Minggu, 25 Januari 2015

Mengenang Kalian - Tahfizh Putri Darul Istiqamah



04 November 2007.
Waktu yang tak terlupakan. Tujuh tahun silam saat kita kembali membuat sejarah. Bersama menghidupkan kembali Tahfidzul Quran putri Darul Istiqamah yang sempat vakum selama enam tahun. Dan kita berhasil memulai kembali amal jariah itu, tentu saja berkat keinginan dan kegigihan Ust. Iqbal Coing selaku pimpinan Tahfidz putri. 

Ada banyak perjuangan dan pengorbanan mengiring langkah kita. Pengorbanan pertama itu adalah meninggalkan bangku sekolah. Kita rela meninggalkan bangku sekolah sebagai harga yang harus kita bayar untuk cita-cita mulia menjadi seorang hafidzah. Dan dari sekian banyak santri, ternyata hanya enam belas yang siap dengan resiko ini. Maka bersyukurlah kawan, karena kita salah satu yang terpilih. Kita terpilih untuk berjuang lebih. Kitalah Ashshaabiquunal awwaliin..

Perjuangan adalah harga mati sebuah cita-cita mulia. Mulai dari menyulap gudang menjadi asrama, membuat tempat yang sebenarnya tak layak dihuni lagi menjadi harus layak huni. Mau bagaimana lagi, yang tersisa hanya gudang. Dan tentu saja ada begitu banyak keterbatasan lain yang membuat kita harus tabah menjalaninya. Mengawali kebaikan memang penuh tantangan.

Sejak hari itu, Al-Quran resmi menjadi sahabat. Setiap hari menjadi kitab wajib untuk dibaca dan dihafal. Setiap hari mempelajari tafsir dan terjemahannya bersama Ust. Iqbal. Ayat demi ayat. Selain itu, tiga kali seminggu kita kembali mempelajari tafsirnya dalam pengajian tafsir yang dibawakan pimpinan pesantren. Tidak lupa belajar tajwid tentunya.

Setiap hari kita membuka dan menutup hari kita dengan Al-Quran.
Ada tangis saat hafalan sulit masuk, sementara waktu nyetor sudah habis. Maka tentu ada sanksi yang harus diterima. Ada gelora semangat menghafal untuk saling mengejar hafalan. Ada sakit hati saat ternyata kita dipandang sebelah mata sebagai kelompok kecil oleh beberapa santri. Ada kecewa saat merasa kita di-anak-tirikan. Terkadang ada rasa iri saat melihat teman-teman pulang-pergi sekolah, mengulang pelajaran di masjid dsb. Tapi, selalu ada tawa dan senyum di setiap jejak yang kita lewati. Kebersamaan sungguh menjadi penawar mujarab untuk semua rasa  negatif yang sering kali menghias hari kita. Ahh…ada begitu banyak rasa yang silih berganti mengisi hati kita. Maklumlah..kita masih dalam proses mengontrol hati untuk benar-benar ikhlas lillahi ta’ala.

Ada banyak cerita yang tersimpan rapi dalam memori kita. kenangan yang sangat luar biasa meski hanya sebentar. Kenangan yang menghadirkan kerinduan untuk kembali bersua saat mengingatnya. Saat memori itu kembali diputar, bibir ini tersenyum tanpa sadar, ada begitu banyak kekonyolan yang kita lakukan. Dan aku yakin, selalu ada air mata jika mengingat semua yang telah kita lewati bersama. Semua terasa begitu indah. Inilah moment-moment indah yang tak terlupakan.

Sahabat,
Jarak telah memisahkan kita. kenangan itupun sudah tertinggal sangat jauh. Maka aku berharap, meski kita telah berpisah, semoga Al-Quran tetap menjadi sahabat. Tetap menjadi bacaan kita setiap hari. Tetap menghafal dan terus menjaganya.

Ingat,, kita bertemu karena Al-qur’an, kita hidup bersama dengan Al-Qur’an, maka aku berharap kita akan kembali berkumpul di jannah-Nya sebagai Ahlul Qur’an. Maka tetaplah dengan impian kita menjadi seorang Hafidzah. Pegang erat impian itu, jangan pernah membiarkannya lepas. Jika ternyata saat ini pegangan itu mulai renggang bahkan mungkin lepas… rebut kembali impian itu, peluk erat dan jangan pernah melepaskannya lagi. Sungguh impian menjadi seorang hafidzah itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Maka jangan pernah membiarkannya hilang dari hidupmu.

            You all the best of  my life. Terima kasih telah hadir dalam sepenggal hidupku. Terima kasih atas ukhuwah yang begitu indah. Terima kasih telah menjadi sahabat-sahabat luar biasaku. 

Tulisan ini spesial buat sahabat-sahabatku
di Tahfidzul Qur'an putri Darul Istiqamah

Dariku yang merindukan kalian

Aqilah El-Hafizhah

Minggu, 18 Januari 2015

Arti Sebuah Nama

Apa arti nama bagi Anda? Pentingkah? Atau… nama tak lebih dari sekedar bagaimana Anda dipanggil dan dikenal. Hanya sebatas identitas, tak lebih dan tak kurang. 

Setiap orang tentu punya persepsi masing-masing tentang makna sebuah nama bagi mereka. Atau bahkan ada yang memilih cuek memikirkan namanya. Yang penting dia punya nama.

Bagiku, nama mempunyai arti besar dalam hidup. Juga memegang perang penting dalam perjalanan kehidupan ini, setidaknya untukku pribadi. Pernahkah anda mendengar ungkapan bahwa nama adalah do’a? mungkin inilah yang terjadi pada namaku. Meski awalnya aku tak pernah berpikir bahwa nama itu sungguh akan menjadi do’a untukku.

MUALLIMAH. Inilah nama yang disematkan orangtuaku. Singkat tapi punya makna tentunya. Nama yang diberikan padaku tidak dengan asal-asalan. Nama yang diberikan dengan harapan besar bahwa kelak aku akan menjadi seperti yang mereka harapkan. Dengan kata lain, mereka yakin bahwa nama itu akan menjadi do’a buat anaknya. Tanyakanlah pada orangtua masing-masing, maka anda akan menemukan bahwa ada alasan dibalik nama anda. So, begitu besar arti sebuah nama. Nama adalah harapan dari mereka yang sangat menyayangimu.

Dulu, aku tak pernah pede dengan namaku. Aku bahkan tak suka dengan namaku. Aku selalu malu jika harus memperkenalkan diri. Karena bagiku, nama adalah aibku. Jika dikelas guru mengabsen, maka aku akan gelisah menunggu namaku disebut. Berharap agar kelas ribut saat namaku disebut, agar tak seorangpun mendengarnya. Sekali lagi, aku sangat tak pede dengan namaku. Bukan hanya saat aku SD, bahkan sampai saat aku SMP/MTS. Cukup lama aku harus gelisah dengan namaku. Terkadang aku bahkan jengkel pada orangtuaku yang memberikan nama jelek untukku (versiku waktu itu). Meski semua hanya kusimpan dalam hati.

Muallimah yang berarti Guru. Saat SD aku memang bercita-cita ingin menjadi guru. Jika dikelas kami ditanya tentang cita-cita maka jawabanku pastilah guru. Mungkin karena itulah profesi yang paling dikenal oleh anak-anak. Jika anda bertanya pada anak-anak jaman dulu tentang cita-cita mereka, maka anda akan mendapat jawaban guru, dokter, polisi, dan pilot sebagai pilihan mereka. Inilah cita-cita anak jaman dulu, tak terkecuali aku.

Entah sejak kapan aku akhirnya mengalah dengan namaku. Aku mulai menerimanya dengan tulus bahwa itulah nama yang diberikan orangtua padaku. Hingga akhirnya aku bangga dengan namaku. Tak lagi risih apalagi malu. Nama ini tiba-tiba indah di telingaku. Mungkin karena sudah mulai ada yang memuji bahwa namaku bagus. Mungkin juga karena namaku semakin sering disebut karena beberapa prestasi yang berhasil kuperoleh. Semakin banyak yang menyebut namaku berarti semakin banyak yang berdo’a agar aku menjadi guru, karena Muallimah berarti guru.

Apakah aku masih bercita-cita menjadi guru? Kurasa keinginan itu tak lagi menjadi cita-citaku. Keinginanku menjadi guru luluh sedikit demi sedikit hingga tak berbekas sama sekali. Semakin banyaknya pengalaman dan buku yang kubaca membuatku merangkai mimpi-mimpi baru. Meninggalkan cita-cita masa kecilku. Tapi namaku tak pernah berubah. Dan tetap menjadi do’a bagi yang memanggilku. Meski impianku sudah berubah.

Setelah lulus MA/SMA, aku mengikuti program wajib di pesantren untuk mengabdi  selama setahun. Masa pengabdian ini menjadi saat di mana kami harus mengajarkan apa yang telah kami dapatkan selama di pondok. Di sinilah aku mengajar layaknya seorang guru sungguhan. Aku bahkan mendapat pujian bahwa aku berbakat menjadi guru. Cara aku menjelaskan cukup mudah dipahami kata mereka. Yah, aku memang berusaha maksimal pada apa yang diamanahkan saat itu. Dan aku menikmati posisiku sebagai pengajar meski aku masih belum mengharapkannya menjadi profesiku kelak. Cukup di masa pengabdian ini, pikirku.

Training Quantum Teaching adalah sebuah pelatihan untuk menjadi guru yang professional yang diadakan pihak pesantren untuk semua tenaga pengajar. Akupun turut dalam kegiatan ini. Training yang luar biasa menurutku. Kami belajar banyak tentang hakikat seorang guru. Bagaimana posisi seorang guru sebenarnya, dan bagaimana kami seharusnya menjadi seorang guru. Sangat banyak ilmu yang kuperoleh dari training ini karena aku mengikutinya dengan penuh semangat. Apakah setelah training ini aku tiba-tiba ingin menjadi guru? Jawabannya, belum. Meski kuakui, aku salut pada orang yang bisa menjadi guru professional. Dari training ini kutemukan pengalaman dan bekal berharga yang pasti akan berguna dalam kehidupanku kelak. Apapun profesiku.

Tibalah saatnya mendaftar ke perguruan tinggi. Karena beberapa alasan akhirnya UMI menjadi pilihanku. Memilih jurusan menjadi hal membingungkan buatku. Aku tak tahu harus memilih jurusan apa. Awalnya aku mmemilih Sastra Indonesia karena salah satu impianku adalah menjadi penulis. tapi sebuah pemikiran membantahku. Bukannya aku bisa belajar menulis tanpa harus menjadi mahasiswa sastra? Yah, beberapa orang yang kukenal jago nulis bukanlah berlatar belakang sastra. Maka kemungkinan itu juga berlaku untukku. Akhirnya kuputuskan untuk memilih Sastra Inggris karena aku memang senang dengan bahasa inggris.

Sebuah kesalahan kecil terjadi dalam  pengisian formulirku. Karena khawatir tidak lulus di Sastra Inggris maka kurencanakanlah Pendidikan Bahasa Inggris sebagai pilihan keduaku. Yang terpenting aku masih bisa belajar bahasa inggris. Tapi, Sastra Inggris yang seharusnya menjadi pilihan pertamaku justru kutulis pada kolom pilihan kedua, maka jadilah Pendidikan Bahasa Inggris sebagai pilihan pertamaku. Ini tentu di luar rencanaku.

Hal terpenting dari semua perjalanan ini adalah do’a. Aku sadar bahwa kekuatan terbesar adalah milik-Nya maka pada-Nya-lah semua harapanku berlabuh. Semua harapan kusampaikan lewat do’a kepada-Nya. Termasuk dalam memilih jurusan. Aku tidak meminta secara langsung bahwa aku ingin lulus pada Sastra Inggris. Yang aku minta adalah apa yang terbaik buatku, bukan yang aku inginkan. Rumus takdir dalam surah Al-Baqarah : 216 selalu menjadi pijakanku bahwa Allah-lah yang paling tahu apa yang terbaik buat hamba-hamba-Nya.

Fakultas Sastra, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Muslim Indonesia. Di sinilah akhirnya aku bergelut dalam dunia pendidikan. Mengkaji bahasa inggris dan mendalami proses mengajar. Mengenal dunia pendidikan lebih dalam. Menemukan banyak hal unik, menarik dan mengagumkan dari kepribadian peserta didik. Semua ini sempurna membuatku jatuh cinta pada dunia pendidikan. Mencintai dunia mengajar dan anak-anak didik. Membuatku kembali pada cita-cita kecilku. Menjadi seorang guru.  

Aku ingin dan sunguh ingin menjadi seorang guru. Aku ingin karena aku paham dunia ini. Bukan sekedar ikut-ikutan apalagi terpaksa. Dunia yang menurutku sangat menarik dan penuh tantangan. Dunia yang akan menjadi awal untuk membangun dan memajukan sebuah peradaban. Dunia pendidikan, di sinilah aku dengan sebuah impian besar untuk menjadi seorang guru yang kelak akan mengantarkan anak didikku menuju cahaya kesuksesan. Bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat. Mungkin impian ini terlalu muluk. Tapi aku tak peduli apakah semua ini akan berakhir sukses seperti harapan dan impianku. Aku hanya akan berusaha sebisa yang aku mampu, biarlah Allah yang membuat jalan ini lebih indah dengan cara-Nya.

Sungguh, nama itu adalah do’a. Maka pilihlah nama terbaik dan panggilan terbaik untukmu dan anak-anakmu kelak. Semoga dengan nama itu dia bisa menjadi seseorang yang sesuai dengan harapanmu sebagai orangtua.


Aqilah El-Hafizhah


Matahari Tak Pernah Ingkar



Hujan semakin deras. Angin bertiup kencang. Kilat bak lampu seratus watt menerangi pekarangan rumah yang gelap. Sambung-menyambung suara guntur menggelegar di segala penjuru. Memekakkan telinga. Membuat suasana malam semakin mencekam. Mungkinkan alam murkah pada manusia yang tak hentinya berbuat kerusakan?. Tanyaku  membatin.
Berkemul dibalik selimut tentu pilihan terbaik saat cuaca seperti ini. Menyembunyikan diri di balik selimut tebal, menghindari suasana hujan yang mencekam. Tapi tidak bagiku, tidak untuk kali ini. Saat aku bingung harus membuat keputusan terbaik. Dari jendela kaca yang terbuka, aku duduk menatap hujan yang berselimut gelap. Membiarkan angin dan percikan hujan menerpa tubuhku.  Musim hujan tahun ini adalah musim hujan ke enam setelah kepergiannya. Setelah mengucap janji kepadaku, janji matahari katanya. Tepat seperti saat ini, membuatku kembali mengenang pertemuan terakhir kami.
***
“Nay, ada yang ingin kusampaikan.” Aku mengernyit, derasnya hujan membuat suara Randi tak terdengar. “Ada yang ingin kusampaikan,” Randi menambah volume suaranya.
“Bicaralah”. Teriakku tak kalah keras dengan suara Randi. Warung kopi Bu Warto lengang, membuat kami lebih leluasa bicara.
“Aku akan pergi,” Suaranya melemah tak terdengar, tapi aku paham lewat gerak mulutnya. Aku terdiam. Aku tak paham mengapa tiba-tiba kalimat itu yang terucap. Aku beralih menatap hujan yang semakin deras mengguyur kampungku. Menunggu penjelasan.
“Fadil mengajakku ke Jayapura. Di sebuah pulau terpencil. Kami berencana merintis usaha di sana. Kamu tahu kan, aku sendiri di sini. Aku tak punya keluarga. Mungkin saatnya aku mulai memikirkan masa depanku, masa depan kita. Tanpa harus bergantung pada orang lain.”
Bibirku kelu tak mampu berucap mendengar penjelasannya. Semua ini amat mengejutkan buatku. Semuanya terlalu tiba-tiba.
Kami terdiam lama. Menyisakan suara tetes hujan disertai guntur yang menggelegar. Hatiku tak terima, mengapa dia tiba-tiba ingin pergi.
“Bagaimana dengan hubungan kita?” Akhirnya aku bicara.
“Aku pasti akan kembali. Aku berjanji seperti janji matahari. Kau tahu, matahari selalu menepati janji. Setiap hari, di waktu dan tempat yang sama ia berjanji untuk kembali membagi cahayanya. Itulah janji yang tak terucap. Tak pernah ingkar sekali pun. Percayalah, meski belum tentu kapan, aku pasti kembali.”
Aku tersenyum getir mengingat percakapan terakhir kami. Janji matahari katamu. Janji matahari yang tak pernah ingkar. Kau meyakinkanku dengan janji matahari. Tapi benarkah kau adalah sosok yang bisa menepati janji seperti matahari? Kau pergi tanpa kabar hingga hari ini. Haruskah aku setia menunggu janjimu? Entah sudah berapa orang yang datang menawarkan janji kebahagiaan kepadaku. Sempurna aku menolak, memilih setia pada janji mataharimu.
Di mana kau sebenarnya? Saat aku di ambang putus asa menunggu janjimu. Saat seseorang kembali datang menawarkan kebahagiaan. Seseorang yang juga teramat penting buatku. Faris, sahabat terbaikku. Dia meminangku. Haruskah aku menolaknya dengan alasan yang sama seperti yang datang sebelumnya? Sementara aku sendiri mulai ragu pada janji mataharimu. Bagaimananapun, aku harus memutuskan yang terbaik.
“Nay, kenapa jendelanya dibiarkan terbuka? Hujan sangat deras, kamu bisa sakit.” Kak Reina mendekat, menutup jendela. Menatapku prihatin, seolah paham apa yang kupikirkan. Dia ikut duduk di sampingku.
“Sudahlah, kakak tahu kau mencintainya. Tapi mungkinkah dia akan kembali setelah pergi tanpa secuil kabar pun untukmu? Kakak tidak ingin kamu terluka lebih dalam.” Kak Reina berhenti sejenak, menatapku dalam. ”Maaf, tapi kamu akan sangat terluka jika dia datang barsama seseorang sebagai penggantimu.” Aku menoleh, menatap Kak Reina tajam sebelum kembali menatap jendela kaca yang berembun. Membuat Kak Reina seketika diam. Tak ada percakapan beberapa menit.
“Kau mengenal Faris lebih dari siapapun. Cobalah beri dia kesempatan, dan belajarlah memulai kembali. Kau sudah terlalu lama menunggu.” Kak Reina berucap pelan sebelum berlalu meninggalkanku yang masih membisu.
Aku tak bergeming, masih asyik menatap hujan berwujud gelap. Membiarkan hatiku menyelami apa yang sesungguhnya kurasakan. Aku tak suka ucapan Kak Reina, meski sepotong hatiku yang lain membenarkan. Dia benar, saatnya aku memberi kesempatan pada orang lain.
***
            “Ada tamu mencari Tante Nayla, dia menunggu di luar.”
            “Siapa?” Aku bertanya penasaran. “Aku tidak mengenalnya.” Ita, putri Kak Reina menjawab singkat lalu berlalu.
            Segera kugendong putriku yang masih menangis. Membujuknya sambil melangkah ke ruang tamu. Seseorang menungguku di luar.
Langkahku terhenti melihat siapa yang datang mencariku. Randi berdiri tepat di depan figura foto pernikahanku bersama Faris tiga tahun lalu. Menatap. Menoleh saat menyadari kehadiranku bersama Farah yang masih sesegukan. Tersenyum ramah padaku, senyuman tulus. Aku seolah membeku, tak sanggup bergerak.  Dia beranjak ke kursi, membuatku tersadar kembali. Aku mendekat, duduk berhadapan. Tak berani menatapnya.
“Bagaimana kabarmu, Nay?”
“Seperti yang kau lihat. Aku baik,” jawabku singkat sembil menepuk-nepuk putriku.
“Syukurlah. Selamat atas pernikahan kalian, mungkin ucapan ini sangat terlambat.”
“Tak mengapa, terima kasih.”
            Kami diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
            “Ada banyak alasan mengapa aku tak pernah memberi kabar, meski semua sudah tak penting lagi. Seperti yang pernah kukatakan, matahari tak pernah ingkar janji. Hari ini aku datang memenuhi janji, tapi kita memang tak ditakdirkan bersama. Hanya ini yang bisa kukatakan.” Suaranya sedikit bergetar. Aku menatapnya sekilas.
Diam sejenak.
 “Salam buat Faris, aku pamit.”
Aku hanya diam, membiarkanmu berlalu. Menatap sosokmu yang semakin menjauh. Kamu masih seperti dulu. Tak berubah kecuali kulitmu yang sedikit gelap dan penampilanmu yang semakin modis. Kau selalu baik dan ramah. Meski aku bisa menangkap luka di matamu. Luka karena aku.
Kau benar, matahari tak pernah mengingkari janji. Dan janjimu adalah janji matahari. Janji yang tertepati. Maafkan aku yang mergukanmu. Maafkan aku yang tak bisa setia menunggu. Cintamu hanya pantas buat seseorang yang istimewa. Seseorang yang selalu percaya pada janji mataharimu.

SEKIAN

Cerpen ini telah terbit pada koran CAKRAWALA
Edisi, 20 Desember 2014

Aqilah El-Hafizhah

Mobil Terkeren Versi Aqilah


            Aku memandang lurus kedepan. Menatap lalu-lalang kendaraan yang berpacu dengan waktu. Membiarkan angin sore yang sudah teracuni polusi menerpa tubuhku yang terduduk lelah di bangku halte depan kampusku. Rasanya menyenangkan duduk santai memandang jalan yang tak pernah sunyi oleh kendaraan. Seperti ini selalu menyenangkan, setidaknya melepas lelah setelah bertempur dengan rumus-rumus tenses yang selalu memusingkan. Itulah mengapa aku tidak keberatan menunggu Irma yang entah kenapa belum menyusulku.
            Aku masih duduk tenang saat kesendirianku terusik oleh suara sirine ambulance yang tiba-tiba melaju cepat di jalan. Membuat semua kendaraan menyingkir memberi jalan. Ekor mataku terus mengikuti ambulance yang semakin menjauh. Terus menatapnya hingga hanya menyisakan  suara sirinenya yang masih terdengar meliuk-liuk. Aku terpukau!
***
            Setelah puas memandang jalan aku beranjak meninggalkan halte. “lebih baik menunggu Irma di mobil,” pikirku. Aku melangkah santai menuju mobil putih yang terparkir di pinggir jalan dekat halte. Mobil ambulance. Mobil kebanggaanku, sebagai hadiah sweet seventeenku dari ibu. Mobil yang telah lama menjadi impianku. Mungkin terlihat angker bagi kebanyakan orang meski bagian dalam mobilku tidak seangker luarnya. Sudah dimodifikasi sedemikian rupa sesuai seleraku.
            Aku duduk nyaman di bagian belakang kemudi mobil sambil menunggu Irma. Memandang seisi mobil yang bernuansa pink. Beberapa hiasan dinding terpajang rapi berpadu dengan gorden pink berenda putih. Di belakang kursi, tepatnya di sampingku berjejer rapi buku-buku bacaan pada rak kecil berwarna biru. Di bawah kursi terselip kasur lipat empuk, dilengkapi dua bantal Doraemon dengan ukuran besar yang tersusun dikursi. Juga sebuah kotak tempat persediaan cemilan dan minuman. Inilah kamar keduaku.
“Qila… buka pintunya!!” suara cempreng Irma mengagetkanku. Akhirnya penantian ini berakhir. Aku bisa segera pulang.
            “Qila, kita ke Mall Ratu Indah dulu yaa..”
            “Enak ya jadi penumpang, bisa perintah ini-itu,” aku mencibir.
            “Yeah… kan minta tolong, ada buku yang harus kubeli.”
            “Kamu belajar nyetir dong, biar bisa gantian nyetir.”
            “Malas, lagian emang boleh ambulance kesayangan ini di kemudikan selain pemiliknya?” Irma menyinggung aku yang memang tak pernah membiarkan ambulanceku di kemudikan orang lain. “Aku mau baring ya, pegal seharian duduk,” Irma beranjak ke bagian belakang dan membuka kasur lipat yang tertata rapi di bawah kursi.
            Aku menyetir dengan riang, menikmati perjalanan yang selalu menyenangkan bersama ambulance kesayanganku. Dari jauh terlihat jejeran kendaraan yang melaju lambat. Terjebak mecet. Aku tersenyum, macet tak pernah menjdi masalah buatku. Sirine mobil kuhidupkan, inilah senjataku menghadapi macet. Kendaraan di depanku segera membelah, memberi jalan. Bak sungai yang tiba-tiba terbelah membentuk jalan buat Nabi Musa. Ambulanceku melaju cepat melewati deretan mobil yang masih antri mencari jalan kosong. Aku sudah jauh meninggalkan kemacetan. Menuju MARI yang sudah terlihat kokoh di pinggir Jln. Ratulangi.
***
“Lama menunggu ya..?” Aku terhenyak, menatap Irma yang berdiri sambil tersenyum di sampingku. Menyadarkanku dari lamunan. “Tidak, ayo pulang.” Aku berjalan lesuh menuju pete-pete yang dari tadi berhenti mencari penumpang, Irma ikut di belakangku.
            “Kalau ada yang mau membelikan kamu mobil, merek apapun itu… kamu minta dibelikan mobil apa?”
            “Aku mau mobil yang keren, seperti Mercedes Benz, Ferrari Enzo, pokoknya yang keren, emang kenapa kamu tiba-tiba bertanya begini?” Irma balik bertanya.
            “Kenapa hampir semua orang kalau ditanya soal mobil impian pasti jawabannya seperti kamu atau gak jauh dari itu. Selalu yang mahal.”
            “Iyalah.. semua orang mau yang mahal, itukan standarnya mobil keren. Memangnya kalau kamu diberi pilihan, kamu mau mobil apa?”
            “Aku mau ambulance.”
            “Apa?? Ambulance? Ihh.. gak salah?” Irma sedikit berteriak, membuat dua penumpang lain menoleh kearah kami.
            “Iya, aku sangat ingin mobil pribadiku adalah ambulance. Bagiku ambulance adalah mobil terkeren. Ambulance bisa jalan tanpa hambatan, selalu menjadi perhatian. Coba kamu perhatikan, kalau ada ambulance lewat dengan sirinenya, pasti semua mata menoleh dan semua kendaraan menyingkir memberi jalan. Bukankah ini keren?”
            “Ya ampun, ambulance itu lambang berduka. Arahnya kalau bukan ke Rumah Sakit, paling ke kubur, atau pulang kerumah tapi penumpangnya mayat atau orang sakit. Yang pasti, namanya ambulance pasti kesannya horor. Lagian gak mesti pake ambulance tuk menarik perhatian, lebih etis pakai mobil mewah dan keren. Pasti semua mata bakal menoleh.”
            “Sudahlah… pokoknya, buat aku ambulance adalah mobil terkeren. Aku punya pandangan sendiri soal ambulance, yang pasti ambulance itu sangat keren. Andai kamu mau melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Kamu akan menemukan sesuatu yang tak dipikirkan orang pada umumnya, cobalah berpikir berbeda.”
            Irma hanya mengernyitkan bahu, “terserah.” Memilih diam dan menikmati perjalanan bersama pete-pete yang kini ikut terjebak mecetnya kota Makassar. Aku pun demikian. Duduk tenang memandang keluar kaca pete-pete. Kembali memikirkan soal ambulance idamanku. “Mungkinkah ambulance menjadi private car??”
SEKIAN

Cerpen ini telah terbit di koran harian FAJAR
Edisi 20 September 2014

Aqilalah El-Hafizhah