Menjelang maghrib, saat membuka WA mataku tertuju pada grup FLP sul-sel. Ada ratusan chat yang belum terbaca. Lagi bahas apa nih di grup, pikirku. Akhirnya menyempatkan waktu membaca sebentar.
Para senior FLP lagi ramai di grup, entah itu diskusi atau berdebat. Aku hanya menyimak. Pembahasannya seputar penting tidaknya EYD dalam semua tulisan. Panjang sekali percakapan mereka.
Mengapa pembahasan ini diangkat? Salah satu kegiatan baru di grup ini adalah 'bedah karya'. Koordinator akan memilih 1 karya yang terbit di koran, lalu ramailah karya itu 'dibantai'. Semuanya bebas memberi kritikan, baik dari penggunaan bahasa, tanda baca, memilih ide, dll. Bebas. Kebetulan yang dibedah itu milik salah satu member FLP ranting UNHAS.
Salah satu senior berpendapat untuk tidak terlalu tajam memberi kritikan. Inginnya beliau, menulislah sebebasnya. Jangan sampai semangat menulis kendor karena kritikan yang terlalu. Tapi senior yang lain berpendapat berbeda, maka lahirlah diskusi panjang ini.
Pada intinya bukan ini yang paling menarik, tapi sebuah komentar dari beliau-yang karyanya di bedah. Inilah komentarnya.
(Pengalaman yang lebih pahit ada Kak Wawan, saya dulu buntu sekali puisi, lantas saya terinspirasi dari beberapa orang untuk mulai buat puisi di pertengahan 2014. Puisi-puisi saya kirim ke Kak Wawan. Semua puisi yang dulu kukirim ke Kak Wawan (saya kirim tiap bulan) semuanya dikomen dengan satu kata: Jelek. Saya tidak menyerah, saya kirim terus tiap bulan dan Kak Wawan mulai tidak berkomentar, katanya Kak Wawan, "saya masih bingung itu bagus atau tidak", saya tidak menyerah, menjelang pertengahan 2015, saya kirim terus lagi ke emailnya Kak Wawan sampai kata "Jelek" yang saya terima di awal-awal saya belajar puisi, berubah jadi "Oke". Dan alhamdulillah, sekarang, Kak Wawan dan Kak Fikah (kedua guru saya) sudah mengakui saya, dan beberapa teman dari Katakerja dan Malam Sureq juga sudah sebut-sebut nama saya. Semua karena kata 'Jelek' -nya Kak Wawan. ☺😊 jadi jangan baper, tetap saja semangat dan jangan berhenti menulis, konsisten alias istiqamah, lantas semuanya akan seperti pastinya sungai yang bermuara ke lautan. Makasih Kak Wawan).
Ini isi komentar Kak Bata yang memotivasi agar tidak kendor karena kritikan. Komentar asli tanpa editan, hehe.. Dan Kak Wawan yang dimaksud ini juga senior FLP. Seorang penulis berbakat yang juga telah menghasilkan bayak karya, salah satunya 'Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan, buku yang bisa kalian temukan di gramedia, atau mungkin sudah baca ;)
Intinya.. jangan berkecil hati terhadap kritikan, meski itu sangat menyakitkan. Tapi jadikan ia sebagai salah satu alasan untuk semakin meningkatkan kualitas tulisan. Agar kritikan pedas itu
tak terdengar lagi. Semoga semakin pedas kritikan yang kita dapatkan akan semakin besar pula amunisi semangat untuk berkarya lebih baik.
Aqilah El-Hafizhah

3 komentar:
Pokoke Nulis :)
#SalahBenerUrusanMburi
(pokoknya menulis #salah atau benar urusan belakangan) hehehe .. mentang2 saya amburadul EYD'nya
karena untukm memperbaiki sebuah tulisan, kita butuh kritikan:D
MasyaAllah, keren nih... jangan menyerah.
Posting Komentar