Kamis, 26 Mei 2016

Kami ingin Mengubah Dunia


Saya pernah mengikuti sebuah kajian yang selalu teringat hingga saat ini. Waktu itu hari jum'at, pengurus LDK selalu memanfaatkan moment jum'at ini dengan kajian jumat bagi akhawat. Kami yang tidak punya cirihas (setiap LDK biasanya dikenal dgn cirihas pakaian masing2) menjadi target mereka untuk ikut meramaikan kajian jumat mereka.

Karena tidak enak sudah diajak berulangkali dan selalu menolak, akhirnya saya dan beberapa teman ikut. Biarlah, sekali-kali ikut. Kebetulan saat itu mendekati peringatan hari sumpah pemuda, maka pembahasannya tentang pemuda sebagai agent of changing.

Pembicara membawakan materinya dengan penuh semangat. Intonasinya diatur sedemikian rupa untuk membangkitkan semangat kita sebagai pemuda.

Dari ulasannya, untuk beberapa hal saya sependapat dengan argumen yang disampaikan. Tapi lebih banyak yang tidak bisa kuterima. Saya hanya diam menyimak dan menyaring, toh, setiap kita bebas berpendapat.

Entah kenapa sebuah statement tiba-tiba membuat saya ingin menimpali. Saya tak bisa menerima statement yang satu ini. Katanya,

"Kami ini tidak ingin merubah setiap individu, kami hanya ingin merubah dunia. Dan kami sudah menyusun beberapa strategi untuk bisa merubah dunia dalam beberapa tahun kedepan"

Saya mengernyitkan dahi. Bagaimana bisa? Mungkinkah merubah dunia dengan mengabaikan perubahan secara individu?

Tak sabar saya menunggu sesi berikutnya. Sesi tanya jawab! Ingin sekali menanyakan apa dasar mereka dengan statement ini.

Seandainya dia hanya bilang, 'kami ingin merubah dunia' aku tentu terima. Ini sebuah harapan besar dan mulia. Yang menggangguku adalah statement sebelumnya, 'kami tidak ingin merubah setiap individu'.

Bukankah konsep perubahan yang diajarkan kitab pedoman kita adalah memulai perubahan itu dari diri sendiri? buka (QS.Ar-Ra'du: 11)

Apalagi kita sebagai wanita yang kelak akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anak kita. Maka hal pertama yang harus diubah dan diperbaiki tak lain adalah diri, kepribadian, dan keilmuan kita. Itulah pesan Rasulullah sallallaahu alaihi wa sallam 'Didiklah anakmu 25 tahun sebelum ia lahir'. Didik anakmu sebelum ia lahir berarti perbaiki kepribadian kita jauh sebelum ia lahir. Karena kelak kitalah yang menjadi guru pertama dan teladan baginya.

Artinya apa? Fokus perubahan itu sejatinya berawal dari diri sendiri, lalu orang-orang sekitar kita. Tak usalah sibuk memikirkan perubahan dunia lalu abai pada diri dan orang-orang terdekat kita.

Karena dari kitalah kelak akan muncul generasi baru. Jika setiap wanita berusaha mempersiapkan diri untuk menjadi madrasah bagi anak-anaknya, maka dari sanalah kelak akan lahir generasi harapan. Generasi yang diharapkan bisa mengubah dunia. Semua berawal dari setiap individu.

Maka tegas saya menolak statement bahwa 'kami tidak ingin merubah setiap individu'.

Jika saya tak mampu merubah dunia, maka cukuplah saya merubah diri dan keluargaku dahulu.
________

Itu adalah kajian terakhir yang saya ikuti dari organisasi mereka. Saya tidak lagi berminat untuk ikut, dan mereka juga tidak pernah lagi mengajakku bergabung.

Aqilah El-Hafizhah

Tidak ada komentar: