Part 2: Sebuah Tekad
Alif dan Fiki tertawa puas tanpa
perasaan bersalah setelah berhasil menakut-nakuti bocah berumur lima tahun
dihadapannya. “Hanya ditakuti kuntilanak sudah menangis, dasar penakut!” Fiki
mencibir seraya mengikuti Alif yang sudah kabur duluan meninggalkan korbannya.
Satu desa sudah tahu tentang dua
bocah dengan hobi aneh ini, menjaili anak-anak yang lebih kecil dari mereka
sampai menangis. Orangtua mereka pun sudah capek mendengar keluhan para ibu
yang anaknya sudah sering menjadi bulan-bulanan Alif dan Fiki. Orangtua mereka
sudah berkali-kali memperingatkan bahkan mengancam agar tidak lagi menjaili
anak-anak di desa mereka. Berulangkali keduanya berjanji untuk tidak lagi
mengulang perbuatannya, tapi selalu saja dilanggar. “mereka masih anak-anak,
tolong dimaafkan,” alasan klasik yang menjadi pertahanan akhir ibu Alif dan
Fiki.
“Alif, itukan si Aina” Fiki
menunjuk bocah yang kali ini berjilbab pink sedang bermain ayunan dengan
dua temannya. Ayunan sederhana yang digantung di dahan pohon.
Alif melihat ke arah telunjuk
Fiki. Benar, bocah tetangganya sedang bermain di sana. Dia tertawa nyengir,
bersemangat melihat bocah yang kemarin berani menentangnya.
“Ayo, Fiki! Buat dia menangis,
kita buka saja kerudungnya, dia pasti akan menangis” Alif bersemangat. Tujuan
mereka memang hanya ingin membuat anak-anak menangis, saat kemarin meminta Aina
menyerahkan kuenya, itu hanya gertakan. Tujuan sebenarnya hanya untuk
membuatnya menangis. Sayang tak berhasil, anak itu terlalu berani menghadapi
mereka yang lebih besar.
“Mau apa kalian? Aku tak punya
kue” Aina teringat kejadian kemarin.
“Kami di sini tidak untuk meminta
kue, tapi untuk membuka kerudungmu” Alif dan Fiki tertawa nakal.
“Tidak! kata Ibu tidak boleh
membuka jilbab kalau di luar rumah. Kenapa kalian mau membuka jilbabku?” Aina
bertanya polos, tak paham kenapa dua anak ini ingin membuka jilbabnya.
“Ayo buka! Kalau tidak mau, akan
kubuka dengan paksa”
“Tidak mau!” Aina memegang
kerudungnya erat, kedua temannya sedikit menjauh, tak paham apa yang terjadi.
Sementara Fiki dan Alif merasa di atas awan, yakin kalau tindakannya kali ini
pasti berhasil membuat Aina menangis.
“Jangan-jangan kepalamu botak,
makanya selalu berkerudung. Iya,kan?” Alif mengejek.
“Rambutku panjang dan lurus,
tidak botak seperti yang kalian bilang” Aina terus menentang tanpa rasa takut.
Alif masih menakut-nakuti Aina,
berusaha membuatnya menangis tanpa betul-betul
harus memaksanya membuka jilbab.
Mereka tak pernah menyakiti anak-anak, hanya mengganggu dan menaku-nakuti
mereka sampai menangis. Tapi Aina sama sekali tak terlihat takut, tetap
bertahan dan berusaha melarikan diri seperti kemarin.
Sayang, Fiki berhasil menarik
lengannya. Aina berontak melepaskan diri. Bagaimana bisa? Ia dipegang dua bocah
dengan fisiknya lebih besar dari Aina. Alif hanya berharap Aina segera menangis
dan memohon dilepaskan. Dengan menangis semua perkara akan selesai, dua anak
laki-laki ini hanya ingin membuatnya menangis. Seperti yang dilakukannya pada
semua anak-anak di desa ini. Sayang, Aina terus bertahan dan berusaha
melepaskan diri.
“Lepaskan! aku tak akan melepas
jilbabku, seperti kata Ibu.”
Alif tak punya pilihan, rasanya
harus membuka jilbab ini dengan paksa sebelum ada orang dewasa yang lewat dan
menghentikan tindakannya. Mereka bisa gagal lagi membuat bocah keras kepala ini
menangis.
“Fiki, tarik saja jilbabnya,
sebelum ada yang lewat.” Alif memerintah, sementara kedua teman Aina hanya
diam, berdiri takut-takut.
Hanya hitungan detik Fiki
berhasil melepas jilbab Aina. Rambut panjang, lurus, dan hitam Aina tergerai.
Mereka tertawa menang, akhirnya Aina kecil menagis, jongkok tersedu memeluk
lutut.
”Kalian.. ja..hat!” umpatnya terbata-bata.
Lihatlah! Bocah kecil yang selalu
terlihat riang dan membuat orang sekitarnya merasa senang dan nyaman dengan
sikapnya. Kini binar matanya meredup, berganti tangis menyakitkan. Siapa pula
yang tega membuatnya menangis? Sungguh, bocah ini sangat berbeda dari anak-anak
kebanyakan. Ia tumbuh cerdas dengan budi pekerti yang mengagumkan. Terlahir di
tengah keluarga yang sangat sederhana, tapi dihargai semua penduduk desa. Ia
tumbuh dengan semua pemahaman-pemahaman baik seperti harapan orangtuanya. Ah..
tega sekali yang membuatnya menangis.
Entah mengapa, perasaan bersalah
mengetuk hati terdalam Alif melihat bocah ini menangis. Perasaan yang baru ia rasakan setelah tak terhitung berapa anak
yang sudah dibuatnya menangis. Siapa pula yang akan tega meliat bocah ini
menangis? Percayalah, dia punya ‘sesuatu’ berbeda yang akan membuatmu tak
tega melihatnya menangis. Bahkan anak-anak seperti Alif dan Fiki pun merasakannya,
meski mereka tak paham apa itu.
Pelan Alif menarik jilbab pink
dari Fiki, mendekati Aina yang masih tersedu pilu, menyimpan jilbab itu di atas
kepalanya lantas berlalu tanpa kata. Fiki mengekor di belakangnya. Tersisa Aina
yang masih sesegukan, kedua teman bermainnya mendekat, membujuknya untuk diam.
Siang itu, melalui tangisan Aina
sebuah pemahaman baik menjemput Alif dan Fiki. Pemahaman bahwa siapa pun itu,
tak layak membuat orang lain menangis. Dari segi manapun, kelakuannya selama
ini salah.
“Kata Ibu laki-laki itu selalu
melindungi perempuan , tidak seperti kamu yang selalu mengganggu” terngiang
perkataan Aina kemarin. “Baiklah, mulai hari ini aku tak akan mengganggu
siapa pun lagi, apalagi membuat perempuan menangis.” Meski hanya dalam
hati, tapi itu adalah sebuah ikrar sepenuh hati dari Alif.
###
Alif senyum-senyum sendiri
mengenang kejadian belasan tahun lalu, matanya masih menatap sendu pekatnya
malam dari bingkai jendela. Saat itu, ia masih seorang anak berusia delapan
tahun yang belum mengerti tentang cinta. Dia baru sadar setelah beberapa tahun
kemudian bahwa hari itu, Aina kecil telah berhasil mencuri sepotong hatinya.
Baca selanjutnya: Part 3
Baca selanjutnya: Part 3
Aqilah El-Hafizhah
#Tantangan CERBUNG di ODOP
3 komentar:
Alif dapat hidayah. 😀
Alif dapet wangsit mbak Na..😅
Senyum2 sendiri bacanya... hobby yg aneh. Hahaha
Posting Komentar