“
Senyumlah, Nak. Seberat apapun yang kamu hadapi, semua pasti akan berlalu.
Meski Ibu tidak lagi bersamamu, Ibu ingin kamu
selalu bahagia. Kamu harus kuat!”
Suara
itu lenyap seiring lenyapnya wajah lembut pada cermin bulat yang kupegang. Kurebahkan
badan, menatap langit-langit kamar. Senyum tipis mulai menghias wajah senduku.
Mengusap kristal bening yang tiba-tiba menetes mengiring senyumku. Kupejamkan mata,
mencari kekuatan. Aku harus kuat, karena
kau selalu ada untukku Ibu, teriak hatiku. Perlahan kubuka kembali mataku.
Beban itu sungguh telah menguap entah kemana. Menyisakan aku dengan senyum keyakinan. “Terima kasih, Ibu”
ucapku lirih.
***
Aku
tersenyum menatap cermin bulat di tanganku. Nasehat ibu selalu membuatku tenang
dan nyaman. Selalu tepat dan sesuai sasaran.
“
Ika! Please deh, sampai kapan sih kamu terus begini? Berlagak bodoh di
depan benda mati. Senyum sendiri bahkan tertawa sendiri.”
Aku
terkejut. Menoleh, Nia dan Syifa berdiri di sampingku dengan ekspresi sebal.
“Betul.
Ini masih pagi loh, entar kamu kesambet jin baru tahu rasa” Syifa ikut
berkomentar.
Entah
sudah berapa kali mereka menegur kebiasaanku bersama cermin bulat ini. Mereka
tak pernah mengerti dengan duniaku karena aku tak pernah memberi tahu mereka tentang
cermin ajaibku.
“Aku
tidak bertingkah bodoh, ada banyak hal yang tidak akan pernah kalian pahami”
Jawabku singkat dengan senyum misterius.
“Huh…terserah.
Yang pasti sekarang ini kamu simpan cermin tak jelas itu dan dengarkan curahan
hatiku, oke?” Nia berkata enteng dengan senyum manis, sama sekali tidak
penasaran dengan ucapanku.
Sedetik kemudian cerita Nia mengalir bak
sungai. Dia selalu semangat setiap kali bercerita pada kami. Penuh ekspresi,
tak peduli itu cerita bahagia ataupun menyakitkan. Dia pribadi yang selalu ceria.
Ceritanya
belum finish saat bel pertanda kelas akan dimulai membuatnya harus
mendengus kesal. Tapi air mukanya segera kembali ceria mengingat masih ada jam
istirahat untuk melanjutkan ceritanya. Aku hanya tersenyum simpul mengiyakan.
***
Syifa
semakin semangat mendengar lanjutan cerita Nia tentang orang yang sedang
dikaguminya. Bagi Nia, hal kecil apapun jika menyangkut orang yang ia kagumi,
maka itu selalu istimewa. Aku hanya diam, berusaha memjadi pendengar yang baik.
Aku tahu inilah yang harus kulakukan sebagai teman terdekat mereka.
Nia
sampai pada akhir cerita. Dan seperti biasa, aku harus memberikan pendapat,
saran, atau komentar apapun tentang ceritanya. Bagi mereka, aku adalah tempat
curhat terbaik. Aku selalu memberi solusi dan saran yang memuaskan sesuai yang
mereka butuhkan. Setiap komentarku adalah yang terbaik. Karena itulah, aku
harus selalu siap setiap mereka ingin bercerita.
Aku
melirik pergelangan tangan, sembilan menit lagi waktu istirahat berakhir. Minumanku
juga sudah hampir habis. Syifa masih asyik bercerita, meski air mukanya tak
seceria Nia. Bagaimanalah ia bisa ceria jika ceritanya kali ini bertema
‘galau’. Aku memasang wajah prihatin sambil otakku berputar memikirkan solusi
terbaik di akhir cerita.
****
“Prak…!”
Aku
tersentak. Mataku mulai berkaca-kaca menahan tangis, menatap pecahan cermin
bulatku berserakan di lantai. Ada rasa sakit dan sesak memenuhi rongga dadaku
mengingat dua sahabatku dengan sengaja menjatuhkannya.
“Ika…
jangan nangis dong… lagian inikan hanya cermin, kami bisa menggantinya dengan
yang lebih bagus. Itu juga akan lebih baik untuk menghilangkan kebiasaan anehmu.”
Syifa berucap sedikit terbata karena cemas, tidak menyangka responku akan
seperti ini. Dia tidak tahu berapa penting dan berharga cermin itu bagiku.
“Mungkin
bagi kalian cermin ini bukan apa-apa, tapi hanya dengan cermin ini aku bisa
berkomunikasi dengan ibuku. Dengan cermin ini aku bisa melihat dan mendengar
setiap nasehat darinya.” Pipiku menghangat oleh kristal bening yang dari tadi
kutahan agar tak keluar. Pertahananku jebol.
“What??
Berkomunikasi dengan ibumu lewat cermin? It’s
impossible, Ika. Mana bisa kita bercakap dengan orang yang sudah meninggal?
Dengar, itu hanya ilusi. Aku memang
tidak sepintar kamu, tapi kamu harus sadar kalau ibumu sudah meninggal dan tak
mungkin bisa berhubungan apapun lagi denganmu. Itu hanyalah khayalan, Ika. Please,
sadarlah. Emang berat menerima kenyataan, tapi kamu harus bisa.”
Nia
berkomentar panjang lebar. Suaranya menggema memenuhi setiap sedut kamar Syifa.
Dia sama sekali tak percaya dengan ucapanku. Kalimatnya semakin melukaiku meski
juga mulai mengganggu pikiranku. Mungkinkah
ini hanya ilusi?
“Iya,
aku memang bodoh dan aneh. Tapi itu satu-satunya barang yang menghibur,
menyemangati, dan setia mendengar setiap ceritaku. Mungkin kalian tak pernah
sadar, kalau aku juga manusia sama seperti kalian yang butuh tempat untuk
cerita. Tapi kesempatan itu tak pernah ada untukku, aku ada hanya untuk
mendengar cerita kalian. Aku diam dan terima semua ini, karena cermin itu
selalu ada untukku. Tapi hari ini, satu-satunya barang berhargaku juga sudah hancur,
dan itu karena kalian!”
Aku
berlari meninggalkan kamar Syifa. Tak lagi peduli dengan tugas yang belum selesai.
Aku sudah menumpahkan segalanya. Biarlah, mungkin inilah saatnya mereka
mendengarku meski ini tentu sangat mengejutkan buat mereka. Ada kepuasan yang
kurasakan. Tapi sebuah pertanyaan baru menggangguku. Apakah cerminku sungguh hanya ilusi?
Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost

2 komentar:
Bagus mb idenya
Setuju dengan Nia, ehm,
Posting Komentar