Jumat, 29 April 2016

Ujian Tutup Dengan Berbagai Rasa

Jum'at, 29 April 2016

Kuawali hari ini dengan perasaan tegang dan nervous. Bagaimana tidak, hari ini merupakan tahap terakhir dari proses perkuliahanku, ujian skripsi. Semalam tidurku kurang dari dua jam, bukan karena sibuk belajar, aku justru sibuk membaca dan menyelesaikan satu tulisan sebagai kewajibanku selaku anggota ODOP.


Aku tidak memandang enteng ujian sehingga tidak belajar, sungguh tidak demikian! Aku hanya merasa telah belajar saat melakukan penelitian dan menyusun skripsi. Bukankah yang akan ditanyakan pastinya hanya seputar penelitian dan hasilnya? Saat membuat skripsi, itu adalah proses belajar yang panjang. Entah harus berapa kali membaca ulang apa yang telah ditulis untuk memastikan tak ada lagi yang salah. Melalui proses itu, insyaAllah sudah paham isi skripsi. Yang mau disiapkan selanjutnya adalah mental. Selebihnya cukup berdo’a dan serahkan hasilnya pada-Nya.

Perjalanan ke kampus bersama Mutma-teman seperjuanganku sejak semester awal, kami isi dengan menebak kira-kira pertanyaan apa yang akan muncul nanti. Sibuk membuat prediksi pertanyaan dan alternative jawabannya. Tapi itu sangat singkat. Tak terasa kami sudah memasuki gedung fakultas SASTRA.

Fakultas sudah nampak ramai seperti biasa. Yang paling mencolok adalah ‘kami’ yang akan ujian dengan seragam hitam-putih lengkap dengan jas berwarna hitam. Beberapa teman tengah asyik bercanda dan tertawa lepas. ‘seolah tak ada beban’ pikirku. Berbeda denganku dan Mutma, dari tadi kami merasa was-was, menkhawatirkan banyak hal. Dua-tiga orang terlihat sibuk membaca-baca kembali skripsi yang sudah di print.  Aku bergabung dengan Aya dan Wati, juga beberapa teman yang lain. Sambil menunggu ujian mulai, ada baiknya membaca kembali skripsiku.

Setelah para penguji sudah hadir dan memasuki ruangan, ujian pun dimulai. Sambil mununggu giliran, tetap kusempatkan membaca kembali kopian skripsiku. Perasaanku semakin tak menentu. Aku mulai deg-degan karena nervous. Kuhentikan bacaanku karena terasa mulai tak focus lagi. Lebih baik jika memperbanyak dzikir saat seperti ini, mengikuti nasehat Mama yang tak hentinya mengingatkanku memperbanyak dzikir, memperkuat do’a, dan harus selalu yakin.

Tiba giliranku. Perasaan yang tadinya penuh kekhawatiran dan sangat tegang tiba-tiba berubah saat dosen penguji memberikan komentar positif. Perasaanku menjadi tenang dan mulai menguasai medan. Semua berjalan lancar hingga selesai.

Ada perasaan lega tak terkira saat semuanya berakhir. Beban berat berton-ton yang selama ini menggangguku seolah baru saja dilepas. Teman-temanku asyik berpoto ria mengabadikan moment hari ini. Aku menolak bergabung, memilih menyepi bersama teman-teman terdekatku (Mutma. Aya’, dan Wati).

Entah mengapa ada perasaan lain yang menyusup di antara rasa bahagia dan kelegaanku hari ini. Cepat sekali perasaan baru ini mengubah suasana hatiku. Aku melangkah pelan dengan ekspresi yang aku pun tak tahu bagaimana. Aneh sekali rasanya, tak tahu kenapa aku merasa aneh dengan diriku. Aku merasa aneh dengan beban yang beberapa jam lalu sangat membuatku resah tiba-tiba menghilang.

Bukan hanya aku yang merasa demikian, Mutma juga merasakan hal yang sama. Itulah sebabnya dari tadi kami berjalan berdampingan tanpa sepatah kata. Tak seperti biasanya. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Bahkan teriknya matahari siang ini tak terasa menyengat sehingga kami berjalan santai sekali di bawah terik mentari yang biasanya selalu membuat kami melangkan terburu-buru. Kami baru sadar panasnya matahari sesaat sebelum sampai di kos/asrama.

Aku merasa sedih saat sadar bahwa tak lama lagi akan meniggalkan masa-masa perkuliahan, teman-teman, dan segala hal yang telah akrab denganku selama tiga tahun setengah ini. Setiap moment yang telah terlewati tiba-tiba menjadi sangat berharga, meski dulu itu terihat sederhana. Ah.. aku akan rindu semua ini. Rasanya mulai berat jika harus meninggalkan kampus. Padahal dulu, ini adalah moment yang sangat kami nantikan. Tiga tahun lebih terasa sangat singkat hai ini.

Bukan hanya rasa sedih yang menyusup, aku mulai merasa menyesal untuk beberapa hal. Aku menyesal karena banyak waktu yang kulewati tanpa belajar. Mengapa dulu aku tak lebih giat lagi belajar? Ah, penyesalan memang selalu hadir belakangan, saat kesempatan itu telah berganti dengan kesempatan lainnya.

Tapi, aku sangat bersyukur atas semua ini. Aku bersyukur telah melewati proses yang tidak mudah. Bersyukur untuk semua kesulitan, tantangan, dan rasa lelah yang dengan itu semua aku bisa mengenang banyak hal. Menyisakan cerita yang mungkin bisa menginspirasi orang lain. Jika proses yang kulewati selalu mudah dan lancar, pelajaran apa yang bisa kuambil? Dan tentu kenangannya tidak akan begitu membekas. Berbeda jika kita melewati berbagai tantangan dan lika-liku yang lumayan rumit untuk bisa meraih ‘sesuatu’, itu akan jauh lebih membekas.

Inilah sekelumit perasaan yang hadir di saat tantangan terakhir berhasil kutaklukkan. Berbagai rasa yang datang di waktu yang sama. Membuat segalanya terasa aneh. Biarlah tulisan malam ini mengabadiakn perasaan nano-nanoku hari ini.

Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost


Siapakah sosok GURU itu?

 Jika anda ditanya dan diminta mendeskripsikan sosok seperti apa seorang guru itu, apa yang akan anda katakan?
Aku yakin, tak seorangpun yang akan memberi komentar dan penggambaran negative tentang guru.  Karena secara umum, yang kita tahu bahwa guru itu adalah seorang patriot, pahlawan bangsa. Sosok yang patut digugu dan ditiru, yang membagikan ilmunya untuk menerangi kehidupan para pencinta ilmu. Mereka adalah orang-orang yang berjuang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan masih banyak lagi pujian, apresiasi, dan label yang baik untuk menggambarkan seorang guru.

Yah, seperti inilah posisi dan penggambaran seorang guru seharusnya. Meski pada kenyataannya, saat seorang anak atau peserta didik ditanya tentang guru-guru di sekolahnya, jawaban mereka kebanyakan berbeda dari penggambaran umum yang mereka ketahui. Semua kembali seperti apa guru itu bersikap. Apakah ia benar-benar bertindak layaknya seorang ‘guru’, ataukah ia bersikap sesuka hatinya tanpa memperdulikan hal-hal yang seharusnya dilakukan.

Terlepas dari semua itu, kembali pada deskripsi seorang guru. Yang kutahu tentang guru sangat standar, bahwa guru adalah dia yang mengajar di kelas. Itu saja. Tapi jika diminta memberikan deskripsi tentang guru tentu akan kujawab lebih panjang, dengan memberi tambahan-tambahan pujian dan sebagainya. Sesederhana itulah sosok guru dari sudut pandangku.

Suatu waktu, saat itu aku sudah lulus Aliyah (sederajat SMA), melewati masa pengabdian di pondok pesantren. Sebagia pembina, kami diikutkan dalam sebuah training untuk para guru; ‘Quantum Teaching Training’ selama tiga hari. Di sinilah kutemukan deskripsi luar biasa tentang sosok guru. Saat sang trainer menggambarkan sosok guru, aku terhanyut sampai meneteskan air mata karena terharu. Betapa luar biasanya sosok guru itu.

Kata beliau, “Guru itu adalah Dia yang bersungguh-sungguh mengantarkan anak didiknya ke gerbang kesuksesan. Segala upaya akan ia lakukan untuk memberikan yang terbaik pada siswanya, semua dilakukan agar anaknya mampu meraih sukses. Jika diibaratkan kesuksesan itu adalah buah apel pada pohon yang berada di seberang sungai, maka seorang guru akan berusaha menjadi jembatan bagi siswanya. Jika tak bisa, dia akan berusaha mengarahkan pada si anak agar bisa menyeberangi sungai dan sampai pada pohon apel. “Di sanalah sukses itu,Nak! Kesanalah, lewati jembatan ini dan ambillah apel itu!”  segala upaya ia lakukan.

“Jika si anak berhasil sampai di bawah pohon dan tangannya tak sampai untuk memetik buah apel, maka sang guru akan menyodorkan kursi, “Naikilah kursi ini, Nak! Dan petiklah apel itu! Kau harus bisa.”  Saat sang anak masih tak mampu memetik buah apel itu lantaran tingginya. Maka sang guru akan menyodorkan dirinya seraya berkata, “Nak, injak kepala Ibu! Injak kepala Ibu, naiklah.. kamu harus memetik buah apel itu.”

Kurang lebih seperti itulah yang disampaikan. Sulit menuliskannya secara persis. Sang trainer membawakannya penuh penghayatan dengan intonasi suara yang disesuaikan, juga ekspresi yang mampu menyihir kami. Matanya berkaca-kaca saat menyampaikan bagian terakhirnya. Mataku ikut berkaca-kaca, begitu juga peserta lainnya.

Hari itu, kutemukan makna baru seorang guru. Aku jadi paham seperti apa guru yang sebenarnya, dan bagaimana sikap mereka seharusnya.  Begitu hebat dan luar biasanya mereka. Meski pada faktanya sangat sulit menemukan sosok yang seperti ini. Inilah tujuan training ini, bagaimana menciptakan guru-guru luar biasa, guru yang diidolakan, dicintai, dan dirindukan oleh murid-muridnya.

Inilah deskripsi seorang guru yang selalu kuingat. Menjadi motivasi untukku bisa menjadi guru seperti itu. Sungguh, kesuksesan peserta didik itu tak lepas dari peran para guru.

Aqilah El-Hafizhah

#OneDayOnePost

Kamis, 28 April 2016

Kata-Kata Penyemangat

Malam ini, selepas shalat isya mataku tertuju pada dinding kamar yang ramai dengan tempelan kertas warna-warni berbentuk lingkaran. Kertas berisi kata-kata singkat sebagai penyemangat. Entah sejak kapan kertas-kertas ini menghiasi tembok kamarku. Sudah cukup lama, warnanya pun sudah mulai memudar. Telah menjadi salah satu kebiasaanku membuat kata-kata penyemangat lalu menempelkannya di tempat-tempat yang mudah terlihat. Tujuannya jelas, untuk menjaga semangat dan mengingatkanku pada hal-hal yang sering kali terbaikan.

Tembok Kamarku
Kata-kata ini mungkin tak seindah milik para sastrawan sebangsa Khalil Gibran yang mampu memoles kata hingga indah dibaca dan memukau para pembacanya. Juga tidak sehebat kata-kata para motivator hebat selevel Mario Teguh yang mampu menyihir orang banyak dengan motivasi-motivasi hebatnya. Pun tak sebijak nasehat-nasehat Tere Liye dalam setiap novelnya yang selalu berhasil membuatku mengangguk setuju dan kagum padanya. Apalagi jika ingin disandingkan dengan kumpulan perkataan Maha Dahsyat yang mampu membuat air mata bercucuran saat membacanya, bahkan bisa menjadikan gunung bergetar karena takut.

Sungguh, kata-kata ini terlalu sederhana jika dibandingkan dengan perkataan orang-orang hebat ini. Kata-kata yang kutulis apa adanya dengan susunan kata yang tak sesuai tata bahasa, benar-benar sesuka hatiku. Tujuannya jelas, agar kapanpun aku merasa jatuh, lemah, dan ingin menyerah, mereka mampu memberi ‘sedikit’ kekuatan. Yah… sedikit kekuatan! Aku sadar bahwa ada kondisi ketika kalimat motivasi sehebat apapun tak mampu menjadi secercah cahaya. Itulah saat satu-satunya solusi adalah kembali kepada-Nya.

Namun, sesederhana apapun kata-kata ini, mereka sangat berarti untukku. Berapa lama berhasil menemaniku melewati banyak hal. Terutama saat tugas kuliah hampir membuatku menyerah, mereka mampu membuatku kembali tersenyum dan berprasangka baik pada-Nya. Perlahan membangkitkan semangatku yang sedikit memudar.

Huh.. tak lama lagi aku akan meninggalkan kamar ini. Setelah kuliahku selesai, tentu tak lagi di sini. inilah yang membuatku lama menatap tempelan-tempelan ini. Ada perasaan yang tak mampu kugambarkan saat menatapnya lamat-lamat. Apakah kertas ini akan memberi efek yang sama kepada penghuni barunya kelak atau tidak, inilah yang kupikirkan. Entahlah! Tapi aku berharap, kertas-kertas ini kelak bisa memberi pengaruh pada mereka yang akan menempati kamar ini. Agar ia menjadi kertas yang menebar manfaat, J


Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost


Rabu, 27 April 2016

Dikenal Oleh Penduduk Langit


“Jadilah kalian yang dikenali para penghuni langit namun kalian tidak dikenal para penghuni bumi.” (Abdullah bin Mas’ud RA)

Merenungkan ungkapan ini melahirkan sebuah tanya, “Mampukah kita seperti ini? Menjadi makhluk yang tak dikenal oleh penghuni bumi namun terkenal di kalangan penghuni langit?

Sementara menjadi orang terkenal merupakan ambisi banyak orang. Bahkan, tak sedikit yang menghalalkan segala cara untuk mencapai yang diimpikannya, menjadi terkenal. Menjadi orang hebat yang dikenal di segala penjuru, dihormati dan banggakan. Menepati posisi mulia di tengah masyarakat. Seolah semua itu adalah ambisi yang harus didapatkan. Tak lagi peduli jika ada hak orang lain yang terabaikan. Semua demi ambisi yang membutakan.

Ambisi untuk dikenal banyak orang seringkali membuat lupa bahwa hidup ini bukan hanya tentang seberapa terkenal dan mulia kita di mata semua orang. Karena sungguh, ada hal yang lebih penting dari semua itu. Bagaimana kita di hadapan Sang Pencipta?

Saat menjadi terkenal sudah menjadi sebuah obsesi, segalanya akan dilakukan untuk mendapatkannya. Orang –orang akan berlomba demi kepopuleran. Saling menyerang untuk menyingkirkan satu sama lain. Segala kebaikan yang dilakukan harus diumumkan ke khalayak. Mereka tak sadar bahwa mereka telah membayar mahal popularitas yang sesungguhnya semakin menggiring ke jurang kegelapan. Lupa, bagaimana posisinya di hadapan Rabbnya.

Jika banyak orang hidup dengan obsesi seperti ini, maka tahukah kita? ada segelintir orang yang justeru berjuang untuk tidak dikenal oleh siapapun. Begitu hati-hati dalam beramal, takut sekali jika keikhlasannya berbuat baik ternoda. Mereka adalah orang-orang yang mungkin tak dikenal oleh penduduk bumi, namanya tak pernah disebut-sebut di bumi. Tapi sungguh ia terkenal di seluruh penduduk bumi. Ketika ia bedo’a, maka bergetarlah langit hingga langit ketujuh.

Termasuk golongan manakah kita?


Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost


Senin, 25 April 2016

Menulis Essay


Tantangan pekan ini kami harus menulis satu kali duduk dan tanpa editan. Artinya kami harus menulis saja tanpa memvaca ulang apa yang sudah kami tulis. Menulislah seacar mengalir. Jika harus begini, maka hal yang paling mudah untuk kutuangkan adalah apa yang sudah kualami. Dengan begitu tulisan bisa mengalir apa adanya.

Kemarin malam, aku, Lela, dan Kak Isti terlibat sebuah diskusi. Semua berawal saat aku bertanya pada Kak Isti bagaimana cara menulis essay. Kak Isti –yang punya banyak prestasi dalam lomba menulis essay tentu tahu banyak bagaimana cara menulis essay. Itulah mengapa aku bertanya padanya. Kebetulan aku dan Lela lagi semangat mai belajar menulis essay, itu dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan yang sering diminta saat berniat mencari beasiswa.

Menurut Kak Isti, tak ada cara terbaik belajar menulis kecuali dengan menulis. “Sebenarnya aku tak tahu harus menjawab apa saat ada yang Tanya bagaimana cara menulis. Jujur, aku pun merasa tak tahu, apa essay itu sebenarnya. Saat memulai belajar menulis essay, aku hanya banyak membaca literatr-literatur yang berhubungan dengan tema apa yang ingin aku tulis dan membaca karya orang lain. Lalu mulai menulis. Jadi, kalau kamu bertanya bagaimana cara menulis essay, maka menulislah dahulu. Setelah menulis, akan kutnjukkan letak-letak salah ataupun apa saja yang harus diperbaiki.” Begitulah kira-kira jawaban pertama beliau saat kutanya cara membuat tulisan dengan genre essay.

Beliau mengibaratkan berlatih menulis itu dengan berlatih berenang. Kita tak akan pernah bisa berenang jika hanya tinggal duduk dan mendengarkan reori-teori cara berenang. Cara termudah belajar berenang dengan berenang. Begitupun dengan menulis, menulislah dahulu. Dengan begitu, akan lebih mudah untuk berlatih.

Akhirnya beliau hanya menyampaikan uraian secara umum tentang apa dan bagaimana essay itu dan memintaku dan Lela untuk banyak membaca dan mulai untuk menulis. Jika sudah ada tulisan yang jadi, kalau memang ingin dibimbing, dia akan baca dan member kritikan dan arahan berdasarkan tulisan yang sudah ada.

Yah.. begitulah kesimpulan akhir diskusi kami tentang menulis essay. Kami harus memulai menulis jika memang ingin belajar. Selanjutnya kami asyik mengobrol tentang fakta-fakta yang banyak terjadi berkenaan dengan pendidikan di Inonesia hingga persoalan-persoalan yang banyak terjadi dalam ruang kelas, tema ini diangkat tentu karena pembahasan ini akrab dengan ‘kami’ (aku dan Lela) yang mengambil jurusan pendidikan. Kak Isti sendiri lulusan jurusan hukum tapi punya pengalaman setahun menjadi guru bahasa Inggris. Akhirnya perbincangan panjang terjadi.

Kurasa cukup. Ini sedikit tentang diskusi kami kemarin malam yang coba kutuliskan kembali.

Aqilah El-Hafizhah

#OneDaynePost

Minggu, 24 April 2016

Cermin Ilusi


“ Senyumlah, Nak. Seberat apapun yang kamu hadapi, semua pasti akan berlalu. Meski Ibu tidak lagi bersamamu, Ibu ingin kamu  selalu bahagia. Kamu harus kuat!”

Suara itu lenyap seiring lenyapnya wajah lembut pada cermin bulat yang kupegang. Kurebahkan badan, menatap langit-langit kamar. Senyum tipis mulai menghias wajah senduku. Mengusap kristal bening yang tiba-tiba menetes mengiring senyumku. Kupejamkan mata, mencari kekuatan. Aku harus kuat, karena kau selalu ada untukku Ibu, teriak hatiku. Perlahan kubuka kembali mataku. Beban itu sungguh telah menguap entah kemana. Menyisakan aku  dengan senyum keyakinan. “Terima kasih, Ibu” ucapku lirih.

***

Aku tersenyum menatap cermin bulat di tanganku. Nasehat ibu selalu membuatku tenang dan nyaman. Selalu tepat dan sesuai sasaran.

“ Ika! Please deh, sampai kapan sih kamu terus begini? Berlagak bodoh di depan benda mati. Senyum sendiri bahkan tertawa sendiri.”

Aku terkejut. Menoleh, Nia dan Syifa berdiri di sampingku dengan ekspresi sebal.

“Betul. Ini masih pagi loh, entar kamu kesambet jin baru tahu rasa” Syifa ikut berkomentar.

Entah sudah berapa kali mereka menegur kebiasaanku bersama cermin bulat ini. Mereka tak pernah mengerti dengan duniaku karena aku tak pernah memberi tahu mereka tentang cermin ajaibku.

“Aku tidak bertingkah bodoh, ada banyak hal yang tidak akan pernah kalian pahami” Jawabku singkat dengan senyum misterius.

“Huh…terserah. Yang pasti sekarang ini kamu simpan cermin tak jelas itu dan dengarkan curahan hatiku, oke?” Nia berkata enteng dengan senyum manis, sama sekali tidak penasaran dengan ucapanku.

Sedetik kemudian cerita Nia mengalir bak sungai. Dia selalu semangat setiap kali bercerita pada kami. Penuh ekspresi, tak peduli itu cerita bahagia ataupun menyakitkan. Dia pribadi yang selalu ceria.

Ceritanya belum finish saat bel pertanda kelas akan dimulai membuatnya harus mendengus kesal. Tapi air mukanya segera kembali ceria mengingat masih ada jam istirahat untuk melanjutkan ceritanya. Aku hanya tersenyum simpul mengiyakan.

***

Syifa semakin semangat mendengar lanjutan cerita Nia tentang orang yang sedang dikaguminya. Bagi Nia, hal kecil apapun jika menyangkut orang yang ia kagumi, maka itu selalu istimewa. Aku hanya diam, berusaha memjadi pendengar yang baik. Aku tahu inilah yang harus kulakukan sebagai teman terdekat mereka.

Nia sampai pada akhir cerita. Dan seperti biasa, aku harus memberikan pendapat, saran, atau komentar apapun tentang ceritanya. Bagi mereka, aku adalah tempat curhat terbaik. Aku selalu memberi solusi dan saran yang memuaskan sesuai yang mereka butuhkan. Setiap komentarku adalah yang terbaik. Karena itulah, aku harus selalu siap setiap mereka ingin bercerita.

Aku melirik pergelangan tangan, sembilan menit lagi waktu istirahat berakhir. Minumanku juga sudah hampir habis. Syifa masih asyik bercerita, meski air mukanya tak seceria Nia. Bagaimanalah ia bisa ceria jika ceritanya kali ini bertema ‘galau’. Aku memasang wajah prihatin sambil otakku berputar memikirkan solusi terbaik di akhir cerita.

****

“Prak…!”

Aku tersentak. Mataku mulai berkaca-kaca menahan tangis, menatap pecahan cermin bulatku berserakan di lantai. Ada rasa sakit dan sesak memenuhi rongga dadaku mengingat dua sahabatku dengan sengaja menjatuhkannya.

“Ika… jangan nangis dong… lagian inikan hanya cermin, kami bisa menggantinya dengan yang lebih bagus. Itu juga akan lebih baik untuk menghilangkan kebiasaan anehmu.” Syifa berucap sedikit terbata karena cemas, tidak menyangka responku akan seperti ini. Dia tidak tahu berapa penting dan berharga cermin itu bagiku.

“Mungkin bagi kalian cermin ini bukan apa-apa, tapi hanya dengan cermin ini aku bisa berkomunikasi dengan ibuku. Dengan cermin ini aku bisa melihat dan mendengar setiap nasehat darinya.” Pipiku menghangat oleh kristal bening yang dari tadi kutahan agar tak keluar. Pertahananku jebol.

What?? Berkomunikasi dengan ibumu lewat cermin? It’s impossible, Ika. Mana bisa kita bercakap dengan orang yang sudah meninggal? Dengar,  itu hanya ilusi. Aku memang tidak sepintar kamu, tapi kamu harus sadar kalau ibumu sudah meninggal dan tak mungkin bisa berhubungan apapun lagi denganmu. Itu hanyalah khayalan, Ika. Please, sadarlah. Emang berat menerima kenyataan, tapi kamu harus bisa.”

Nia berkomentar panjang lebar. Suaranya menggema memenuhi setiap sedut kamar Syifa. Dia sama sekali tak percaya dengan ucapanku. Kalimatnya semakin melukaiku meski juga mulai mengganggu pikiranku. Mungkinkah ini hanya ilusi?

“Iya, aku memang bodoh dan aneh. Tapi itu satu-satunya barang yang menghibur, menyemangati, dan setia mendengar setiap ceritaku. Mungkin kalian tak pernah sadar, kalau aku juga manusia sama seperti kalian yang butuh tempat untuk cerita. Tapi kesempatan itu tak pernah ada untukku, aku ada hanya untuk mendengar cerita kalian. Aku diam dan terima semua ini, karena cermin itu selalu ada untukku. Tapi hari ini, satu-satunya barang berhargaku juga sudah hancur, dan itu karena kalian!”

Aku berlari meninggalkan kamar Syifa. Tak lagi peduli dengan tugas yang belum selesai. Aku sudah menumpahkan segalanya. Biarlah, mungkin inilah saatnya mereka mendengarku meski ini tentu sangat mengejutkan buat mereka. Ada kepuasan yang kurasakan. Tapi sebuah pertanyaan baru menggangguku. Apakah cerminku sungguh hanya ilusi?


Aqilah El-Hafizhah

#OneDayOnePost

World Book Day


Hari ini, 23 April 2016 merupakan peringatan hari buku sedunia. Di sosmed, ramai orang-orang menulis satu dua kalimat sebagai bentuk apresiasi mereka terhadap hari buku. Mungkin kalimat itu tulus untuk mewakili wujud cinta dan pedulinya terhadap budaya membaca. Namun, mungkin juga ada segelintir mereka hanya sekadar ikut-ikutan tanpa tahu-menahu makna dari peringatan hari ini.

Peringatan hari buku tentu bukan hanya sekadar peringatan tanpa makna. Ada hal yang melatar belakangi peringatan ini. Salah satu alasan peringatan hari buku yaitu utntuk menyadarkan kita betapa penting dan bernilainya sebuah buku.

Seringkali kita mendengar istilah ‘buku adalah gudang ilmu’, tentu kita sangat paham makna ungkapan ini. Buku punya kekuatan ajaib yang membuat keberadaannya tak boleh dipandang sepeleh. Bagaimana tidak, melalui buku kita tak perlu hadir dalam kejadian masa lalu untuk mengetaui sejarah, cukup membaca sejarahnya lewat buku. Dengan kata lain, buku mampu menjaga keabadian sejarah.

Selain menghidupkan sejarah, buku mampu mengantarkan pembacanya pada tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi. Berbagai Negara di belahan dunia dengan segala pesonanya bisa kita ketahui melalui buku karena buku adalah cara lain melihat dunia. Darinya juga kita bisa tahu banyak hal secara detail tentang apapun. Melalui buku, pengetahuan mampu diwariskan pada generasi selanjutnya. Inilah peranan penting sebuah buku.

Jika buku adalah salah satu kunci pengetahuan, maka melalui bukulah sebuah bangsa bisa bangkit, hidup dan bejaya. Berkacalah pada Negara-negara maju, mereka adalah negeri yang akrab dengan buku, masyarakatnya terwarnai dengan buaya baca. Maka tak heran mereka bisa jaya. Lalu, bagaimana dengan negeri kita tercinta?

Jika hari ini menjadi peringatan hari buku, maka pahamilah bahwa kehadirannya teramat penting, bukan hanya sekadar sebuah peringatan. Tujuan utama peringatan hari ini tentu untuk menghidupkan pentingnya budaya membaca. Semoga hari ini bisa memberi banyak kesadaran pada generasi masa depan negeri ini sadar dan peka akan pentingnya kehadiran sebuah buku.


Kupilih buku ‘Inspirasi Paman Sam’ sebagai bahan bacaanku hari ini sebagai wujud apresiasiku untuk hari buku sedunia. Bagaimana dengan Anda?

“There are great books in the world. And great worlds in books”

*Ini sedikit tentang buku, tapi ulasan tentang buku melahirkan pertanyaan baru dan tak kalah urgent, bagaimana minat baca kita? ini tentu sangat penting, karena apalah arti buku tanpa dibaca?
Think!

Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost


Jumat, 22 April 2016

Orangtua VS Anak


Ayyad, ponakanku yang sudah berusia delapan tahun melangkah pelan memasuki rumah. Mengndap-endap bagai pencuri yang takut tertangkap tuan rumah. Matanya awas memperhatikan sekitar, melangkah takut-takut. Baju yang dikenakan kotor oleh lumpur. Saya tersenyum melihat tingkahnya, kutahu ia berusaha menghindar dari umminya.

Sayang sekali, si ‘ummi’ tepat berada di dapan kamar mandi yang dituju. Membuatnya gagal menyembunyikan jejak bermain lumpur. Insiden dua hari lalu kembali terulang. Sederet nasehat dan peringatan kembali menggema. Menjadi penutup hari sebelum senja tiba.

Saya tersenyum, teringat masa kanak-kanakku. Ada banyak hal yang kusukai tapi tak bisa kulakukan sesuka hati. Saya rindu masa itu, saat pemikiran kita masih polos. Tak dibebani banyak permasalahan yang bikin mumet. Saat segalanya terlihat sangat sederhana.

Ada banyak sekali moment menyenangkan bagi anak-anak yang tak bisa dipahami orang dewasa. Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Sepanjang itu menyenangkan, maka semmuanya akan dilakukan. Tanpa mempertimbangkan banyak hal yang selalu dikhawatirkan oleh orang dewasa. Misal, bagi seorang Ibu bermain lumpur itu kotor, maka ia selalu melarang anaknya bermain lumpur. Sementara bagi si anak, bermain lumpur itu menyenangkan dan ia tidak peduli jika bajunya akan kotor.

Contoh lain, bermain hujan. Hampir semua anak senang bermain hujan. Berlarian kesana-kemari menantang hujan, tertawa, bergembira, dan bermain apa saja di tengah hujan bersama teman-teman, semua ini menyenangkan. Mereka tak khawatir akan sakit. Berbeda dengan Ibu yang selalu khawatir anaknya akan sakit karena hujan-hujanan. Beginilah perbedaan cara pandang anak-anak dan orangtua. Perbedaan yang akhirnya berbuah marah dari orangtua, dan sang anak harus menerima resiko.

Dalam kasus ini, apakah anak salah? Pantaskah ia disalahkan karena perbuatannya yang tak sesuai keinginan orangtua?

Bagi saya pribadi, orangtualah yang seharusnya berusaha memahami anak-anaknya. Tentu lebih mudah bagi seorang Ibu memahami dunia anak-anak karena mereka pernah berada pada fase itu. Sementara anak-anak, bagaimana bisa ia memahami pemikiran orang dewasa dengan otaknya yang juga masih kanak-kanak? Mustahil bagi anak-anak memahami orang dewasa. Maka tak pantas ia disalahkan.

Saya teringat sebuah buku yang harusnya tiap orangtua wajib membaca buku ini, “Orangtuanya Manusia” karya Munif Chatib. Buku ini mengajarkan bagaimana seharusnya orangtua itu bersikap pada anak-anaknya. Penulis mengatakan bahwa tiap anak itu adalah bintang.

Yah, setiap anak adalah bintang, maka akan tiba saatnya ia bersinar. Disinilah peran orangtua dalam pendidikan sang anak. Utamanya pendidikan dalam lingkup keluarga. Bagaimana orangtua berusaha menanamkan karakter yang baik pada anaknya dengan memberikan keteladanan.

Jadi, bagaimanapun sikap seorang anak, pahamilah ia. Tidak semua permasalahan  harus diselesaikan dengan emosi. Pikirkan cara terbaik untuk membuatnya memahami hakikat baik dan buruk tanpa mengabaikan kesenangannya. Bimbing ia hingga bisa bersinar bagai bintang. Berjuanglah, karena kesuksesan orangtua mendidik ananya adalah kunci untuk kesuksesan anak di hari esok.

Aqilah El-Hafizhah

#OneDayOnePost

Metode Tamyiz


Mampu membaca Al-Qur’an dengan memahami maknanya adalah harapan banyak orang. Bagaimana tidak, melantunkan lafazh-lafazh Allah dan paham apa yang sedang dibaca tentu akan meningkatkan kekhusyu’an dalam mengaji. Namun, untuk memahami makna dari bacaan Al-Qur’an, maka itu tak lepas dari bahasa arab. Harus bisa bahasa arab untuk memahaminya.

Bahasa arab adalah bahasa yang cukup susah dipelajari. Dibandingkan bahasa inggris, bahasa arab lebih sulit karena banyaknya aspek yang harus dipahami dan dipelajari, salah baris dan huruf saja akan membuat maknanya berbeda. Maka dibutuhkan sebuah metode yang bisa memudahkan  mempelajari bahasa arab.

Metode Tamyiz adalah sebuah metode yang dikembangkan untuk memudahkan mempelajari makna Al-Qur’an. Dua hal penting dalam pembelajaran bahasa arab; ilmu nahwu dan shoraf, ini dikemas sebaik mungkin dalam pembelajaran menggunakan metode Tamyiz agar pembelajaran terasa mudah.
Metode Tamyiz merupakan metode pembelajaran bahasa arab yang ‘have fun’ sehingga belajar bahasa arab terasa menyenangkan dan tidak sulit. Sangat tepat karena sasarannya adalah anak-anak dan yang pernah jadi anak-anak. Prinsipnya, jika anak kecil saja BISA, Yang pernah kecil PASTI BISA.

Ini sedikit yang kutahu tentang metode Tamyiz setelah dua kali ikut kelas belajarnya.

Aqilah El-Hafizhah

#OneDayOnePost

Senin, 18 April 2016

Jangan Marah!


Bismillahirrohmanirrohiim…
  
Seorang sahabat menemui Rasulullah untuk meminta nasihat.
“Yaa.. Rusulullah, nasehatilah aku!.”
Laa taghdob (janganlah marah!),” jawab Rasululloh.
“ Kemudian apa lagi, ya Rasululloh?”

Rosululloh kemudian menjawab dengan jawaban yang sama. Sahabat kembali mengulang pertanyaan yang sama untuk ketiga kali, dan dijawab dengan jawaban yang sama oleh Rosululloh dengan sedikit penambahan, “Laa taghdob, wa lakal jannah” (jangan marah, maka bagimu surga).

Subhanalloh… sebuah kisah dengan nasehat yang luar biasa. Pertanyaan sederhana, dengan jawaban sederhana, tapi punya makna yang luar biasa.

MARAH. Ada apa dengan marah?

Mengapa Rasululloh mengulang nasehat untuk tidak marah sampai tiga kali?

Berulangnya nasehat ini menyiratkan makna, bahwa ada ‘sesuatu’ dengan marah. Ada hal yang sangat urgent dari nasehat ini.

Marah adalah api. Bagaimana sifat api? Membakar! Api akan membakar apa saja yang ada di sekitarnya. Begitulah marah, akan melenyapkan segalanya, sesuatu yang teramat berharga sekalipun. Saat api padam, hanya akan menyisakan sesuatu yang tak berguna. Membuat sang pemilik menyesali api yang telah membakar baran miliknya, dan mulai berandai-andai.. seandainya tak ada api, maka barangku tak akan lenyap. Yang tersisa hanya penyesalan.

Begitulah gambaran amarah. Saat marah, bukan diri kita lagi yang berkuasa. Setan telah mengambil kemudi dan siap mengarahkan kemudi untuk melakukan dan mengucapkan hal-hal yang tidak baik. Sesuatu yang akan membuat kita kehilangan harta berharga yang kita miliki. Mungkin itu teman, sahabat, saudara, bahkan boleh jadi orangtua. Boleh jadi itu kepercayaan, harga diri, dan kewibawaan. Semua bisa hilang dalam sekejap, saat amarah telah berkuasa. Saat setan berhasil mengambil alih peran kita. Itulah amarah, seperti api. Membakar.

Itulah hikmah dari larangan Nabi agar tidak membuat keputusan disaat marah. Karena keputusan yang kita tetapkan dalam keadaan emosi adalah keputusan yang akan membuat kita menyesal pada akhirnya.

Pahamlah kita, mengapa Rasululloh mengulang nasehatnya ‘laa tahgdhob’ sampai tiga kali, karena bahaya yang ditimbulkan dari sifat tersebut akan berdampak buruk pada akhirnya.

Berlatihlah kendalikan amarah!
Aqilah El-Hafizhah

#OneDayOnePost

Minggu, 17 April 2016

Kesempatan Kedua - Terima Kasih, Bang Syaiha..


ODOP adalah kesempatan bagiku, ia hadir bagaikan angin segar yang seketika membangkitkan semangatku untuk terus menulis. Berkumpul dengan sosok-sosok yang punya kesukaan yang sama, meski kami berasal dari latar belakang yang berbeda. Sebuah perkumpulan dengan alasan yang sama, untuk menulis.

Aku senang bisa bergabung dengan komunitas ini, menjadi bagian dari mereka yang mendapat kesempatan luar biasa. Namun, bertahan pada wadah yang menuntut sebuah  konsistensi tentu tidaklah mudah. Ibaratnya mendaki gunung, untuk sampai di puncak tertinggi kita harus melewati berbagai rintangan dan cobaan. Hanya mereka yang punya tekad setebal baja dan keteguhan hatilah yang bisa sampai ke puncak, tanpa ini semua, kita akan tergeser, menjadi bagian dari kumpulan nama yang akhirnya memilih menyerah dan mundur.

Beginilah ODOP, sebuah medan juang yang tak mudah. Terbukti saat satu per-satu meninggalkan grup, menyerah dan tak bisa melanjutkan perjalanan ini. Seleksi alam kata Gilang. Ah.. melihat beberapa kawan mundur dari medan, mebuatku bertekad untuk tidak mengikuti langkah mereka. Mencoba bertahan sekuat yang kubisa. Meski tak tahu akan bagaimana akhirnya.

Di tengah kesibukan aku masih mencoba untuk tetap bertahan. Aku sungguh tak ingin meninggalkan komunitas yang sudah seperti ‘rumah’ bagiku. Meski aku tak seaktif Inet, April, Gilang, Deassy, Mbak Vinny, Mbak Lisa dan penghuni ODOP lainnya, tapi aku nyaman di tengah mereka. Setidaknya aku merasakan atmosfer semangat mereka, juga terhibur saat bisa meluangkan waktu membaca obrolan kocak mereka yang kadang bahkan sampai ribuan.

Hal lain yang membuatku betah di ‘rumah’ ini, karena bisa mengenal sosok luar biasa yang mengajarkanku banyak hal. Aku bahagia bisa bertemu orang yang punya semangat luar biasa. Mungkin tak pernah ada percakapan antara aku dan beliau, tak seperti teman ODOP lain yang ‘akrab’ dengannya. Tapi, bisa berada dalam satu ‘rumah’ dengannya adalah kesyukuran buatku, bisa menjadi bagian dari keluaga ODOP, keluarga beliau.

Semua ini tentu membuatku berat untuk begitu saja mundur. Tapi masalah kemudian muncul saat kesibukan membuat kewajiban menulisku mulai terabaikan. Catatan utang menulisku mulai menumpuk, hingga saat tersadar utangku sudah lima, meski utangku terkumpul tidak berturut-turut tapi itu cukup membuatku sadar diri. Aku mulai dilema.

Awalnya, kuputuskan untuk mundur meski berat. Dan memang sesuai komitmen awal, harus bersedia leave grup jika tidak menulis selama lima hari. Dengan berat kurencanakan menulis untuk terakhir kali, sebagai ucapan terima kasih dan perpisahan.

Ternyata bukan hanya aku yang berencana  mundur. Adikku, Aira, yang mengajakku bergabung di ODOP juga sempat berpikir demikian. Tapi beberapa alasan membuatnya mencoba tetap bertahan. Dan aku salah satu alasannya tetap bertahan, ia selalu teringat perkataanku, “Aku bukan orang yang mudah menyerah, dan selalu menjadi bagian dari mereka yang konsisten sampai akhir” Inilah yang selalu diingatnya. Lalu, bagaimana bisa ia menyerah lebih dulu padahal dialah yang mengajakku bergabung di ODOP? Dia tidak terpikir kalau di waktu yang sama aku sedang berencana untuk mundur.

Tepat saat itu juga sebuah pesan WA masuk, Kaka, belum nulis lagi? Sebuah pesan dari Nadilla, anggota ODOP yang telah kuajak bergabung. Kujelaskan permasalahn dan rencanaku padanya. Dengan tegas ia memintaku untuk tidak mundur dan tetap bertahan. Sesuai perjanjian di awal, bukannya aku memang sudah harus mundur?

Dia memintaku untuk bicara pada Bang Syaiha. Sebagai usaha terakhir, kuputuskan untuk mencoba saran dari Nadilla. Untuk pertama kali kumencoba komunikasi dengan beliau. Kujelaskan situasiku, juga kutanyakan sekiranya masih ada dispensasi untukku atau aku memang harus leave hari itu juga. Inilah jawaban Bang Syaiha..


Sebuah kesempatan kembali diberikan padaku. Terima kasih Bang Syaiha. Terima kasih karena masih menerimaku menjadi muridmu, dan telah mengizinkankanku tetap berada di antara mereka untuk tetap belajar bersama dan berjuang hingga akhir insyaAllah.  Semoga aku bisa memanfaatkan kesempatan kedua ini dengan sebaik mungkin.

Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost

Sabtu, 16 April 2016

Ucapan Selamat

Congratulation my beloved sisters;  Reski, Intan, Ifah, Icha..


Hari ini merupakan salah satu hari yang sangat membahagiakan bagi kalian. Saat tugas akhir sebagai mahasiswa telah berhasil kalian selesaikan. Momen ini bagai hujan sehari yang menghapus kemarau setahun. Segala kerja keras, perjuangan, dan pengorbanan selama kurang lebih empat tahun kini terbayar dengan hari ini. Kebahagiaan dan kelegaan.

Hari bahagia ini tentu bukan hanya milik kalian berempat, juga milik kami, sahabat-sahabatmu. Perasaan haru dan bahagia tak mampu kubahasakan dengan rangkaian kata. Tapi butiran bening yang mengalir begitu saja saat menatap wajah ceria kalian pada layar hp cukup menjadi penanda, ini adalah rasa bahagia tak terkira.

Entah bisa disebut apa kebersamaan kita sebagai keluarga B1. Tapi persaudaraan itu layaknya tubuh, jika satu merasa sakit maka anggota tubuh lain pun akan ikut merasa sakit. Maka saat kalian bahagia hari ini, izinkan kami ikut merasa bahagia.

Terakhir, sebuah maaf dariku karena terlambat datang dan tak sempat memberi ucapan selamat secara langsung. Karena sebuah hal aku tiba di kampus saat kalian sudah pulang. Tapi foto-foto kalian, itu sudah cukup untukku ikut merasakan apa yang kalian rasakan. Maksih sharing fotonya.

Teriring do'a semoga ilmu yang telah diterima selama ini bermanfaat dan bisa ikut memberi kontribusi terhadap pendidikan indonesia yang lebih cemerlang.

Aku sudah bilang sebelumnya, kita akan bersama-sama menyelesaikan perjalanan ini, bukan? Maka tunggulah kami menyusul kalian pada gelombang berikutnya, semoga bisa wisuda di hari yang sama :)



Kamis, 14 April 2016

Untukmu Yang Telah Bertanya


"Kak... Menurut kakak, saya itu bgaimana orangnya? Apa saja sifat negatif yang kakak tau tapi mungkin tidak kusadari?"

Sebait pesan whatsapp berupa pertanyaan yang datang begitu tiba-tiba. Dari seorang teman, sebutlah ia Nabilah Entah apa asal-muasal ia bertanya seperti ini. Pertanyaan yang melahirkan tanya dalam diriku, "Ada apa? Kok tiba-tiba bertanya soal penilaianku tentang dirinya, apa ada sesuatu?"

Entahlah. Yang pasti pertanyaan ini membuatku termenung sejenak dan mulai menerawang. Mencoba menghadirkan sosok Nabilah dalam imajiku, mulai memainkan kembali memori yang pernah ada bersamanya. Berusaha membaca dan menemukan, "Sosok seperti apakah Dia?"

Awal mengenalnya sebagai juniorku di tahfizh, kupikir dia itu pendiam dan cuek. Mengapa? Dia terlihat kurang ramah dan agak menutup diri. Meski tentu itu hal wajar bagi orang yang baru bergabung di lingkungan baru. Semuanya tentu terasa asing dan tak biasa. Termasuk dia tentunya, masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri.

Seiring berjalannya waktu, saat keakraban mulai terbangun di antara kami, para penghuni asrama. Kurasa, aku dan dia sama sekali tak sedekat yang lain. Mungkin karena pembawaan dia yang menutup diri. Lebih sering di kamar dan tak banyak bicara. Itu terhadapku, entah kepada yang lain. Sehingga interaksi antara kami tidak banyak, palingan hanya diskusi biasa layaknya seorang senior dan junior. Atau sekedar mendengarkan hapalannya dan memberikan satu dua komentar lalu ditutup dengan sedikit pesan. Cukup. Yah, sebatas itulah komunikasi kami.

Tak pernah ada pembicaraan akrab seperti pada junior lainnya. Dari pengamatanku, dia lebih senang di kamar, bergelut dengan kesibukannya.

Aku sedikit tau tentang dia dari sepupunya yang sekamar denganku. Aku sering bertanya terkait hubungan keluarga mereka dan hal-hal lain tentangnya. Kalau bukan pada sepupunya, biasa kutanyakan pada Hasanah, juniorku yang banyak membantunya saat proses pendaftaran MABA. Dari merekalah kutahu sedikit informasi tentangnya.

Akhir tahun pertama bersamanya, menjelang libur akhir semester, disitulah ada sedikit perbincangan lebih intens dengannya. Aku nongkrong di kamar Syifa, yang juga kamarnya, tepat saat ia lagi nonton Detective Conan. Ternyata ia juga suka Conan, sama denganku. Kutawarilah ia koleksi conan punyaku. Malam itu, kutahu satu kesamaan kami, Detective Conan.

Apakah setelah itu kami tiba-tiba jadi akrab? Sayangnya belum. Detective Conan belum cukup menjadi alasan kami merasa 'nyambung'.

Lalu kapan keakraban itu bermula?

Sebenarnya aku pun tak tahu pastinya kapan kami mulai seakrab sekarang. Karena sungguh, keakraban itu merupakan sebuah proses, bukan?

Ketahuilah, keakraban dan kecocokan itu adalah proses yang berlangsung sangat perlahan dan alamiah, hingga kamu tak sadar tiba-tiba sudah sangat dekat dengan seseorang. Dan saat ditanya, kapan kalian tiba-tiba dekat? Mungkin, saat itulah kamu tersadar dan mulai berpikir, 'kapan?' Dan kamu pun tak tahu kapan persisnya. Kamu hanya bisa bilang, 'Awalnya hanya...bla bla bla.. akhirnya sudah begini'. Begitulah, keakraban yang terbentuk alamiah. Hal yang sama terjadi antara kami.

Tapi, kalau kupikir-pikir.. hal yang kemudian bikin kami "nyambung' adalah-kami sama-sama Tere Liye lovers, hehe.. akhirnya pembicaraan tentang Tere Liye yang tiada habisnya membuat kami sering komunikasi.

Sekolah TOEFL adalah hal lain yang buat kami makin 'nyambung'. Dia senang dan sangat bersemangat belajar bahasa inggris. Kemampuannya sangat lumayan, mengingat dia bukan dari jurusan bahasa inggris. Kami makin sering terlibat diskusi panjang terkait sekolah TOEFL. Dan tak terasa aku merasa sangat nyambung dengannya.

Perlahan dia bercerita tentang diri dan kehidupannya. Aku makin banyak tahu tentangnya, juga menemukan beberapa kesamaan. Dia juga tak seperti dulu lagi yang sangat pediam, terkesan menutup diri. Dia mulai banyak berinteraksi dengan yang lainnya juga. Saat ia berceritalah aku tahu mengapa kurang lebih setahun ini sangat kurang bersosialisasi dengan kami. Ada pengalaman yang kurang mengenakkan yang membuatnya hilang kepercayaan terhadap orang lain. Pengalaman yang membuatnya tak percaya jika ada orang baik yang tulus dalam kehidupan ini. Dan iapun tak percaya pada orang-orang.

Setahun hidup bersama 'kami' perlahan membuat paradigma berpikirnya mulai berubah. Ia mulai menemukan orang-orang baik dan tulus, sedikit demi sedikit menggugurkan rasa tak percayanya akan adanya orang-orang baik. Itulah, mengapa aku melihat sangat banyak perubahan dari dirinya saat ini jika dibandingkan kurang lebih setahun sebelumnya.

Dan jika ia tiba-tiba bertanya tentang kekurangannya, aku seakan tak tahu harus menjawab apa. Hal yang dulu kuanggap sikap negatif itu sudah tak ada lagi. Tapi, sedikit pesan dari kakak, kamu masih harus lebih ramah lagi. Utamanya saat bertemu dengan orang baru agar kesan 'tak ramah' tak pantas untukmu. 

Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost

Jumat, 08 April 2016

Takdir Terbaik Sebuah Buku


“Bagi sebuah buku, yang penting adalah banyak dibaca, sampai lecek, copot, robek. Itulah takdir terbaik sebuah buku. - Tere Liye –

Ini sederhana, tentang takdir terbaik bagi sebuah buku. Jadi, bukan hanya manusia, buku pun punya takdir. Dan takdir terbaiknya adalah lecek, copot,dan robek karena banyak dibaca. Berbagi manfaat pada siapa saja yang haus akan hikmah.

Bagi pecinta buku, tentu sayang sekali sama buku-bukunya. Dibungkus serapi mungkin, juga anti untuk melipat kertasnya, sangat dijaga, takut sekali kalau buku itu lecet. Jika ada yang meminjam, selalu diingatkan untuk tidak melipat kertasnya dan beragam pesan lainnya agar buku itu tak sampai lecet apalagi sobek . Namun, apa mau dikata, ada banyak jenis peminjam. Tak semua mereka itu bertanggung jawab dan perhatian sama si buku.

Buku itu dibaca asal-asalan, dilipat sana-sini. sampai keadaan buku terlihat memprihatinkan. Yang paling apes, kalau bukunya sampai hilang dan sang peminjam merasa tak harus untuk mengganti. Cukup dengan kata “maaf” dan sedikit alasan, maka semua dianggap beres. Tentu menyakitkan bagi pemilik buku, terlebih jika itu buku ‘kesayangan’.

Pinjam-meminjam buku adalah sebuah fenomena lazim di tengah kita. Bahkan boleh jadi kita salah satu korban atau malah pelaku yang tak bertanggung jawab itu. Jika kita adalah korban, cukup bersabar, semoga itu menjadi catatan kebaikan. Dan kiranya kita pernah menjadi peminjam tak bertanggung jawab, belajarlah memahami bahwa barang yang kita pinjam merupakan tanggung jawab yang harus dijaga, dan mengembalikannya sebaik saat kita meminjam. Pahamilah perasaan pemilik buku.

Takdir terbaik sebuah buku adalah banyak dibaca, karena itulah tujuan keberadaannya. Hanya saja, sebagai pembaca, belajarlah menghargai buku dengan merawatnya agar tetap awet hingga bisa bermanfaat kepada lebih banyak orang.

Jika anda punya banyak buku, pinjamkanlah! Agar banyak orang mendapat manfaat darinya. Dengan begitu, tujuan kehadirannya telah tercapai. Jangan takut ia koyak, lecet dan sebagainya, biarlah.. asal ia banyak dibaca. Sebuah buku yang lecet, sobek, dan copot karena dibaca, tentu lebih baik dari deretan buku yang tersusun rapi dalam lemari kaca, selalu terlihat baru, karena hanya dibaca oleh pemiliknya saja.

Pahamilah takdir terbaik sebuah buku.


Aqilah El-Hafizhah

Rabu, 06 April 2016

Kritikan


Menjelang maghrib, saat membuka WA mataku tertuju pada grup FLP sul-sel. Ada ratusan chat yang belum terbaca. Lagi bahas apa nih di grup, pikirku. Akhirnya menyempatkan waktu membaca sebentar.

Para senior FLP lagi ramai di grup, entah itu diskusi atau berdebat. Aku hanya menyimak. Pembahasannya seputar penting tidaknya EYD dalam semua tulisan. Panjang sekali percakapan mereka.

Mengapa pembahasan ini diangkat? Salah satu kegiatan baru di grup ini adalah 'bedah karya'. Koordinator akan memilih 1 karya yang terbit di koran, lalu ramailah karya itu 'dibantai'. Semuanya bebas memberi kritikan, baik dari penggunaan bahasa, tanda baca, memilih ide, dll. Bebas. Kebetulan yang dibedah itu milik salah satu member FLP ranting UNHAS.

Salah satu senior berpendapat untuk tidak terlalu tajam memberi kritikan. Inginnya beliau, menulislah sebebasnya. Jangan sampai semangat menulis kendor karena kritikan yang terlalu. Tapi senior yang lain berpendapat berbeda, maka lahirlah diskusi panjang ini.

Pada intinya bukan ini yang paling menarik, tapi sebuah komentar dari beliau-yang karyanya di bedah. Inilah komentarnya.

(Pengalaman yang lebih pahit ada Kak Wawan, saya dulu buntu sekali puisi, lantas saya terinspirasi dari beberapa orang untuk mulai buat puisi di pertengahan 2014. Puisi-puisi saya kirim ke Kak Wawan. Semua puisi yang dulu kukirim ke Kak Wawan (saya kirim tiap bulan) semuanya dikomen dengan satu kata: Jelek. Saya tidak menyerah, saya kirim terus tiap bulan dan Kak Wawan mulai tidak berkomentar, katanya Kak Wawan, "saya masih bingung itu bagus atau tidak", saya tidak menyerah, menjelang pertengahan 2015, saya kirim terus lagi ke emailnya Kak Wawan sampai kata "Jelek" yang saya terima di awal-awal saya belajar puisi, berubah jadi "Oke". Dan alhamdulillah, sekarang, Kak Wawan dan Kak Fikah (kedua guru saya) sudah mengakui saya, dan beberapa teman dari Katakerja dan Malam Sureq juga sudah sebut-sebut nama saya. Semua karena kata 'Jelek' -nya Kak Wawan. ☺😊 jadi jangan baper, tetap saja semangat dan jangan berhenti menulis, konsisten alias istiqamah, lantas semuanya akan seperti pastinya sungai yang bermuara ke lautan. Makasih Kak Wawan).

Ini isi komentar Kak Bata yang memotivasi agar tidak kendor karena kritikan. Komentar asli tanpa editan, hehe.. Dan Kak Wawan yang dimaksud ini juga senior FLP. Seorang penulis berbakat yang juga telah menghasilkan bayak karya,  salah satunya 'Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan, buku yang bisa kalian temukan di gramedia,  atau mungkin sudah baca ;)

Intinya.. jangan berkecil hati terhadap kritikan, meski itu sangat menyakitkan. Tapi jadikan ia sebagai salah satu alasan untuk semakin meningkatkan kualitas tulisan. Agar kritikan pedas itu
tak terdengar lagi. Semoga semakin pedas kritikan yang kita dapatkan akan  semakin besar pula amunisi semangat untuk berkarya lebih baik.

Aqilah El-Hafizhah

Senin, 04 April 2016

Sebut Nama Dalam Do'a

Hari ini aku sedikit berkicau tentang do'a. Saat temanku buka puasa maghrib tadi, ramai kami meminta untuk dido'akan. Tentu karena yakinnya kami akan terkabulnya do'a orang yang berpuasa. Sibuk menyebutkan agar didoakan ini dan itu. Begitulah selalu.

Lalu tadi, kusampaikan sedikit yang kutahu tentang hal penting dalam berdo'a.

Kalau mendo'akan orang-orang yang kita sayangi, berlatihlah untuk menyebut namanya satu-persatu, itu akan lebih afdol. Do'a itu akan lebih kuat menancap jika kita menyebut nama secara khusus. Ini memperlihatkan betapa serius dan besarnya harapan kita terhadap orang kita sebut namanya.

Jadi, jangan bosan untuk menyebutkan nama-nama orang yang kita sayangi dalam setiap do'a kebaikan. Jangan takut mendo'akan kebaikan untuk orang lain karena hakikatnya, do'a itu akan kembali pada kita. 

Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost

Jumat, 01 April 2016

Kisah Istimewa di Ruang Kelas

Aku tiba lebih awal dari jam mengajarku hari ini, sepuluh menit lagi. Kuhabiskan dengan duduk santai di teras kelas sepuluh, menyimak berbagai kesibukan di jam istirahat. Siswa masih berkeliaran di kantin sekolah, sebagian lagi asyik bercanda  ria dengan teman-temannya, ada juga yang terlihat menyendiri di dermaga danau, menatap permukaan air dengan kesan syahdunya, entah sedang memikirkan apa. Mungkin hanya ingin menikmati keindahan alam.

Danau dengan dermaga kecil: Foto diambil beberapa hari sebelumnya

Teeet, teeeet, teeeeet...

Bel tanda jam istirahat berakhir mengalihkan perhatian siswa. Tersadar kalau waktu istirahat sudah habis, mereka kembali ke kelas.

"Hello, Miss.." Beberapa siswa menyapaku ramah sebelum memasuki kelas. 

Setelah melihat kelas sudah ramai, kuputuskan untuk masuk memulai pembelajaran. Seperti biasa, setelah mengabsen kehadiran siswa kusempatkan berbasa-basi dengan mereka, bertanya kabar atau apa saja untuk membuat suasana terasa akrab dan rilex. Lima menit berlalu saat pintu diketuk, kubuka dan terlihat Sir Umar di luar. Kupersilakan ia masuk.

"Hello, Sir.." para siswa menyapa ceria saat melihat Sir Umar.

"I will control you" katanya singkat sambil melangkah ke bagian belakang. Duduk di karpet tepat depan rak buku, perpustakaan kelas.

Awalnya terasa canggung karena gurunya ikut mengawasi, tapi kupaksakan diriku untuk tetap rileks seperti di awal. Syukur dengan cepat aku bisa kembali menguasai kelas. Aku menjelaskan bagaimana cara membuat recount text yang baik dan benar.

Proses belajar berlangsung menyenangkan. Antusias siswa bisa terlihat dari keaktifan mereka bertanya. Banyak sekali pertanyaan yang harus kujawab, serasa mereka sedang menguji penguasaan bahasa inggrisku.  Kadang aku tak yakin dengan jawabanku, tapi tetap kujawab semampuku dan kuminta Sir Umar untuk memberi tanggapan. Di belakang, Sir Umar nampak merekam proses pembelajaran dengan hp.

Aku senang dan sangat menikmati proses belajar-mengajar ini. Di sini aku mengajar mereka dengan ilmu yang kupunya. Dan dari mereka aku belajar bagaimana menjadi seorang guru, bagaimana cara mengajar, bagaimana menguasai kelas,  dan banyak hal lain yang kudapatkan dari proses ini.

Yah.. inilah sedikit cerita tentang hari ini. Sebuah kisah sederhana tentang proses pembelajaran di kelas. mungkin terlihat biasa dan sederhana, tapi tidak denganku. Pengalaman mengajar adalah bagian dari pengalaman yang selalu terasa indah dan menyenangkan. Selalu istimewa.

*Edisi tantangan pekan ini

Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost
Pekan Ke-5: Hari Kelima