Bismillahirrohmanirrohiim…
Seorang sahabat menemui Rasulullah untuk meminta nasihat.
“Yaa.. Rusulullah, nasehatilah aku!.”
“ Laa taghdob (janganlah marah!),” jawab Rasululloh.
“ Kemudian apa lagi, ya Rasululloh?”
Seorang sahabat menemui Rasulullah untuk meminta nasihat.
“Yaa.. Rusulullah, nasehatilah aku!.”
“ Laa taghdob (janganlah marah!),” jawab Rasululloh.
“ Kemudian apa lagi, ya Rasululloh?”
Rosululloh
kemudian menjawab dengan jawaban yang sama. Sahabat kembali mengulang
pertanyaan yang sama untuk ketiga kali, dan dijawab dengan jawaban yang sama
oleh Rosululloh dengan sedikit penambahan, “Laa taghdob, wa lakal jannah”
(jangan marah, maka bagimu surga).
Subhanalloh…
sebuah kisah dengan nasehat yang luar biasa. Pertanyaan sederhana, dengan
jawaban sederhana, tapi punya makna yang luar biasa.
MARAH.
Ada apa dengan marah?
Mengapa
Rasululloh mengulang nasehat untuk tidak marah sampai tiga kali?
Berulangnya
nasehat ini menyiratkan makna, bahwa ada ‘sesuatu’ dengan marah. Ada hal yang
sangat urgent dari nasehat ini.
Marah
adalah api. Bagaimana sifat api? Membakar! Api akan membakar apa saja yang ada
di sekitarnya. Begitulah marah, akan melenyapkan segalanya, sesuatu yang
teramat berharga sekalipun. Saat api padam, hanya akan menyisakan sesuatu yang
tak berguna. Membuat sang pemilik menyesali api yang telah membakar baran miliknya,
dan mulai berandai-andai.. seandainya tak ada api, maka barangku tak akan
lenyap. Yang tersisa hanya penyesalan.
Begitulah
gambaran amarah. Saat marah, bukan diri kita lagi yang berkuasa. Setan telah
mengambil kemudi dan siap mengarahkan kemudi untuk melakukan dan mengucapkan
hal-hal yang tidak baik. Sesuatu yang akan membuat kita kehilangan harta
berharga yang kita miliki. Mungkin itu teman, sahabat, saudara, bahkan boleh
jadi orangtua. Boleh jadi itu kepercayaan, harga diri, dan kewibawaan. Semua
bisa hilang dalam sekejap, saat amarah telah berkuasa. Saat setan berhasil
mengambil alih peran kita. Itulah amarah, seperti api. Membakar.
Itulah
hikmah dari larangan Nabi agar tidak membuat keputusan disaat marah. Karena
keputusan yang kita tetapkan dalam keadaan emosi adalah keputusan yang akan
membuat kita menyesal pada akhirnya.
Pahamlah
kita, mengapa Rasululloh mengulang nasehatnya ‘laa tahgdhob’ sampai tiga
kali, karena bahaya yang ditimbulkan dari sifat tersebut akan berdampak buruk
pada akhirnya.
Berlatihlah
kendalikan amarah!
Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost

Tidak ada komentar:
Posting Komentar