Kamis, 05 Februari 2015

AKU DAN JILBABKU


Aku bukanlah tipe orang yang amat repot dengan pakaian. Bersih dan rapi, itu sudah cukup. Pakaian yang kupakai sama dengan yang lazimnya dipakai santri di pesantrenku; gamis longgar dan jilbab menutupi dada. Kadang pula memakai baju potongan dan rok. Kalau bepergian maka cukup dengan memakai jilbab segi empat agar terlihat lebih formal, tambahkan kos kaki. Cukup, hanya seperti ini. Aku teramat pede dan nyaman dengan busana seperti ini.

Memasuki dunia kampus/perkuliahan membuatku semakin mengenal banyak hal, juga melihat begitu banyak macam busana yang digunakan para mahasiswa. Aku mulai merasa risih. Merasa teramat beda dengan teman-temanku. Di kelas, aku merasa asing dengan busana yang tiba-tiba terlihat kedodoran di tengah-tengah 'mereka' dengan pakaian ketat dan jilbab transparan. Sebenarnya aku tidak sendiri, ada seorang lagi. Dia bahkan berhijab lebih dariku. Dia seorang akhwat berjilbab besar. Meski kami berdua, itu tak membuatku tiba-tiba pede. Apalagi kami tidak akrab. Kami hanya berdua dari lima puluh lebih teman sekelas.

Seiring berjalannya waktu aku mulai terbiasa dan bisa beradaptasi. Apalagi aku tinggal bersama orang-orang yang berpakaian sama denganku di asrama Tahfizh UMI. Meskipun akhirnya aku harus sendiri dengan busana kedodoran di kelas setelah kami dipecah menjadi dua kelas. Tapi,  semakin lama di kampus semakin membuatku sadar, ternyata ada banyak juga yang berbusana sama denganku, meski tidak sekelas. Aku kini tetap bangga dan merasa nyaman dengan hijabku.

Masih di awal perkuliahan, ada sesuatu yang mulai mengusik batinku. Ada sesuatu yang terasa mulai hilang. Sesuatu yang kini kurindukan. Perasaan tenang dan damai. Perasaan yang belakangan mulai hilang dariku. Mungkin ada yang telah berubah hingga perasaan itu perlahan menguap hingga menyisakan rasa hampa. Mungkin juga karena aku bukan orang yang terbiasa dengan pergaulan bebas antara perempuan dan laki-laki, dan hal itu kini menjadi sebuah keniscayaan. Entahlah.

Maka tak hentinya kuminta dalam setiap untaian do’a agar hati ini selalu tenang dan damai. Do’a yang sama selama beberapa waktu terus kupinta. Berharap hati ini menemukan rasa damai dan tenang itu kembali. Terus berdo’a tanpa henti, bosan dan dengan penuh keyakinan.

Suatu malam, mama menyuruhku mengantarkan makanan ke rumah kakak. Aku sibuk mencari jilbab untuk kugunakan keluar. Akhirnya kupinjam jilbab besar milik kakakku, jilbab yang biasanya hanya ia pakai saat mengikuti pengajian. Persis jilbab-jilbab yang sering digunakan para akhwat di kampus. Dengan jilbab besar aku keluar ditemani adikku. Entah mengapa, tiba-tiba sebuah perasaan hadir dalam diriku. Perasaan yang lama kurindukan itu tiba-tiba memenuhi perasaanku. Aku merasa begitu tenang dan damai dengan jilbab besar ini. Ini adalah pertama kali aku menggunakan jilbab besar, dan sempurna kutemukan perasaan itu kembali. Perasaan damai.

Apakah ini petunjuk? Mungkinkah ini adalah jawaban dari setiap doa-doaku?. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akhirnya menari-nari  dalam pikiranku. Terus terang, menggunakan jilbab besar adalah hal yang berat kulakukan. Jujur, tak pernah sekalipun terbesit dalam hatiku untuk menggunakannya. Kupikir pakaian itu terlalu merepotkan. Aku selalu bilang pada seorang teman bahwa saya tak pernah mau menggunakan jilbab besar. “Yang biasa ajalah…yang penting syar’i” inilah yang selalu kuucapkan setiap melihat akhwat dengan jilbab besarnya. Lalu bagaimanalah sekarang? Aku tak suka, tapi darinya kutemukan  apa yang kucari.

Aku berhadapan pada pilihan yang sulit.

Memilih selalu menjadi hal yang sulit. Pun, yang kualami saat itu. Sebuah dilema panjang. Butuh setahun lebih untuk memutuskannya, membangun keyakinan penuh atas apa yang akan kuputuskan. Banyak pertimbangan dan lebih banyak lagi keraguan. Ini sungguh bukan perkara mudah. Aku kembali teringat perkataan seorang teman di pesantren  “ jika kamu dihadapkan pada pilihan, maka pilihlah yang amat berat diterima hawa nafsumu.”

 Aku sadar, berjilbab besar tentu adalah pilihan yang amat berat diterima hawa nafsuku. Inikah yang harus kupilih? Aku selalu merasa belum siap dengan pilihan ini. Bingung, inilah yang kurasakan. Tapi jika teringat do’aku dan apa yang  kurasakan saat menggunakan jilbab besar, kurasa inilah yang harus kuputuskan. Mungkin jilbab yang lebih tertutuplah yang kubutuhkan di lingkungan bebas seperti ini.

 Sebuah sentakan mulai merobohkan semua argumenku untuk memilih tidak. Buat apa aku meminta dalam setiap doaku selama ini jika pada akhirnya aku tak bisa menerima petunjuk itu?? Yah… seharusnya aku tak perlu bingung, karena ini adalah jawaban dari permintaanku sendiri. Bukankah keraguan itu datangnya dari syaitan?

Selasa, 1 April 2014

Ini adalah hari pertama aku menggunakan jilbab besar. Hari aku memutuskan untuk hijrah dari pakaian sebelumnya. Bukan berarti aku menggunakannya karena sudah yakin seratus persen. Perasaan ragu itu tak pernah hilang, maka kuputuskan melawan keraguan itu dengan menggunakannya tanpa berpikir panjang. Menunggu yakin seratus persen hanya akan membuang waktu. Aku takut, jika keraguan pada akhirnya akan menghentikanku. Aku tak akan kalah.

 Maka inilah keputusanku.  

Apa yang terjadi? Keyakinan itu justru jadi bulat seratus persen saat aku memakai jilbab itu. Keputusanku telah menelan habis semua keraguan itu. Terkikis habis sudah perasaan ragu dan bingungku. Kenapa aku terlalu lama dalam keraguan? Inilah yang kusesali. Ternyata keraguan itu hanya bisa dikalahkan dengan sedikit keyakinan untuk betindak. Sebuah pelajaran berharga lagi buatku.

Beginilah aku saat ini. Dengan busana baruku. Sebuah perubahan yang awalnya tidak semua bisa diterima oleh orang-orang dekatku. Juga mendapat tatapan heran dari teman-teman kelasku. Tapi aku mendapatkan apa yang kucari. Aku semakin yakin dengan pilihanku dan bersyukur dengan pilihan ini. Semooga aku senantiasa istiqamah. Aamiin.


                                                                                                Aqilah El-Hafizhah                              

Tidak ada komentar: