Waktu
yang tak terlupakan. Tujuh tahun silam saat kita kembali membuat sejarah.
Bersama menghidupkan kembali Tahfidzul Quran putri Darul Istiqamah yang sempat
vakum selama enam tahun. Dan kita berhasil memulai kembali amal jariah itu, tentu
saja berkat keinginan dan kegigihan Ust. Iqbal Coing selaku pimpinan Tahfidz
putri.
Ada
banyak perjuangan dan pengorbanan mengiring langkah kita. Pengorbanan pertama
itu adalah meninggalkan bangku sekolah. Kita rela meninggalkan bangku sekolah
sebagai harga yang harus kita bayar untuk cita-cita mulia menjadi seorang
hafidzah. Dan dari sekian banyak santri, ternyata hanya enam belas yang siap dengan
resiko ini. Maka bersyukurlah kawan, karena kita salah satu yang terpilih. Kita
terpilih untuk berjuang lebih. Kitalah Ashshaabiquunal awwaliin..
Perjuangan
adalah harga mati sebuah cita-cita mulia. Mulai dari menyulap gudang menjadi
asrama, membuat tempat yang sebenarnya tak layak dihuni lagi menjadi harus
layak huni. Mau bagaimana lagi, yang tersisa hanya gudang. Dan tentu saja ada
begitu banyak keterbatasan lain yang membuat kita harus tabah menjalaninya.
Mengawali kebaikan memang penuh tantangan.
Sejak
hari itu, Al-Quran resmi menjadi sahabat. Setiap hari menjadi kitab wajib untuk
dibaca dan dihafal. Setiap hari mempelajari tafsir dan terjemahannya bersama
Ust. Iqbal. Ayat demi ayat. Selain itu, tiga kali seminggu kita kembali mempelajari
tafsirnya dalam pengajian tafsir yang dibawakan pimpinan pesantren. Tidak lupa
belajar tajwid tentunya.
Setiap
hari kita membuka dan menutup hari kita dengan Al-Quran.
Ada
tangis saat hafalan sulit masuk, sementara waktu nyetor sudah habis. Maka tentu
ada sanksi yang harus diterima. Ada gelora semangat menghafal untuk saling
mengejar hafalan. Ada sakit hati saat ternyata kita dipandang sebelah mata
sebagai kelompok kecil oleh beberapa santri. Ada kecewa saat merasa kita
di-anak-tirikan. Terkadang ada rasa iri saat melihat teman-teman pulang-pergi
sekolah, mengulang pelajaran di masjid dsb. Tapi, selalu ada tawa dan senyum di
setiap jejak yang kita lewati. Kebersamaan sungguh menjadi penawar mujarab
untuk semua rasa negatif yang sering
kali menghias hari kita. Ahh…ada begitu banyak rasa yang silih berganti mengisi
hati kita. Maklumlah..kita masih dalam proses mengontrol hati untuk benar-benar
ikhlas lillahi ta’ala.
Ada
banyak cerita yang tersimpan rapi dalam memori kita. kenangan yang sangat luar
biasa meski hanya sebentar. Kenangan yang menghadirkan kerinduan untuk kembali
bersua saat mengingatnya. Saat memori itu kembali diputar, bibir ini tersenyum
tanpa sadar, ada begitu banyak kekonyolan yang kita lakukan. Dan aku yakin,
selalu ada air mata jika mengingat semua yang telah kita lewati bersama. Semua terasa
begitu indah. Inilah moment-moment indah yang tak terlupakan.
Sahabat,
Jarak
telah memisahkan kita. kenangan itupun sudah tertinggal sangat jauh. Maka aku
berharap, meski kita telah berpisah, semoga Al-Quran tetap menjadi sahabat.
Tetap menjadi bacaan kita setiap hari. Tetap menghafal dan terus menjaganya.
Ingat,,
kita bertemu karena Al-qur’an, kita hidup bersama dengan Al-Qur’an, maka aku berharap
kita akan kembali berkumpul di jannah-Nya sebagai Ahlul Qur’an. Maka tetaplah
dengan impian kita menjadi seorang Hafidzah. Pegang erat impian itu, jangan
pernah membiarkannya lepas. Jika ternyata saat ini pegangan itu mulai renggang
bahkan mungkin lepas… rebut kembali impian itu, peluk erat dan jangan pernah
melepaskannya lagi. Sungguh impian menjadi seorang hafidzah itu adalah sesuatu
yang sangat berharga. Maka jangan pernah membiarkannya hilang dari hidupmu.
You all the best of my life. Terima kasih telah hadir dalam sepenggal hidupku. Terima kasih atas ukhuwah yang begitu indah. Terima kasih telah menjadi sahabat-sahabat luar biasaku.
Tulisan ini spesial buat sahabat-sahabatku
di Tahfidzul Qur'an putri Darul Istiqamah
Dariku yang merindukan kalian
Aqilah El-Hafizhah
Aqilah El-Hafizhah
