Kau tahu?
Ketika seseorang memutuskan
menyelesaikan semua pekerjaan tanpa meminta bantuan, bukan berarti Ia
benar-benar tidak butuh dibantu. Mungkin karena Ia merasa lelah meminta tolong
pada orang yang tak peka bahwa bantuannya dibutuhkan segera, bukan hanya disambut
dengan jawaban 'Tunggu dulu'.
Pun sama saat seseorang
memutuskan menggantikan pekerjaan orang lain-yang sebenarnya pekerjaan itu
bukan lagi bagiannya- bukan berarti Ia kelewat rajin. Mungkin karena Ia sudah
lelah memerintah dan meminta orang mengerjakan tugasnya, dan yang
diperintah sama sekali tak menggubris, memilih cuek, atau lagi-lagi
memberikan jawaban 'Tunggu dulu'.
Terakhir, ketika seseorang
akhirnya memutuskan berhenti untuk mengingatkan, memilih diam dan
membiarkan-melakukan apapun yang diinginkan dan dipikirnya benar, bukan
berarti Ia tak lagi peduli. Mungkin, Ia sudah lelah dengan nasehat yang telah
disampaikan berulangkali tanpa rasa bosan, dan nasehat itu tidak memberi
manfaat bagi yang dinasehati.
'Berhenti' akhirnya menjadi
pilihan terakhir. Mungkin tersisa do'a-selemah lemahnya iman- yang Ia punya
untuk seseorang yang selalu diharapkannya menjadi pribadi yang semakin baik.
Tampil indah dengan keluhuran akhlaknya. Semoga do’a-do’a yang terucap
tulus itu mampu mengetuk pintu langit hingga menuai ijabah. Meski tak pasti
kapan, tapi keyakinanlan yang lebih utama saat memohon.
***
Dalam sutuasi seperti ini, setidaknya ada dua sikap yang harus
dimiliki.
Pertama, untukmu yang berada dipihak yang selalu memilih mengalah
dan penuh harap. Milikilah hati yang lapang, dengannya engkau bisa tetap tegar
dengan segala situasi yang kau hadapi. Agar setiap sikap yang tak sesuai
kehendakmu tak harus membuat hatimu rusuh oleh rasa jengkel, marah, dan kecewa.
Kau memilih damai. Dan hakikat dari hati yang lapang itu adalah KEIKHLASAN. Saat
segalanya hanya karena lillah.
Kedua, untuk kita semua yang boleh jadi telah menjadi sosok yang
tak mengenal ‘peka’. Boleh jadi tak sadar kalau kita telah menjadi objek
kemarahan, kejengkelan, atau kekecewaan orang lain. Pekalah! Buat hati kita sensitif
untuk bisa memahami orang lain. Jangan sampai kita selalu merasa bahwa tak ada
yang mengerti diri kita, padahal kitalah sebenarnya yang tak pernah mau belajar
memahami orang lain.
Milikilah hati yang cantik, dengannya semua hal kan terasa ringan. Dan menjadikan hati kita cantik bukanlah proses sehari. Butuh banyak latihan untuk membuatnya kuat, tegar, tahan banting, dan lapang hingga akhirnya Ia bisa sebening kristal. Maka usahakanlah, semoga Allah mengaruniakan kita hati yang cantik.
Demikian,
Aqilah El-Hafizhah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar