Jumat, 27 Februari 2015

EP V B IS IN MEMORY


Entah mengapa, tiba-tiba aku teringat kalian. Tiba-tiba aku ingin menulis tentang kalian, meski aku tak tahu pasti apa yang akan aku tulis tentang kalian. Mungkin aku rindu sama kalian, mungkin juga, karena aku sedang sendiri dan merasa bosan, maka kalian hadir mengisi ruang kosongku.

                                 

EP V B, ini nama kelas kita. setidaknya nama terakhir yang bisa kukenang, karena tiap semester nama kelas kita pasti berubah, tapi EP V B adalah nama terakhir yang bisa kukenang, sebelum kita menjadi kelas B 1.

            Flashback dikit yah…
Tahun 2012 yang lalu, adalah awal kita memulai langkah pertama perjalanan ini. Awal kita memulai tekad untuk berjuang kurang lebih empat tahun kedepan. Awal yang menjadikan kita saling mengenal, meski belum sedekat seperti sekarang.

Tahun pertama, kita masih berada dalam kelas besar. Dengan seragam yang tentu takkan kalian lupa. Seragam yang paling norak menurutku, jilbab kuning + baju merah + rok hitam J. Tapi pada akhirnya seragam itu menjadi nyaman dipakai, tepatnya kita keenakan memakainya. Seragam itu tetap bisa mengukirkan senyum di wajah-wajah polos kita.

Semester berikutnya, disinilah kita mulai menjadi lebih dekat. Saat kelas kita dibagi dua sesuai stambuk. Kita kelas EP … B,(titiknya diganti sesuai semester J ).

Ada banyak hal yang kadang membuat kita sakit hati dengan kelas ini  (ngaku deh! ) mengapa? Kadang kita merasa ada diskriminasi antara kelas kita dan kelas sebelah (ngerti kan kelas sebelah itu yang mana.. J). Kita bahkan pernah dibandingkan secara jujur oleh seorang dosen bahwa kita ini memang sangat beda dengan kelas sebelah. Katanya personilnya mereka pintar-pintar. Lalu kita?
 Entahlah.. dan apa tanggapan kalian? EGEPE… yang penting happy, hehe.. kalian hebat. Betul banget, ngapain dipikirin? Yang penting enjoy lah.

Sejak kelas dipisah, aku melihat mulai ada banyak pertentangan antara kelas kita dan kelas “sebelah”. Dan secara jujur, kita selalu iri pada mereka, karena mereka selalu terlihat “lebih” dari kita. personil mereka kebanyakan anak-anak kesayangan “ibu”.

Waktu berlalu sangat cepat. Membawa kita pada putaran waktu saat ini. Tak terasa sudah dua tahun lebih kita berjuang bersama. Menyisakan banyak kenangan bersama kalian, entah kenangan macam apa yang sudah terbentuk diantara kita.

Kalian adalah sahabat-sahabatku yang telah menemaniku melewati dua tahun lebih dunia perkuliahan. Waktu yang singkat sebenarnya, tapi cukup berarti buatku. Aku sungguh bahagia pernah mengenal kalian. Melewati banyak hal bersama kalian, belajar dan tertawa bersama.

            Who are we…??

Kelas kita selalu ramai, ada Eki sebagai ketua suku (baca:ketua tingkat) terhebat yang pernah ada. Ketua yang selalu berjuang dan berkorban membala EP V B. selalu menjadi terdepan untuk membela kelas kita.. (hehe… apa gak berlebihan? Udah macam pejuang banget nih eki..) eki yang selalu ceria, sekaligus galau tingkat dewa jika ada masalah dengan si “dia” maka jadilah dia curhat di depan kita semua, dia sangat terbuka. Eki, ketua tingkat kita yang super  cuantik ( dia paling senang kalau dibilang cantik), katanya dia pengen jadi cover novel aku jika nanti aku berhasil nulis novel. Walah.. gak tau kapan tuh terwujud…. J. Udah kelewat panjang mendeskripsikan eki..

Ada Ifah yang… jago banget speakingnya, buat aku jadi iri banget. Paling suka gifo, masang wajah yang sooo imoet banget, dan untung jadinya beneran imut, dan suka membuat kami terpaksa harus menjadi fansnya, meski tak pernah mengidolakannya J. Ada partner setianya, Tari dengan gayanya yang tomboy abis, punya gaya yang sangat berbeda. Bagiku, kamu pribadi yang unik. Mereka partner sejati, bisa dibilang begitu, kalo satunya terlambat masuk kelas, maka yang satunya pasti ikut terlambat. Karena mereka memnang berangkat bareng. Katanya aneh kalau mereka datang tidak telat.. J

Ada Rahmi sebagai personel yang juaranya ketawa, kalau Ami ketawa maka seluruh ruang hanya akan menggemakan suaranya, dunia seolah sudah jadi miliknya… ami, kalau aku ingat kamu pasti aku teringat tawamu J. Soal tawa… ternyata ami punya saingan, Barmawati, yang lebih dikenal dengan intan, aku juga gak ngerti nyambung dimana nama ini bisa jadi Intan. Sosok yang juga punya tawa yang membahana. Tapi maaf, aku tak bisa jadi juri untuk kalian berdua. Intan, pribadi yang serius tapi simpel, kalo ada tugas dia paling gak mau pusinng, katanya santai aja..

Selanjutnya, ada Icha yang kalem banget. Cewek kretif dan rajin. Catatannya selalu menyenangkan dibaca, rapi. Senang banget membuat tempelan2 pembatas dengan beragam warna di binderna. Satu-satunya teman di kelas yang pernah minta kita nulis biodata di buku catatan khusus, care banget kan? Kalo bicara soal icha, maka otomatis kita bakal teringat seorang personel EP V B yang lain. Nisha, dia partnernya icha. Kamana-mana selalu bersama. Sosok bertanggung jawab. Secara tidak langsung sering memudahkan urusannya ketua tingkat, membantu menghubungi dosen misalnya..

Makhluk unik lainnya, dan yang ini yang terunik menurutku. Aya’, dengan gaya terunik di EP V B. sosok yang sempurna bisa membuat kita tertawa ngakak, gokil abis. Hal yang tak pernah luput darinya, bukan Aya kalo ngerjain tugas dan hasilnya hanya 2-3 lembar. Kalo kita buat tugas hanya 2-3 lembar, maka tak usah kaget kalau tugas dia 10-15 lembar, aya’ banget nih… kalau bicara, pasti semangat extra dan heboh. Aya.. kamu cocok banget dengan slogan, ‘gak ada lo gak rame’.

Bicara soal Aya, maka aku teringat teman berantemnya, teman adu mulutnya, sekaligus partnernya.. siapa lagi kalo bukan sosok Wati. Bisa dibilang… dia ini lumayan misterius (cieh… ) dia pernah dijuluki, ‘diam-diam menghanyutkan’. Soalnya, dia keseringan diam, tapi sekali bicara… yah begitulah. Dia sangat pendiam (dari luarnya aja..), tapi kalo kenal dia lebih jauh… ternyata dia lumayan cerewet juga. Dia pemilik catatan kuliah terlengkap di kelas kami.

Masih ada lagi nih personel kelas kami, Imut alias inna. Rajin banget sms cari info soal jadwal n tugas. Ini bukti bahwa kamu masih care sama pelajaran… teman yang baik dan santai banget. Dan kembaran namanya… Mutma, atau kadang hanya dipanggil Mut, tapi kalo Wati yang panggil, kadang buat saya bingung juga, soalnya dia selalu memanggilku dan mutma dengan panggilan yang sam, Mu’. Cewek cantik dan… agak cuek. Paling sering bingung kalo ada tugas, karena ingin mengusahakan yang terbaik yang pada akhirnya gak kesampaian J (yg penting udah usaha, colek aku juga J). Walhasil kami (aku n dia) selalu menyelesaikan tugas paling akhir. Merasa sering diuji kalo ada tugas. Teman seperjalananku pulang-pergi kampus, melewati pinggiran kanal yang… indah (semoga J)

Selanjutnya ada Yurni, paling dikenal dengan dua hal ; make up, dan tab-nya. Ke kampus tanpa pulpen dan buku tak jadi masalah besar baginya, yang penting. Alat make up dan tab-nya gak kelupaan.  Tika, kalau aku bilang Wati itu pendiam maka kamu lebih pendiam lagi. Aku tak tahu banyak tentang kamu karena kamu agak jarang bersuara. Kamu benar-benar pendiam, kawan.

Jumi, mahasiswi transferan dari pertanian. Orang yang paling feminim di EP V B, sekaligus yang paling sibuk. Itu karena dia kerja sambil kuliah. Saking sibuknya, beberapa kali gak mengikuti perkuliahan. Selain Jumi, ada kak Eni yang juga transferan dari Fakultas Ilmu Komputer. Dia ini, bisa dibilang antara ada dan tiada. Bahkan semester ini, ia menghilang tanpa kabar. Meski begitu, dia tetap tercatat sebagai keluarga EP V B.

Dua sosok yang juga sempat hadir menghiasi kelas kita, Noni dan Lela. Noni yang akhirnya memutuskan pindah jurusan kedokteran gigi. Dan Lela, demi memenuhi keinginan ibunya, ia akhirnya beralih ke psycoteraphy (entah tulisannya sudah benar atau.. salah J). Meski hanya setahun bersama kami, kalian tetap bagian dari kami.

Dan sosok terakhir dalam EP V B adalah… aku sendiri, Muallimah. yang kadang nama indah ini bermetamorfosis menjadi Mu’el, Mue’, kak Mue’… dan entah akan menjadi apa lagi nama ini, ada-ada ajha kalian ini. Tapi seorang dari kalian memanggilku dengan cara berbada, meski belum lama kamu memanggilku dengan “Imah..” dan aku suka dengan panggilan ini. Makasih ketua tingkatku yang paling cantik J

Lalu, apa peranku dalam kelas ini? Aku tak cukup pandai menulis tentang diriku. Karena aku tak tahu bagaimana kalian menilaiku. Aku tak tahu, sebagai sosok bagaimana diriku dalam sudut pandang kalian. Maka biarlah kalian yang menilai dan memikirkannya sendiri. Yang pasti… aku adalah bagian dari kalian, bagian dari cerita perjalanan ini, dan bagian dari keluarga EP V B.

Maka cukuplah aku menjadi pengamat buat kalian. Mengamati kalian adalah hiburan tersendiri buat aku. kalian dengan segala keunikan kalian, mampu membuatku senyum sendiri. Kalian, dengan apa adanya… telah membuatku kembali sadar, bahwa kalian adalah sahabat-sahabatku. Setidaknya sahabatku selama aku mngenal dunia kampus. Sahabat yang bersama kalian aku belajar dalam satu kelas.

Kalian,  sahabat yang telah menemaniku melewati putaran waktu yang sebatas empat tahun ini. Yah… kurang lebih empat tahun, inilah batas kebersamaan kita. Dan sebentar lagi, kita akan sampai pada batas akhir kisah perjalanan ini.

Setiap kita punya alasan masing-masing mengapa kita berada di kelas ini. Mungkin ada yang memang pengen jadi guru, seperti saya. Mungkin juga karena keinginan orang tua, atau boleh jadi karena ingin mendalami bahasa inggris. Atau mungkin, awalnya hanya penasaran gimana rasanya jadi mahaisswa, atau.. dari pada nganggur, mending kuliah… (semoga nggak).

Entahlah, apa alasan kalian. Tapi yang jelas, sekarang kita berada dalam kelas yang sama. Maka aku pengen, kita bisa belajar bersama. Tak ada pilihan lain buat kita kecuali belajar sungguh-sungguh. Atau kita akan menyesal di kemudian hari.
Masih ada waktu untuk kita maksimal belajar. Jangan lewatkan masa berharga ini atau kita akan menanggung penyesalan. Meski waktu kita tak banyak lagi, tapi mari kita lebih bersungguh-sungguh lagi dari kemarin-kemarin.

Semerter berikut dan berikutnya lagi tentu akan semakin berat. Maka lebih bersungguh-sungguhlah. Jika semester lalu kita masih kurang serius dan malas-malasan. Maka Lupakanlah bagaimana kita kemarin. Jangan ulangi lagi, dan mari saling bergandengan tangan mengejar mimpi kita. melewati perjalanan ini dengan penuh semangat.

Hingga akhirnya,,, kita akan sampai pada hari kelulusan, garis finish dari perjalanan ini.  Hari di mana kita mengenakan toga bersama, di ruangan yang sama. Yah… aku berharap kita bisa lulus bersama-sama, tak kurang seorang pun. Kita memulainya bersama, maka semoga kita bisa mengakhirinya juga bersama. Aamiin..

Terakhir, aku pengen minta maaf sama kalian. Mungkin karena aku salah menuliskan sesuatu tentang kalian. Maafkanlah kawan, karena aku selalu butuh maaf kalian..

Tulisan gaje… (gak jelas)
Kupersembahkan untuk sahabatku
Di EP VB

Aqilah El-Hafizhah

Rabu, 11 Februari 2015

Untukmu Yang Entah..



Mungkin judul ini teramat tidak jelas. Tapi aku hanya ingin menulis untukmu yang entah siapa. Aku ingin berterima kasih kepadamu yang entah. Mengapa kukatakan yang entah? Karena aku tak mengenal siapa engkau sebenarnya, tapi kamu telah berjasa padaku. Mungkin sekedar sebuah tulisan tanda terima kasih selain do’a.  Meski engkaupun tak pernah membacanya, karena kau sama halnya denganku, kau tak pernah mengenalku.

 Lewat perantaramu Allah memperlihatkan hidayah itu. Kamu adalah jalan awal aku mengenal yang kunamai ‘kebenaran’. Melalui kamu kumengenal syariat ini lebih dalam. Melalui kamu kumengenal manhaj salaf, dan dengan perantara kamu aku berteman banyak orang yang akhirnya menjadi jalan aku belajar manhaj salaf. Meski kamu tak pernah tahu semua ini.

Aku tak mengenalmu dengan baik. Aku mengenalmu sebatas nama dan tulisan-tulisanmu di facebook. Lewat tulisan itu aku mulai mencari tahu lebih dalam. Meski demikian, aku sangat berterima kasih meski aku tak tahu entah siapa engkau sebenarnya.

 Biarlah tulisan ini sekedar menjadi tanda terima kasihku padamu. Yang sekali lagi entah siapa. Entah berada dimana engkau, tapi semoga Allah senantiasa merahmati dan memberkatimu dan kehidupanmu.

 Untukmu yang entah… siapapun engkau, sekali lagi… aku sangat berterima kasih. Semoga Allah membalas dengan sebaik-baik balasan.


Aqilah El-Hafizhah

Kamis, 05 Februari 2015

AKU DAN JILBABKU


Aku bukanlah tipe orang yang amat repot dengan pakaian. Bersih dan rapi, itu sudah cukup. Pakaian yang kupakai sama dengan yang lazimnya dipakai santri di pesantrenku; gamis longgar dan jilbab menutupi dada. Kadang pula memakai baju potongan dan rok. Kalau bepergian maka cukup dengan memakai jilbab segi empat agar terlihat lebih formal, tambahkan kos kaki. Cukup, hanya seperti ini. Aku teramat pede dan nyaman dengan busana seperti ini.

Memasuki dunia kampus/perkuliahan membuatku semakin mengenal banyak hal, juga melihat begitu banyak macam busana yang digunakan para mahasiswa. Aku mulai merasa risih. Merasa teramat beda dengan teman-temanku. Di kelas, aku merasa asing dengan busana yang tiba-tiba terlihat kedodoran di tengah-tengah 'mereka' dengan pakaian ketat dan jilbab transparan. Sebenarnya aku tidak sendiri, ada seorang lagi. Dia bahkan berhijab lebih dariku. Dia seorang akhwat berjilbab besar. Meski kami berdua, itu tak membuatku tiba-tiba pede. Apalagi kami tidak akrab. Kami hanya berdua dari lima puluh lebih teman sekelas.

Seiring berjalannya waktu aku mulai terbiasa dan bisa beradaptasi. Apalagi aku tinggal bersama orang-orang yang berpakaian sama denganku di asrama Tahfizh UMI. Meskipun akhirnya aku harus sendiri dengan busana kedodoran di kelas setelah kami dipecah menjadi dua kelas. Tapi,  semakin lama di kampus semakin membuatku sadar, ternyata ada banyak juga yang berbusana sama denganku, meski tidak sekelas. Aku kini tetap bangga dan merasa nyaman dengan hijabku.

Masih di awal perkuliahan, ada sesuatu yang mulai mengusik batinku. Ada sesuatu yang terasa mulai hilang. Sesuatu yang kini kurindukan. Perasaan tenang dan damai. Perasaan yang belakangan mulai hilang dariku. Mungkin ada yang telah berubah hingga perasaan itu perlahan menguap hingga menyisakan rasa hampa. Mungkin juga karena aku bukan orang yang terbiasa dengan pergaulan bebas antara perempuan dan laki-laki, dan hal itu kini menjadi sebuah keniscayaan. Entahlah.

Maka tak hentinya kuminta dalam setiap untaian do’a agar hati ini selalu tenang dan damai. Do’a yang sama selama beberapa waktu terus kupinta. Berharap hati ini menemukan rasa damai dan tenang itu kembali. Terus berdo’a tanpa henti, bosan dan dengan penuh keyakinan.

Suatu malam, mama menyuruhku mengantarkan makanan ke rumah kakak. Aku sibuk mencari jilbab untuk kugunakan keluar. Akhirnya kupinjam jilbab besar milik kakakku, jilbab yang biasanya hanya ia pakai saat mengikuti pengajian. Persis jilbab-jilbab yang sering digunakan para akhwat di kampus. Dengan jilbab besar aku keluar ditemani adikku. Entah mengapa, tiba-tiba sebuah perasaan hadir dalam diriku. Perasaan yang lama kurindukan itu tiba-tiba memenuhi perasaanku. Aku merasa begitu tenang dan damai dengan jilbab besar ini. Ini adalah pertama kali aku menggunakan jilbab besar, dan sempurna kutemukan perasaan itu kembali. Perasaan damai.

Apakah ini petunjuk? Mungkinkah ini adalah jawaban dari setiap doa-doaku?. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akhirnya menari-nari  dalam pikiranku. Terus terang, menggunakan jilbab besar adalah hal yang berat kulakukan. Jujur, tak pernah sekalipun terbesit dalam hatiku untuk menggunakannya. Kupikir pakaian itu terlalu merepotkan. Aku selalu bilang pada seorang teman bahwa saya tak pernah mau menggunakan jilbab besar. “Yang biasa ajalah…yang penting syar’i” inilah yang selalu kuucapkan setiap melihat akhwat dengan jilbab besarnya. Lalu bagaimanalah sekarang? Aku tak suka, tapi darinya kutemukan  apa yang kucari.

Aku berhadapan pada pilihan yang sulit.

Memilih selalu menjadi hal yang sulit. Pun, yang kualami saat itu. Sebuah dilema panjang. Butuh setahun lebih untuk memutuskannya, membangun keyakinan penuh atas apa yang akan kuputuskan. Banyak pertimbangan dan lebih banyak lagi keraguan. Ini sungguh bukan perkara mudah. Aku kembali teringat perkataan seorang teman di pesantren  “ jika kamu dihadapkan pada pilihan, maka pilihlah yang amat berat diterima hawa nafsumu.”

 Aku sadar, berjilbab besar tentu adalah pilihan yang amat berat diterima hawa nafsuku. Inikah yang harus kupilih? Aku selalu merasa belum siap dengan pilihan ini. Bingung, inilah yang kurasakan. Tapi jika teringat do’aku dan apa yang  kurasakan saat menggunakan jilbab besar, kurasa inilah yang harus kuputuskan. Mungkin jilbab yang lebih tertutuplah yang kubutuhkan di lingkungan bebas seperti ini.

 Sebuah sentakan mulai merobohkan semua argumenku untuk memilih tidak. Buat apa aku meminta dalam setiap doaku selama ini jika pada akhirnya aku tak bisa menerima petunjuk itu?? Yah… seharusnya aku tak perlu bingung, karena ini adalah jawaban dari permintaanku sendiri. Bukankah keraguan itu datangnya dari syaitan?

Selasa, 1 April 2014

Ini adalah hari pertama aku menggunakan jilbab besar. Hari aku memutuskan untuk hijrah dari pakaian sebelumnya. Bukan berarti aku menggunakannya karena sudah yakin seratus persen. Perasaan ragu itu tak pernah hilang, maka kuputuskan melawan keraguan itu dengan menggunakannya tanpa berpikir panjang. Menunggu yakin seratus persen hanya akan membuang waktu. Aku takut, jika keraguan pada akhirnya akan menghentikanku. Aku tak akan kalah.

 Maka inilah keputusanku.  

Apa yang terjadi? Keyakinan itu justru jadi bulat seratus persen saat aku memakai jilbab itu. Keputusanku telah menelan habis semua keraguan itu. Terkikis habis sudah perasaan ragu dan bingungku. Kenapa aku terlalu lama dalam keraguan? Inilah yang kusesali. Ternyata keraguan itu hanya bisa dikalahkan dengan sedikit keyakinan untuk betindak. Sebuah pelajaran berharga lagi buatku.

Beginilah aku saat ini. Dengan busana baruku. Sebuah perubahan yang awalnya tidak semua bisa diterima oleh orang-orang dekatku. Juga mendapat tatapan heran dari teman-teman kelasku. Tapi aku mendapatkan apa yang kucari. Aku semakin yakin dengan pilihanku dan bersyukur dengan pilihan ini. Semooga aku senantiasa istiqamah. Aamiin.


                                                                                                Aqilah El-Hafizhah                              

Selasa, 03 Februari 2015

AKU, FLP, DAN DAKWAH KEPENULISAN

Tulisan ini adalah tulisan yang saya buat sebagai persyaratan untuk ikut dalam kegiatan perekrutan sebagai anggota FLP.

Lewat Tulisan, Aku Berdakwah!
Aku…
Aku seorang gadis dengan banyak angan dan impian. Tumbuh dengan segala impian yang senantiasa kugenggam erat hingga saat ini. Berawal dari hobi membaca, aku bermimpi menjadi seorang penulis. Aku selalu senang setiap membaca, mendapat banyak inspirasi darinya. Dunia membaca selalu  terasa menyenangkan. 

Aku merasa terdidik lewat bacaan. Itulah mengapa aku ingin menjadi seorang penulis, agar bisa berbagi lewat tulisan. Berharap orang lain merasakan apa yang kurasakan saat membaca. Aku ingin menginspirasi banyak orang, dan berharap orang lain juga terdidik melalui bacaan, seperti diriku. Aku ingin semua  ini tercapai lewat coretan pebaku.

“Bacaan menciptakan manusia seutuhnya”. Demikianlah isi ungkapkan Francis Bacon. Aku tertegun sejenak setelah membaca kalimat ini. Begitu besar pengaruh bacaan terhadap seseorang. Berkaca pada diriku, memang demikianlah. Akupun, sedikit-banyaknya terbentuk lewat bacaan-bacaanku. Aku percaya tulisan bisa memberi pengaruh besar terhadap pembacanya. Ini membuatku semakin yakin dengan impianku menjadi seorang penulis.

FLP…
Aku mengenal FLP sejak tahun 2005, saat masih berstatus santri di pesantren. Aku mengenalnya  sebagai sebuah organisasi yang bergerak dalam dunia tulis-menulis. Beberapa kali aku ikut dalam seminar kepenulisan yang diadakan di pesantrenku oleh FLP. Kadang mengundang penulis nasional seperti Mbak Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Izzatul Jannah dan beberapa penulis lokal lainnya. Beberapa senior dan Pembina di pesantren juga merupakan pengurus FLP. Namun, aku tak pernah tahu dan tak pernah mencari tahu tentang apa yang mereka lakukan dalam organisasi ini, karena sifatku yang memang relatif pendiam. Sehingga semua berlalu begitu saja.

Memasuki dunia baru berarti bertemu dengan orang-orang baru. Perguruan tinggi menjadi dunia baruku. Mulailah aku bertemu orang-orang yang mengenalkan FLP lebih dalam. Aku mengenal FLP sebagai sebuah forum yang juga melatih orang-orang yang ingin menjadi penulis. Inilah yang kubutuhkan. Sebenarnya ada banyak forum yang bergerak dalam dunia kepenulisan, lalu mengapa aku lebih memilih FLP? Karena FLP berusaha menghasilkan karya-karya yang bernuansa islami. Bukan hanya sekedar kisah fiktif, tapi juga menghadirkan nilai-nilai islam. Aku banyak membaca karya-karya yang diterbitkan FLP dan semuanya adalah novel islami. Ini cukup bagiku untuk menilai FLP.

Dakwah Kepenulisan…

            Salah satu guruku di pesantren pernah bilang, “di manapun kalian, sebarkan islam dengan cara kalian masing-masing”. Maka aku ingin menyebarkan islam lewat karya-karyaku. Jika temanku yang ingin jadi sutradara bilang, “Lewat film aku berdakwah”, maka akan kukatakan, “Lewat tulisan aku berdakwah!”. Moga bersama FLP semua bisa tercapai. Allahumma ‘aamiin..

            Tulisan ini sudah lama, tapi baru terpikirkan bahwa niat awal aku masuk FLP adalah tujuan dakwah lewat tulisan. Aku mulai berpikir, apa yang telah aku tulis? Sudahkah aku berdakwah lewat tulisan? Atau keberadaan aku dalam FLP sama sekali tidak memberi andil  dalam dakwah? Entahlah…

Aku sangat ingin jika aku benar-benar bisa menjadikan tulisan sebagai sarana dakwah. Tapi aku lebih sering bingung harus menulis apa. Semua karena keterbatasan. Ilmu yang terbatas, juga kemampuan menulis yang masih sangat terbatas.
 Aku sangat senang mendengar ungkapan “semua butuh proses”, mungkin terdengar seperti sekedar alasan untuk berlindung. Tapi inilah kenyataannya. Aku masih dalam proses. Aku masih tidak tahu harus membagi apa pada orang lain. Maka biarlah waktu yang membawaku untuk sampai pada masa di mana aku adalah orang yang pantas untuk berbagi ilmu.

Bersama rasa iri pada mereka yang
telah menghasilkan karya-karya bermanfaat.

Aqilah El-Hafizhah