Jumat, 29 April 2016

Siapakah sosok GURU itu?

 Jika anda ditanya dan diminta mendeskripsikan sosok seperti apa seorang guru itu, apa yang akan anda katakan?
Aku yakin, tak seorangpun yang akan memberi komentar dan penggambaran negative tentang guru.  Karena secara umum, yang kita tahu bahwa guru itu adalah seorang patriot, pahlawan bangsa. Sosok yang patut digugu dan ditiru, yang membagikan ilmunya untuk menerangi kehidupan para pencinta ilmu. Mereka adalah orang-orang yang berjuang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan masih banyak lagi pujian, apresiasi, dan label yang baik untuk menggambarkan seorang guru.

Yah, seperti inilah posisi dan penggambaran seorang guru seharusnya. Meski pada kenyataannya, saat seorang anak atau peserta didik ditanya tentang guru-guru di sekolahnya, jawaban mereka kebanyakan berbeda dari penggambaran umum yang mereka ketahui. Semua kembali seperti apa guru itu bersikap. Apakah ia benar-benar bertindak layaknya seorang ‘guru’, ataukah ia bersikap sesuka hatinya tanpa memperdulikan hal-hal yang seharusnya dilakukan.

Terlepas dari semua itu, kembali pada deskripsi seorang guru. Yang kutahu tentang guru sangat standar, bahwa guru adalah dia yang mengajar di kelas. Itu saja. Tapi jika diminta memberikan deskripsi tentang guru tentu akan kujawab lebih panjang, dengan memberi tambahan-tambahan pujian dan sebagainya. Sesederhana itulah sosok guru dari sudut pandangku.

Suatu waktu, saat itu aku sudah lulus Aliyah (sederajat SMA), melewati masa pengabdian di pondok pesantren. Sebagia pembina, kami diikutkan dalam sebuah training untuk para guru; ‘Quantum Teaching Training’ selama tiga hari. Di sinilah kutemukan deskripsi luar biasa tentang sosok guru. Saat sang trainer menggambarkan sosok guru, aku terhanyut sampai meneteskan air mata karena terharu. Betapa luar biasanya sosok guru itu.

Kata beliau, “Guru itu adalah Dia yang bersungguh-sungguh mengantarkan anak didiknya ke gerbang kesuksesan. Segala upaya akan ia lakukan untuk memberikan yang terbaik pada siswanya, semua dilakukan agar anaknya mampu meraih sukses. Jika diibaratkan kesuksesan itu adalah buah apel pada pohon yang berada di seberang sungai, maka seorang guru akan berusaha menjadi jembatan bagi siswanya. Jika tak bisa, dia akan berusaha mengarahkan pada si anak agar bisa menyeberangi sungai dan sampai pada pohon apel. “Di sanalah sukses itu,Nak! Kesanalah, lewati jembatan ini dan ambillah apel itu!”  segala upaya ia lakukan.

“Jika si anak berhasil sampai di bawah pohon dan tangannya tak sampai untuk memetik buah apel, maka sang guru akan menyodorkan kursi, “Naikilah kursi ini, Nak! Dan petiklah apel itu! Kau harus bisa.”  Saat sang anak masih tak mampu memetik buah apel itu lantaran tingginya. Maka sang guru akan menyodorkan dirinya seraya berkata, “Nak, injak kepala Ibu! Injak kepala Ibu, naiklah.. kamu harus memetik buah apel itu.”

Kurang lebih seperti itulah yang disampaikan. Sulit menuliskannya secara persis. Sang trainer membawakannya penuh penghayatan dengan intonasi suara yang disesuaikan, juga ekspresi yang mampu menyihir kami. Matanya berkaca-kaca saat menyampaikan bagian terakhirnya. Mataku ikut berkaca-kaca, begitu juga peserta lainnya.

Hari itu, kutemukan makna baru seorang guru. Aku jadi paham seperti apa guru yang sebenarnya, dan bagaimana sikap mereka seharusnya.  Begitu hebat dan luar biasanya mereka. Meski pada faktanya sangat sulit menemukan sosok yang seperti ini. Inilah tujuan training ini, bagaimana menciptakan guru-guru luar biasa, guru yang diidolakan, dicintai, dan dirindukan oleh murid-muridnya.

Inilah deskripsi seorang guru yang selalu kuingat. Menjadi motivasi untukku bisa menjadi guru seperti itu. Sungguh, kesuksesan peserta didik itu tak lepas dari peran para guru.

Aqilah El-Hafizhah

#OneDayOnePost

6 komentar:

Nychken Gilang mengatakan...

Kalau peribahasa dalam bahasa sunda, Guru = digugu dan ditiru

Sakif mengatakan...

Guru, digugu lan ditiru,
tak kira cuma bahasa jawa a'.. disunda juga sama toh?

Sang Mahadewa mengatakan...

Tapi ada sosok guru yang tidak boleh "diGUgu dan ditiRU" yaitu guru Drona (Resi Dorna) yang justru memihak kebatilan (Kurawa) dalam perang Baratayudha.

btw tulisan mbk Muallimah keren banget :)

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

MAsihkan sekarang label guru pahlawan tanpa tanda jasa berlaku?

Lisa Lestari mengatakan...

Duuh, aku guru loh, mau jawab pertanyaan mb wid, bingung aku

Unknown mengatakan...

Guru. Profesi impian