Aku
memandang lurus kedepan. Menatap lalu-lalang kendaraan yang berpacu dengan
waktu. Membiarkan angin sore yang sudah teracuni polusi menerpa tubuhku yang
terduduk lelah di bangku halte depan kampusku. Rasanya menyenangkan duduk
santai memandang jalan yang tak pernah sunyi oleh kendaraan. Seperti ini selalu
menyenangkan, setidaknya melepas lelah setelah bertempur dengan rumus-rumus tenses yang selalu memusingkan. Itulah
mengapa aku tidak keberatan menunggu Irma yang entah kenapa belum menyusulku.
Aku
masih duduk tenang saat kesendirianku terusik oleh suara sirine ambulance yang tiba-tiba
melaju cepat di jalan. Membuat semua kendaraan menyingkir memberi jalan. Ekor
mataku terus mengikuti ambulance yang semakin menjauh. Terus menatapnya hingga
hanya menyisakan suara sirinenya yang masih
terdengar meliuk-liuk. Aku terpukau!
***
Setelah
puas memandang jalan aku beranjak meninggalkan halte. “lebih baik menunggu Irma di mobil,” pikirku. Aku melangkah santai
menuju mobil putih yang terparkir di pinggir jalan dekat halte. Mobil
ambulance. Mobil kebanggaanku, sebagai hadiah sweet seventeenku dari ibu. Mobil
yang telah lama menjadi impianku. Mungkin terlihat angker bagi kebanyakan orang
meski bagian dalam mobilku tidak seangker luarnya. Sudah dimodifikasi sedemikian
rupa sesuai seleraku.
Aku
duduk nyaman di bagian belakang kemudi mobil sambil menunggu Irma. Memandang
seisi mobil yang bernuansa pink. Beberapa hiasan dinding terpajang rapi berpadu
dengan gorden pink berenda putih. Di belakang kursi, tepatnya di sampingku
berjejer rapi buku-buku bacaan pada rak kecil berwarna biru. Di bawah kursi
terselip kasur lipat empuk, dilengkapi dua bantal Doraemon dengan ukuran besar
yang tersusun dikursi. Juga sebuah kotak tempat persediaan cemilan dan minuman.
Inilah kamar keduaku.
“Qila… buka pintunya!!” suara cempreng Irma mengagetkanku. Akhirnya penantian ini berakhir. Aku bisa segera
pulang.
“Qila,
kita ke Mall Ratu Indah dulu yaa..”
“Enak
ya jadi penumpang, bisa perintah ini-itu,” aku mencibir.
“Yeah…
kan minta tolong, ada buku yang harus kubeli.”
“Kamu
belajar nyetir dong, biar bisa gantian nyetir.”
“Malas,
lagian emang boleh ambulance kesayangan ini di kemudikan selain pemiliknya?” Irma menyinggung aku yang memang tak pernah membiarkan ambulanceku di kemudikan
orang lain. “Aku mau baring ya, pegal seharian duduk,” Irma beranjak ke bagian
belakang dan membuka kasur lipat yang tertata rapi di bawah kursi.
Aku
menyetir dengan riang, menikmati perjalanan yang selalu menyenangkan bersama
ambulance kesayanganku. Dari jauh terlihat jejeran kendaraan yang melaju
lambat. Terjebak mecet. Aku tersenyum, macet tak pernah menjdi masalah buatku.
Sirine mobil kuhidupkan, inilah senjataku menghadapi macet. Kendaraan di depanku
segera membelah, memberi jalan. Bak sungai yang tiba-tiba terbelah membentuk
jalan buat Nabi Musa. Ambulanceku melaju cepat melewati deretan mobil yang
masih antri mencari jalan kosong. Aku sudah jauh meninggalkan kemacetan. Menuju
MARI yang sudah terlihat kokoh di pinggir Jln. Ratulangi.
***
“Lama menunggu ya..?” Aku terhenyak, menatap Irma yang berdiri sambil tersenyum di sampingku.
Menyadarkanku dari lamunan. “Tidak, ayo pulang.” Aku berjalan lesuh menuju
pete-pete yang dari tadi berhenti mencari penumpang, Irma ikut di belakangku.
“Kalau
ada yang mau membelikan kamu mobil, merek apapun itu… kamu minta dibelikan
mobil apa?”
“Aku
mau mobil yang keren, seperti Mercedes Benz, Ferrari Enzo, pokoknya yang keren,
emang kenapa kamu tiba-tiba bertanya begini?” Irma balik bertanya.
“Kenapa
hampir semua orang kalau ditanya soal mobil impian pasti jawabannya seperti
kamu atau gak jauh dari itu. Selalu yang mahal.”
“Iyalah..
semua orang mau yang mahal, itukan standarnya mobil keren. Memangnya kalau kamu
diberi pilihan, kamu mau mobil apa?”
“Aku
mau ambulance.”
“Apa??
Ambulance? Ihh.. gak salah?” Irma sedikit berteriak, membuat dua penumpang
lain menoleh kearah kami.
“Iya,
aku sangat ingin mobil pribadiku adalah ambulance. Bagiku ambulance adalah
mobil terkeren. Ambulance bisa jalan tanpa hambatan, selalu menjadi perhatian.
Coba kamu perhatikan, kalau ada ambulance lewat dengan sirinenya, pasti semua
mata menoleh dan semua kendaraan menyingkir memberi jalan. Bukankah ini
keren?”
“Ya
ampun, ambulance itu lambang berduka. Arahnya kalau bukan ke Rumah Sakit,
paling ke kubur, atau pulang kerumah tapi penumpangnya mayat atau orang sakit.
Yang pasti, namanya ambulance pasti kesannya horor. Lagian gak mesti pake
ambulance tuk menarik perhatian, lebih etis pakai mobil mewah dan keren. Pasti
semua mata bakal menoleh.”
“Sudahlah…
pokoknya, buat aku ambulance adalah mobil terkeren. Aku punya pandangan sendiri
soal ambulance, yang pasti ambulance itu sangat keren. Andai kamu mau
melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Kamu akan menemukan sesuatu yang
tak dipikirkan orang pada umumnya, cobalah berpikir berbeda.”
Irma
hanya mengernyitkan bahu, “terserah.” Memilih diam dan menikmati perjalanan bersama pete-pete yang kini ikut terjebak
mecetnya kota Makassar. Aku pun demikian. Duduk tenang memandang keluar kaca
pete-pete. Kembali memikirkan soal ambulance idamanku. “Mungkinkah ambulance menjadi private car??”
SEKIAN
Cerpen ini telah terbit di koran harian FAJAR
Edisi 20 September 2014
Aqilalah El-Hafizhah
Aqilalah El-Hafizhah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar