Kamis, 14 April 2016

Untukmu Yang Telah Bertanya


"Kak... Menurut kakak, saya itu bgaimana orangnya? Apa saja sifat negatif yang kakak tau tapi mungkin tidak kusadari?"

Sebait pesan whatsapp berupa pertanyaan yang datang begitu tiba-tiba. Dari seorang teman, sebutlah ia Nabilah Entah apa asal-muasal ia bertanya seperti ini. Pertanyaan yang melahirkan tanya dalam diriku, "Ada apa? Kok tiba-tiba bertanya soal penilaianku tentang dirinya, apa ada sesuatu?"

Entahlah. Yang pasti pertanyaan ini membuatku termenung sejenak dan mulai menerawang. Mencoba menghadirkan sosok Nabilah dalam imajiku, mulai memainkan kembali memori yang pernah ada bersamanya. Berusaha membaca dan menemukan, "Sosok seperti apakah Dia?"

Awal mengenalnya sebagai juniorku di tahfizh, kupikir dia itu pendiam dan cuek. Mengapa? Dia terlihat kurang ramah dan agak menutup diri. Meski tentu itu hal wajar bagi orang yang baru bergabung di lingkungan baru. Semuanya tentu terasa asing dan tak biasa. Termasuk dia tentunya, masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri.

Seiring berjalannya waktu, saat keakraban mulai terbangun di antara kami, para penghuni asrama. Kurasa, aku dan dia sama sekali tak sedekat yang lain. Mungkin karena pembawaan dia yang menutup diri. Lebih sering di kamar dan tak banyak bicara. Itu terhadapku, entah kepada yang lain. Sehingga interaksi antara kami tidak banyak, palingan hanya diskusi biasa layaknya seorang senior dan junior. Atau sekedar mendengarkan hapalannya dan memberikan satu dua komentar lalu ditutup dengan sedikit pesan. Cukup. Yah, sebatas itulah komunikasi kami.

Tak pernah ada pembicaraan akrab seperti pada junior lainnya. Dari pengamatanku, dia lebih senang di kamar, bergelut dengan kesibukannya.

Aku sedikit tau tentang dia dari sepupunya yang sekamar denganku. Aku sering bertanya terkait hubungan keluarga mereka dan hal-hal lain tentangnya. Kalau bukan pada sepupunya, biasa kutanyakan pada Hasanah, juniorku yang banyak membantunya saat proses pendaftaran MABA. Dari merekalah kutahu sedikit informasi tentangnya.

Akhir tahun pertama bersamanya, menjelang libur akhir semester, disitulah ada sedikit perbincangan lebih intens dengannya. Aku nongkrong di kamar Syifa, yang juga kamarnya, tepat saat ia lagi nonton Detective Conan. Ternyata ia juga suka Conan, sama denganku. Kutawarilah ia koleksi conan punyaku. Malam itu, kutahu satu kesamaan kami, Detective Conan.

Apakah setelah itu kami tiba-tiba jadi akrab? Sayangnya belum. Detective Conan belum cukup menjadi alasan kami merasa 'nyambung'.

Lalu kapan keakraban itu bermula?

Sebenarnya aku pun tak tahu pastinya kapan kami mulai seakrab sekarang. Karena sungguh, keakraban itu merupakan sebuah proses, bukan?

Ketahuilah, keakraban dan kecocokan itu adalah proses yang berlangsung sangat perlahan dan alamiah, hingga kamu tak sadar tiba-tiba sudah sangat dekat dengan seseorang. Dan saat ditanya, kapan kalian tiba-tiba dekat? Mungkin, saat itulah kamu tersadar dan mulai berpikir, 'kapan?' Dan kamu pun tak tahu kapan persisnya. Kamu hanya bisa bilang, 'Awalnya hanya...bla bla bla.. akhirnya sudah begini'. Begitulah, keakraban yang terbentuk alamiah. Hal yang sama terjadi antara kami.

Tapi, kalau kupikir-pikir.. hal yang kemudian bikin kami "nyambung' adalah-kami sama-sama Tere Liye lovers, hehe.. akhirnya pembicaraan tentang Tere Liye yang tiada habisnya membuat kami sering komunikasi.

Sekolah TOEFL adalah hal lain yang buat kami makin 'nyambung'. Dia senang dan sangat bersemangat belajar bahasa inggris. Kemampuannya sangat lumayan, mengingat dia bukan dari jurusan bahasa inggris. Kami makin sering terlibat diskusi panjang terkait sekolah TOEFL. Dan tak terasa aku merasa sangat nyambung dengannya.

Perlahan dia bercerita tentang diri dan kehidupannya. Aku makin banyak tahu tentangnya, juga menemukan beberapa kesamaan. Dia juga tak seperti dulu lagi yang sangat pediam, terkesan menutup diri. Dia mulai banyak berinteraksi dengan yang lainnya juga. Saat ia berceritalah aku tahu mengapa kurang lebih setahun ini sangat kurang bersosialisasi dengan kami. Ada pengalaman yang kurang mengenakkan yang membuatnya hilang kepercayaan terhadap orang lain. Pengalaman yang membuatnya tak percaya jika ada orang baik yang tulus dalam kehidupan ini. Dan iapun tak percaya pada orang-orang.

Setahun hidup bersama 'kami' perlahan membuat paradigma berpikirnya mulai berubah. Ia mulai menemukan orang-orang baik dan tulus, sedikit demi sedikit menggugurkan rasa tak percayanya akan adanya orang-orang baik. Itulah, mengapa aku melihat sangat banyak perubahan dari dirinya saat ini jika dibandingkan kurang lebih setahun sebelumnya.

Dan jika ia tiba-tiba bertanya tentang kekurangannya, aku seakan tak tahu harus menjawab apa. Hal yang dulu kuanggap sikap negatif itu sudah tak ada lagi. Tapi, sedikit pesan dari kakak, kamu masih harus lebih ramah lagi. Utamanya saat bertemu dengan orang baru agar kesan 'tak ramah' tak pantas untukmu. 

Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost

2 komentar:

Ainayya Ayska mengatakan...

Kenapa tuh, kak?
Hehehe, mulai deh keponya.

Betul tuh, keakraban itu datangnya tiba2... alami seperti cinta.

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

Iya Kali sudah dekat yg terlihat hanyalah kebaikan Dan kelebihannya