Senin, 18 April 2016

Jangan Marah!


Bismillahirrohmanirrohiim…
  
Seorang sahabat menemui Rasulullah untuk meminta nasihat.
“Yaa.. Rusulullah, nasehatilah aku!.”
Laa taghdob (janganlah marah!),” jawab Rasululloh.
“ Kemudian apa lagi, ya Rasululloh?”

Rosululloh kemudian menjawab dengan jawaban yang sama. Sahabat kembali mengulang pertanyaan yang sama untuk ketiga kali, dan dijawab dengan jawaban yang sama oleh Rosululloh dengan sedikit penambahan, “Laa taghdob, wa lakal jannah” (jangan marah, maka bagimu surga).

Subhanalloh… sebuah kisah dengan nasehat yang luar biasa. Pertanyaan sederhana, dengan jawaban sederhana, tapi punya makna yang luar biasa.

MARAH. Ada apa dengan marah?

Mengapa Rasululloh mengulang nasehat untuk tidak marah sampai tiga kali?

Berulangnya nasehat ini menyiratkan makna, bahwa ada ‘sesuatu’ dengan marah. Ada hal yang sangat urgent dari nasehat ini.

Marah adalah api. Bagaimana sifat api? Membakar! Api akan membakar apa saja yang ada di sekitarnya. Begitulah marah, akan melenyapkan segalanya, sesuatu yang teramat berharga sekalipun. Saat api padam, hanya akan menyisakan sesuatu yang tak berguna. Membuat sang pemilik menyesali api yang telah membakar baran miliknya, dan mulai berandai-andai.. seandainya tak ada api, maka barangku tak akan lenyap. Yang tersisa hanya penyesalan.

Begitulah gambaran amarah. Saat marah, bukan diri kita lagi yang berkuasa. Setan telah mengambil kemudi dan siap mengarahkan kemudi untuk melakukan dan mengucapkan hal-hal yang tidak baik. Sesuatu yang akan membuat kita kehilangan harta berharga yang kita miliki. Mungkin itu teman, sahabat, saudara, bahkan boleh jadi orangtua. Boleh jadi itu kepercayaan, harga diri, dan kewibawaan. Semua bisa hilang dalam sekejap, saat amarah telah berkuasa. Saat setan berhasil mengambil alih peran kita. Itulah amarah, seperti api. Membakar.

Itulah hikmah dari larangan Nabi agar tidak membuat keputusan disaat marah. Karena keputusan yang kita tetapkan dalam keadaan emosi adalah keputusan yang akan membuat kita menyesal pada akhirnya.

Pahamlah kita, mengapa Rasululloh mengulang nasehatnya ‘laa tahgdhob’ sampai tiga kali, karena bahaya yang ditimbulkan dari sifat tersebut akan berdampak buruk pada akhirnya.

Berlatihlah kendalikan amarah!
Aqilah El-Hafizhah

#OneDayOnePost

Tidak ada komentar: