Senin, 25 April 2016

Menulis Essay


Tantangan pekan ini kami harus menulis satu kali duduk dan tanpa editan. Artinya kami harus menulis saja tanpa memvaca ulang apa yang sudah kami tulis. Menulislah seacar mengalir. Jika harus begini, maka hal yang paling mudah untuk kutuangkan adalah apa yang sudah kualami. Dengan begitu tulisan bisa mengalir apa adanya.

Kemarin malam, aku, Lela, dan Kak Isti terlibat sebuah diskusi. Semua berawal saat aku bertanya pada Kak Isti bagaimana cara menulis essay. Kak Isti –yang punya banyak prestasi dalam lomba menulis essay tentu tahu banyak bagaimana cara menulis essay. Itulah mengapa aku bertanya padanya. Kebetulan aku dan Lela lagi semangat mai belajar menulis essay, itu dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan yang sering diminta saat berniat mencari beasiswa.

Menurut Kak Isti, tak ada cara terbaik belajar menulis kecuali dengan menulis. “Sebenarnya aku tak tahu harus menjawab apa saat ada yang Tanya bagaimana cara menulis. Jujur, aku pun merasa tak tahu, apa essay itu sebenarnya. Saat memulai belajar menulis essay, aku hanya banyak membaca literatr-literatur yang berhubungan dengan tema apa yang ingin aku tulis dan membaca karya orang lain. Lalu mulai menulis. Jadi, kalau kamu bertanya bagaimana cara menulis essay, maka menulislah dahulu. Setelah menulis, akan kutnjukkan letak-letak salah ataupun apa saja yang harus diperbaiki.” Begitulah kira-kira jawaban pertama beliau saat kutanya cara membuat tulisan dengan genre essay.

Beliau mengibaratkan berlatih menulis itu dengan berlatih berenang. Kita tak akan pernah bisa berenang jika hanya tinggal duduk dan mendengarkan reori-teori cara berenang. Cara termudah belajar berenang dengan berenang. Begitupun dengan menulis, menulislah dahulu. Dengan begitu, akan lebih mudah untuk berlatih.

Akhirnya beliau hanya menyampaikan uraian secara umum tentang apa dan bagaimana essay itu dan memintaku dan Lela untuk banyak membaca dan mulai untuk menulis. Jika sudah ada tulisan yang jadi, kalau memang ingin dibimbing, dia akan baca dan member kritikan dan arahan berdasarkan tulisan yang sudah ada.

Yah.. begitulah kesimpulan akhir diskusi kami tentang menulis essay. Kami harus memulai menulis jika memang ingin belajar. Selanjutnya kami asyik mengobrol tentang fakta-fakta yang banyak terjadi berkenaan dengan pendidikan di Inonesia hingga persoalan-persoalan yang banyak terjadi dalam ruang kelas, tema ini diangkat tentu karena pembahasan ini akrab dengan ‘kami’ (aku dan Lela) yang mengambil jurusan pendidikan. Kak Isti sendiri lulusan jurusan hukum tapi punya pengalaman setahun menjadi guru bahasa Inggris. Akhirnya perbincangan panjang terjadi.

Kurasa cukup. Ini sedikit tentang diskusi kami kemarin malam yang coba kutuliskan kembali.

Aqilah El-Hafizhah

#OneDaynePost

6 komentar:

Suparto Parto mengatakan...

Meski singkat tapi penuh hikmah. Tulisan yang mengalir lancar.

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

Boleh nggak belajar essay sama Kak isti

Unknown mengatakan...

ada typo yaa kak, bahasanya sederhana kenaa banget pesannya, semoga bisa sama-sama belajar menulis esay. eh iyaa analoginya pas banget kak ..

Aqilah El-Hafizhah mengatakan...

tulisan sekali duduk harus dibuat mengalir.. :)

Aqilah El-Hafizhah mengatakan...

hn... beliau itu murah hati berbagi ilmu, mbak..
cuman, kita terpisah jarak oleh jarak, hehe..

Aqilah El-Hafizhah mengatakan...

yup, typonya banyak, hihi..
biarlah, alnya gak boleh pake edit-editan, hohoho..