Apa
arti nama bagi Anda? Pentingkah? Atau… nama tak lebih dari sekedar bagaimana Anda dipanggil dan dikenal. Hanya sebatas identitas, tak lebih dan tak
kurang.
Setiap orang tentu punya persepsi masing-masing tentang makna sebuah nama bagi mereka. Atau bahkan ada yang memilih cuek memikirkan namanya. Yang penting dia punya nama.
Bagiku,
nama mempunyai arti besar dalam hidup. Juga memegang perang penting dalam
perjalanan kehidupan ini, setidaknya untukku pribadi. Pernahkah anda mendengar ungkapan bahwa nama adalah do’a? mungkin
inilah yang terjadi pada namaku. Meski awalnya aku tak pernah berpikir bahwa
nama itu sungguh akan menjadi do’a untukku.
MUALLIMAH. Inilah nama yang disematkan orangtuaku. Singkat tapi punya makna tentunya. Nama yang diberikan padaku tidak dengan asal-asalan. Nama yang diberikan dengan harapan besar bahwa kelak aku akan menjadi seperti yang mereka harapkan. Dengan kata lain, mereka yakin bahwa nama itu akan menjadi do’a buat anaknya. Tanyakanlah pada orangtua masing-masing, maka anda akan menemukan bahwa ada alasan dibalik nama anda. So, begitu besar arti sebuah nama. Nama adalah harapan dari mereka yang sangat menyayangimu.
MUALLIMAH. Inilah nama yang disematkan orangtuaku. Singkat tapi punya makna tentunya. Nama yang diberikan padaku tidak dengan asal-asalan. Nama yang diberikan dengan harapan besar bahwa kelak aku akan menjadi seperti yang mereka harapkan. Dengan kata lain, mereka yakin bahwa nama itu akan menjadi do’a buat anaknya. Tanyakanlah pada orangtua masing-masing, maka anda akan menemukan bahwa ada alasan dibalik nama anda. So, begitu besar arti sebuah nama. Nama adalah harapan dari mereka yang sangat menyayangimu.
Dulu,
aku tak pernah pede dengan namaku. Aku bahkan tak suka dengan namaku. Aku
selalu malu jika harus memperkenalkan diri. Karena bagiku, nama adalah aibku.
Jika dikelas guru mengabsen, maka aku akan gelisah menunggu namaku disebut.
Berharap agar kelas ribut saat namaku disebut, agar tak seorangpun
mendengarnya. Sekali lagi, aku sangat tak pede dengan namaku. Bukan hanya saat
aku SD, bahkan sampai saat aku SMP/MTS. Cukup lama aku harus gelisah dengan
namaku. Terkadang aku bahkan jengkel pada orangtuaku yang memberikan nama jelek
untukku (versiku waktu itu). Meski semua hanya kusimpan dalam hati.
Muallimah
yang berarti Guru. Saat SD aku memang bercita-cita ingin menjadi guru. Jika
dikelas kami ditanya tentang cita-cita maka jawabanku pastilah guru. Mungkin
karena itulah profesi yang paling dikenal oleh anak-anak. Jika anda bertanya
pada anak-anak jaman dulu tentang cita-cita mereka, maka anda akan mendapat
jawaban guru, dokter, polisi, dan pilot sebagai pilihan mereka. Inilah cita-cita
anak jaman dulu, tak terkecuali aku.
Entah
sejak kapan aku akhirnya mengalah dengan namaku. Aku mulai menerimanya dengan
tulus bahwa itulah nama yang diberikan orangtua padaku. Hingga akhirnya aku
bangga dengan namaku. Tak lagi risih apalagi malu. Nama ini tiba-tiba indah di
telingaku. Mungkin karena sudah mulai ada yang memuji bahwa namaku bagus.
Mungkin juga karena namaku semakin sering disebut karena beberapa prestasi yang
berhasil kuperoleh. Semakin banyak yang menyebut namaku berarti semakin banyak
yang berdo’a agar aku menjadi guru, karena Muallimah berarti guru.
Apakah
aku masih bercita-cita menjadi guru? Kurasa keinginan itu tak lagi menjadi
cita-citaku. Keinginanku menjadi guru luluh sedikit demi sedikit hingga tak
berbekas sama sekali. Semakin banyaknya pengalaman dan buku yang kubaca
membuatku merangkai mimpi-mimpi baru. Meninggalkan cita-cita masa kecilku. Tapi
namaku tak pernah berubah. Dan tetap menjadi do’a bagi yang memanggilku. Meski
impianku sudah berubah.
Setelah
lulus MA/SMA, aku mengikuti program wajib di pesantren untuk mengabdi selama setahun. Masa pengabdian ini menjadi
saat di mana kami harus mengajarkan apa yang telah kami dapatkan selama di
pondok. Di sinilah aku mengajar layaknya seorang guru sungguhan. Aku bahkan
mendapat pujian bahwa aku berbakat menjadi guru. Cara aku menjelaskan cukup
mudah dipahami kata mereka. Yah, aku memang berusaha maksimal pada apa yang
diamanahkan saat itu. Dan aku menikmati posisiku sebagai pengajar meski aku masih
belum mengharapkannya menjadi profesiku kelak. Cukup di masa pengabdian ini,
pikirku.
Training
Quantum Teaching adalah sebuah pelatihan untuk menjadi guru yang professional
yang diadakan pihak pesantren untuk semua tenaga pengajar. Akupun turut dalam
kegiatan ini. Training yang luar biasa menurutku. Kami belajar banyak tentang
hakikat seorang guru. Bagaimana posisi seorang guru sebenarnya, dan bagaimana
kami seharusnya menjadi seorang guru. Sangat banyak ilmu yang kuperoleh dari
training ini karena aku mengikutinya dengan penuh semangat. Apakah setelah
training ini aku tiba-tiba ingin menjadi guru? Jawabannya, belum. Meski kuakui,
aku salut pada orang yang bisa menjadi guru professional. Dari training ini
kutemukan pengalaman dan bekal berharga yang pasti akan berguna dalam
kehidupanku kelak. Apapun profesiku.
Tibalah
saatnya mendaftar ke perguruan tinggi. Karena beberapa alasan akhirnya UMI
menjadi pilihanku. Memilih jurusan menjadi hal membingungkan buatku. Aku tak
tahu harus memilih jurusan apa. Awalnya aku mmemilih Sastra Indonesia karena
salah satu impianku adalah menjadi penulis. tapi sebuah pemikiran membantahku.
Bukannya aku bisa belajar menulis tanpa harus menjadi mahasiswa sastra? Yah,
beberapa orang yang kukenal jago nulis bukanlah berlatar belakang sastra. Maka
kemungkinan itu juga berlaku untukku. Akhirnya kuputuskan untuk memilih Sastra
Inggris karena aku memang senang dengan bahasa inggris.
Sebuah
kesalahan kecil terjadi dalam pengisian
formulirku. Karena khawatir tidak lulus di Sastra Inggris maka kurencanakanlah
Pendidikan Bahasa Inggris sebagai pilihan keduaku. Yang terpenting aku masih bisa
belajar bahasa inggris. Tapi, Sastra Inggris yang seharusnya menjadi pilihan
pertamaku justru kutulis pada kolom pilihan kedua, maka jadilah Pendidikan
Bahasa Inggris sebagai pilihan pertamaku. Ini tentu di luar rencanaku.
Hal
terpenting dari semua perjalanan ini adalah do’a. Aku sadar bahwa kekuatan
terbesar adalah milik-Nya maka pada-Nya-lah semua harapanku berlabuh. Semua
harapan kusampaikan lewat do’a kepada-Nya. Termasuk dalam memilih jurusan. Aku
tidak meminta secara langsung bahwa aku ingin lulus pada Sastra Inggris. Yang
aku minta adalah apa yang terbaik buatku, bukan yang aku inginkan. Rumus takdir
dalam surah Al-Baqarah : 216 selalu menjadi pijakanku bahwa Allah-lah yang
paling tahu apa yang terbaik buat hamba-hamba-Nya.
Fakultas
Sastra, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Muslim Indonesia. Di
sinilah akhirnya aku bergelut dalam dunia pendidikan. Mengkaji bahasa inggris
dan mendalami proses mengajar. Mengenal dunia pendidikan lebih dalam. Menemukan
banyak hal unik, menarik dan mengagumkan dari kepribadian peserta didik. Semua
ini sempurna membuatku jatuh cinta pada dunia pendidikan. Mencintai dunia
mengajar dan anak-anak didik. Membuatku kembali pada cita-cita kecilku. Menjadi
seorang guru.
Aku
ingin dan sunguh ingin menjadi seorang guru. Aku ingin karena aku paham dunia
ini. Bukan sekedar ikut-ikutan apalagi terpaksa. Dunia yang menurutku sangat
menarik dan penuh tantangan. Dunia yang akan menjadi awal untuk membangun dan
memajukan sebuah peradaban. Dunia pendidikan, di sinilah aku dengan sebuah
impian besar untuk menjadi seorang guru yang kelak akan mengantarkan anak
didikku menuju cahaya kesuksesan. Bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat.
Mungkin impian ini terlalu muluk. Tapi aku tak peduli apakah semua ini akan
berakhir sukses seperti harapan dan impianku. Aku hanya akan berusaha sebisa
yang aku mampu, biarlah Allah yang membuat jalan ini lebih indah dengan
cara-Nya.
Sungguh,
nama itu adalah do’a. Maka pilihlah nama terbaik dan panggilan terbaik untukmu
dan anak-anakmu kelak. Semoga dengan nama itu dia bisa menjadi seseorang yang
sesuai dengan harapanmu sebagai orangtua.
Aqilah El-Hafizhah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar