Ayyad, ponakanku yang sudah
berusia delapan tahun melangkah pelan memasuki rumah. Mengndap-endap bagai pencuri
yang takut tertangkap tuan rumah. Matanya awas memperhatikan sekitar, melangkah
takut-takut. Baju yang dikenakan kotor oleh lumpur.
Saya tersenyum melihat tingkahnya, kutahu ia berusaha menghindar dari umminya.
Sayang sekali, si ‘ummi’ tepat
berada di dapan kamar mandi yang dituju. Membuatnya gagal menyembunyikan jejak
bermain lumpur. Insiden dua hari lalu kembali terulang. Sederet nasehat dan
peringatan kembali menggema. Menjadi penutup hari sebelum senja tiba.
Saya tersenyum, teringat masa
kanak-kanakku. Ada banyak hal yang kusukai tapi tak bisa kulakukan sesuka hati.
Saya rindu masa itu, saat pemikiran kita masih
polos. Tak dibebani banyak permasalahan yang bikin mumet. Saat segalanya
terlihat sangat sederhana.
Ada banyak sekali moment
menyenangkan bagi anak-anak yang tak bisa dipahami orang dewasa. Dunia anak-anak
adalah dunia bermain. Sepanjang itu menyenangkan, maka semmuanya akan
dilakukan. Tanpa mempertimbangkan banyak hal yang selalu dikhawatirkan oleh orang
dewasa. Misal, bagi seorang Ibu bermain lumpur itu kotor, maka ia selalu
melarang anaknya bermain lumpur. Sementara bagi si anak, bermain lumpur itu
menyenangkan dan ia tidak peduli jika bajunya akan kotor.
Contoh lain, bermain hujan. Hampir
semua anak senang bermain hujan. Berlarian kesana-kemari menantang hujan,
tertawa, bergembira, dan bermain apa saja di tengah hujan bersama teman-teman,
semua ini menyenangkan. Mereka tak khawatir akan sakit. Berbeda dengan Ibu yang
selalu khawatir anaknya akan sakit karena hujan-hujanan. Beginilah perbedaan
cara pandang anak-anak dan orangtua. Perbedaan yang akhirnya berbuah marah dari
orangtua, dan sang anak harus menerima resiko.
Dalam kasus ini, apakah anak
salah? Pantaskah ia disalahkan karena perbuatannya yang tak sesuai keinginan
orangtua?
Bagi saya pribadi, orangtualah
yang seharusnya berusaha memahami anak-anaknya. Tentu lebih mudah bagi seorang
Ibu memahami dunia anak-anak karena mereka pernah berada pada fase itu. Sementara
anak-anak, bagaimana bisa ia memahami pemikiran orang dewasa dengan otaknya
yang juga masih kanak-kanak? Mustahil bagi anak-anak memahami orang dewasa. Maka
tak pantas ia disalahkan.
Saya teringat sebuah buku yang
harusnya tiap orangtua wajib membaca buku ini, “Orangtuanya Manusia” karya
Munif Chatib. Buku ini mengajarkan bagaimana seharusnya orangtua itu bersikap
pada anak-anaknya. Penulis mengatakan bahwa tiap anak itu adalah bintang.
Yah, setiap anak adalah bintang,
maka akan tiba saatnya ia bersinar. Disinilah peran orangtua dalam pendidikan
sang anak. Utamanya pendidikan dalam lingkup keluarga. Bagaimana orangtua
berusaha menanamkan karakter yang baik pada anaknya dengan memberikan
keteladanan.
Jadi, bagaimanapun sikap seorang
anak, pahamilah ia. Tidak semua permasalahan harus diselesaikan dengan emosi. Pikirkan cara
terbaik untuk membuatnya memahami hakikat baik dan buruk tanpa mengabaikan
kesenangannya. Bimbing ia hingga bisa bersinar bagai bintang. Berjuanglah,
karena kesuksesan orangtua mendidik ananya adalah kunci
untuk kesuksesan anak di hari esok.
Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost

10 komentar:
Tiap anak adalah bintang. Keren mbk... ^^
Betul sekali, orang tualah yang harus memahami anak....
Betul sekali, orang tualah yang harus memahami anak....
Horee... Aku bintang ayah ibuku...
Anak adalah bintang yang memberikan terang .
Bagus sekali tulisannya mbak Muallimah. Saya suka. :)
benar...orang tua yang harus memahami anak..
Anak ... bintang masa depan kita
Mbak Muallimah ini keren banget..👍i like it..
Anak punya kebiasaan meniru kebiasaan orang tuanya soo jadi orang tua yg baik yuk
Keren mbk lanjutkan 😊
Posting Komentar