Part 5: Keputusan
Jangan lewatkan kisah sebelumnya
“Bapak, Ibu, ada yang ingin Alif
bicarakan, boleh?”
“Bicara saja Alif, kenapa pula
pake izin segala kalau hanya ingin bicara. Hal penting apa yang membuatmu
bertingkah aneh malam ini?” Ibunya terkekeh melihat tingkan Alif yang tak
seperti biasanya. Sedangkan bapak hanya mengeleng-gelengkan kepalanya melihat
tingkah aneh anaknya.
“Mengenai tawaran Ibu dan bapak
setelah saya lulus SMA dulu, apa itu masih berlaku?”
“Maksudku tawaran untuk
melanjutkan sekolah” tambah Alif cepat saat orangtuanya terlihat bingung
tentang tawaran yang ia maksud.
“Kamu serius mau kuliah, Nak?”
Ibu bertanya pelan setelah berpikir sejenak, menatap Alif lembut. Bapak ikut menatapnya,
menunggu jawaban atas pertanyaan Ibu yang juga pertanyaannya.
“Iya, Bu. Setelah kupikir-pikir
ada baiknya aku melanjutkan sekolah”
“Bapak bersyukur akhirnya kamu
berpikir berbeda, nak. Dari dulu bapak berulang kali menawarimu untuk melanjutkan sekolah karena
bapak percaya akan pentingnya pendidikan. Meskipun bapak bukan orang
berpendidikan, tapi bapak sangat tahu betapa pentingnya ia. Bapak tak pernah
mau memaksamu melakukan hal yang tidak kamu inginkan, makanya bapak membiarkan,
sambil berharap adikmu kelak akan tumbuh berbeda. Lebih tertarik untuk belajar.
Kalau malam ini kamu datang atas keinginanmu untuk kembali sekolah, tentu bapak
sangat bahagia mendengarnya, Nak. Akan ada dari keluarga kita yang kelak
memutus rantai kebodohan. Melalui sekolah, kamu tentu akan melihat banyak hal
yang orang-orang di desa ini belum tahu, inilah kesempatan. Semoga kelak kamu
akan kembali dengan janji kehidupan yang lebih baik, bukan hanya untukmu dan
keluarga kecil kita, tapi untuk desa ini, Nak. Itulah harapan Bapak dan Ibu.”
Alif hanya diam, terkesan dengan
kalimat Bapak. Sulit untuk melihat dengan jelas mata bapak dan Ibu di
temaramnya lampu teras. Maka ia memilih menatap jalan depan rumah yang
berselimut gelap. Tapi ia tahu, mata mereka berair saat ini. Suara serak bapak
telah menjadi penyampai pesan untuknya, bahwa kalimat beliau malam ini adalah
sebuah harapan besar dari orangtua kepada anaknya. Harapan yang menjadi
kekuatan bagi Alif, meski iapun tak tahu akan seperti apa masa depannya kelak.
“Baiklah, terima kasih banyak
atas restu Bapak dan Ibu. InsyaAllah aku akan mulai mencari informasi dan
melakukan persiapan-persiapan. Mohon do’anya selalu agar segala urusan Alif
dimudahkan.”
“Pasti, Nak. Ibu dan Bapak akan
selalu mendo’akanmu” ujar Ibu lembut. Alif tersenyum bahagia mendengarnya.
Perbincangan malam ini selesai. Alif
memilih masuk ke rumah setelah pamit terlebih dahulu. Meninggalkan Bapak dan
Ibu yang masih terlihat betah menikmati syahdunya malam. Melepas lelah seharian
dengan mengobrol santai, seperti malam-malam sebelumnya. Sebuah kebiasaan yang
indah untuk sepasang suami-isteri yang semakin senja.
Sebuah tekad menancap kuat dalam
jiwa Alif. Keputusan telah mantap diambil. Jika hari-hari sebelumnya ia berniat kuliah karena seseorang
yang telah menempati satu ruang khusus di hatinya. Maka malam ini, ia menemukan
sebuah alasan baru yang lebih logis untuk harus kuliah. Ia adalah harapan bagi
orangtuanya. Dan mungkin saja, dalam perjalanan menuntut ilmu ini ia akan
menemukan alasan-alasan lainnya.
Aqilah El-Hafizhah
#Tantangan CERBUNG dari ODOP
4 komentar:
Wah, karena siapakah itu? aku kelewat baca bag sebelumnya..
Semangat sekolah ya
Niatnya sudah utuh. Menuntut ilmu bukan hy karena wanita, tp lebih karena memenuhi harapan org tua. Mantap mba. lanjutkan ceritanya. (^-^)
Andai ortu berpikir selangkah lebih maju... mendorong anak-anaknya untuk lanjut ke pendidikan lebih tinggi. Jadi galau... #huuuaaaa nangis guling2
Posting Komentar