ODOP adalah kesempatan bagiku, ia hadir bagaikan angin segar yang seketika membangkitkan semangatku untuk terus menulis. Berkumpul dengan sosok-sosok yang punya kesukaan yang sama, meski kami berasal dari latar belakang yang berbeda. Sebuah perkumpulan dengan alasan yang sama, untuk menulis.
Aku senang bisa bergabung dengan
komunitas ini, menjadi bagian dari mereka yang mendapat kesempatan luar biasa.
Namun, bertahan pada wadah yang menuntut sebuah konsistensi tentu tidaklah mudah. Ibaratnya
mendaki gunung, untuk sampai di puncak tertinggi kita harus melewati berbagai
rintangan dan cobaan. Hanya mereka yang punya tekad setebal baja dan keteguhan
hatilah yang bisa sampai ke puncak, tanpa ini semua, kita akan tergeser, menjadi
bagian dari kumpulan nama yang akhirnya memilih menyerah dan mundur.
Beginilah ODOP, sebuah medan
juang yang tak mudah. Terbukti saat satu per-satu meninggalkan grup, menyerah
dan tak bisa melanjutkan perjalanan ini. Seleksi alam kata Gilang. Ah.. melihat
beberapa kawan mundur dari medan, mebuatku bertekad untuk tidak mengikuti
langkah mereka. Mencoba bertahan sekuat yang kubisa. Meski tak tahu akan
bagaimana akhirnya.
Di tengah kesibukan aku masih
mencoba untuk tetap bertahan. Aku sungguh tak ingin meninggalkan komunitas yang
sudah seperti ‘rumah’ bagiku. Meski aku tak seaktif Inet, April, Gilang, Deassy,
Mbak Vinny, Mbak Lisa dan penghuni ODOP lainnya, tapi aku nyaman di tengah
mereka. Setidaknya aku merasakan atmosfer semangat mereka, juga terhibur saat
bisa meluangkan waktu membaca obrolan kocak mereka yang kadang bahkan sampai
ribuan.
Hal lain yang membuatku betah di
‘rumah’ ini, karena bisa mengenal sosok luar biasa yang mengajarkanku banyak
hal. Aku bahagia bisa bertemu orang yang punya semangat luar biasa. Mungkin tak
pernah ada percakapan antara aku dan beliau, tak seperti teman ODOP lain yang
‘akrab’ dengannya. Tapi, bisa berada dalam satu ‘rumah’ dengannya adalah
kesyukuran buatku, bisa menjadi bagian dari keluaga ODOP, keluarga beliau.
Semua ini tentu membuatku berat
untuk begitu saja mundur. Tapi masalah kemudian muncul saat kesibukan membuat
kewajiban menulisku mulai terabaikan. Catatan utang menulisku mulai menumpuk,
hingga saat tersadar utangku sudah lima, meski utangku terkumpul tidak berturut-turut
tapi itu cukup membuatku sadar diri. Aku mulai dilema.
Awalnya, kuputuskan untuk mundur
meski berat. Dan memang sesuai komitmen awal, harus bersedia leave grup jika tidak
menulis selama lima hari. Dengan berat kurencanakan menulis untuk terakhir
kali, sebagai ucapan terima kasih dan perpisahan.
Ternyata bukan hanya aku yang
berencana mundur. Adikku, Aira, yang mengajakku
bergabung di ODOP juga sempat berpikir demikian. Tapi beberapa alasan
membuatnya mencoba tetap bertahan. Dan aku salah satu alasannya tetap bertahan,
ia selalu teringat perkataanku, “Aku bukan orang yang mudah menyerah, dan
selalu menjadi bagian dari mereka yang konsisten sampai akhir” Inilah yang
selalu diingatnya. Lalu, bagaimana bisa ia menyerah lebih dulu padahal dialah
yang mengajakku bergabung di ODOP? Dia tidak terpikir kalau di waktu yang sama
aku sedang berencana untuk mundur.
Tepat saat itu juga sebuah pesan
WA masuk, Kaka, belum nulis lagi? Sebuah pesan dari Nadilla, anggota
ODOP yang telah kuajak bergabung. Kujelaskan permasalahn dan rencanaku padanya.
Dengan tegas ia memintaku untuk tidak mundur dan tetap bertahan. Sesuai
perjanjian di awal, bukannya aku memang sudah harus mundur?
Dia memintaku untuk bicara pada Bang Syaiha. Sebagai usaha terakhir, kuputuskan untuk mencoba saran dari
Nadilla. Untuk pertama kali kumencoba komunikasi dengan beliau. Kujelaskan situasiku,
juga kutanyakan sekiranya masih ada dispensasi untukku atau aku memang harus leave
hari itu juga. Inilah jawaban Bang Syaiha..
Sebuah kesempatan kembali
diberikan padaku. Terima kasih Bang Syaiha. Terima kasih karena masih
menerimaku menjadi muridmu, dan telah mengizinkankanku tetap berada di antara
mereka untuk tetap belajar bersama dan berjuang hingga akhir insyaAllah.
Semoga aku bisa memanfaatkan kesempatan
kedua ini dengan sebaik mungkin.
Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost


2 komentar:
Posting Komentar