Selasa, 10 Mei 2016

Skenario Takdir (6)

Ikuti kisahnya dari awal di Part 1

Part 6: Harapan

Bukan hal mudah bagi seorang anak desa mendapat segala informasi tentang perkuliahan. Jalan buntu sudah dirasakan Alif sebelum memulai, ia tak punya ide bagaimana memulai segalanya. Andaikan Holif ada di sini, mungkin ia bisa memberikan sedikit saran untuk memulai, dia sepertinya lebih banyak tahu daripada Alif.

Siapa yang bisa membantuku? Gusar ia berpikir. Kak Dayat! Sebuah nama tiba-tiba terlintas di benaknya. Nama yang hadir bagai selaksa harapan yang menjanjikan. Seketika melahirkan semangat membara pada Alif. “Semoga ia bisa membantuku,” gumamnya penuh harap.

Alif tak mau menunda waktu, langkahnya mantap menuju rumah Kak Dayat. Rumah yang lumayan jauh dari rumahnya jika ditempuh dengan berjalan kaki, tapi cukup sepuluh menit dengan mengendarai motor. Suara motor menderu keras. Alif berangkat.

Alif berhenti di depan rumah dengan cat krem berpadu cokelat tua. Perpaduan warna ini memberi kesan elegan. Dari balik pagar bisa terlihat halaman cukup luas dengan beraneka bunga tertata rapi. Menggambarkan jiwa pemilik rumah ini tentulah seorang yang peduli keindahan. Halaman yang asri. Tanpa ragu Alif memasuki pagar yang dibiarkan terbuka. Menunggu tenang di balik pintu setelah mengetuk dan mengucap salam.

Pintu terkuak. Wajah teduh Bu Salma muncul dari balik pintu. Tersenyum ramah.

“Nak Alif, masuk”

Alif melangkah masuk dan duduk tenang setelah dipersilakan. Berpikir cepat bagaimana memulai percakapan. Ia berdeham sekali.

“Bu, bagaimana kabar Kak Dayat?” Alif mengawali dengan menanyakan kabar.

“Al-hamdulillah, kabarnya selalu baik, tidak lama lagi dia akan libur”

“Hm.. sebenarnya Alif mau minta tolong, sekiranya bisa mendapatkan nomor untuk menghubungi Kak Dayat. Aku ada sedikit keperluan dengannya”  

“Owh.. tunggu ya, Nak. Ibu carikan nomornya.” Bu Salma beranjak dari duduknya.

Dua menit kemudian Bu Salma kembali dengan buku kecil. Sepertinya tidak sulit menemukannya. Ia sibuk membuka lembar demi lembar, matanya mengekor pada telunjuk yang terus bergerak di lembaran buku. Sedetik kemudian tersenyum seraya menyodorkan buku dan menunjuk sederet angka pada Alif. Ada banyak nomor telepon di sana, Alif fokus pada nomor yang ia butuhkan. Jemarinya lincah mengetik sederet angka pada keyboard hp.

“Terima kasih banyak, Bu. Aku pamit,” ucap Alif sopan. Disambut dengan senyum ramah nan tulus dari Bu Salma. Senyuman khas seorang Ibu.


Alif bergegas pulang meninggalkan rumah Kak Dayat. Seseorang yang kini menjadi harapan untuknya bisa mendapat sejumlah informasi yang ia butuhkan. Seorang senior yang sejak tiga tahun lalu melanjutkan pendidikannya di sebuah universitas negeri yang cukup terkenal di Makassar. Memilih menjadi berbeda dari kebanyakan pemuda di kampungnya.

bersambung...

Aqilah El-Hafizhah
#Tantangan CERBUNG dari ODOP

2 komentar:

Sakif mengatakan...

hmm....semoga dapat informasinya

Dymar Mahafa mengatakan...

Lanjutkan mbak. :)