Tantangan pekan ini kami harus
menulis satu kali duduk dan tanpa editan. Artinya kami harus menulis saja tanpa
memvaca ulang apa yang sudah kami tulis. Menulislah seacar mengalir. Jika harus
begini, maka hal yang paling mudah untuk kutuangkan adalah apa yang sudah
kualami. Dengan begitu tulisan bisa mengalir apa adanya.
Kemarin malam, aku, Lela, dan Kak
Isti terlibat sebuah diskusi. Semua berawal saat aku bertanya pada Kak Isti
bagaimana cara menulis essay. Kak Isti –yang punya banyak prestasi dalam lomba
menulis essay tentu tahu banyak bagaimana cara menulis essay. Itulah mengapa
aku bertanya padanya. Kebetulan aku dan Lela lagi semangat mai belajar menulis
essay, itu dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan yang sering diminta
saat berniat mencari beasiswa.
Menurut Kak Isti, tak ada cara
terbaik belajar menulis kecuali dengan menulis. “Sebenarnya aku tak tahu harus
menjawab apa saat ada yang Tanya bagaimana cara menulis. Jujur, aku pun merasa
tak tahu, apa essay itu sebenarnya. Saat memulai belajar menulis essay, aku
hanya banyak membaca literatr-literatur yang berhubungan dengan tema apa yang
ingin aku tulis dan membaca karya orang lain. Lalu mulai menulis. Jadi, kalau
kamu bertanya bagaimana cara menulis essay, maka menulislah dahulu. Setelah menulis,
akan kutnjukkan letak-letak salah ataupun apa saja yang harus diperbaiki.” Begitulah
kira-kira jawaban pertama beliau saat kutanya cara membuat tulisan dengan genre
essay.
Beliau mengibaratkan berlatih
menulis itu dengan berlatih berenang. Kita tak akan pernah bisa berenang jika
hanya tinggal duduk dan mendengarkan reori-teori cara berenang. Cara termudah
belajar berenang dengan berenang. Begitupun dengan menulis, menulislah dahulu. Dengan
begitu, akan lebih mudah untuk berlatih.
Akhirnya beliau hanya
menyampaikan uraian secara umum tentang apa dan bagaimana essay itu dan
memintaku dan Lela untuk banyak membaca dan mulai untuk menulis. Jika sudah ada
tulisan yang jadi, kalau memang ingin dibimbing, dia akan baca dan member kritikan
dan arahan berdasarkan tulisan yang sudah ada.
Yah.. begitulah kesimpulan akhir
diskusi kami tentang menulis essay. Kami harus memulai menulis jika memang
ingin belajar. Selanjutnya kami asyik mengobrol tentang fakta-fakta yang banyak
terjadi berkenaan dengan pendidikan di Inonesia hingga persoalan-persoalan yang
banyak terjadi dalam ruang kelas, tema ini diangkat tentu karena pembahasan ini
akrab dengan ‘kami’ (aku dan Lela) yang mengambil jurusan pendidikan. Kak Isti
sendiri lulusan jurusan hukum tapi punya pengalaman setahun menjadi guru bahasa
Inggris. Akhirnya perbincangan panjang terjadi.
Kurasa cukup. Ini sedikit tentang
diskusi kami kemarin malam yang coba kutuliskan kembali.
Aqilah El-Hafizhah
#OneDaynePost

6 komentar:
Meski singkat tapi penuh hikmah. Tulisan yang mengalir lancar.
Boleh nggak belajar essay sama Kak isti
ada typo yaa kak, bahasanya sederhana kenaa banget pesannya, semoga bisa sama-sama belajar menulis esay. eh iyaa analoginya pas banget kak ..
tulisan sekali duduk harus dibuat mengalir.. :)
hn... beliau itu murah hati berbagi ilmu, mbak..
cuman, kita terpisah jarak oleh jarak, hehe..
yup, typonya banyak, hihi..
biarlah, alnya gak boleh pake edit-editan, hohoho..
Posting Komentar