Kamis, 26 Mei 2016

Kami ingin Mengubah Dunia


Saya pernah mengikuti sebuah kajian yang selalu teringat hingga saat ini. Waktu itu hari jum'at, pengurus LDK selalu memanfaatkan moment jum'at ini dengan kajian jumat bagi akhawat. Kami yang tidak punya cirihas (setiap LDK biasanya dikenal dgn cirihas pakaian masing2) menjadi target mereka untuk ikut meramaikan kajian jumat mereka.

Karena tidak enak sudah diajak berulangkali dan selalu menolak, akhirnya saya dan beberapa teman ikut. Biarlah, sekali-kali ikut. Kebetulan saat itu mendekati peringatan hari sumpah pemuda, maka pembahasannya tentang pemuda sebagai agent of changing.

Pembicara membawakan materinya dengan penuh semangat. Intonasinya diatur sedemikian rupa untuk membangkitkan semangat kita sebagai pemuda.

Dari ulasannya, untuk beberapa hal saya sependapat dengan argumen yang disampaikan. Tapi lebih banyak yang tidak bisa kuterima. Saya hanya diam menyimak dan menyaring, toh, setiap kita bebas berpendapat.

Entah kenapa sebuah statement tiba-tiba membuat saya ingin menimpali. Saya tak bisa menerima statement yang satu ini. Katanya,

"Kami ini tidak ingin merubah setiap individu, kami hanya ingin merubah dunia. Dan kami sudah menyusun beberapa strategi untuk bisa merubah dunia dalam beberapa tahun kedepan"

Saya mengernyitkan dahi. Bagaimana bisa? Mungkinkah merubah dunia dengan mengabaikan perubahan secara individu?

Tak sabar saya menunggu sesi berikutnya. Sesi tanya jawab! Ingin sekali menanyakan apa dasar mereka dengan statement ini.

Seandainya dia hanya bilang, 'kami ingin merubah dunia' aku tentu terima. Ini sebuah harapan besar dan mulia. Yang menggangguku adalah statement sebelumnya, 'kami tidak ingin merubah setiap individu'.

Bukankah konsep perubahan yang diajarkan kitab pedoman kita adalah memulai perubahan itu dari diri sendiri? buka (QS.Ar-Ra'du: 11)

Apalagi kita sebagai wanita yang kelak akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anak kita. Maka hal pertama yang harus diubah dan diperbaiki tak lain adalah diri, kepribadian, dan keilmuan kita. Itulah pesan Rasulullah sallallaahu alaihi wa sallam 'Didiklah anakmu 25 tahun sebelum ia lahir'. Didik anakmu sebelum ia lahir berarti perbaiki kepribadian kita jauh sebelum ia lahir. Karena kelak kitalah yang menjadi guru pertama dan teladan baginya.

Artinya apa? Fokus perubahan itu sejatinya berawal dari diri sendiri, lalu orang-orang sekitar kita. Tak usalah sibuk memikirkan perubahan dunia lalu abai pada diri dan orang-orang terdekat kita.

Karena dari kitalah kelak akan muncul generasi baru. Jika setiap wanita berusaha mempersiapkan diri untuk menjadi madrasah bagi anak-anaknya, maka dari sanalah kelak akan lahir generasi harapan. Generasi yang diharapkan bisa mengubah dunia. Semua berawal dari setiap individu.

Maka tegas saya menolak statement bahwa 'kami tidak ingin merubah setiap individu'.

Jika saya tak mampu merubah dunia, maka cukuplah saya merubah diri dan keluargaku dahulu.
________

Itu adalah kajian terakhir yang saya ikuti dari organisasi mereka. Saya tidak lagi berminat untuk ikut, dan mereka juga tidak pernah lagi mengajakku bergabung.

Aqilah El-Hafizhah

Kamis, 19 Mei 2016

Orang Konsisten Itu Hebat


Konsisten itu berat!

Benar, kan?

Benar sekali!

Dialog dengan hati ini terlintas begitu saja saat saya mebuka akun blog dan melihat daftar tulisan teman-teman ODOP yang masih konsisten dengan tekad mereka untuk menulis setiap hari. Mengingatkan bahwa saya juga pernah seperti mereka. Berjuang semampuku untuk tetap bisa konsisten.

Ada perasaan sedih saat menyadari bahwa saya bukan lagi bagian dari mereka. Hanya bisa tersenyum, dan semakin sadar bahwa menjadi pribadi konsisten itu sungguh bukan hal yang mudah. Ada banyak kegiatan yang telah ataupun sedang saya ikuti, dan semuanya menuntut KONSISTEN sebagai syarat untuk tetap bertahan. 

Saat konsisten sudah menjadi harga mati untuk tetap bertahan, maka hanya dengan tekad yang kuat kita bisa menaklukkannya. Itulah yang kulakukan! Berusaha semampuku untuk tetap bertahan di semua kegiatan yang saya ikuti.

Tapi pada akhirnya, saya telah melepas salah satunya sebelum sampai di akhir perjalanan. Saya mundur dari medan, menyadari bahwa saya tak lagi konsisten. Hanya berharap bahwa cukup saya melepas ini saja, dan tetap konsisten pada yang lainnya.

Maka kukatakan, hanya orang hebat yang bisa konsisten! Mereka bisa bertahan dan tetap konsisten di tengah banyak kesibukan dan permasalahan lainnya. Berusaha keluar dan melawan segala keterbatasan yang ada. 

Konsisten itu berat, kawan. Maka bersyukurlah jika anda mampu manjadi pribadi demikian di semua hal. Yah.. di SEMUA hal, bukan hanya di salah satunya.

Dan pagi ini, saat saya merasa free dari kesibukan, beragam kalimat pengandaian mulai berkeliaran di kepalaku. 

"Ah.. seandainya saya masih bagian dari mereka"


Aqilah El-Hafizhah
Merindukan atmosfer ODOP 
yang telah hilang

Makassar, 19 Mei 2016

Selasa, 10 Mei 2016

Skenario Takdir (6)

Ikuti kisahnya dari awal di Part 1

Part 6: Harapan

Bukan hal mudah bagi seorang anak desa mendapat segala informasi tentang perkuliahan. Jalan buntu sudah dirasakan Alif sebelum memulai, ia tak punya ide bagaimana memulai segalanya. Andaikan Holif ada di sini, mungkin ia bisa memberikan sedikit saran untuk memulai, dia sepertinya lebih banyak tahu daripada Alif.

Siapa yang bisa membantuku? Gusar ia berpikir. Kak Dayat! Sebuah nama tiba-tiba terlintas di benaknya. Nama yang hadir bagai selaksa harapan yang menjanjikan. Seketika melahirkan semangat membara pada Alif. “Semoga ia bisa membantuku,” gumamnya penuh harap.

Alif tak mau menunda waktu, langkahnya mantap menuju rumah Kak Dayat. Rumah yang lumayan jauh dari rumahnya jika ditempuh dengan berjalan kaki, tapi cukup sepuluh menit dengan mengendarai motor. Suara motor menderu keras. Alif berangkat.

Alif berhenti di depan rumah dengan cat krem berpadu cokelat tua. Perpaduan warna ini memberi kesan elegan. Dari balik pagar bisa terlihat halaman cukup luas dengan beraneka bunga tertata rapi. Menggambarkan jiwa pemilik rumah ini tentulah seorang yang peduli keindahan. Halaman yang asri. Tanpa ragu Alif memasuki pagar yang dibiarkan terbuka. Menunggu tenang di balik pintu setelah mengetuk dan mengucap salam.

Pintu terkuak. Wajah teduh Bu Salma muncul dari balik pintu. Tersenyum ramah.

“Nak Alif, masuk”

Alif melangkah masuk dan duduk tenang setelah dipersilakan. Berpikir cepat bagaimana memulai percakapan. Ia berdeham sekali.

“Bu, bagaimana kabar Kak Dayat?” Alif mengawali dengan menanyakan kabar.

“Al-hamdulillah, kabarnya selalu baik, tidak lama lagi dia akan libur”

“Hm.. sebenarnya Alif mau minta tolong, sekiranya bisa mendapatkan nomor untuk menghubungi Kak Dayat. Aku ada sedikit keperluan dengannya”  

“Owh.. tunggu ya, Nak. Ibu carikan nomornya.” Bu Salma beranjak dari duduknya.

Dua menit kemudian Bu Salma kembali dengan buku kecil. Sepertinya tidak sulit menemukannya. Ia sibuk membuka lembar demi lembar, matanya mengekor pada telunjuk yang terus bergerak di lembaran buku. Sedetik kemudian tersenyum seraya menyodorkan buku dan menunjuk sederet angka pada Alif. Ada banyak nomor telepon di sana, Alif fokus pada nomor yang ia butuhkan. Jemarinya lincah mengetik sederet angka pada keyboard hp.

“Terima kasih banyak, Bu. Aku pamit,” ucap Alif sopan. Disambut dengan senyum ramah nan tulus dari Bu Salma. Senyuman khas seorang Ibu.


Alif bergegas pulang meninggalkan rumah Kak Dayat. Seseorang yang kini menjadi harapan untuknya bisa mendapat sejumlah informasi yang ia butuhkan. Seorang senior yang sejak tiga tahun lalu melanjutkan pendidikannya di sebuah universitas negeri yang cukup terkenal di Makassar. Memilih menjadi berbeda dari kebanyakan pemuda di kampungnya.

bersambung...

Aqilah El-Hafizhah
#Tantangan CERBUNG dari ODOP

Senin, 09 Mei 2016

Skenario Takdir (5)

Part 5: Keputusan

Jangan lewatkan kisah sebelumnya

“Bapak, Ibu, ada yang ingin Alif bicarakan, boleh?”

“Bicara saja Alif, kenapa pula pake izin segala kalau hanya ingin bicara. Hal penting apa yang membuatmu bertingkah aneh malam ini?” Ibunya terkekeh melihat tingkan Alif yang tak seperti biasanya. Sedangkan bapak hanya mengeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah aneh anaknya.

“Mengenai tawaran Ibu dan bapak setelah saya lulus SMA dulu, apa itu masih berlaku?”

“Maksudku tawaran untuk melanjutkan sekolah” tambah Alif cepat saat orangtuanya terlihat bingung tentang tawaran yang ia maksud.

“Kamu serius mau kuliah, Nak?” Ibu bertanya pelan setelah berpikir sejenak, menatap Alif lembut. Bapak ikut menatapnya, menunggu jawaban atas pertanyaan Ibu yang juga pertanyaannya.

“Iya, Bu. Setelah kupikir-pikir ada baiknya aku melanjutkan sekolah”

“Bapak bersyukur akhirnya kamu berpikir berbeda, nak. Dari dulu bapak berulang kali  menawarimu untuk melanjutkan sekolah karena bapak percaya akan pentingnya pendidikan. Meskipun bapak bukan orang berpendidikan, tapi bapak sangat tahu betapa pentingnya ia. Bapak tak pernah mau memaksamu melakukan hal yang tidak kamu inginkan, makanya bapak membiarkan, sambil berharap adikmu kelak akan tumbuh berbeda. Lebih tertarik untuk belajar. Kalau malam ini kamu datang atas keinginanmu untuk kembali sekolah, tentu bapak sangat bahagia mendengarnya, Nak. Akan ada dari keluarga kita yang kelak memutus rantai kebodohan. Melalui sekolah, kamu tentu akan melihat banyak hal yang orang-orang di desa ini belum tahu, inilah kesempatan. Semoga kelak kamu akan kembali dengan janji kehidupan yang lebih baik, bukan hanya untukmu dan keluarga kecil kita, tapi untuk desa ini, Nak. Itulah harapan Bapak dan Ibu.”

Alif hanya diam, terkesan dengan kalimat Bapak. Sulit untuk melihat dengan jelas mata bapak dan Ibu di temaramnya lampu teras. Maka ia memilih menatap jalan depan rumah yang berselimut gelap. Tapi ia tahu, mata mereka berair saat ini. Suara serak bapak telah menjadi penyampai pesan untuknya, bahwa kalimat beliau malam ini adalah sebuah harapan besar dari orangtua kepada anaknya. Harapan yang menjadi kekuatan bagi Alif, meski iapun tak tahu akan seperti apa masa depannya kelak.

“Baiklah, terima kasih banyak atas restu Bapak dan Ibu. InsyaAllah aku akan mulai mencari informasi dan melakukan persiapan-persiapan. Mohon do’anya selalu agar segala urusan Alif dimudahkan.”

“Pasti, Nak. Ibu dan Bapak akan selalu mendo’akanmu” ujar Ibu lembut. Alif tersenyum bahagia mendengarnya.

Perbincangan malam ini selesai. Alif memilih masuk ke rumah setelah pamit terlebih dahulu. Meninggalkan Bapak dan Ibu yang masih terlihat betah menikmati syahdunya malam. Melepas lelah seharian dengan mengobrol santai, seperti malam-malam sebelumnya. Sebuah kebiasaan yang indah untuk sepasang suami-isteri yang semakin senja.

Sebuah tekad menancap kuat dalam jiwa Alif. Keputusan telah mantap diambil. Jika hari-hari sebelumnya ia berniat kuliah karena seseorang yang telah menempati satu ruang khusus di hatinya. Maka malam ini, ia menemukan sebuah alasan baru yang lebih logis untuk harus kuliah. Ia adalah harapan bagi orangtuanya. Dan mungkin saja, dalam perjalanan menuntut ilmu ini ia akan menemukan alasan-alasan lainnya.

Aqilah El-Hafizhah
#Tantangan CERBUNG dari ODOP

Sabtu, 07 Mei 2016

Skenario Takdir

Part 4: Kegalauan

baca kisah sebelumnya: Part 3

Permainan sepak bola sore ini terlihat seru seperti biasanya, tapi Alif tidak bergabung kali ini. Memilih menjadi penonton. Dia nampak memikirkan sesuatu. Sudah beberapa hari ini ia terus memikirkan perbincangan terakhirnya dengan Holif.

“Kakak masih belum kepikiran untuk kuliah?”

“Kenapa tiba-tiba bertanya soal kuliah?” Alif justru bertanya balik, heran.

“Apa tidak sebaiknya Kak Alif kuliah saja? Kakak itu kan pintar, sayang kalau tidak dimanfaatkan”

“Kuliah buat apa sih, Holif.. tidak usah susah-susah kuliah untuk dapat uang dan pekerjaan. Lagian kakak kan tidak nganggur, kakak kerja dan berpenghasilan.”

Sudah hampir dua tahun sejak lulus SMA. Alif memutuskan membantu bapak mengurus kebun. Di desa ini memang jarang sekali ada yang melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang perkuliahan. Itu masih menjadi barang mahal. Bukan hanya masalah biaya, antusias anak-anak untuk kuliah memang kurang.

Sudah menjadi siklus yang yang terus berputar. Ketika anak laki-laki sudah menyelesaikan pendidikan SMA, mereka langsung bekerja apa saja. Membantu bapak kerja di kebun, atau apa saja yang bisa menghasilkan uang. Sementara bagi anak perempuan, mereka hanya menunggu lamaran datang untuk segera menikah.

Begitulah, hanya ada beberapa pemuda desa ini yang melanjutkan pendidikannya ke kota dan memilih bekerja di sana setelah lulus ketimbang kembali ke desa.

Holif masih nampak diam, sementara Alif masih menunggu. Penasaran kenapa adiknya tiba-tiba bertanya soal perkuliahan yang sedikitpun tak pernah terpikirkan olehnya.

“Aku tahu pikiran kakak. Cukup bekerja dan menabung mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, terus kalau kak Aina selesai dari pondok langsung dilamar, kan?”

Hanya dijawab cengiran oleh Alif. Tak ada lagi yang harus ia sembunyikan dari adiknya. Sejak Holif tumbuh dewasa, cepat sekali ia bisa membaca situasi, menghubungkan setiap kejadian sekecil apapun hingga sampai pada satu kesimpulan, kakaknya suka sama Kak Aina. Alif ketahuan, tak ada alasan yang bisa membuatnya mengelak dari interogasi adiknya. Sudahlah, malah bagus sekarang, adiknya bisa menjadi sumber informasi.

“Kak Aina itu berbeda dengan gadis desa kebanyakan. Jangan berpikir untuk segera melamarnnya setelah lulus nanti, kakak pasti akan ditolak. Dia itu cerdas dan berprestasi, punya keinginan besar untuk terus belajar, sedikitpun tidak berpikir untuk langsung menikah setelah lulus”

“Maksud kamu Aina  akan kuliah?”

“Dapat dipastikan begitu, aku kenal baik Kak Aina. Motivasinya untuk terus belajar sangat nampak, sekarang ini dia terus belajar keras untuk bisa lulus nanti ke universitas”

“Kamu serius,  Holif?”

“Kalau kakak serius mau sama Kak Aina, maka kakak harus bisa memantaskan diri”

Holif terus saja bicara, mengabaikan pertanyaan kakaknya.

“Memantaskan diri? Istilah apa lagi ini?” tanya Alif kebingungan.

“Yah.. itulah kalau kakak malas membaca, hal seperti ini saja tidak paham. Maksudnya, kalau kakak suka sama Kak Aina, kakak harus pantas dulu untuk dia. Kakak harus berusaha sampai layak menjadi pendampingnya. Kalau Kak Aina belajar hingga ke universitas, kira-kira kakak yang seorang petani tak berpendidikan, hanya lulusan SMA, layak tidak untuk dia? Apa kakak punya nyali untuk melamarnya nanti?”

Itulah perbincangan terakhir yang sempurna membuat Alif galau. Terus berpikir soal memantaskan diri, sebuah istilah yang justeru baru didengarnya.

“Hoi! Kamu kenapa sih? Tumben banget tidak ikut main, malah duduk melamun tak jelas di sini” Fiki menghampiri Alif yang terlihat berbeda sore ini. Alif hanya melirik sekilas.

"Fiki, menurut kamu bagaimana kalau aku kuliah?"

Fiki malah tertawa keras mendengar pertanyaan sahabatnya sore ini.

"Kamu galau begini karena berpikir soal kuliah? Ada angin apa kamu tiba-tiba kepikiran kuliah?"

"Kamu ini, aku bertanya malah ditanya balik. Jawab sajalah.." Fiki terkekeh melihat Alif mendengus kesal.

"Alif, siapalah sahabatmu ini. Aku hanya pemuda kampung yang tak paham apa-apa soal perkuliahan. Tapi kalau kamu meminta pendapatku soal kuliah, bukannya itu keren? Menjadi berbeda dari kebanyakan itu hebat, Lif. Kalau pemuda di desa kita tak peduli soal pendidikan, lalu kamu memilih jalan itu, kamu hebat Alif. Kamu kan tahu, orang berpendidikan selalu dihargai di manapun, tak terkecuali di kampung kita. Kalau kamu kepikiran untuk mengambil langkah itu. aku dukung seribu persan deh.."

Begitulah sahabatnya Fiki, pandai sekali menyemangatinya. Fiki paham sekali dirinya, jika ia bertanya sesuatu tiba-tiba, tentu cukup baginya untuk paham bahwa sahabatnya lagi memikirkan hal tersebut. Fiki tahu banyak soal Alif.

Kedua sahabat itu lalu tertawa riang. Alif mendapat sedikit titik terang dari kegalauan panjangnya

###

bersambung...

Ikuti kelanjutannya di Part 5

Aqilah El-Hafizhah
#Tantangan CERBUNG dari ODOP

Kamis, 05 Mei 2016

Skenario Takdir


Part 3: Mengenal Rasa Itu

Alif belum tertarik melanjutkan bacaannya. Masih asyik berkeliaran dalam kenangan masa lalu yang sudah tertinggal jauh tapi masih terasa segar baginya. Hujan semakin deras, belum ada tanda akan segera berheti. Seakan memberi dukungan padanya untuk berlama-lama dalam nostalgia. Nostalgia yang berhasil mengalahkan perhatian dari buku karya novelis idola sekalipun.

###

“Holif, kamu mondok di pesantren tempat.. itu, siapa tuh tetangga kita” Alif pura-pura tak tahu nama yang ia maksud. Takut adik cerewetnya ini bertanya yang tidak-tidak.

“Kak Aina maksudnya?” Holif memastikan.

“Nah.. itu yang kakak maksud. Memangnya Pesantren kamu itu gimana sampai senior kamu betah sekali sekolah di sana?” Alif hanya berusaha memancing biar adiknya cerita sedikit tentang Aina.

“Hm.. aku kan masih baru, tapi lumayan menyenangkan kok tinggal di sana. Oiya, tau tidak, Kak Aina yang kakak maksud itu populer sekali di pondok. Banyak yang nge-fans sama dia dan selalu disebut-sebut sama ustadzah sebagai teladan. Santri berprestasi, itu gelarannya”

“Kamu dekat tidak sama dia?”

“Kalau dekat sih tidak juga, tapi dia baik sekali sama aku. hm.. diakan emang baik sama semua orang. Kenapa nih banyak tanya?” Holif mulai merasa aneh, tapi ia masih terlalu dini untuk bisa menebak maksud dari pertanyaan-pertanyaan kakaknya.

“Yah.. kan cuman nanya. Kamu liburnya berapa lama?”

“Hanya seminggu, sedikit amat yah. Udah deh.. kakak pergi sana, aku mau lanjutkan membaca!”

Alif menurut, sedikit cerita dari Holif sudah cukup baginya untuk tahu seperti apa ia di sana. Sudah lama sekali berlalu sejak dia membuatnya menangis. Dan dia sempurna berubah jadi anak ‘baik’ setelah kejadian itu. Dia tak pernah berani menyapanya, hanya menatap dari jauh. Yah.. dia senang sekali menatapnya dari jauh, apalagi saat Aina lewat di depan rumah.

Saat ini, Alif telah menjadi remaja yang mengenal tentang cinta. Tapi ia berbeda dengan remaja kebanyakan. Tak sekalipun ia pacaran, bukan karena tak ada cewek yang mau dengannya, tapi itu merupakan pilihan. Sebuah alasan memaksanya untuk memilih tidak pacaran.

Sejak mengenal perasaan cinta, dia sadar bahwa dia telah suka dengan seseorang. Perasaan yang sudah hadir jauh sebelum dia mengerti perasaan itu. Gadis kecil yang telah mengubah masa kecilnya yang jail, itulah cinta pertamanya. Gadis yang membuatnya sering senyum-senyum sendiri.

###

Besok Holif kembali ke pesantren, liburan semesternya sudah habis. Itu berarti Aina pun akan kembali ke pondok, dan selama itu Alif belum pernah melihat sosok pujaan hatinya. Sengaja dia sering-sering melintas di depan rumah Aina, tapi tak sekalipun melihat sosoknya.

“Kak, antar aku ke toko yah, ada yang lupa kubeli kemarin”

“Kenapa pake lupa-lupa segala sih? Kan repot harus ke kota lagi. Jauh.”

“Tidak sampai ke kota kok, Kak. Toko kecil yang ada di perbatasan itu cukup, cuman mau beli kertas-kertas berwarna.”

Alif tahu, permintaan adiknya tak akan bisa ditolaknya. Dengan malas dia mengambil kunci motor yang tergeletak di meja makan. Holif berlari girang mengambil tasnya dan berlari manyusul Alif yang sudah menunggu di depan rumah. Mereka berangkat.

Tepat di depan rumah ke-empat setelah rumahnya sebuah suara yang tak asing memangil-manggil Holif.

“Stop dulu, Kak!” teriaknya pada Alif.

Motor mendadak berhenti. Alif bersiap mengomel, tapi seseorang keluar dari pagar rumah yang sangat dikenalnya, dia mematung sejenak. Aina melangkah anggun mendekati Holif. Tak sedikitpun melirik Alif yang terpana menatapnya.

“Holif, kakak bisa minta tolong, tidak?”

“Bisa sekali, Kak. Ada apa?”

“Besok kakak belum bisa balik ke pondok, masih ada urusan yang mendesak. Tolong berikan ini sama Kak Raida” Aina berucap pelan sambil menyodorkan plastik kecil pada Holif, entah apa isinya.

“Iya, Kak. Nanti kusampaikan titipannya” ucap Holif tersenyum. Dibalas dengan senyuman pula oleh Aina.

“Ayo jalan, Kak!” pintanya pada Alif seraya menepuk pundaknya. Yang diperintah segera menyalakan motor.

“Sekali lagi makasih, yah.” Aina kembali berterima kasih sebelum motor semakin menjauh, hanya dibalas lambaian oleh Holif.

Alif tak pernah melihat Aina sejak ia sekolah di pondok, hampir tiga tahun lamanya. Hari ini, dia kembali melihatnya. Banyak sekali yang berubah darinya. Perubahan yang membuat hati Alif semakin mantap. Entah kapan lagi, aku bisa melihatnya, gumam  Alif dalam hati.

bersambung...

Ikuti kelanjutannya di Part 4

Aqilah El-Hafizhah
#Tantangan CERBUNG dari ODOP

Skenario Takdir


Part 2: Sebuah Tekad

Alif dan Fiki tertawa puas tanpa perasaan bersalah setelah berhasil menakut-nakuti bocah berumur lima tahun dihadapannya. “Hanya ditakuti kuntilanak sudah menangis, dasar penakut!” Fiki mencibir seraya mengikuti Alif yang sudah kabur duluan meninggalkan korbannya.

Satu desa sudah tahu tentang dua bocah dengan hobi aneh ini, menjaili anak-anak yang lebih kecil dari mereka sampai menangis. Orangtua mereka pun sudah capek mendengar keluhan para ibu yang anaknya sudah sering menjadi bulan-bulanan Alif dan Fiki. Orangtua mereka sudah berkali-kali memperingatkan bahkan mengancam agar tidak lagi menjaili anak-anak di desa mereka. Berulangkali keduanya berjanji untuk tidak lagi mengulang perbuatannya, tapi selalu saja dilanggar. “mereka masih anak-anak, tolong dimaafkan,” alasan klasik yang menjadi pertahanan akhir ibu Alif dan Fiki.

“Alif, itukan si Aina” Fiki menunjuk bocah yang kali ini berjilbab pink sedang bermain ayunan dengan dua temannya. Ayunan sederhana yang digantung di dahan pohon.

Alif melihat ke arah telunjuk Fiki. Benar, bocah tetangganya sedang bermain di sana. Dia tertawa nyengir, bersemangat melihat bocah yang kemarin berani menentangnya.

“Ayo, Fiki! Buat dia menangis, kita buka saja kerudungnya, dia pasti akan menangis” Alif bersemangat. Tujuan mereka memang hanya ingin membuat anak-anak menangis, saat kemarin meminta Aina menyerahkan kuenya, itu hanya gertakan. Tujuan sebenarnya hanya untuk membuatnya menangis. Sayang tak berhasil, anak itu terlalu berani menghadapi mereka yang lebih besar.

“Mau apa kalian? Aku tak punya kue” Aina teringat kejadian kemarin.

“Kami di sini tidak untuk meminta kue, tapi untuk membuka kerudungmu” Alif dan Fiki tertawa nakal.

“Tidak! kata Ibu tidak boleh membuka jilbab kalau di luar rumah. Kenapa kalian mau membuka jilbabku?” Aina bertanya polos, tak paham kenapa dua anak ini ingin membuka jilbabnya.

“Ayo buka! Kalau tidak mau, akan kubuka dengan paksa”

“Tidak mau!” Aina memegang kerudungnya erat, kedua temannya sedikit menjauh, tak paham apa yang terjadi. Sementara Fiki dan Alif merasa di atas awan, yakin kalau tindakannya kali ini pasti berhasil membuat Aina menangis.

“Jangan-jangan kepalamu botak, makanya selalu berkerudung. Iya,kan?” Alif mengejek.

“Rambutku panjang dan lurus, tidak botak seperti yang kalian bilang” Aina terus menentang tanpa rasa takut.

Alif masih menakut-nakuti Aina, berusaha membuatnya menangis tanpa betul-betul  harus memaksanya  membuka jilbab. Mereka tak pernah menyakiti anak-anak, hanya mengganggu dan menaku-nakuti mereka sampai menangis. Tapi Aina sama sekali tak terlihat takut, tetap bertahan dan berusaha melarikan diri seperti kemarin.

Sayang, Fiki berhasil menarik lengannya. Aina berontak melepaskan diri. Bagaimana bisa? Ia dipegang dua bocah dengan fisiknya lebih besar dari Aina. Alif hanya berharap Aina segera menangis dan memohon dilepaskan. Dengan menangis semua perkara akan selesai, dua anak laki-laki ini hanya ingin membuatnya menangis. Seperti yang dilakukannya pada semua anak-anak di desa ini. Sayang, Aina terus bertahan dan berusaha melepaskan diri.

“Lepaskan! aku tak akan melepas jilbabku, seperti kata Ibu.”

Alif tak punya pilihan, rasanya harus membuka jilbab ini dengan paksa sebelum ada orang dewasa yang lewat dan menghentikan tindakannya. Mereka bisa gagal lagi membuat bocah keras kepala ini menangis.

“Fiki, tarik saja jilbabnya, sebelum ada yang lewat.” Alif memerintah, sementara kedua teman Aina hanya diam, berdiri takut-takut.

Hanya hitungan detik Fiki berhasil melepas jilbab Aina. Rambut panjang, lurus, dan hitam Aina tergerai. Mereka tertawa menang, akhirnya Aina kecil menagis, jongkok tersedu memeluk lutut.

”Kalian.. ja..hat!” umpatnya terbata-bata.

Lihatlah! Bocah kecil yang selalu terlihat riang dan membuat orang sekitarnya merasa senang dan nyaman dengan sikapnya. Kini binar matanya meredup, berganti tangis menyakitkan. Siapa pula yang tega membuatnya menangis? Sungguh, bocah ini sangat berbeda dari anak-anak kebanyakan. Ia tumbuh cerdas dengan budi pekerti yang mengagumkan. Terlahir di tengah keluarga yang sangat sederhana, tapi dihargai semua penduduk desa. Ia tumbuh dengan semua pemahaman-pemahaman baik seperti harapan orangtuanya. Ah.. tega sekali yang membuatnya menangis.

Entah mengapa, perasaan bersalah mengetuk hati terdalam Alif melihat bocah ini menangis. Perasaan yang baru  ia rasakan setelah tak terhitung berapa anak yang sudah dibuatnya menangis. Siapa pula yang akan tega meliat bocah ini menangis? Percayalah, dia punya ‘sesuatu’ berbeda yang akan membuatmu tak tega melihatnya menangis. Bahkan anak-anak seperti Alif dan Fiki pun merasakannya, meski mereka tak paham apa itu.

Pelan Alif menarik jilbab pink dari Fiki, mendekati Aina yang masih tersedu pilu, menyimpan jilbab itu di atas kepalanya lantas berlalu tanpa kata. Fiki mengekor di belakangnya. Tersisa Aina yang masih sesegukan, kedua teman bermainnya mendekat, membujuknya untuk diam.

Siang itu, melalui tangisan Aina sebuah pemahaman baik menjemput Alif dan Fiki. Pemahaman bahwa siapa pun itu, tak layak membuat orang lain menangis. Dari segi manapun, kelakuannya selama ini salah. 

“Kata Ibu laki-laki itu selalu melindungi perempuan , tidak seperti kamu yang selalu mengganggu” terngiang perkataan Aina kemarin. “Baiklah, mulai hari ini aku tak akan mengganggu siapa pun lagi, apalagi membuat perempuan menangis.” Meski hanya dalam hati, tapi itu adalah sebuah ikrar sepenuh hati dari Alif.

###


Alif senyum-senyum sendiri mengenang kejadian belasan tahun lalu, matanya masih menatap sendu pekatnya malam dari bingkai jendela. Saat itu, ia masih seorang anak berusia delapan tahun yang belum mengerti tentang cinta. Dia baru sadar setelah beberapa tahun kemudian bahwa hari itu, Aina kecil telah berhasil mencuri sepotong hatinya.

Baca selanjutnya: Part 3

Aqilah El-Hafizhah
#Tantangan CERBUNG di ODOP 

Selasa, 03 Mei 2016

Skenario Takdir (1)

Part 1: Sebuah Awal

Seorang lelaki berumur 24 tahun tengah asyik dengan novel di tangannya. Duduk di balik jendela pada kursi kayu jati yang masih terlihat kuat. Sama sekali tak terganggu dengan derasnya hujan di luar.

Sudah lebih dari dua jam ia di sana, berkutat pada novel bersampul hijau dengan judul “Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” karya penulis favoritnya, Tere Liye.

Jika itu karya Tere Liye, ia tak akan berhenti membacanya hingga tuntas, hanya kumandang azan yang bisa menghentikan aktivitas itu. Makanya, novel yang sudah lima hari dibelinya baru ia baca, sengaja memilih waktu luang untuk melahapnya, tak ingin terganggu apapun.

Matanya beralih pada jendela yang sengaja dibiarkan terbuka, menatap pekatnya malam dengan tetesan hujan yang terbungkus gelap. Membaca setengah novel ini mengingatkannya sesuatu. Tentang persaannya, tentang seseorang di masa kecilnya. “Ah.. kisahku sedikit mirip denganmu, Tania” ia bergumam pelan. Bibirnya membentuk senyum kecut. Buku itu dibiarkan tetap terbuka, sementara pikirannya menerawang pada belasan tahun yang lalu. Hujan sempurna menjadi moment tepat untuk mengenang banyak hal. Tepat seperti Tania, tokoh dalam novel yang sedang ia baca.

###

Palopo, Sulawesi Selatan, di sebuah desa yang jauh dari kota..

Alif tersenyum jail menatap bocah enam tahun dengan jilbab biru, berjalan riang  membawa plastik hitam di tangannya. Tersisa lima meter sebelum bocah itu melintas di hadapan Alif dan Fiki, mereka berbisik merencanakan sesuatu lalu tertawa bersemangat.

“Hei, ada apa di kantonganmu?” teriak Alif pada si bocah. Yang ditanya bingung melirik kantongan di tangannya.

“Kenapa?” tantangnya tanpa rasa takut. Ia kenal Alif dan temannya Fiki, mereka sering mengganggu anak-anak seusianya. Tapi Aina, gadis berkerudung biru itu sama sekali tak takut dengan mereka. Ajaran Ibu tentang budi pekerti, kejujuran, keberanian, dan banyak hal lain yang disampaikan lewat cerita telah menghujam pada diri Aina kecil.

“Kubilang apa yang kamu bawa? Berikan padaku!” Alif memaksa.

“Tidak mau, ini untuk Ibuku” Aina bertahan tidak menyerahkan kantongannya.

“Ayo berikan! Kamu tidak takut sama Alif? Kalau kamu tidak mau memberikan kuemu, akan kubuka jilbabmu” Fiki ikut mengancam. Ia tahu kalau Aina selalu berkerudung, tentu ia tak mau jika jilbabnya dilepas. Tentu saja Fiki tahu kalau isi kantongan itu kue meski Aina tak bilang isi kantongannya apa. Aina membeli kue itu tepat di depan mata Fiki tadi.

 “Jangan! Ini punya ibuku, kenapa kalian mau mengambilnya? Kata Ibu laki-laki itu selalu menjaga perempuan , tidak seperti kamu yang selalu mengganggu perempuan. Pindah! Aku mau pulang.”

Aina buru-buru meninggalkan mereka. Menyisakan Alif dan Fiki yang masih heran. Baru kali ini ia mendapat perlawanan bahkan teguran dari bocah yang lebih muda darinya. Juga untuk pertama kali mereka tak berhasil membuat menangis mangsanya. Anak ini berbeda, ia sangat pemberani.

---------
Baca kisah selanjutnya: Part 2

Aqilah El-Hafizhah
#Tantangan Cerbung dari ODOP