Hujan semakin deras. Angin
bertiup kencang. Kilat bak lampu seratus watt menerangi pekarangan rumah yang
gelap. Sambung-menyambung suara guntur menggelegar di segala
penjuru. Memekakkan telinga. Membuat suasana malam semakin mencekam. Mungkinkan alam murkah pada manusia yang tak
hentinya berbuat kerusakan?. Tanyaku
membatin.
Berkemul dibalik
selimut tentu pilihan terbaik saat cuaca seperti ini. Menyembunyikan diri di
balik selimut tebal, menghindari suasana hujan yang mencekam. Tapi tidak
bagiku, tidak untuk kali ini. Saat aku bingung harus membuat keputusan terbaik.
Dari jendela kaca yang terbuka, aku duduk menatap hujan yang berselimut gelap. Membiarkan
angin dan percikan hujan menerpa tubuhku. Musim hujan tahun ini adalah musim hujan ke
enam setelah kepergiannya. Setelah mengucap janji kepadaku, janji matahari katanya. Tepat seperti
saat ini, membuatku kembali mengenang pertemuan terakhir kami.
***
“Nay, ada yang ingin
kusampaikan.” Aku mengernyit, derasnya hujan membuat suara Randi tak terdengar.
“Ada yang ingin kusampaikan,” Randi menambah volume suaranya.
“Bicaralah”. Teriakku
tak kalah keras dengan suara Randi. Warung kopi Bu Warto lengang, membuat kami
lebih leluasa bicara.
“Aku akan pergi,” Suaranya melemah tak terdengar, tapi aku paham lewat gerak mulutnya. Aku
terdiam. Aku tak paham mengapa tiba-tiba kalimat itu yang terucap. Aku beralih
menatap hujan yang semakin deras mengguyur kampungku. Menunggu penjelasan.
“Fadil mengajakku ke
Jayapura. Di sebuah pulau terpencil. Kami berencana merintis usaha di sana. Kamu
tahu kan, aku sendiri di sini. Aku tak punya keluarga. Mungkin saatnya aku
mulai memikirkan masa depanku, masa depan kita. Tanpa harus bergantung pada orang
lain.”
Bibirku kelu tak mampu
berucap mendengar penjelasannya. Semua ini amat mengejutkan buatku. Semuanya
terlalu tiba-tiba.
Kami terdiam lama.
Menyisakan suara tetes hujan disertai guntur yang menggelegar. Hatiku tak
terima, mengapa dia tiba-tiba ingin pergi.
“Bagaimana dengan
hubungan kita?” Akhirnya aku bicara.
“Aku pasti akan
kembali. Aku berjanji seperti janji matahari. Kau tahu, matahari selalu menepati
janji. Setiap hari, di waktu dan tempat yang sama ia berjanji untuk kembali
membagi cahayanya. Itulah janji yang tak terucap. Tak pernah ingkar sekali pun.
Percayalah, meski belum tentu kapan, aku pasti kembali.”
Aku tersenyum getir mengingat
percakapan terakhir kami. Janji matahari
katamu. Janji matahari yang tak pernah ingkar. Kau meyakinkanku dengan janji matahari.
Tapi benarkah kau adalah sosok yang bisa menepati janji seperti matahari? Kau
pergi tanpa kabar hingga hari ini. Haruskah aku setia menunggu janjimu? Entah
sudah berapa orang yang datang menawarkan janji kebahagiaan kepadaku. Sempurna
aku menolak, memilih setia pada janji mataharimu.
Di mana kau
sebenarnya? Saat aku di ambang putus asa menunggu janjimu. Saat seseorang
kembali datang menawarkan kebahagiaan. Seseorang yang juga teramat penting
buatku. Faris, sahabat terbaikku. Dia meminangku. Haruskah aku menolaknya
dengan alasan yang sama seperti yang datang sebelumnya? Sementara aku sendiri
mulai ragu pada janji mataharimu. Bagaimananapun, aku harus memutuskan yang
terbaik.
“Nay, kenapa
jendelanya dibiarkan terbuka? Hujan sangat deras, kamu bisa sakit.” Kak Reina
mendekat, menutup jendela. Menatapku prihatin, seolah paham apa yang
kupikirkan. Dia ikut duduk di sampingku.
“Sudahlah, kakak tahu
kau mencintainya. Tapi mungkinkah dia akan kembali setelah pergi tanpa secuil
kabar pun untukmu? Kakak tidak ingin kamu terluka lebih dalam.” Kak Reina
berhenti sejenak, menatapku dalam. ”Maaf, tapi kamu akan sangat terluka jika
dia datang barsama seseorang sebagai penggantimu.” Aku menoleh, menatap Kak
Reina tajam sebelum kembali menatap jendela kaca yang berembun. Membuat Kak
Reina seketika diam. Tak ada percakapan beberapa menit.
“Kau mengenal Faris
lebih dari siapapun. Cobalah beri dia kesempatan, dan belajarlah memulai
kembali. Kau sudah terlalu lama menunggu.” Kak Reina berucap pelan sebelum
berlalu meninggalkanku yang masih membisu.
Aku tak bergeming,
masih asyik menatap hujan berwujud gelap. Membiarkan hatiku menyelami apa yang
sesungguhnya kurasakan. Aku tak suka ucapan Kak Reina, meski sepotong hatiku
yang lain membenarkan. Dia benar, saatnya aku memberi kesempatan pada orang
lain.
***
“Ada
tamu mencari Tante Nayla, dia menunggu di luar.”
“Siapa?” Aku bertanya penasaran. “Aku tidak mengenalnya.” Ita, putri Kak Reina menjawab
singkat lalu berlalu.
Segera
kugendong putriku yang masih menangis. Membujuknya sambil melangkah ke ruang
tamu. Seseorang menungguku di luar.
Langkahku terhenti
melihat siapa yang datang mencariku. Randi berdiri tepat di depan figura foto
pernikahanku bersama Faris tiga tahun lalu. Menatap. Menoleh saat menyadari kehadiranku
bersama Farah yang masih sesegukan. Tersenyum ramah padaku, senyuman tulus. Aku
seolah membeku, tak sanggup bergerak. Dia
beranjak ke kursi, membuatku tersadar kembali. Aku mendekat, duduk berhadapan.
Tak berani menatapnya.
“Bagaimana kabarmu,
Nay?”
“Seperti yang kau
lihat. Aku baik,” jawabku singkat sembil menepuk-nepuk putriku.
“Syukurlah. Selamat
atas pernikahan kalian, mungkin ucapan ini sangat terlambat.”
“Tak mengapa, terima
kasih.”
Kami
diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Ada
banyak alasan mengapa aku tak pernah memberi kabar, meski semua sudah tak
penting lagi. Seperti yang pernah kukatakan, matahari tak pernah ingkar janji.
Hari ini aku datang memenuhi janji, tapi kita memang tak ditakdirkan bersama.
Hanya ini yang bisa kukatakan.” Suaranya sedikit bergetar. Aku menatapnya
sekilas.
Diam sejenak.
“Salam buat Faris, aku pamit.”
Aku hanya diam,
membiarkanmu berlalu. Menatap sosokmu yang semakin menjauh. Kamu masih seperti
dulu. Tak berubah kecuali kulitmu yang sedikit gelap dan penampilanmu yang
semakin modis. Kau selalu baik dan ramah. Meski aku bisa menangkap luka di
matamu. Luka karena aku.
Kau benar, matahari
tak pernah mengingkari janji. Dan janjimu adalah janji matahari. Janji yang
tertepati. Maafkan aku yang mergukanmu. Maafkan aku yang tak bisa setia
menunggu. Cintamu hanya pantas buat seseorang yang istimewa. Seseorang yang
selalu percaya pada janji mataharimu.
SEKIAN
Cerpen ini telah terbit pada koran CAKRAWALA
Edisi, 20 Desember 2014
Aqilah El-Hafizhah
Aqilah El-Hafizhah
3 komentar:
Bagus sekali, mba..
Waah bagus mbk..
Semangat terus yaa semoga ilmunya nular hihihi
Makasih, :)
tp sy gak pernah nulis cerpen lg, itu tulisan lama..
blm ada ilmu yg bisa ditularkan, hehe..
sama2 belajar yak..
Posting Komentar