Minggu, 18 Januari 2015

Matahari Tak Pernah Ingkar



Hujan semakin deras. Angin bertiup kencang. Kilat bak lampu seratus watt menerangi pekarangan rumah yang gelap. Sambung-menyambung suara guntur menggelegar di segala penjuru. Memekakkan telinga. Membuat suasana malam semakin mencekam. Mungkinkan alam murkah pada manusia yang tak hentinya berbuat kerusakan?. Tanyaku  membatin.
Berkemul dibalik selimut tentu pilihan terbaik saat cuaca seperti ini. Menyembunyikan diri di balik selimut tebal, menghindari suasana hujan yang mencekam. Tapi tidak bagiku, tidak untuk kali ini. Saat aku bingung harus membuat keputusan terbaik. Dari jendela kaca yang terbuka, aku duduk menatap hujan yang berselimut gelap. Membiarkan angin dan percikan hujan menerpa tubuhku.  Musim hujan tahun ini adalah musim hujan ke enam setelah kepergiannya. Setelah mengucap janji kepadaku, janji matahari katanya. Tepat seperti saat ini, membuatku kembali mengenang pertemuan terakhir kami.
***
“Nay, ada yang ingin kusampaikan.” Aku mengernyit, derasnya hujan membuat suara Randi tak terdengar. “Ada yang ingin kusampaikan,” Randi menambah volume suaranya.
“Bicaralah”. Teriakku tak kalah keras dengan suara Randi. Warung kopi Bu Warto lengang, membuat kami lebih leluasa bicara.
“Aku akan pergi,” Suaranya melemah tak terdengar, tapi aku paham lewat gerak mulutnya. Aku terdiam. Aku tak paham mengapa tiba-tiba kalimat itu yang terucap. Aku beralih menatap hujan yang semakin deras mengguyur kampungku. Menunggu penjelasan.
“Fadil mengajakku ke Jayapura. Di sebuah pulau terpencil. Kami berencana merintis usaha di sana. Kamu tahu kan, aku sendiri di sini. Aku tak punya keluarga. Mungkin saatnya aku mulai memikirkan masa depanku, masa depan kita. Tanpa harus bergantung pada orang lain.”
Bibirku kelu tak mampu berucap mendengar penjelasannya. Semua ini amat mengejutkan buatku. Semuanya terlalu tiba-tiba.
Kami terdiam lama. Menyisakan suara tetes hujan disertai guntur yang menggelegar. Hatiku tak terima, mengapa dia tiba-tiba ingin pergi.
“Bagaimana dengan hubungan kita?” Akhirnya aku bicara.
“Aku pasti akan kembali. Aku berjanji seperti janji matahari. Kau tahu, matahari selalu menepati janji. Setiap hari, di waktu dan tempat yang sama ia berjanji untuk kembali membagi cahayanya. Itulah janji yang tak terucap. Tak pernah ingkar sekali pun. Percayalah, meski belum tentu kapan, aku pasti kembali.”
Aku tersenyum getir mengingat percakapan terakhir kami. Janji matahari katamu. Janji matahari yang tak pernah ingkar. Kau meyakinkanku dengan janji matahari. Tapi benarkah kau adalah sosok yang bisa menepati janji seperti matahari? Kau pergi tanpa kabar hingga hari ini. Haruskah aku setia menunggu janjimu? Entah sudah berapa orang yang datang menawarkan janji kebahagiaan kepadaku. Sempurna aku menolak, memilih setia pada janji mataharimu.
Di mana kau sebenarnya? Saat aku di ambang putus asa menunggu janjimu. Saat seseorang kembali datang menawarkan kebahagiaan. Seseorang yang juga teramat penting buatku. Faris, sahabat terbaikku. Dia meminangku. Haruskah aku menolaknya dengan alasan yang sama seperti yang datang sebelumnya? Sementara aku sendiri mulai ragu pada janji mataharimu. Bagaimananapun, aku harus memutuskan yang terbaik.
“Nay, kenapa jendelanya dibiarkan terbuka? Hujan sangat deras, kamu bisa sakit.” Kak Reina mendekat, menutup jendela. Menatapku prihatin, seolah paham apa yang kupikirkan. Dia ikut duduk di sampingku.
“Sudahlah, kakak tahu kau mencintainya. Tapi mungkinkah dia akan kembali setelah pergi tanpa secuil kabar pun untukmu? Kakak tidak ingin kamu terluka lebih dalam.” Kak Reina berhenti sejenak, menatapku dalam. ”Maaf, tapi kamu akan sangat terluka jika dia datang barsama seseorang sebagai penggantimu.” Aku menoleh, menatap Kak Reina tajam sebelum kembali menatap jendela kaca yang berembun. Membuat Kak Reina seketika diam. Tak ada percakapan beberapa menit.
“Kau mengenal Faris lebih dari siapapun. Cobalah beri dia kesempatan, dan belajarlah memulai kembali. Kau sudah terlalu lama menunggu.” Kak Reina berucap pelan sebelum berlalu meninggalkanku yang masih membisu.
Aku tak bergeming, masih asyik menatap hujan berwujud gelap. Membiarkan hatiku menyelami apa yang sesungguhnya kurasakan. Aku tak suka ucapan Kak Reina, meski sepotong hatiku yang lain membenarkan. Dia benar, saatnya aku memberi kesempatan pada orang lain.
***
            “Ada tamu mencari Tante Nayla, dia menunggu di luar.”
            “Siapa?” Aku bertanya penasaran. “Aku tidak mengenalnya.” Ita, putri Kak Reina menjawab singkat lalu berlalu.
            Segera kugendong putriku yang masih menangis. Membujuknya sambil melangkah ke ruang tamu. Seseorang menungguku di luar.
Langkahku terhenti melihat siapa yang datang mencariku. Randi berdiri tepat di depan figura foto pernikahanku bersama Faris tiga tahun lalu. Menatap. Menoleh saat menyadari kehadiranku bersama Farah yang masih sesegukan. Tersenyum ramah padaku, senyuman tulus. Aku seolah membeku, tak sanggup bergerak.  Dia beranjak ke kursi, membuatku tersadar kembali. Aku mendekat, duduk berhadapan. Tak berani menatapnya.
“Bagaimana kabarmu, Nay?”
“Seperti yang kau lihat. Aku baik,” jawabku singkat sembil menepuk-nepuk putriku.
“Syukurlah. Selamat atas pernikahan kalian, mungkin ucapan ini sangat terlambat.”
“Tak mengapa, terima kasih.”
            Kami diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
            “Ada banyak alasan mengapa aku tak pernah memberi kabar, meski semua sudah tak penting lagi. Seperti yang pernah kukatakan, matahari tak pernah ingkar janji. Hari ini aku datang memenuhi janji, tapi kita memang tak ditakdirkan bersama. Hanya ini yang bisa kukatakan.” Suaranya sedikit bergetar. Aku menatapnya sekilas.
Diam sejenak.
 “Salam buat Faris, aku pamit.”
Aku hanya diam, membiarkanmu berlalu. Menatap sosokmu yang semakin menjauh. Kamu masih seperti dulu. Tak berubah kecuali kulitmu yang sedikit gelap dan penampilanmu yang semakin modis. Kau selalu baik dan ramah. Meski aku bisa menangkap luka di matamu. Luka karena aku.
Kau benar, matahari tak pernah mengingkari janji. Dan janjimu adalah janji matahari. Janji yang tertepati. Maafkan aku yang mergukanmu. Maafkan aku yang tak bisa setia menunggu. Cintamu hanya pantas buat seseorang yang istimewa. Seseorang yang selalu percaya pada janji mataharimu.

SEKIAN

Cerpen ini telah terbit pada koran CAKRAWALA
Edisi, 20 Desember 2014

Aqilah El-Hafizhah

3 komentar:

Vinny Martina mengatakan...

Bagus sekali, mba..

Unknown mengatakan...

Waah bagus mbk..
Semangat terus yaa semoga ilmunya nular hihihi

Aqilah El-Hafizhah mengatakan...

Makasih, :)

tp sy gak pernah nulis cerpen lg, itu tulisan lama..
blm ada ilmu yg bisa ditularkan, hehe..
sama2 belajar yak..