Minggu, 18 Januari 2015

Arti Sebuah Nama

Apa arti nama bagi Anda? Pentingkah? Atau… nama tak lebih dari sekedar bagaimana Anda dipanggil dan dikenal. Hanya sebatas identitas, tak lebih dan tak kurang. 

Setiap orang tentu punya persepsi masing-masing tentang makna sebuah nama bagi mereka. Atau bahkan ada yang memilih cuek memikirkan namanya. Yang penting dia punya nama.

Bagiku, nama mempunyai arti besar dalam hidup. Juga memegang perang penting dalam perjalanan kehidupan ini, setidaknya untukku pribadi. Pernahkah anda mendengar ungkapan bahwa nama adalah do’a? mungkin inilah yang terjadi pada namaku. Meski awalnya aku tak pernah berpikir bahwa nama itu sungguh akan menjadi do’a untukku.

MUALLIMAH. Inilah nama yang disematkan orangtuaku. Singkat tapi punya makna tentunya. Nama yang diberikan padaku tidak dengan asal-asalan. Nama yang diberikan dengan harapan besar bahwa kelak aku akan menjadi seperti yang mereka harapkan. Dengan kata lain, mereka yakin bahwa nama itu akan menjadi do’a buat anaknya. Tanyakanlah pada orangtua masing-masing, maka anda akan menemukan bahwa ada alasan dibalik nama anda. So, begitu besar arti sebuah nama. Nama adalah harapan dari mereka yang sangat menyayangimu.

Dulu, aku tak pernah pede dengan namaku. Aku bahkan tak suka dengan namaku. Aku selalu malu jika harus memperkenalkan diri. Karena bagiku, nama adalah aibku. Jika dikelas guru mengabsen, maka aku akan gelisah menunggu namaku disebut. Berharap agar kelas ribut saat namaku disebut, agar tak seorangpun mendengarnya. Sekali lagi, aku sangat tak pede dengan namaku. Bukan hanya saat aku SD, bahkan sampai saat aku SMP/MTS. Cukup lama aku harus gelisah dengan namaku. Terkadang aku bahkan jengkel pada orangtuaku yang memberikan nama jelek untukku (versiku waktu itu). Meski semua hanya kusimpan dalam hati.

Muallimah yang berarti Guru. Saat SD aku memang bercita-cita ingin menjadi guru. Jika dikelas kami ditanya tentang cita-cita maka jawabanku pastilah guru. Mungkin karena itulah profesi yang paling dikenal oleh anak-anak. Jika anda bertanya pada anak-anak jaman dulu tentang cita-cita mereka, maka anda akan mendapat jawaban guru, dokter, polisi, dan pilot sebagai pilihan mereka. Inilah cita-cita anak jaman dulu, tak terkecuali aku.

Entah sejak kapan aku akhirnya mengalah dengan namaku. Aku mulai menerimanya dengan tulus bahwa itulah nama yang diberikan orangtua padaku. Hingga akhirnya aku bangga dengan namaku. Tak lagi risih apalagi malu. Nama ini tiba-tiba indah di telingaku. Mungkin karena sudah mulai ada yang memuji bahwa namaku bagus. Mungkin juga karena namaku semakin sering disebut karena beberapa prestasi yang berhasil kuperoleh. Semakin banyak yang menyebut namaku berarti semakin banyak yang berdo’a agar aku menjadi guru, karena Muallimah berarti guru.

Apakah aku masih bercita-cita menjadi guru? Kurasa keinginan itu tak lagi menjadi cita-citaku. Keinginanku menjadi guru luluh sedikit demi sedikit hingga tak berbekas sama sekali. Semakin banyaknya pengalaman dan buku yang kubaca membuatku merangkai mimpi-mimpi baru. Meninggalkan cita-cita masa kecilku. Tapi namaku tak pernah berubah. Dan tetap menjadi do’a bagi yang memanggilku. Meski impianku sudah berubah.

Setelah lulus MA/SMA, aku mengikuti program wajib di pesantren untuk mengabdi  selama setahun. Masa pengabdian ini menjadi saat di mana kami harus mengajarkan apa yang telah kami dapatkan selama di pondok. Di sinilah aku mengajar layaknya seorang guru sungguhan. Aku bahkan mendapat pujian bahwa aku berbakat menjadi guru. Cara aku menjelaskan cukup mudah dipahami kata mereka. Yah, aku memang berusaha maksimal pada apa yang diamanahkan saat itu. Dan aku menikmati posisiku sebagai pengajar meski aku masih belum mengharapkannya menjadi profesiku kelak. Cukup di masa pengabdian ini, pikirku.

Training Quantum Teaching adalah sebuah pelatihan untuk menjadi guru yang professional yang diadakan pihak pesantren untuk semua tenaga pengajar. Akupun turut dalam kegiatan ini. Training yang luar biasa menurutku. Kami belajar banyak tentang hakikat seorang guru. Bagaimana posisi seorang guru sebenarnya, dan bagaimana kami seharusnya menjadi seorang guru. Sangat banyak ilmu yang kuperoleh dari training ini karena aku mengikutinya dengan penuh semangat. Apakah setelah training ini aku tiba-tiba ingin menjadi guru? Jawabannya, belum. Meski kuakui, aku salut pada orang yang bisa menjadi guru professional. Dari training ini kutemukan pengalaman dan bekal berharga yang pasti akan berguna dalam kehidupanku kelak. Apapun profesiku.

Tibalah saatnya mendaftar ke perguruan tinggi. Karena beberapa alasan akhirnya UMI menjadi pilihanku. Memilih jurusan menjadi hal membingungkan buatku. Aku tak tahu harus memilih jurusan apa. Awalnya aku mmemilih Sastra Indonesia karena salah satu impianku adalah menjadi penulis. tapi sebuah pemikiran membantahku. Bukannya aku bisa belajar menulis tanpa harus menjadi mahasiswa sastra? Yah, beberapa orang yang kukenal jago nulis bukanlah berlatar belakang sastra. Maka kemungkinan itu juga berlaku untukku. Akhirnya kuputuskan untuk memilih Sastra Inggris karena aku memang senang dengan bahasa inggris.

Sebuah kesalahan kecil terjadi dalam  pengisian formulirku. Karena khawatir tidak lulus di Sastra Inggris maka kurencanakanlah Pendidikan Bahasa Inggris sebagai pilihan keduaku. Yang terpenting aku masih bisa belajar bahasa inggris. Tapi, Sastra Inggris yang seharusnya menjadi pilihan pertamaku justru kutulis pada kolom pilihan kedua, maka jadilah Pendidikan Bahasa Inggris sebagai pilihan pertamaku. Ini tentu di luar rencanaku.

Hal terpenting dari semua perjalanan ini adalah do’a. Aku sadar bahwa kekuatan terbesar adalah milik-Nya maka pada-Nya-lah semua harapanku berlabuh. Semua harapan kusampaikan lewat do’a kepada-Nya. Termasuk dalam memilih jurusan. Aku tidak meminta secara langsung bahwa aku ingin lulus pada Sastra Inggris. Yang aku minta adalah apa yang terbaik buatku, bukan yang aku inginkan. Rumus takdir dalam surah Al-Baqarah : 216 selalu menjadi pijakanku bahwa Allah-lah yang paling tahu apa yang terbaik buat hamba-hamba-Nya.

Fakultas Sastra, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Muslim Indonesia. Di sinilah akhirnya aku bergelut dalam dunia pendidikan. Mengkaji bahasa inggris dan mendalami proses mengajar. Mengenal dunia pendidikan lebih dalam. Menemukan banyak hal unik, menarik dan mengagumkan dari kepribadian peserta didik. Semua ini sempurna membuatku jatuh cinta pada dunia pendidikan. Mencintai dunia mengajar dan anak-anak didik. Membuatku kembali pada cita-cita kecilku. Menjadi seorang guru.  

Aku ingin dan sunguh ingin menjadi seorang guru. Aku ingin karena aku paham dunia ini. Bukan sekedar ikut-ikutan apalagi terpaksa. Dunia yang menurutku sangat menarik dan penuh tantangan. Dunia yang akan menjadi awal untuk membangun dan memajukan sebuah peradaban. Dunia pendidikan, di sinilah aku dengan sebuah impian besar untuk menjadi seorang guru yang kelak akan mengantarkan anak didikku menuju cahaya kesuksesan. Bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat. Mungkin impian ini terlalu muluk. Tapi aku tak peduli apakah semua ini akan berakhir sukses seperti harapan dan impianku. Aku hanya akan berusaha sebisa yang aku mampu, biarlah Allah yang membuat jalan ini lebih indah dengan cara-Nya.

Sungguh, nama itu adalah do’a. Maka pilihlah nama terbaik dan panggilan terbaik untukmu dan anak-anakmu kelak. Semoga dengan nama itu dia bisa menjadi seseorang yang sesuai dengan harapanmu sebagai orangtua.


Aqilah El-Hafizhah


Tidak ada komentar: