Minggu, 24 April 2016

Cermin Ilusi


“ Senyumlah, Nak. Seberat apapun yang kamu hadapi, semua pasti akan berlalu. Meski Ibu tidak lagi bersamamu, Ibu ingin kamu  selalu bahagia. Kamu harus kuat!”

Suara itu lenyap seiring lenyapnya wajah lembut pada cermin bulat yang kupegang. Kurebahkan badan, menatap langit-langit kamar. Senyum tipis mulai menghias wajah senduku. Mengusap kristal bening yang tiba-tiba menetes mengiring senyumku. Kupejamkan mata, mencari kekuatan. Aku harus kuat, karena kau selalu ada untukku Ibu, teriak hatiku. Perlahan kubuka kembali mataku. Beban itu sungguh telah menguap entah kemana. Menyisakan aku  dengan senyum keyakinan. “Terima kasih, Ibu” ucapku lirih.

***

Aku tersenyum menatap cermin bulat di tanganku. Nasehat ibu selalu membuatku tenang dan nyaman. Selalu tepat dan sesuai sasaran.

“ Ika! Please deh, sampai kapan sih kamu terus begini? Berlagak bodoh di depan benda mati. Senyum sendiri bahkan tertawa sendiri.”

Aku terkejut. Menoleh, Nia dan Syifa berdiri di sampingku dengan ekspresi sebal.

“Betul. Ini masih pagi loh, entar kamu kesambet jin baru tahu rasa” Syifa ikut berkomentar.

Entah sudah berapa kali mereka menegur kebiasaanku bersama cermin bulat ini. Mereka tak pernah mengerti dengan duniaku karena aku tak pernah memberi tahu mereka tentang cermin ajaibku.

“Aku tidak bertingkah bodoh, ada banyak hal yang tidak akan pernah kalian pahami” Jawabku singkat dengan senyum misterius.

“Huh…terserah. Yang pasti sekarang ini kamu simpan cermin tak jelas itu dan dengarkan curahan hatiku, oke?” Nia berkata enteng dengan senyum manis, sama sekali tidak penasaran dengan ucapanku.

Sedetik kemudian cerita Nia mengalir bak sungai. Dia selalu semangat setiap kali bercerita pada kami. Penuh ekspresi, tak peduli itu cerita bahagia ataupun menyakitkan. Dia pribadi yang selalu ceria.

Ceritanya belum finish saat bel pertanda kelas akan dimulai membuatnya harus mendengus kesal. Tapi air mukanya segera kembali ceria mengingat masih ada jam istirahat untuk melanjutkan ceritanya. Aku hanya tersenyum simpul mengiyakan.

***

Syifa semakin semangat mendengar lanjutan cerita Nia tentang orang yang sedang dikaguminya. Bagi Nia, hal kecil apapun jika menyangkut orang yang ia kagumi, maka itu selalu istimewa. Aku hanya diam, berusaha memjadi pendengar yang baik. Aku tahu inilah yang harus kulakukan sebagai teman terdekat mereka.

Nia sampai pada akhir cerita. Dan seperti biasa, aku harus memberikan pendapat, saran, atau komentar apapun tentang ceritanya. Bagi mereka, aku adalah tempat curhat terbaik. Aku selalu memberi solusi dan saran yang memuaskan sesuai yang mereka butuhkan. Setiap komentarku adalah yang terbaik. Karena itulah, aku harus selalu siap setiap mereka ingin bercerita.

Aku melirik pergelangan tangan, sembilan menit lagi waktu istirahat berakhir. Minumanku juga sudah hampir habis. Syifa masih asyik bercerita, meski air mukanya tak seceria Nia. Bagaimanalah ia bisa ceria jika ceritanya kali ini bertema ‘galau’. Aku memasang wajah prihatin sambil otakku berputar memikirkan solusi terbaik di akhir cerita.

****

“Prak…!”

Aku tersentak. Mataku mulai berkaca-kaca menahan tangis, menatap pecahan cermin bulatku berserakan di lantai. Ada rasa sakit dan sesak memenuhi rongga dadaku mengingat dua sahabatku dengan sengaja menjatuhkannya.

“Ika… jangan nangis dong… lagian inikan hanya cermin, kami bisa menggantinya dengan yang lebih bagus. Itu juga akan lebih baik untuk menghilangkan kebiasaan anehmu.” Syifa berucap sedikit terbata karena cemas, tidak menyangka responku akan seperti ini. Dia tidak tahu berapa penting dan berharga cermin itu bagiku.

“Mungkin bagi kalian cermin ini bukan apa-apa, tapi hanya dengan cermin ini aku bisa berkomunikasi dengan ibuku. Dengan cermin ini aku bisa melihat dan mendengar setiap nasehat darinya.” Pipiku menghangat oleh kristal bening yang dari tadi kutahan agar tak keluar. Pertahananku jebol.

What?? Berkomunikasi dengan ibumu lewat cermin? It’s impossible, Ika. Mana bisa kita bercakap dengan orang yang sudah meninggal? Dengar,  itu hanya ilusi. Aku memang tidak sepintar kamu, tapi kamu harus sadar kalau ibumu sudah meninggal dan tak mungkin bisa berhubungan apapun lagi denganmu. Itu hanyalah khayalan, Ika. Please, sadarlah. Emang berat menerima kenyataan, tapi kamu harus bisa.”

Nia berkomentar panjang lebar. Suaranya menggema memenuhi setiap sedut kamar Syifa. Dia sama sekali tak percaya dengan ucapanku. Kalimatnya semakin melukaiku meski juga mulai mengganggu pikiranku. Mungkinkah ini hanya ilusi?

“Iya, aku memang bodoh dan aneh. Tapi itu satu-satunya barang yang menghibur, menyemangati, dan setia mendengar setiap ceritaku. Mungkin kalian tak pernah sadar, kalau aku juga manusia sama seperti kalian yang butuh tempat untuk cerita. Tapi kesempatan itu tak pernah ada untukku, aku ada hanya untuk mendengar cerita kalian. Aku diam dan terima semua ini, karena cermin itu selalu ada untukku. Tapi hari ini, satu-satunya barang berhargaku juga sudah hancur, dan itu karena kalian!”

Aku berlari meninggalkan kamar Syifa. Tak lagi peduli dengan tugas yang belum selesai. Aku sudah menumpahkan segalanya. Biarlah, mungkin inilah saatnya mereka mendengarku meski ini tentu sangat mengejutkan buat mereka. Ada kepuasan yang kurasakan. Tapi sebuah pertanyaan baru menggangguku. Apakah cerminku sungguh hanya ilusi?


Aqilah El-Hafizhah

#OneDayOnePost

2 komentar:

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

Bagus mb idenya

Ainayya Ayska mengatakan...

Setuju dengan Nia, ehm,