-keluahan yang disampaikan dengan berbagai ekspresi. Kadang disampaikan dengan biasa saja, tapi kadang juga dengan perasaan jengkel pada hafalannya yang tidak mau ‘dihafal’. Kadang pula dia meneteskan air mata untuk itu. Tapi untuk setiap keluhan, kesedihan, bahkan kemarahannya, izinkan saya lima-sepuluh menit memberikan nasihat/motivasi/ceramah/ataupun bujukan, maka dia akan membaik. Sebuah kesyukuran karena dia mudah paham dengan penjelasan-penjelasan yang diberikan.

Dia bahkan pernah bilang saat saya menasihatinya, “Ustadzah tak paham, capek betul saya menghafal. Ustadzah enak, tidak capek karena hanya mendengarkan. Kita ini yang capek karena harus menghafal.” Komentar yang kusambut dengan tawa sambil memikirkan jawaban terbaik untuk menanggapi argumennya kali ini. Selalu ada banyak tanya dan komentar darinya, dan saya pun sudah terbiasa untuk itu.

Jika dia pernah bosan dan sering mengeluh, pernahkah ia berpikir untuk menyerah?

Inilah yang tidak dimilikinya. Meski dia sering mengeluh, hafalannya sudah tertinggal, dan menyatakan rasa iri-nya terhadap hafalan teman-temannya, tapi ia tak pernah sekalipun mengatakan ingin menyerah. Dia tidak menyerah meski harus berjalan lambat untuk mencapai tujuannya. Saya bisa melihat keseriusannya ingin menghafal Al-Qur’an meski saat itu belum tahu alasan pastinya. 

Perjalanan menghafalnya masih seumur jagung. Tapi ada banyak sekali cerita yang tercipta. Cerita yang mungkin terlihat sederhana dan biasa saja, tapi sangat membekas buat saya pribadi sebagai pembina halaqohnya. Menemaninya menghafal setiap hari membuatku paham betul bagaimana perjuangan dia menyelesaikan Juz 30. Itu sungguh bukan hal yang mudah. Sesuatu yang diperoleh dengan usaha.

Suatu waktu, untuk pertama kali ia bercerita panjang lebar tentang keluarganya. Sebuah cerita yang mengharukan. Baru kali itu saya melihat si ceria Fika menangis sesegukan. Terutama saat bercerita tentang Ibu-nya. Seseorang yang menjadi alasan mengapa dia harus menghafal Al-Qur’an.

---------------------

Dan hari ini, setelah menyetorkan hafalan Qs.Al-Qari’ah.

“Dengarkan Ustadzah, hari ini saya bahagia sekali karena hafalan saya sudah Qs. At-Takatsur. Saya sudah hafal sampai selesai karena ini sudah saya muroja’ah di TPA, jadi saya akan khatam ustadzah” ucapnya dengan senyum bahagia.


Dengan semangat dia mulai menghafal surah demi surah hingga Qs.An-Naas.

Selamat, Nak. Kalau kau sangat bahagia hari ini, Ustadzah pun sangat bahagia melihatmu berhasil menyelesaikan Juz 30. Teman-teman kalian pun turut bahagia dan mengucapkan selamat untuk itu. Mereka paham betapa sulitnya kau sampai pada titik ini. Tapi karena pantang menyerah akhirnya kau berhasil.

Terima kasih karena telah menjadi pembawa keceriaan di halaqoh kita. Kau sangat pandai membuat kami tertawa. Kau bahkan menghafal segala yang pernah ustadzah nasihatkan dan menyampaikannya lagi kepada teman-teman. Meski mereka lebih sering tertawa, tapi begitulah kehangatan yang ada dalam halaqoh kita. Ada banyak hal yang bisa kutuliskan tentangmu, tapi mungkin di lain waktu.

------------------

Menyelesaikan Juz 30 hanyalah sebuah awal dari perjalanan menghafalmu. Masih ada 29 Juz lagi yang harus kau lewati. Semoga Allah memberikan kesempatan, keistiqamahan, kesabaran, dan kemudahan untuk bisa menyelesaikan hingga 30 Juz. Allaahumma aamiin..

Sebuah catatan kecil di hari bahagia Fika,

Aqilah El-Hafizhah

Kamis, 18 Agustus 2016

Jangan pernah menyerah, Nak!

Namanya Balqis Dzakirah. Akrab kusapa Balqis. Siswa yang baru tahun ini bergabung di SPIDI dan memilih kelas penghafalan Al-Qur'an.

Pertamakali mengenalnya saat tes seleksi masuk Tahfizhul Qur'an SPIDI. Ada sekitar empat puluan santri yang ikut tes, dan dia salah satunya.

Balqis, gadis ramah dan supel. Saya senang mengenalnya sejak awal bertemu, dia yang begitu saja ngomong ke saya seolah kami sudah lama mengenal.

"Ustadzah, suara saya hilang. Saya bisa melagu dan mengaji dengan baik, tapi sekarang suara saya jelek. Saya serius, ustadzah.. saya takut tidak lulus," keluhnya cemas dengan suara serak yang dipaksakan keluar. Saya tersenyum, "Baca dulu yah.. in syaa Allah kalau bacaannya bagus, pasti lulus."

Beginilah kira-kira percakapan pertama kami. Dan bacaan Al-Qur'annya memang bagus, tajwid dan makhorijul hurufnya sangat lumayan. Dia layak untuk lulus.

***

Takdir Allah lah yang akhirnya mempertemukan kami kemudian dalam halaqoh yang sama. Ada tiga halaqoh baru yang dibentuk, dan dia bergabung dengan halaqoh yang saya pegang.

Tantangan menghafal datang di awal ia mulai menghafal juz 30. Hafalan terasa sangat sulit masuk, keluhan demi keluhan terluapkan. Terlebih saat melihat teman-teman lain begitu mudah menyelesaikan juz 30 mereka, itu karena kebanyakan mereka memang sudah menyelesaikan juz 30 sebelumnya. Saat masih SD. Berbeda dengan Balqis yang hanya menghafal beberapa surah dari juz 30.

Bukan hanya keluhan yang terlontar, dia bahkan mulai sering menangis. Dia menangis seperti minum obat, 3x sehari. Sangat sedih memikirkan hafalannya yang sudah tertinggal lumayan jauh dari teman-teman yang lain. Saya juga merasa sangat sedih harus menyaksikannya terus menangis dan mulai mengungkapkan kalimat-kalimat pesimis. Tak ada yang bisa kulakukan selain terus mendo'akan, menasehati dan menguatkannya dengan berbagai cerita-cerita inspiratif dan kalimat-kalimat motivasi. Itulah yang bisa kulakukan sebagai Ustazhah-nya.

Seiring waktu berjalan ia mulai paham arti sabar dalam menghafal. Dia tak lagi sering menangis, keluhannya pun mulai berkurang. Walau masih tertatih, tapi ia tetap berusaha menghafal surah demi suruh dari juz 30. Tak lagi mengeluhkan hafalannya yang masih juz 30 saat teman yang lain sudah memulai hafalan juz 1.

***

Tak terasa akhirnya Ia berhasil menyelesaikan Juz 30. Tepatnya 15 Agustus Ia muroja'ah Juz 30 dengan sekali duduk. Al-hamdulillaah... tak henti kuucap syukur atas keberhasilannya. Rasa bahagia dan haru menyeruak di dada.  Tak tahan mataku berkaca saat mengingat masa-masa sulit yang Ia hadapi saat menghafal. Saya sungguh sangat bahagia melihatnya berhasil menyelesaikan hafalan Juz 30-nya.

Setelah muroja'ah juz 30 sekali duduk, Ia masih harus mengikuti tahap Evaluasi untuk penguasaan hukum-hukum tajwid dan tes hafalan dengan metode sambung ayat. Barulah setelah itu boleh memulai hafalan Juz 1. Dan Al-hamdulillah hari ini bisa terselesaikan. Ia berhasil melewati tahap demi tahap dengan sangat baik. Selamat, Nak!

Balqis saat Evluasi juz 30

_______________

Perjalananmu melewati Juz 30 tidak mudah, Nak. Tapi melalui proses sulit itu kau belajar tentang kesabaran dalam menghafal. Bukan hanya kesabaran, juga kegigihan untuk meraih sesuatu. Bahwa jika kau mau tetap bersabar dan berusaha, kau pasti berhasil. Pemahaman ini sangat berharga untuk perjalanan menghafalmu kedepan, karena akan banyak tantangan lagi yang akan kau hadapi.

Ustadzah dan teman-teman halaqoh lain yang sering mendukungmu tentu menjadi saksi perjuanganmu saat menghafal, dan kisahmu akan menjadi inspirasi buat orang lain.

Jika kelak kau menghadapai hal yang sama, ingatlah bahwa kau pernah berhasil melewatinya. Jangan pernah menyerah, Nak!

"Man jadda wajada"

Baarakallaahu laki.. Semoga selalu istiqomah dalam menghafal.


Bersama segenap rasa haru, bangga, dan bahagia
Aqilah El-Hafizhah

Kamis, 26 Mei 2016

Kami ingin Mengubah Dunia


Saya pernah mengikuti sebuah kajian yang selalu teringat hingga saat ini. Waktu itu hari jum'at, pengurus LDK selalu memanfaatkan moment jum'at ini dengan kajian jumat bagi akhawat. Kami yang tidak punya cirihas (setiap LDK biasanya dikenal dgn cirihas pakaian masing2) menjadi target mereka untuk ikut meramaikan kajian jumat mereka.

Karena tidak enak sudah diajak berulangkali dan selalu menolak, akhirnya saya dan beberapa teman ikut. Biarlah, sekali-kali ikut. Kebetulan saat itu mendekati peringatan hari sumpah pemuda, maka pembahasannya tentang pemuda sebagai agent of changing.

Pembicara membawakan materinya dengan penuh semangat. Intonasinya diatur sedemikian rupa untuk membangkitkan semangat kita sebagai pemuda.

Dari ulasannya, untuk beberapa hal saya sependapat dengan argumen yang disampaikan. Tapi lebih banyak yang tidak bisa kuterima. Saya hanya diam menyimak dan menyaring, toh, setiap kita bebas berpendapat.

Entah kenapa sebuah statement tiba-tiba membuat saya ingin menimpali. Saya tak bisa menerima statement yang satu ini. Katanya,

"Kami ini tidak ingin merubah setiap individu, kami hanya ingin merubah dunia. Dan kami sudah menyusun beberapa strategi untuk bisa merubah dunia dalam beberapa tahun kedepan"

Saya mengernyitkan dahi. Bagaimana bisa? Mungkinkah merubah dunia dengan mengabaikan perubahan secara individu?

Tak sabar saya menunggu sesi berikutnya. Sesi tanya jawab! Ingin sekali menanyakan apa dasar mereka dengan statement ini.

Seandainya dia hanya bilang, 'kami ingin merubah dunia' aku tentu terima. Ini sebuah harapan besar dan mulia. Yang menggangguku adalah statement sebelumnya, 'kami tidak ingin merubah setiap individu'.

Bukankah konsep perubahan yang diajarkan kitab pedoman kita adalah memulai perubahan itu dari diri sendiri? buka (QS.Ar-Ra'du: 11)

Apalagi kita sebagai wanita yang kelak akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anak kita. Maka hal pertama yang harus diubah dan diperbaiki tak lain adalah diri, kepribadian, dan keilmuan kita. Itulah pesan Rasulullah sallallaahu alaihi wa sallam 'Didiklah anakmu 25 tahun sebelum ia lahir'. Didik anakmu sebelum ia lahir berarti perbaiki kepribadian kita jauh sebelum ia lahir. Karena kelak kitalah yang menjadi guru pertama dan teladan baginya.

Artinya apa? Fokus perubahan itu sejatinya berawal dari diri sendiri, lalu orang-orang sekitar kita. Tak usalah sibuk memikirkan perubahan dunia lalu abai pada diri dan orang-orang terdekat kita.

Karena dari kitalah kelak akan muncul generasi baru. Jika setiap wanita berusaha mempersiapkan diri untuk menjadi madrasah bagi anak-anaknya, maka dari sanalah kelak akan lahir generasi harapan. Generasi yang diharapkan bisa mengubah dunia. Semua berawal dari setiap individu.

Maka tegas saya menolak statement bahwa 'kami tidak ingin merubah setiap individu'.

Jika saya tak mampu merubah dunia, maka cukuplah saya merubah diri dan keluargaku dahulu.
________

Itu adalah kajian terakhir yang saya ikuti dari organisasi mereka. Saya tidak lagi berminat untuk ikut, dan mereka juga tidak pernah lagi mengajakku bergabung.

Aqilah El-Hafizhah

Kamis, 19 Mei 2016

Orang Konsisten Itu Hebat


Konsisten itu berat!

Benar, kan?

Benar sekali!

Dialog dengan hati ini terlintas begitu saja saat saya mebuka akun blog dan melihat daftar tulisan teman-teman ODOP yang masih konsisten dengan tekad mereka untuk menulis setiap hari. Mengingatkan bahwa saya juga pernah seperti mereka. Berjuang semampuku untuk tetap bisa konsisten.

Ada perasaan sedih saat menyadari bahwa saya bukan lagi bagian dari mereka. Hanya bisa tersenyum, dan semakin sadar bahwa menjadi pribadi konsisten itu sungguh bukan hal yang mudah. Ada banyak kegiatan yang telah ataupun sedang saya ikuti, dan semuanya menuntut KONSISTEN sebagai syarat untuk tetap bertahan. 

Saat konsisten sudah menjadi harga mati untuk tetap bertahan, maka hanya dengan tekad yang kuat kita bisa menaklukkannya. Itulah yang kulakukan! Berusaha semampuku untuk tetap bertahan di semua kegiatan yang saya ikuti.

Tapi pada akhirnya, saya telah melepas salah satunya sebelum sampai di akhir perjalanan. Saya mundur dari medan, menyadari bahwa saya tak lagi konsisten. Hanya berharap bahwa cukup saya melepas ini saja, dan tetap konsisten pada yang lainnya.

Maka kukatakan, hanya orang hebat yang bisa konsisten! Mereka bisa bertahan dan tetap konsisten di tengah banyak kesibukan dan permasalahan lainnya. Berusaha keluar dan melawan segala keterbatasan yang ada. 

Konsisten itu berat, kawan. Maka bersyukurlah jika anda mampu manjadi pribadi demikian di semua hal. Yah.. di SEMUA hal, bukan hanya di salah satunya.

Dan pagi ini, saat saya merasa free dari kesibukan, beragam kalimat pengandaian mulai berkeliaran di kepalaku. 

"Ah.. seandainya saya masih bagian dari mereka"


Aqilah El-Hafizhah
Merindukan atmosfer ODOP 
yang telah hilang

Makassar, 19 Mei 2016

Selasa, 10 Mei 2016

Skenario Takdir (6)

Ikuti kisahnya dari awal di Part 1

Part 6: Harapan

Bukan hal mudah bagi seorang anak desa mendapat segala informasi tentang perkuliahan. Jalan buntu sudah dirasakan Alif sebelum memulai, ia tak punya ide bagaimana memulai segalanya. Andaikan Holif ada di sini, mungkin ia bisa memberikan sedikit saran untuk memulai, dia sepertinya lebih banyak tahu daripada Alif.

Siapa yang bisa membantuku? Gusar ia berpikir. Kak Dayat! Sebuah nama tiba-tiba terlintas di benaknya. Nama yang hadir bagai selaksa harapan yang menjanjikan. Seketika melahirkan semangat membara pada Alif. “Semoga ia bisa membantuku,” gumamnya penuh harap.

Alif tak mau menunda waktu, langkahnya mantap menuju rumah Kak Dayat. Rumah yang lumayan jauh dari rumahnya jika ditempuh dengan berjalan kaki, tapi cukup sepuluh menit dengan mengendarai motor. Suara motor menderu keras. Alif berangkat.

Alif berhenti di depan rumah dengan cat krem berpadu cokelat tua. Perpaduan warna ini memberi kesan elegan. Dari balik pagar bisa terlihat halaman cukup luas dengan beraneka bunga tertata rapi. Menggambarkan jiwa pemilik rumah ini tentulah seorang yang peduli keindahan. Halaman yang asri. Tanpa ragu Alif memasuki pagar yang dibiarkan terbuka. Menunggu tenang di balik pintu setelah mengetuk dan mengucap salam.

Pintu terkuak. Wajah teduh Bu Salma muncul dari balik pintu. Tersenyum ramah.

“Nak Alif, masuk”

Alif melangkah masuk dan duduk tenang setelah dipersilakan. Berpikir cepat bagaimana memulai percakapan. Ia berdeham sekali.

“Bu, bagaimana kabar Kak Dayat?” Alif mengawali dengan menanyakan kabar.

“Al-hamdulillah, kabarnya selalu baik, tidak lama lagi dia akan libur”

“Hm.. sebenarnya Alif mau minta tolong, sekiranya bisa mendapatkan nomor untuk menghubungi Kak Dayat. Aku ada sedikit keperluan dengannya”  

“Owh.. tunggu ya, Nak. Ibu carikan nomornya.” Bu Salma beranjak dari duduknya.

Dua menit kemudian Bu Salma kembali dengan buku kecil. Sepertinya tidak sulit menemukannya. Ia sibuk membuka lembar demi lembar, matanya mengekor pada telunjuk yang terus bergerak di lembaran buku. Sedetik kemudian tersenyum seraya menyodorkan buku dan menunjuk sederet angka pada Alif. Ada banyak nomor telepon di sana, Alif fokus pada nomor yang ia butuhkan. Jemarinya lincah mengetik sederet angka pada keyboard hp.

“Terima kasih banyak, Bu. Aku pamit,” ucap Alif sopan. Disambut dengan senyum ramah nan tulus dari Bu Salma. Senyuman khas seorang Ibu.


Alif bergegas pulang meninggalkan rumah Kak Dayat. Seseorang yang kini menjadi harapan untuknya bisa mendapat sejumlah informasi yang ia butuhkan. Seorang senior yang sejak tiga tahun lalu melanjutkan pendidikannya di sebuah universitas negeri yang cukup terkenal di Makassar. Memilih menjadi berbeda dari kebanyakan pemuda di kampungnya.

bersambung...

Aqilah El-Hafizhah
#Tantangan CERBUNG dari ODOP

Senin, 09 Mei 2016

Skenario Takdir (5)

Part 5: Keputusan

Jangan lewatkan kisah sebelumnya

“Bapak, Ibu, ada yang ingin Alif bicarakan, boleh?”

“Bicara saja Alif, kenapa pula pake izin segala kalau hanya ingin bicara. Hal penting apa yang membuatmu bertingkah aneh malam ini?” Ibunya terkekeh melihat tingkan Alif yang tak seperti biasanya. Sedangkan bapak hanya mengeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah aneh anaknya.

“Mengenai tawaran Ibu dan bapak setelah saya lulus SMA dulu, apa itu masih berlaku?”

“Maksudku tawaran untuk melanjutkan sekolah” tambah Alif cepat saat orangtuanya terlihat bingung tentang tawaran yang ia maksud.

“Kamu serius mau kuliah, Nak?” Ibu bertanya pelan setelah berpikir sejenak, menatap Alif lembut. Bapak ikut menatapnya, menunggu jawaban atas pertanyaan Ibu yang juga pertanyaannya.

“Iya, Bu. Setelah kupikir-pikir ada baiknya aku melanjutkan sekolah”

“Bapak bersyukur akhirnya kamu berpikir berbeda, nak. Dari dulu bapak berulang kali  menawarimu untuk melanjutkan sekolah karena bapak percaya akan pentingnya pendidikan. Meskipun bapak bukan orang berpendidikan, tapi bapak sangat tahu betapa pentingnya ia. Bapak tak pernah mau memaksamu melakukan hal yang tidak kamu inginkan, makanya bapak membiarkan, sambil berharap adikmu kelak akan tumbuh berbeda. Lebih tertarik untuk belajar. Kalau malam ini kamu datang atas keinginanmu untuk kembali sekolah, tentu bapak sangat bahagia mendengarnya, Nak. Akan ada dari keluarga kita yang kelak memutus rantai kebodohan. Melalui sekolah, kamu tentu akan melihat banyak hal yang orang-orang di desa ini belum tahu, inilah kesempatan. Semoga kelak kamu akan kembali dengan janji kehidupan yang lebih baik, bukan hanya untukmu dan keluarga kecil kita, tapi untuk desa ini, Nak. Itulah harapan Bapak dan Ibu.”

Alif hanya diam, terkesan dengan kalimat Bapak. Sulit untuk melihat dengan jelas mata bapak dan Ibu di temaramnya lampu teras. Maka ia memilih menatap jalan depan rumah yang berselimut gelap. Tapi ia tahu, mata mereka berair saat ini. Suara serak bapak telah menjadi penyampai pesan untuknya, bahwa kalimat beliau malam ini adalah sebuah harapan besar dari orangtua kepada anaknya. Harapan yang menjadi kekuatan bagi Alif, meski iapun tak tahu akan seperti apa masa depannya kelak.

“Baiklah, terima kasih banyak atas restu Bapak dan Ibu. InsyaAllah aku akan mulai mencari informasi dan melakukan persiapan-persiapan. Mohon do’anya selalu agar segala urusan Alif dimudahkan.”

“Pasti, Nak. Ibu dan Bapak akan selalu mendo’akanmu” ujar Ibu lembut. Alif tersenyum bahagia mendengarnya.

Perbincangan malam ini selesai. Alif memilih masuk ke rumah setelah pamit terlebih dahulu. Meninggalkan Bapak dan Ibu yang masih terlihat betah menikmati syahdunya malam. Melepas lelah seharian dengan mengobrol santai, seperti malam-malam sebelumnya. Sebuah kebiasaan yang indah untuk sepasang suami-isteri yang semakin senja.

Sebuah tekad menancap kuat dalam jiwa Alif. Keputusan telah mantap diambil. Jika hari-hari sebelumnya ia berniat kuliah karena seseorang yang telah menempati satu ruang khusus di hatinya. Maka malam ini, ia menemukan sebuah alasan baru yang lebih logis untuk harus kuliah. Ia adalah harapan bagi orangtuanya. Dan mungkin saja, dalam perjalanan menuntut ilmu ini ia akan menemukan alasan-alasan lainnya.

Aqilah El-Hafizhah
#Tantangan CERBUNG dari ODOP

Sabtu, 07 Mei 2016

Skenario Takdir

Part 4: Kegalauan

baca kisah sebelumnya: Part 3

Permainan sepak bola sore ini terlihat seru seperti biasanya, tapi Alif tidak bergabung kali ini. Memilih menjadi penonton. Dia nampak memikirkan sesuatu. Sudah beberapa hari ini ia terus memikirkan perbincangan terakhirnya dengan Holif.

“Kakak masih belum kepikiran untuk kuliah?”

“Kenapa tiba-tiba bertanya soal kuliah?” Alif justru bertanya balik, heran.

“Apa tidak sebaiknya Kak Alif kuliah saja? Kakak itu kan pintar, sayang kalau tidak dimanfaatkan”

“Kuliah buat apa sih, Holif.. tidak usah susah-susah kuliah untuk dapat uang dan pekerjaan. Lagian kakak kan tidak nganggur, kakak kerja dan berpenghasilan.”

Sudah hampir dua tahun sejak lulus SMA. Alif memutuskan membantu bapak mengurus kebun. Di desa ini memang jarang sekali ada yang melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang perkuliahan. Itu masih menjadi barang mahal. Bukan hanya masalah biaya, antusias anak-anak untuk kuliah memang kurang.

Sudah menjadi siklus yang yang terus berputar. Ketika anak laki-laki sudah menyelesaikan pendidikan SMA, mereka langsung bekerja apa saja. Membantu bapak kerja di kebun, atau apa saja yang bisa menghasilkan uang. Sementara bagi anak perempuan, mereka hanya menunggu lamaran datang untuk segera menikah.

Begitulah, hanya ada beberapa pemuda desa ini yang melanjutkan pendidikannya ke kota dan memilih bekerja di sana setelah lulus ketimbang kembali ke desa.

Holif masih nampak diam, sementara Alif masih menunggu. Penasaran kenapa adiknya tiba-tiba bertanya soal perkuliahan yang sedikitpun tak pernah terpikirkan olehnya.

“Aku tahu pikiran kakak. Cukup bekerja dan menabung mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, terus kalau kak Aina selesai dari pondok langsung dilamar, kan?”

Hanya dijawab cengiran oleh Alif. Tak ada lagi yang harus ia sembunyikan dari adiknya. Sejak Holif tumbuh dewasa, cepat sekali ia bisa membaca situasi, menghubungkan setiap kejadian sekecil apapun hingga sampai pada satu kesimpulan, kakaknya suka sama Kak Aina. Alif ketahuan, tak ada alasan yang bisa membuatnya mengelak dari interogasi adiknya. Sudahlah, malah bagus sekarang, adiknya bisa menjadi sumber informasi.

“Kak Aina itu berbeda dengan gadis desa kebanyakan. Jangan berpikir untuk segera melamarnnya setelah lulus nanti, kakak pasti akan ditolak. Dia itu cerdas dan berprestasi, punya keinginan besar untuk terus belajar, sedikitpun tidak berpikir untuk langsung menikah setelah lulus”

“Maksud kamu Aina  akan kuliah?”

“Dapat dipastikan begitu, aku kenal baik Kak Aina. Motivasinya untuk terus belajar sangat nampak, sekarang ini dia terus belajar keras untuk bisa lulus nanti ke universitas”

“Kamu serius,  Holif?”

“Kalau kakak serius mau sama Kak Aina, maka kakak harus bisa memantaskan diri”

Holif terus saja bicara, mengabaikan pertanyaan kakaknya.

“Memantaskan diri? Istilah apa lagi ini?” tanya Alif kebingungan.

“Yah.. itulah kalau kakak malas membaca, hal seperti ini saja tidak paham. Maksudnya, kalau kakak suka sama Kak Aina, kakak harus pantas dulu untuk dia. Kakak harus berusaha sampai layak menjadi pendampingnya. Kalau Kak Aina belajar hingga ke universitas, kira-kira kakak yang seorang petani tak berpendidikan, hanya lulusan SMA, layak tidak untuk dia? Apa kakak punya nyali untuk melamarnya nanti?”

Itulah perbincangan terakhir yang sempurna membuat Alif galau. Terus berpikir soal memantaskan diri, sebuah istilah yang justeru baru didengarnya.

“Hoi! Kamu kenapa sih? Tumben banget tidak ikut main, malah duduk melamun tak jelas di sini” Fiki menghampiri Alif yang terlihat berbeda sore ini. Alif hanya melirik sekilas.

"Fiki, menurut kamu bagaimana kalau aku kuliah?"

Fiki malah tertawa keras mendengar pertanyaan sahabatnya sore ini.

"Kamu galau begini karena berpikir soal kuliah? Ada angin apa kamu tiba-tiba kepikiran kuliah?"

"Kamu ini, aku bertanya malah ditanya balik. Jawab sajalah.." Fiki terkekeh melihat Alif mendengus kesal.

"Alif, siapalah sahabatmu ini. Aku hanya pemuda kampung yang tak paham apa-apa soal perkuliahan. Tapi kalau kamu meminta pendapatku soal kuliah, bukannya itu keren? Menjadi berbeda dari kebanyakan itu hebat, Lif. Kalau pemuda di desa kita tak peduli soal pendidikan, lalu kamu memilih jalan itu, kamu hebat Alif. Kamu kan tahu, orang berpendidikan selalu dihargai di manapun, tak terkecuali di kampung kita. Kalau kamu kepikiran untuk mengambil langkah itu. aku dukung seribu persan deh.."

Begitulah sahabatnya Fiki, pandai sekali menyemangatinya. Fiki paham sekali dirinya, jika ia bertanya sesuatu tiba-tiba, tentu cukup baginya untuk paham bahwa sahabatnya lagi memikirkan hal tersebut. Fiki tahu banyak soal Alif.

Kedua sahabat itu lalu tertawa riang. Alif mendapat sedikit titik terang dari kegalauan panjangnya

###

bersambung...

Ikuti kelanjutannya di Part 5

Aqilah El-Hafizhah
#Tantangan CERBUNG dari ODOP

Kamis, 05 Mei 2016

Skenario Takdir


Part 3: Mengenal Rasa Itu

Alif belum tertarik melanjutkan bacaannya. Masih asyik berkeliaran dalam kenangan masa lalu yang sudah tertinggal jauh tapi masih terasa segar baginya. Hujan semakin deras, belum ada tanda akan segera berheti. Seakan memberi dukungan padanya untuk berlama-lama dalam nostalgia. Nostalgia yang berhasil mengalahkan perhatian dari buku karya novelis idola sekalipun.

###

“Holif, kamu mondok di pesantren tempat.. itu, siapa tuh tetangga kita” Alif pura-pura tak tahu nama yang ia maksud. Takut adik cerewetnya ini bertanya yang tidak-tidak.

“Kak Aina maksudnya?” Holif memastikan.

“Nah.. itu yang kakak maksud. Memangnya Pesantren kamu itu gimana sampai senior kamu betah sekali sekolah di sana?” Alif hanya berusaha memancing biar adiknya cerita sedikit tentang Aina.

“Hm.. aku kan masih baru, tapi lumayan menyenangkan kok tinggal di sana. Oiya, tau tidak, Kak Aina yang kakak maksud itu populer sekali di pondok. Banyak yang nge-fans sama dia dan selalu disebut-sebut sama ustadzah sebagai teladan. Santri berprestasi, itu gelarannya”

“Kamu dekat tidak sama dia?”

“Kalau dekat sih tidak juga, tapi dia baik sekali sama aku. hm.. diakan emang baik sama semua orang. Kenapa nih banyak tanya?” Holif mulai merasa aneh, tapi ia masih terlalu dini untuk bisa menebak maksud dari pertanyaan-pertanyaan kakaknya.

“Yah.. kan cuman nanya. Kamu liburnya berapa lama?”

“Hanya seminggu, sedikit amat yah. Udah deh.. kakak pergi sana, aku mau lanjutkan membaca!”

Alif menurut, sedikit cerita dari Holif sudah cukup baginya untuk tahu seperti apa ia di sana. Sudah lama sekali berlalu sejak dia membuatnya menangis. Dan dia sempurna berubah jadi anak ‘baik’ setelah kejadian itu. Dia tak pernah berani menyapanya, hanya menatap dari jauh. Yah.. dia senang sekali menatapnya dari jauh, apalagi saat Aina lewat di depan rumah.

Saat ini, Alif telah menjadi remaja yang mengenal tentang cinta. Tapi ia berbeda dengan remaja kebanyakan. Tak sekalipun ia pacaran, bukan karena tak ada cewek yang mau dengannya, tapi itu merupakan pilihan. Sebuah alasan memaksanya untuk memilih tidak pacaran.

Sejak mengenal perasaan cinta, dia sadar bahwa dia telah suka dengan seseorang. Perasaan yang sudah hadir jauh sebelum dia mengerti perasaan itu. Gadis kecil yang telah mengubah masa kecilnya yang jail, itulah cinta pertamanya. Gadis yang membuatnya sering senyum-senyum sendiri.

###

Besok Holif kembali ke pesantren, liburan semesternya sudah habis. Itu berarti Aina pun akan kembali ke pondok, dan selama itu Alif belum pernah melihat sosok pujaan hatinya. Sengaja dia sering-sering melintas di depan rumah Aina, tapi tak sekalipun melihat sosoknya.

“Kak, antar aku ke toko yah, ada yang lupa kubeli kemarin”

“Kenapa pake lupa-lupa segala sih? Kan repot harus ke kota lagi. Jauh.”

“Tidak sampai ke kota kok, Kak. Toko kecil yang ada di perbatasan itu cukup, cuman mau beli kertas-kertas berwarna.”

Alif tahu, permintaan adiknya tak akan bisa ditolaknya. Dengan malas dia mengambil kunci motor yang tergeletak di meja makan. Holif berlari girang mengambil tasnya dan berlari manyusul Alif yang sudah menunggu di depan rumah. Mereka berangkat.

Tepat di depan rumah ke-empat setelah rumahnya sebuah suara yang tak asing memangil-manggil Holif.

“Stop dulu, Kak!” teriaknya pada Alif.

Motor mendadak berhenti. Alif bersiap mengomel, tapi seseorang keluar dari pagar rumah yang sangat dikenalnya, dia mematung sejenak. Aina melangkah anggun mendekati Holif. Tak sedikitpun melirik Alif yang terpana menatapnya.

“Holif, kakak bisa minta tolong, tidak?”

“Bisa sekali, Kak. Ada apa?”

“Besok kakak belum bisa balik ke pondok, masih ada urusan yang mendesak. Tolong berikan ini sama Kak Raida” Aina berucap pelan sambil menyodorkan plastik kecil pada Holif, entah apa isinya.

“Iya, Kak. Nanti kusampaikan titipannya” ucap Holif tersenyum. Dibalas dengan senyuman pula oleh Aina.

“Ayo jalan, Kak!” pintanya pada Alif seraya menepuk pundaknya. Yang diperintah segera menyalakan motor.

“Sekali lagi makasih, yah.” Aina kembali berterima kasih sebelum motor semakin menjauh, hanya dibalas lambaian oleh Holif.

Alif tak pernah melihat Aina sejak ia sekolah di pondok, hampir tiga tahun lamanya. Hari ini, dia kembali melihatnya. Banyak sekali yang berubah darinya. Perubahan yang membuat hati Alif semakin mantap. Entah kapan lagi, aku bisa melihatnya, gumam  Alif dalam hati.

bersambung...

Ikuti kelanjutannya di Part 4

Aqilah El-Hafizhah
#Tantangan CERBUNG dari ODOP

Skenario Takdir


Part 2: Sebuah Tekad

Alif dan Fiki tertawa puas tanpa perasaan bersalah setelah berhasil menakut-nakuti bocah berumur lima tahun dihadapannya. “Hanya ditakuti kuntilanak sudah menangis, dasar penakut!” Fiki mencibir seraya mengikuti Alif yang sudah kabur duluan meninggalkan korbannya.

Satu desa sudah tahu tentang dua bocah dengan hobi aneh ini, menjaili anak-anak yang lebih kecil dari mereka sampai menangis. Orangtua mereka pun sudah capek mendengar keluhan para ibu yang anaknya sudah sering menjadi bulan-bulanan Alif dan Fiki. Orangtua mereka sudah berkali-kali memperingatkan bahkan mengancam agar tidak lagi menjaili anak-anak di desa mereka. Berulangkali keduanya berjanji untuk tidak lagi mengulang perbuatannya, tapi selalu saja dilanggar. “mereka masih anak-anak, tolong dimaafkan,” alasan klasik yang menjadi pertahanan akhir ibu Alif dan Fiki.

“Alif, itukan si Aina” Fiki menunjuk bocah yang kali ini berjilbab pink sedang bermain ayunan dengan dua temannya. Ayunan sederhana yang digantung di dahan pohon.

Alif melihat ke arah telunjuk Fiki. Benar, bocah tetangganya sedang bermain di sana. Dia tertawa nyengir, bersemangat melihat bocah yang kemarin berani menentangnya.

“Ayo, Fiki! Buat dia menangis, kita buka saja kerudungnya, dia pasti akan menangis” Alif bersemangat. Tujuan mereka memang hanya ingin membuat anak-anak menangis, saat kemarin meminta Aina menyerahkan kuenya, itu hanya gertakan. Tujuan sebenarnya hanya untuk membuatnya menangis. Sayang tak berhasil, anak itu terlalu berani menghadapi mereka yang lebih besar.

“Mau apa kalian? Aku tak punya kue” Aina teringat kejadian kemarin.

“Kami di sini tidak untuk meminta kue, tapi untuk membuka kerudungmu” Alif dan Fiki tertawa nakal.

“Tidak! kata Ibu tidak boleh membuka jilbab kalau di luar rumah. Kenapa kalian mau membuka jilbabku?” Aina bertanya polos, tak paham kenapa dua anak ini ingin membuka jilbabnya.

“Ayo buka! Kalau tidak mau, akan kubuka dengan paksa”

“Tidak mau!” Aina memegang kerudungnya erat, kedua temannya sedikit menjauh, tak paham apa yang terjadi. Sementara Fiki dan Alif merasa di atas awan, yakin kalau tindakannya kali ini pasti berhasil membuat Aina menangis.

“Jangan-jangan kepalamu botak, makanya selalu berkerudung. Iya,kan?” Alif mengejek.

“Rambutku panjang dan lurus, tidak botak seperti yang kalian bilang” Aina terus menentang tanpa rasa takut.

Alif masih menakut-nakuti Aina, berusaha membuatnya menangis tanpa betul-betul  harus memaksanya  membuka jilbab. Mereka tak pernah menyakiti anak-anak, hanya mengganggu dan menaku-nakuti mereka sampai menangis. Tapi Aina sama sekali tak terlihat takut, tetap bertahan dan berusaha melarikan diri seperti kemarin.

Sayang, Fiki berhasil menarik lengannya. Aina berontak melepaskan diri. Bagaimana bisa? Ia dipegang dua bocah dengan fisiknya lebih besar dari Aina. Alif hanya berharap Aina segera menangis dan memohon dilepaskan. Dengan menangis semua perkara akan selesai, dua anak laki-laki ini hanya ingin membuatnya menangis. Seperti yang dilakukannya pada semua anak-anak di desa ini. Sayang, Aina terus bertahan dan berusaha melepaskan diri.

“Lepaskan! aku tak akan melepas jilbabku, seperti kata Ibu.”

Alif tak punya pilihan, rasanya harus membuka jilbab ini dengan paksa sebelum ada orang dewasa yang lewat dan menghentikan tindakannya. Mereka bisa gagal lagi membuat bocah keras kepala ini menangis.

“Fiki, tarik saja jilbabnya, sebelum ada yang lewat.” Alif memerintah, sementara kedua teman Aina hanya diam, berdiri takut-takut.

Hanya hitungan detik Fiki berhasil melepas jilbab Aina. Rambut panjang, lurus, dan hitam Aina tergerai. Mereka tertawa menang, akhirnya Aina kecil menagis, jongkok tersedu memeluk lutut.

”Kalian.. ja..hat!” umpatnya terbata-bata.

Lihatlah! Bocah kecil yang selalu terlihat riang dan membuat orang sekitarnya merasa senang dan nyaman dengan sikapnya. Kini binar matanya meredup, berganti tangis menyakitkan. Siapa pula yang tega membuatnya menangis? Sungguh, bocah ini sangat berbeda dari anak-anak kebanyakan. Ia tumbuh cerdas dengan budi pekerti yang mengagumkan. Terlahir di tengah keluarga yang sangat sederhana, tapi dihargai semua penduduk desa. Ia tumbuh dengan semua pemahaman-pemahaman baik seperti harapan orangtuanya. Ah.. tega sekali yang membuatnya menangis.

Entah mengapa, perasaan bersalah mengetuk hati terdalam Alif melihat bocah ini menangis. Perasaan yang baru  ia rasakan setelah tak terhitung berapa anak yang sudah dibuatnya menangis. Siapa pula yang akan tega meliat bocah ini menangis? Percayalah, dia punya ‘sesuatu’ berbeda yang akan membuatmu tak tega melihatnya menangis. Bahkan anak-anak seperti Alif dan Fiki pun merasakannya, meski mereka tak paham apa itu.

Pelan Alif menarik jilbab pink dari Fiki, mendekati Aina yang masih tersedu pilu, menyimpan jilbab itu di atas kepalanya lantas berlalu tanpa kata. Fiki mengekor di belakangnya. Tersisa Aina yang masih sesegukan, kedua teman bermainnya mendekat, membujuknya untuk diam.

Siang itu, melalui tangisan Aina sebuah pemahaman baik menjemput Alif dan Fiki. Pemahaman bahwa siapa pun itu, tak layak membuat orang lain menangis. Dari segi manapun, kelakuannya selama ini salah. 

“Kata Ibu laki-laki itu selalu melindungi perempuan , tidak seperti kamu yang selalu mengganggu” terngiang perkataan Aina kemarin. “Baiklah, mulai hari ini aku tak akan mengganggu siapa pun lagi, apalagi membuat perempuan menangis.” Meski hanya dalam hati, tapi itu adalah sebuah ikrar sepenuh hati dari Alif.

###


Alif senyum-senyum sendiri mengenang kejadian belasan tahun lalu, matanya masih menatap sendu pekatnya malam dari bingkai jendela. Saat itu, ia masih seorang anak berusia delapan tahun yang belum mengerti tentang cinta. Dia baru sadar setelah beberapa tahun kemudian bahwa hari itu, Aina kecil telah berhasil mencuri sepotong hatinya.

Baca selanjutnya: Part 3

Aqilah El-Hafizhah
#Tantangan CERBUNG di ODOP 

Selasa, 03 Mei 2016

Skenario Takdir (1)

Part 1: Sebuah Awal

Seorang lelaki berumur 24 tahun tengah asyik dengan novel di tangannya. Duduk di balik jendela pada kursi kayu jati yang masih terlihat kuat. Sama sekali tak terganggu dengan derasnya hujan di luar.

Sudah lebih dari dua jam ia di sana, berkutat pada novel bersampul hijau dengan judul “Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” karya penulis favoritnya, Tere Liye.

Jika itu karya Tere Liye, ia tak akan berhenti membacanya hingga tuntas, hanya kumandang azan yang bisa menghentikan aktivitas itu. Makanya, novel yang sudah lima hari dibelinya baru ia baca, sengaja memilih waktu luang untuk melahapnya, tak ingin terganggu apapun.

Matanya beralih pada jendela yang sengaja dibiarkan terbuka, menatap pekatnya malam dengan tetesan hujan yang terbungkus gelap. Membaca setengah novel ini mengingatkannya sesuatu. Tentang persaannya, tentang seseorang di masa kecilnya. “Ah.. kisahku sedikit mirip denganmu, Tania” ia bergumam pelan. Bibirnya membentuk senyum kecut. Buku itu dibiarkan tetap terbuka, sementara pikirannya menerawang pada belasan tahun yang lalu. Hujan sempurna menjadi moment tepat untuk mengenang banyak hal. Tepat seperti Tania, tokoh dalam novel yang sedang ia baca.

###

Palopo, Sulawesi Selatan, di sebuah desa yang jauh dari kota..

Alif tersenyum jail menatap bocah enam tahun dengan jilbab biru, berjalan riang  membawa plastik hitam di tangannya. Tersisa lima meter sebelum bocah itu melintas di hadapan Alif dan Fiki, mereka berbisik merencanakan sesuatu lalu tertawa bersemangat.

“Hei, ada apa di kantonganmu?” teriak Alif pada si bocah. Yang ditanya bingung melirik kantongan di tangannya.

“Kenapa?” tantangnya tanpa rasa takut. Ia kenal Alif dan temannya Fiki, mereka sering mengganggu anak-anak seusianya. Tapi Aina, gadis berkerudung biru itu sama sekali tak takut dengan mereka. Ajaran Ibu tentang budi pekerti, kejujuran, keberanian, dan banyak hal lain yang disampaikan lewat cerita telah menghujam pada diri Aina kecil.

“Kubilang apa yang kamu bawa? Berikan padaku!” Alif memaksa.

“Tidak mau, ini untuk Ibuku” Aina bertahan tidak menyerahkan kantongannya.

“Ayo berikan! Kamu tidak takut sama Alif? Kalau kamu tidak mau memberikan kuemu, akan kubuka jilbabmu” Fiki ikut mengancam. Ia tahu kalau Aina selalu berkerudung, tentu ia tak mau jika jilbabnya dilepas. Tentu saja Fiki tahu kalau isi kantongan itu kue meski Aina tak bilang isi kantongannya apa. Aina membeli kue itu tepat di depan mata Fiki tadi.

 “Jangan! Ini punya ibuku, kenapa kalian mau mengambilnya? Kata Ibu laki-laki itu selalu menjaga perempuan , tidak seperti kamu yang selalu mengganggu perempuan. Pindah! Aku mau pulang.”

Aina buru-buru meninggalkan mereka. Menyisakan Alif dan Fiki yang masih heran. Baru kali ini ia mendapat perlawanan bahkan teguran dari bocah yang lebih muda darinya. Juga untuk pertama kali mereka tak berhasil membuat menangis mangsanya. Anak ini berbeda, ia sangat pemberani.

---------
Baca kisah selanjutnya: Part 2

Aqilah El-Hafizhah
#Tantangan Cerbung dari ODOP

Jumat, 29 April 2016

Ujian Tutup Dengan Berbagai Rasa

Jum'at, 29 April 2016

Kuawali hari ini dengan perasaan tegang dan nervous. Bagaimana tidak, hari ini merupakan tahap terakhir dari proses perkuliahanku, ujian skripsi. Semalam tidurku kurang dari dua jam, bukan karena sibuk belajar, aku justru sibuk membaca dan menyelesaikan satu tulisan sebagai kewajibanku selaku anggota ODOP.


Aku tidak memandang enteng ujian sehingga tidak belajar, sungguh tidak demikian! Aku hanya merasa telah belajar saat melakukan penelitian dan menyusun skripsi. Bukankah yang akan ditanyakan pastinya hanya seputar penelitian dan hasilnya? Saat membuat skripsi, itu adalah proses belajar yang panjang. Entah harus berapa kali membaca ulang apa yang telah ditulis untuk memastikan tak ada lagi yang salah. Melalui proses itu, insyaAllah sudah paham isi skripsi. Yang mau disiapkan selanjutnya adalah mental. Selebihnya cukup berdo’a dan serahkan hasilnya pada-Nya.

Perjalanan ke kampus bersama Mutma-teman seperjuanganku sejak semester awal, kami isi dengan menebak kira-kira pertanyaan apa yang akan muncul nanti. Sibuk membuat prediksi pertanyaan dan alternative jawabannya. Tapi itu sangat singkat. Tak terasa kami sudah memasuki gedung fakultas SASTRA.

Fakultas sudah nampak ramai seperti biasa. Yang paling mencolok adalah ‘kami’ yang akan ujian dengan seragam hitam-putih lengkap dengan jas berwarna hitam. Beberapa teman tengah asyik bercanda dan tertawa lepas. ‘seolah tak ada beban’ pikirku. Berbeda denganku dan Mutma, dari tadi kami merasa was-was, menkhawatirkan banyak hal. Dua-tiga orang terlihat sibuk membaca-baca kembali skripsi yang sudah di print.  Aku bergabung dengan Aya dan Wati, juga beberapa teman yang lain. Sambil menunggu ujian mulai, ada baiknya membaca kembali skripsiku.

Setelah para penguji sudah hadir dan memasuki ruangan, ujian pun dimulai. Sambil mununggu giliran, tetap kusempatkan membaca kembali kopian skripsiku. Perasaanku semakin tak menentu. Aku mulai deg-degan karena nervous. Kuhentikan bacaanku karena terasa mulai tak focus lagi. Lebih baik jika memperbanyak dzikir saat seperti ini, mengikuti nasehat Mama yang tak hentinya mengingatkanku memperbanyak dzikir, memperkuat do’a, dan harus selalu yakin.

Tiba giliranku. Perasaan yang tadinya penuh kekhawatiran dan sangat tegang tiba-tiba berubah saat dosen penguji memberikan komentar positif. Perasaanku menjadi tenang dan mulai menguasai medan. Semua berjalan lancar hingga selesai.

Ada perasaan lega tak terkira saat semuanya berakhir. Beban berat berton-ton yang selama ini menggangguku seolah baru saja dilepas. Teman-temanku asyik berpoto ria mengabadikan moment hari ini. Aku menolak bergabung, memilih menyepi bersama teman-teman terdekatku (Mutma. Aya’, dan Wati).

Entah mengapa ada perasaan lain yang menyusup di antara rasa bahagia dan kelegaanku hari ini. Cepat sekali perasaan baru ini mengubah suasana hatiku. Aku melangkah pelan dengan ekspresi yang aku pun tak tahu bagaimana. Aneh sekali rasanya, tak tahu kenapa aku merasa aneh dengan diriku. Aku merasa aneh dengan beban yang beberapa jam lalu sangat membuatku resah tiba-tiba menghilang.

Bukan hanya aku yang merasa demikian, Mutma juga merasakan hal yang sama. Itulah sebabnya dari tadi kami berjalan berdampingan tanpa sepatah kata. Tak seperti biasanya. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Bahkan teriknya matahari siang ini tak terasa menyengat sehingga kami berjalan santai sekali di bawah terik mentari yang biasanya selalu membuat kami melangkan terburu-buru. Kami baru sadar panasnya matahari sesaat sebelum sampai di kos/asrama.

Aku merasa sedih saat sadar bahwa tak lama lagi akan meniggalkan masa-masa perkuliahan, teman-teman, dan segala hal yang telah akrab denganku selama tiga tahun setengah ini. Setiap moment yang telah terlewati tiba-tiba menjadi sangat berharga, meski dulu itu terihat sederhana. Ah.. aku akan rindu semua ini. Rasanya mulai berat jika harus meninggalkan kampus. Padahal dulu, ini adalah moment yang sangat kami nantikan. Tiga tahun lebih terasa sangat singkat hai ini.

Bukan hanya rasa sedih yang menyusup, aku mulai merasa menyesal untuk beberapa hal. Aku menyesal karena banyak waktu yang kulewati tanpa belajar. Mengapa dulu aku tak lebih giat lagi belajar? Ah, penyesalan memang selalu hadir belakangan, saat kesempatan itu telah berganti dengan kesempatan lainnya.

Tapi, aku sangat bersyukur atas semua ini. Aku bersyukur telah melewati proses yang tidak mudah. Bersyukur untuk semua kesulitan, tantangan, dan rasa lelah yang dengan itu semua aku bisa mengenang banyak hal. Menyisakan cerita yang mungkin bisa menginspirasi orang lain. Jika proses yang kulewati selalu mudah dan lancar, pelajaran apa yang bisa kuambil? Dan tentu kenangannya tidak akan begitu membekas. Berbeda jika kita melewati berbagai tantangan dan lika-liku yang lumayan rumit untuk bisa meraih ‘sesuatu’, itu akan jauh lebih membekas.

Inilah sekelumit perasaan yang hadir di saat tantangan terakhir berhasil kutaklukkan. Berbagai rasa yang datang di waktu yang sama. Membuat segalanya terasa aneh. Biarlah tulisan malam ini mengabadiakn perasaan nano-nanoku hari ini.

Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost


Siapakah sosok GURU itu?

 Jika anda ditanya dan diminta mendeskripsikan sosok seperti apa seorang guru itu, apa yang akan anda katakan?
Aku yakin, tak seorangpun yang akan memberi komentar dan penggambaran negative tentang guru.  Karena secara umum, yang kita tahu bahwa guru itu adalah seorang patriot, pahlawan bangsa. Sosok yang patut digugu dan ditiru, yang membagikan ilmunya untuk menerangi kehidupan para pencinta ilmu. Mereka adalah orang-orang yang berjuang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan masih banyak lagi pujian, apresiasi, dan label yang baik untuk menggambarkan seorang guru.

Yah, seperti inilah posisi dan penggambaran seorang guru seharusnya. Meski pada kenyataannya, saat seorang anak atau peserta didik ditanya tentang guru-guru di sekolahnya, jawaban mereka kebanyakan berbeda dari penggambaran umum yang mereka ketahui. Semua kembali seperti apa guru itu bersikap. Apakah ia benar-benar bertindak layaknya seorang ‘guru’, ataukah ia bersikap sesuka hatinya tanpa memperdulikan hal-hal yang seharusnya dilakukan.

Terlepas dari semua itu, kembali pada deskripsi seorang guru. Yang kutahu tentang guru sangat standar, bahwa guru adalah dia yang mengajar di kelas. Itu saja. Tapi jika diminta memberikan deskripsi tentang guru tentu akan kujawab lebih panjang, dengan memberi tambahan-tambahan pujian dan sebagainya. Sesederhana itulah sosok guru dari sudut pandangku.

Suatu waktu, saat itu aku sudah lulus Aliyah (sederajat SMA), melewati masa pengabdian di pondok pesantren. Sebagia pembina, kami diikutkan dalam sebuah training untuk para guru; ‘Quantum Teaching Training’ selama tiga hari. Di sinilah kutemukan deskripsi luar biasa tentang sosok guru. Saat sang trainer menggambarkan sosok guru, aku terhanyut sampai meneteskan air mata karena terharu. Betapa luar biasanya sosok guru itu.

Kata beliau, “Guru itu adalah Dia yang bersungguh-sungguh mengantarkan anak didiknya ke gerbang kesuksesan. Segala upaya akan ia lakukan untuk memberikan yang terbaik pada siswanya, semua dilakukan agar anaknya mampu meraih sukses. Jika diibaratkan kesuksesan itu adalah buah apel pada pohon yang berada di seberang sungai, maka seorang guru akan berusaha menjadi jembatan bagi siswanya. Jika tak bisa, dia akan berusaha mengarahkan pada si anak agar bisa menyeberangi sungai dan sampai pada pohon apel. “Di sanalah sukses itu,Nak! Kesanalah, lewati jembatan ini dan ambillah apel itu!”  segala upaya ia lakukan.

“Jika si anak berhasil sampai di bawah pohon dan tangannya tak sampai untuk memetik buah apel, maka sang guru akan menyodorkan kursi, “Naikilah kursi ini, Nak! Dan petiklah apel itu! Kau harus bisa.”  Saat sang anak masih tak mampu memetik buah apel itu lantaran tingginya. Maka sang guru akan menyodorkan dirinya seraya berkata, “Nak, injak kepala Ibu! Injak kepala Ibu, naiklah.. kamu harus memetik buah apel itu.”

Kurang lebih seperti itulah yang disampaikan. Sulit menuliskannya secara persis. Sang trainer membawakannya penuh penghayatan dengan intonasi suara yang disesuaikan, juga ekspresi yang mampu menyihir kami. Matanya berkaca-kaca saat menyampaikan bagian terakhirnya. Mataku ikut berkaca-kaca, begitu juga peserta lainnya.

Hari itu, kutemukan makna baru seorang guru. Aku jadi paham seperti apa guru yang sebenarnya, dan bagaimana sikap mereka seharusnya.  Begitu hebat dan luar biasanya mereka. Meski pada faktanya sangat sulit menemukan sosok yang seperti ini. Inilah tujuan training ini, bagaimana menciptakan guru-guru luar biasa, guru yang diidolakan, dicintai, dan dirindukan oleh murid-muridnya.

Inilah deskripsi seorang guru yang selalu kuingat. Menjadi motivasi untukku bisa menjadi guru seperti itu. Sungguh, kesuksesan peserta didik itu tak lepas dari peran para guru.

Aqilah El-Hafizhah

#OneDayOnePost

Kamis, 28 April 2016

Kata-Kata Penyemangat

Malam ini, selepas shalat isya mataku tertuju pada dinding kamar yang ramai dengan tempelan kertas warna-warni berbentuk lingkaran. Kertas berisi kata-kata singkat sebagai penyemangat. Entah sejak kapan kertas-kertas ini menghiasi tembok kamarku. Sudah cukup lama, warnanya pun sudah mulai memudar. Telah menjadi salah satu kebiasaanku membuat kata-kata penyemangat lalu menempelkannya di tempat-tempat yang mudah terlihat. Tujuannya jelas, untuk menjaga semangat dan mengingatkanku pada hal-hal yang sering kali terbaikan.

Tembok Kamarku
Kata-kata ini mungkin tak seindah milik para sastrawan sebangsa Khalil Gibran yang mampu memoles kata hingga indah dibaca dan memukau para pembacanya. Juga tidak sehebat kata-kata para motivator hebat selevel Mario Teguh yang mampu menyihir orang banyak dengan motivasi-motivasi hebatnya. Pun tak sebijak nasehat-nasehat Tere Liye dalam setiap novelnya yang selalu berhasil membuatku mengangguk setuju dan kagum padanya. Apalagi jika ingin disandingkan dengan kumpulan perkataan Maha Dahsyat yang mampu membuat air mata bercucuran saat membacanya, bahkan bisa menjadikan gunung bergetar karena takut.

Sungguh, kata-kata ini terlalu sederhana jika dibandingkan dengan perkataan orang-orang hebat ini. Kata-kata yang kutulis apa adanya dengan susunan kata yang tak sesuai tata bahasa, benar-benar sesuka hatiku. Tujuannya jelas, agar kapanpun aku merasa jatuh, lemah, dan ingin menyerah, mereka mampu memberi ‘sedikit’ kekuatan. Yah… sedikit kekuatan! Aku sadar bahwa ada kondisi ketika kalimat motivasi sehebat apapun tak mampu menjadi secercah cahaya. Itulah saat satu-satunya solusi adalah kembali kepada-Nya.

Namun, sesederhana apapun kata-kata ini, mereka sangat berarti untukku. Berapa lama berhasil menemaniku melewati banyak hal. Terutama saat tugas kuliah hampir membuatku menyerah, mereka mampu membuatku kembali tersenyum dan berprasangka baik pada-Nya. Perlahan membangkitkan semangatku yang sedikit memudar.

Huh.. tak lama lagi aku akan meninggalkan kamar ini. Setelah kuliahku selesai, tentu tak lagi di sini. inilah yang membuatku lama menatap tempelan-tempelan ini. Ada perasaan yang tak mampu kugambarkan saat menatapnya lamat-lamat. Apakah kertas ini akan memberi efek yang sama kepada penghuni barunya kelak atau tidak, inilah yang kupikirkan. Entahlah! Tapi aku berharap, kertas-kertas ini kelak bisa memberi pengaruh pada mereka yang akan menempati kamar ini. Agar ia menjadi kertas yang menebar manfaat, J


Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost