"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati"
(QS. Al-Anbiya': 35)
Cara terbaik memaknai kematian itu adalah saat kita ditinggal orang yang teramat dekat dengan kita. Saya percaya bahwa setiap kita akan mati. Kematian demi kematian terjadi di sekitarku, bagaimana bisa saya tak percaya? Tapi, untuk memaknai hakekat kematian itu, saya belajar saat orang terkasih harus pergi meninggalkanku.
Kematian Bapak. Membuatku untuk pertama kali sadar sesadar-sadarnya bahwa dia tak akan kembali lagi. Bahwa saat seseorang meninggal, maka itulah batas akhir kebersamaan kita di dunia. Sebesar apapun rindu kita padanya, Ia tak akan kembali lagi. Hanya do'a yang bisa kita kirimkan untuknya.
***
Sudah lewat pukul 22.00 malam itu. Saya dan teman kelompokku
sudah hampir selesai membereskan sisa buka puasa dan makan malam di masjid
Jami'.
Kami dikagetkan oleh motor yang tiba-tiba berhenti tepat di
depan kamar mandi masjid, tempat kami sedang mencuci piring. Lampu yang remang-remang
membuat kami sulit mengenali siapa yang datang.
"Ada Ima?"
Saya mengenal suara itu, dan memang namaku yang disebut.
Dengan perasaan tak karuan saya beranjak menemuinya.
"Kondisi bapak makin buruk, bagian kakinya sudah mulai
dingin. Saya sudah minta izinkan untuk pulang. Mari saya antar balik ke kampus,
nanti pulang jalan kaki saja sama Ira," ucapnya buru-buru.
Tanpa diperintah lagi saya bergegas untuk pamit pada ketua
kelompokku setelah memberikan penjelasan singkat.
Pikiranku kacau sepanjang jalan, kemungkinan buruk mulai
terpikir. Saya teramat takut.
Karena jarak masjid Jami dan kampus puteri cukup dekat jika
ditempuh dengan motor, kami sampai lebih
cepat.
"Saya pulang duluan, yah. Kamu tinggal pamit sama
pembinamu."
Saya hanya mengangguk, belum sanggup bicara. Lalu bergegas ke kamar setelah kakakku pergi.
Kudapati Ira menungguku, dia sudah siap. Saya hanya mengganti isi tas dengan
beberapa barang yang mau kubawa.
Dengan buru-buru saya pamit dengan teman kamar yang dari
tadi menatap kami iba. Lalu mempercepat langkah ke kamar pembina untuk pamit.
Sepanjang jalan pulang tak ada percakapan antara saya dan
adikku. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
Rumah kami masih dalam kompleks Pesantren Darul Istiqamah
sehingga tak butuh waktu lama untuk tiba di rumah.
Sampai di rumah saya langsung ke kamar bapak. Mama dan
beberapa kakakku duduk di samping bapak. Semua saudaraku sudah berkumpul,
kecuali Kak Liman yang saat itu masih menempuh pendidikan di Pakistan. Hanya
mendapat setiap informasi lewat telepon.
Saya duduk bersandar di lemari. Menatap tubuh bapak yang
berbaring dengan infus di tangannya. Kondisi yang sama sejak sembilan hari yang
lalu. Baring tanpa gerakan, suara, dan mata yang tak sekalipun terbuka. Stroke
telah mernggut semuanya. Perlahan air mataku mengalir, lalu sesegukan dengan
tangis tertahan.
Tak sanggup menyaksikannya saya bergegas keluar. Terus menangis di kamar sebelah hingga
tertidur karena letih.
* * *
"Sholah, sholatullail. Sholah, sholatullail. Jam sudah
menunjukkan pukul satu lewat lima puluh menit. Sepuluh menit lagi shalat lail
akan dimulai."
Saya terbangun oleh suara speaker masjid yang membangunkan
warga untuk shalat lalil. Saya langsung
ke kamar bapak. Mama dan semua kakakku terlihat masih di kamar.
"Ada yang mau ke masjid shalat lail?"
"Bagaimana kita ke masjid sementara kondisi bapak
seperti ini? Kaki sampai lututnya sudah dingin," jawab Kak Sali.
"Kami ini belum ada yang pernah tidur." Kakakku
yang lain mengomentari.
Saya tersadar bahwa kondisi bapak sedang tidak baik-baik saja. Perasaan
takut kehilangan kembali hadir.
"Kalian shalat lail jama'ah di rumah saja. Biar saya
dulu yang jaga bapak." Mama memerintah.
Kami wudhu bergantian lalu shalat lail berjama'ah. Setiap
selesai dua raka'at Kak Mukmin ke kamar bapak mengecek suhu dingin di kaki
bapak.
Selesai shalat subuh, seperti hari-hari sebelumnya saya
membacakan adzkar pagi ditelinga bapak.
Setelah baca adzkar Mama meminta Kak Mukmin membacakan
syahadat di telinga bapak dan yang lain untuk mengaji di sekitarnya agar yang
Ia dengar hanya suara mengaji.
Sekitar pukul tujuh kami masih berkumpul di kamar bapak
dengan pakaian shalat. Kak Mukmin masih setia membacakan syahadat. Mama melarangnya
berhenti.
"Nak, minta maaflah satu-persatu di telinga
bapak."
Entah apa yang dipikirkan Mama, tapi dia menginstruksikan
kami meminta maaf. Kak Mukmin yang duduk paling dekat memulai. Satu-persatu
kami mendekat dan membisikkan maaf.
Air mataku sudah mengalir tiada henti. Tiba giliranku,
dengan berat kuucap maaf ditelinganya dengan deraian air mata. Pemandangan
makin menyesakkan saat kulihat ternyata air mata bapak juga mengalir deras. Saya bergetar menahan agar tangisku tidak
bersuara.
Ini sudah hari ke sepuluh sejak Ia terbaring kaku tanpa
suara, juga dengan mata yang terus tertutup. Tapi pagi ini, saat kami
bergantian meminta maaf, air matanya mengalir deras. Tetap tanpa ekspresi. Hanya
air matalah yang meyakinkan kami kalau dia mendengarkan.
Kak Mukmin kembali dengan posisi semula. Mentalqin Bapak.
Sejak tiba dari Jakarta dia memang terus disamping bapak kecuali jika harus
shalat, makan, dan ke kamar mandi.
Ibu, saudara-saudara, dan beberapa keluarga bapak sudah tiba
dari Sidrap. Mereka langsung memenuhi kamar. Saya tidak lagi di kamar. Kak
Saidah memintaku mengayun anaknya yang menangis.
Pukul sepuluh lewat beberapa menit Kak Fira memanggilku
berulang-uLang. Saya masuk ke kamar bapak terburu-buru.
"Beritahu nenek, bapak sudah pergi," ucapnya
sambil menangis.
Air mataku tumpah. Berjalan cepat ke kamar tempat nenek
berada.
"Kenapa?" tanteku bertanya lebih dulu melihatku
menangis.
"Bapakku sudah pergi," jawabku susah payah disela
tangis.
Semuanya bergegas ke kamar. Rumah sudah bergema dengan suara
tangis.
Kugendong keponakanku yang masih menangis dari ayunan. Saya
ke kamar, semakin terguncang melihat Bapak yang masih dengan posisi yang sama,
tapi sudah tak bernyawa. Tak ada lagi tangis tertahan. Semua tumpah melepas
kesedihan. Bapak benar-benar sudah tiada.
Suasana duka menghiasi rumah. Bergantian pelayat memadati
rumah kami.
Sesuai yang disunnahkan, semua proses dipercepat. Tak ada
keluarga lagi yang harus ditunggu.
Bapak dimakamkan setelah shalat zuhur yang dilanjutkan
dengan shalat jenazah di masjid pesantren.
Kemudian dimakamkan di pekuburan Pesantren Darul Istqamah.
Hari ketiga Ramadhan bapak menutup kehidupannya.
Meninggalkan kami dengan pelajaran-pelajaran tak terhitung. Untuk pertama
kalinya saya merasakan pahitnya ditinggal orang terdekat.
Aqilah El-Hafizhah