Senin, 09 Mei 2016

Skenario Takdir (5)

Part 5: Keputusan

Jangan lewatkan kisah sebelumnya

“Bapak, Ibu, ada yang ingin Alif bicarakan, boleh?”

“Bicara saja Alif, kenapa pula pake izin segala kalau hanya ingin bicara. Hal penting apa yang membuatmu bertingkah aneh malam ini?” Ibunya terkekeh melihat tingkan Alif yang tak seperti biasanya. Sedangkan bapak hanya mengeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah aneh anaknya.

“Mengenai tawaran Ibu dan bapak setelah saya lulus SMA dulu, apa itu masih berlaku?”

“Maksudku tawaran untuk melanjutkan sekolah” tambah Alif cepat saat orangtuanya terlihat bingung tentang tawaran yang ia maksud.

“Kamu serius mau kuliah, Nak?” Ibu bertanya pelan setelah berpikir sejenak, menatap Alif lembut. Bapak ikut menatapnya, menunggu jawaban atas pertanyaan Ibu yang juga pertanyaannya.

“Iya, Bu. Setelah kupikir-pikir ada baiknya aku melanjutkan sekolah”

“Bapak bersyukur akhirnya kamu berpikir berbeda, nak. Dari dulu bapak berulang kali  menawarimu untuk melanjutkan sekolah karena bapak percaya akan pentingnya pendidikan. Meskipun bapak bukan orang berpendidikan, tapi bapak sangat tahu betapa pentingnya ia. Bapak tak pernah mau memaksamu melakukan hal yang tidak kamu inginkan, makanya bapak membiarkan, sambil berharap adikmu kelak akan tumbuh berbeda. Lebih tertarik untuk belajar. Kalau malam ini kamu datang atas keinginanmu untuk kembali sekolah, tentu bapak sangat bahagia mendengarnya, Nak. Akan ada dari keluarga kita yang kelak memutus rantai kebodohan. Melalui sekolah, kamu tentu akan melihat banyak hal yang orang-orang di desa ini belum tahu, inilah kesempatan. Semoga kelak kamu akan kembali dengan janji kehidupan yang lebih baik, bukan hanya untukmu dan keluarga kecil kita, tapi untuk desa ini, Nak. Itulah harapan Bapak dan Ibu.”

Alif hanya diam, terkesan dengan kalimat Bapak. Sulit untuk melihat dengan jelas mata bapak dan Ibu di temaramnya lampu teras. Maka ia memilih menatap jalan depan rumah yang berselimut gelap. Tapi ia tahu, mata mereka berair saat ini. Suara serak bapak telah menjadi penyampai pesan untuknya, bahwa kalimat beliau malam ini adalah sebuah harapan besar dari orangtua kepada anaknya. Harapan yang menjadi kekuatan bagi Alif, meski iapun tak tahu akan seperti apa masa depannya kelak.

“Baiklah, terima kasih banyak atas restu Bapak dan Ibu. InsyaAllah aku akan mulai mencari informasi dan melakukan persiapan-persiapan. Mohon do’anya selalu agar segala urusan Alif dimudahkan.”

“Pasti, Nak. Ibu dan Bapak akan selalu mendo’akanmu” ujar Ibu lembut. Alif tersenyum bahagia mendengarnya.

Perbincangan malam ini selesai. Alif memilih masuk ke rumah setelah pamit terlebih dahulu. Meninggalkan Bapak dan Ibu yang masih terlihat betah menikmati syahdunya malam. Melepas lelah seharian dengan mengobrol santai, seperti malam-malam sebelumnya. Sebuah kebiasaan yang indah untuk sepasang suami-isteri yang semakin senja.

Sebuah tekad menancap kuat dalam jiwa Alif. Keputusan telah mantap diambil. Jika hari-hari sebelumnya ia berniat kuliah karena seseorang yang telah menempati satu ruang khusus di hatinya. Maka malam ini, ia menemukan sebuah alasan baru yang lebih logis untuk harus kuliah. Ia adalah harapan bagi orangtuanya. Dan mungkin saja, dalam perjalanan menuntut ilmu ini ia akan menemukan alasan-alasan lainnya.

Aqilah El-Hafizhah
#Tantangan CERBUNG dari ODOP

4 komentar:

Lisa Lestari mengatakan...

Wah, karena siapakah itu? aku kelewat baca bag sebelumnya..

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

Semangat sekolah ya

Na mengatakan...

Niatnya sudah utuh. Menuntut ilmu bukan hy karena wanita, tp lebih karena memenuhi harapan org tua. Mantap mba. lanjutkan ceritanya. (^-^)

Ainayya Ayska mengatakan...

Andai ortu berpikir selangkah lebih maju... mendorong anak-anaknya untuk lanjut ke pendidikan lebih tinggi. Jadi galau... #huuuaaaa nangis guling2