Kamis, 05 Mei 2016

Skenario Takdir


Part 2: Sebuah Tekad

Alif dan Fiki tertawa puas tanpa perasaan bersalah setelah berhasil menakut-nakuti bocah berumur lima tahun dihadapannya. “Hanya ditakuti kuntilanak sudah menangis, dasar penakut!” Fiki mencibir seraya mengikuti Alif yang sudah kabur duluan meninggalkan korbannya.

Satu desa sudah tahu tentang dua bocah dengan hobi aneh ini, menjaili anak-anak yang lebih kecil dari mereka sampai menangis. Orangtua mereka pun sudah capek mendengar keluhan para ibu yang anaknya sudah sering menjadi bulan-bulanan Alif dan Fiki. Orangtua mereka sudah berkali-kali memperingatkan bahkan mengancam agar tidak lagi menjaili anak-anak di desa mereka. Berulangkali keduanya berjanji untuk tidak lagi mengulang perbuatannya, tapi selalu saja dilanggar. “mereka masih anak-anak, tolong dimaafkan,” alasan klasik yang menjadi pertahanan akhir ibu Alif dan Fiki.

“Alif, itukan si Aina” Fiki menunjuk bocah yang kali ini berjilbab pink sedang bermain ayunan dengan dua temannya. Ayunan sederhana yang digantung di dahan pohon.

Alif melihat ke arah telunjuk Fiki. Benar, bocah tetangganya sedang bermain di sana. Dia tertawa nyengir, bersemangat melihat bocah yang kemarin berani menentangnya.

“Ayo, Fiki! Buat dia menangis, kita buka saja kerudungnya, dia pasti akan menangis” Alif bersemangat. Tujuan mereka memang hanya ingin membuat anak-anak menangis, saat kemarin meminta Aina menyerahkan kuenya, itu hanya gertakan. Tujuan sebenarnya hanya untuk membuatnya menangis. Sayang tak berhasil, anak itu terlalu berani menghadapi mereka yang lebih besar.

“Mau apa kalian? Aku tak punya kue” Aina teringat kejadian kemarin.

“Kami di sini tidak untuk meminta kue, tapi untuk membuka kerudungmu” Alif dan Fiki tertawa nakal.

“Tidak! kata Ibu tidak boleh membuka jilbab kalau di luar rumah. Kenapa kalian mau membuka jilbabku?” Aina bertanya polos, tak paham kenapa dua anak ini ingin membuka jilbabnya.

“Ayo buka! Kalau tidak mau, akan kubuka dengan paksa”

“Tidak mau!” Aina memegang kerudungnya erat, kedua temannya sedikit menjauh, tak paham apa yang terjadi. Sementara Fiki dan Alif merasa di atas awan, yakin kalau tindakannya kali ini pasti berhasil membuat Aina menangis.

“Jangan-jangan kepalamu botak, makanya selalu berkerudung. Iya,kan?” Alif mengejek.

“Rambutku panjang dan lurus, tidak botak seperti yang kalian bilang” Aina terus menentang tanpa rasa takut.

Alif masih menakut-nakuti Aina, berusaha membuatnya menangis tanpa betul-betul  harus memaksanya  membuka jilbab. Mereka tak pernah menyakiti anak-anak, hanya mengganggu dan menaku-nakuti mereka sampai menangis. Tapi Aina sama sekali tak terlihat takut, tetap bertahan dan berusaha melarikan diri seperti kemarin.

Sayang, Fiki berhasil menarik lengannya. Aina berontak melepaskan diri. Bagaimana bisa? Ia dipegang dua bocah dengan fisiknya lebih besar dari Aina. Alif hanya berharap Aina segera menangis dan memohon dilepaskan. Dengan menangis semua perkara akan selesai, dua anak laki-laki ini hanya ingin membuatnya menangis. Seperti yang dilakukannya pada semua anak-anak di desa ini. Sayang, Aina terus bertahan dan berusaha melepaskan diri.

“Lepaskan! aku tak akan melepas jilbabku, seperti kata Ibu.”

Alif tak punya pilihan, rasanya harus membuka jilbab ini dengan paksa sebelum ada orang dewasa yang lewat dan menghentikan tindakannya. Mereka bisa gagal lagi membuat bocah keras kepala ini menangis.

“Fiki, tarik saja jilbabnya, sebelum ada yang lewat.” Alif memerintah, sementara kedua teman Aina hanya diam, berdiri takut-takut.

Hanya hitungan detik Fiki berhasil melepas jilbab Aina. Rambut panjang, lurus, dan hitam Aina tergerai. Mereka tertawa menang, akhirnya Aina kecil menagis, jongkok tersedu memeluk lutut.

”Kalian.. ja..hat!” umpatnya terbata-bata.

Lihatlah! Bocah kecil yang selalu terlihat riang dan membuat orang sekitarnya merasa senang dan nyaman dengan sikapnya. Kini binar matanya meredup, berganti tangis menyakitkan. Siapa pula yang tega membuatnya menangis? Sungguh, bocah ini sangat berbeda dari anak-anak kebanyakan. Ia tumbuh cerdas dengan budi pekerti yang mengagumkan. Terlahir di tengah keluarga yang sangat sederhana, tapi dihargai semua penduduk desa. Ia tumbuh dengan semua pemahaman-pemahaman baik seperti harapan orangtuanya. Ah.. tega sekali yang membuatnya menangis.

Entah mengapa, perasaan bersalah mengetuk hati terdalam Alif melihat bocah ini menangis. Perasaan yang baru  ia rasakan setelah tak terhitung berapa anak yang sudah dibuatnya menangis. Siapa pula yang akan tega meliat bocah ini menangis? Percayalah, dia punya ‘sesuatu’ berbeda yang akan membuatmu tak tega melihatnya menangis. Bahkan anak-anak seperti Alif dan Fiki pun merasakannya, meski mereka tak paham apa itu.

Pelan Alif menarik jilbab pink dari Fiki, mendekati Aina yang masih tersedu pilu, menyimpan jilbab itu di atas kepalanya lantas berlalu tanpa kata. Fiki mengekor di belakangnya. Tersisa Aina yang masih sesegukan, kedua teman bermainnya mendekat, membujuknya untuk diam.

Siang itu, melalui tangisan Aina sebuah pemahaman baik menjemput Alif dan Fiki. Pemahaman bahwa siapa pun itu, tak layak membuat orang lain menangis. Dari segi manapun, kelakuannya selama ini salah. 

“Kata Ibu laki-laki itu selalu melindungi perempuan , tidak seperti kamu yang selalu mengganggu” terngiang perkataan Aina kemarin. “Baiklah, mulai hari ini aku tak akan mengganggu siapa pun lagi, apalagi membuat perempuan menangis.” Meski hanya dalam hati, tapi itu adalah sebuah ikrar sepenuh hati dari Alif.

###


Alif senyum-senyum sendiri mengenang kejadian belasan tahun lalu, matanya masih menatap sendu pekatnya malam dari bingkai jendela. Saat itu, ia masih seorang anak berusia delapan tahun yang belum mengerti tentang cinta. Dia baru sadar setelah beberapa tahun kemudian bahwa hari itu, Aina kecil telah berhasil mencuri sepotong hatinya.

Baca selanjutnya: Part 3

Aqilah El-Hafizhah
#Tantangan CERBUNG di ODOP 

3 komentar:

Na mengatakan...

Alif dapat hidayah. 😀

Sasmitha A. Lia mengatakan...

Alif dapet wangsit mbak Na..😅

Ainayya Ayska mengatakan...

Senyum2 sendiri bacanya... hobby yg aneh. Hahaha