Bukan hal mudah bagi seorang anak
desa mendapat segala informasi tentang perkuliahan. Jalan buntu sudah dirasakan
Alif sebelum memulai, ia tak punya ide bagaimana memulai segalanya. Andaikan Holif
ada di sini, mungkin ia bisa memberikan sedikit saran untuk memulai, dia
sepertinya lebih banyak tahu daripada Alif.
Siapa yang bisa membantuku? Gusar
ia berpikir. Kak Dayat! Sebuah nama tiba-tiba terlintas di benaknya. Nama
yang hadir bagai selaksa harapan yang menjanjikan. Seketika melahirkan semangat
membara pada Alif. “Semoga ia bisa membantuku,” gumamnya penuh harap.
Alif tak mau menunda waktu, langkahnya
mantap menuju rumah Kak Dayat. Rumah yang lumayan jauh dari rumahnya jika
ditempuh dengan berjalan kaki, tapi cukup sepuluh menit dengan mengendarai
motor. Suara motor menderu keras. Alif berangkat.
Alif berhenti di depan rumah
dengan cat krem berpadu cokelat tua. Perpaduan warna ini memberi kesan elegan. Dari
balik pagar bisa terlihat halaman cukup luas dengan beraneka bunga tertata
rapi. Menggambarkan jiwa pemilik rumah ini tentulah seorang yang peduli
keindahan. Halaman yang asri. Tanpa ragu Alif memasuki pagar yang dibiarkan
terbuka. Menunggu tenang di balik pintu setelah mengetuk dan mengucap salam.
Pintu terkuak. Wajah teduh Bu Salma
muncul dari balik pintu. Tersenyum ramah.
“Nak Alif, masuk”
Alif melangkah masuk dan duduk
tenang setelah dipersilakan. Berpikir cepat bagaimana memulai percakapan. Ia berdeham
sekali.
“Bu, bagaimana kabar Kak Dayat?”
Alif mengawali dengan menanyakan kabar.
“Al-hamdulillah, kabarnya selalu
baik, tidak lama lagi dia akan libur”
“Hm.. sebenarnya Alif mau minta
tolong, sekiranya bisa mendapatkan nomor untuk menghubungi Kak Dayat. Aku ada
sedikit keperluan dengannya”
“Owh.. tunggu ya, Nak. Ibu carikan
nomornya.” Bu Salma beranjak dari duduknya.
Dua menit kemudian Bu Salma
kembali dengan buku kecil. Sepertinya tidak sulit menemukannya. Ia sibuk membuka
lembar demi lembar, matanya mengekor pada telunjuk yang terus bergerak di
lembaran buku. Sedetik kemudian tersenyum seraya menyodorkan buku dan menunjuk
sederet angka pada Alif. Ada banyak nomor telepon di sana, Alif fokus pada
nomor yang ia butuhkan. Jemarinya lincah mengetik sederet angka pada keyboard
hp.
“Terima kasih banyak, Bu. Aku
pamit,” ucap Alif sopan. Disambut dengan senyum ramah nan tulus dari Bu Salma.
Senyuman khas seorang Ibu.
Alif bergegas pulang meninggalkan
rumah Kak Dayat. Seseorang yang kini menjadi harapan untuknya bisa mendapat
sejumlah informasi yang ia butuhkan. Seorang senior yang sejak tiga tahun lalu
melanjutkan pendidikannya di sebuah universitas negeri yang cukup terkenal di
Makassar. Memilih menjadi berbeda dari kebanyakan pemuda di kampungnya.
bersambung...
bersambung...
Aqilah El-Hafizhah
#Tantangan CERBUNG dari ODOP
2 komentar:
hmm....semoga dapat informasinya
Lanjutkan mbak. :)
Posting Komentar