Jum'at, 29 April 2016
Kuawali hari ini dengan perasaan
tegang dan nervous. Bagaimana tidak, hari ini merupakan tahap terakhir dari
proses perkuliahanku, ujian skripsi. Semalam tidurku kurang dari dua jam, bukan
karena sibuk belajar, aku justru sibuk membaca dan menyelesaikan satu tulisan
sebagai kewajibanku selaku anggota ODOP.
Aku tidak memandang enteng ujian
sehingga tidak belajar, sungguh tidak demikian! Aku hanya merasa telah belajar
saat melakukan penelitian dan menyusun skripsi. Bukankah yang akan ditanyakan
pastinya hanya seputar penelitian dan hasilnya? Saat membuat skripsi, itu
adalah proses belajar yang panjang. Entah harus berapa kali membaca ulang apa
yang telah ditulis untuk memastikan tak ada lagi yang salah. Melalui proses itu,
insyaAllah sudah paham isi skripsi. Yang mau disiapkan
selanjutnya adalah mental. Selebihnya cukup berdo’a dan serahkan hasilnya
pada-Nya.
Perjalanan ke kampus bersama
Mutma-teman seperjuanganku sejak semester awal, kami isi dengan menebak
kira-kira pertanyaan apa yang akan muncul nanti. Sibuk membuat prediksi
pertanyaan dan alternative jawabannya. Tapi itu sangat singkat. Tak terasa kami
sudah memasuki gedung fakultas SASTRA.
Fakultas sudah nampak ramai seperti
biasa. Yang paling mencolok adalah ‘kami’ yang akan ujian dengan seragam
hitam-putih lengkap dengan jas berwarna hitam. Beberapa teman tengah asyik
bercanda dan tertawa lepas. ‘seolah tak ada beban’ pikirku. Berbeda denganku
dan Mutma, dari tadi kami merasa was-was, menkhawatirkan banyak hal. Dua-tiga
orang terlihat sibuk membaca-baca kembali skripsi yang sudah di print. Aku bergabung dengan Aya dan Wati, juga beberapa teman yang lain. Sambil menunggu ujian mulai, ada baiknya membaca kembali skripsiku.
Setelah para penguji sudah hadir
dan memasuki ruangan, ujian pun dimulai. Sambil mununggu giliran, tetap
kusempatkan membaca kembali kopian skripsiku. Perasaanku semakin tak menentu. Aku
mulai deg-degan karena nervous. Kuhentikan bacaanku karena terasa mulai
tak focus lagi. Lebih baik jika memperbanyak dzikir saat seperti ini, mengikuti
nasehat Mama yang tak hentinya mengingatkanku memperbanyak dzikir, memperkuat
do’a, dan harus selalu yakin.
Tiba giliranku. Perasaan yang
tadinya penuh kekhawatiran dan sangat tegang tiba-tiba berubah saat dosen penguji
memberikan komentar positif. Perasaanku menjadi tenang dan mulai menguasai
medan. Semua berjalan lancar hingga selesai.
Ada perasaan lega tak terkira
saat semuanya berakhir. Beban berat berton-ton yang selama ini menggangguku
seolah baru saja dilepas. Teman-temanku asyik berpoto ria mengabadikan moment
hari ini. Aku menolak bergabung, memilih menyepi bersama teman-teman terdekatku
(Mutma. Aya’, dan Wati).
Entah mengapa ada perasaan lain
yang menyusup di antara rasa bahagia dan kelegaanku hari ini. Cepat sekali
perasaan baru ini mengubah suasana hatiku. Aku melangkah pelan dengan ekspresi
yang aku pun tak tahu bagaimana. Aneh sekali rasanya, tak tahu kenapa aku
merasa aneh dengan diriku. Aku merasa aneh dengan beban yang beberapa jam lalu
sangat membuatku resah tiba-tiba menghilang.
Bukan hanya aku yang merasa
demikian, Mutma juga merasakan hal yang sama. Itulah sebabnya dari tadi kami
berjalan berdampingan tanpa sepatah kata. Tak seperti biasanya. Kami sibuk
dengan pikiran masing-masing. Bahkan teriknya matahari siang ini tak terasa
menyengat sehingga kami berjalan santai sekali di bawah terik mentari yang
biasanya selalu membuat kami melangkan terburu-buru. Kami baru sadar panasnya
matahari sesaat sebelum sampai di kos/asrama.
Aku merasa sedih saat sadar bahwa
tak lama lagi akan meniggalkan masa-masa perkuliahan, teman-teman, dan segala
hal yang telah akrab denganku selama tiga tahun setengah ini. Setiap moment
yang telah terlewati tiba-tiba menjadi sangat berharga, meski dulu itu terihat
sederhana. Ah.. aku akan rindu semua ini. Rasanya mulai berat jika harus
meninggalkan kampus. Padahal dulu, ini adalah moment yang sangat kami nantikan.
Tiga tahun lebih terasa sangat singkat hai ini.
Bukan hanya rasa sedih yang
menyusup, aku mulai merasa menyesal untuk beberapa hal. Aku menyesal karena
banyak waktu yang kulewati tanpa belajar. Mengapa dulu aku tak lebih giat lagi
belajar? Ah, penyesalan memang selalu hadir belakangan, saat kesempatan itu
telah berganti dengan kesempatan lainnya.
Tapi, aku sangat bersyukur atas
semua ini. Aku bersyukur telah melewati proses yang tidak mudah. Bersyukur
untuk semua kesulitan, tantangan, dan rasa lelah yang dengan itu semua aku bisa
mengenang banyak hal. Menyisakan cerita yang mungkin bisa menginspirasi orang
lain. Jika proses yang kulewati selalu mudah dan lancar, pelajaran apa yang
bisa kuambil? Dan tentu kenangannya tidak akan begitu membekas. Berbeda jika
kita melewati berbagai tantangan dan lika-liku yang lumayan rumit untuk bisa
meraih ‘sesuatu’, itu akan jauh lebih membekas.
Inilah sekelumit perasaan yang
hadir di saat tantangan terakhir berhasil kutaklukkan. Berbagai rasa yang
datang di waktu yang sama. Membuat segalanya terasa aneh. Biarlah tulisan malam
ini mengabadiakn perasaan nano-nanoku hari ini.
Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost

















