Selasa, 28 Februari 2017

Mengapa Aku Menghafal Al-Qur'an?


Kemarin sempat ada ketegangan di antara kita. Tentang sebuah keputusan yang kubuat. Aku tahu, sebagian kalian mungkin merasa berat menerimanya. Bahkan mungkin ada yang merasa keputusan ini tidak adil baginya. Meski aku tidak serta-merta mengetuk palu untuk keputusan ini, kubiarkan kalian sendiri yang memutuskan. Aku hanya berharap, penjelasan yang kuberikan bisa membuat kalian melunak atas keputusan yang akan kuambil. Agar tak ada rasa terpaksa.

Aku bersyukur, perlahan kalian bisa menerima. Mengizinkan. Tak tahu, apakah persetujuan kalian tulus seratus persen, atau hanya setengah hati, atau hanya terpaksa. Aku sungguh tak tahu apa yang ada di hati kalian. Tapi semoga itu adalah sebuah ketulusan. Semoga. Terima kasih atas kesempatan yang kalian berikan untuk kawan-kawan kalian. Percayalah, Allah akan memudahkan urusan orang yang memudahkan urusan saudaranya. Ini janji Allah, maka yakinilah.

Dan hari ini, aku melihat sebuah penerimaan yang tulus. Iya, aku melihat kalian semua tulus atas keputusan yang kubuat. Kalian saling mendukung, sama-sama berusaha mencapai target masing-masing. Tak lagi peduli soal keberatan kalian yang kemarin. Turut bahagia melihat teman yang lain bahagia mencapai target. Bukankah ini menyenangkan? Bisa ikut tersenyum melihat orang lain bahagia? Cobalah untuk melapangkan, maka semuanya akan mudah dan menenangkan.

Dek, ketahuilah..

Menghafal Al-Qur’an itu bukan hanya sekedar siapa yang terjauh hafalannya, bukan pula tentang siapa yang lebih dulu menyelesaikan hafalan. Tidak sesederhana itu, Dek. Ada hal lebih penting yang harus kalian pahami, lebih dari sekadar kompetisi.

Tentang tujuan kalian.

Coba pikirkan kembali alasan kalian menghafal, apakah itu tentang menjadi yang tercepat khatam? Atau menjadi lebih cepat dari si ‘Dia’ ? atau hanya untuk mengikrarkan pada dunia, bahwa inilah aku, seorang hafizhah dengan pencapaian khatam hanya sekian bulan, atau setahun sekian bulan? Atau sekadar untuk membuat orang berdecak kagum dan bangga atas prestasi hafalan kalian? Inikah tujuan menghafal kita.

Tentu tidak demikian. jangan sampai, Dek. Terlalu hina jika mengharapkan hal-hal semu. Ini bukan kompetisi untuk menentukan siapa yang lebih baik, atau siapa yang tercepat. Bukan. Sama sekali bukan. Tentu kalian paham tujuan hakiki yang kumaksudkan.

Jalan yang sama-sama sedang kita tempuh ini terlalu mulia untuk kalian nodai dengan egoisme. Jangan lakukan itu, kumohon.

Sangat penting memahami tujuan, agar kalian bisa menghafal dengan tenang tanpa rasa khawatir. Agar kalian bisa menjadi kawan yang bisa tulus saling mendukung untuk maju. Dan ikut tersenyum saat teman kalian bisa maju, bahkan jika ia lebih baik dari kita. karena bukankah kita punya tujuan yang sama?

Saya berharap, proses karantina ini mengajarkan kalian tentang pentingnya menjadi kawan yang saling mendukung. Mengabaikan segala perasaan yang hanya akan membuat kalian berpecah. Kalian punya tujuan yang sama, maka melangkalah bersama. Jadilah kawan yang sungguh-sungguh ingin melihat kawan kalian sampai pada tujuannya, tidak tertinggal. Agar kalian bisa sampai pada tujuan bersama-sama.

Akan lebih indah jika kelak kalian bisa saling mengenang sebagai kawan yang saling mendukung, menghabiskan sebulan yang indah. Bukan saling berlomba dan akhirnya terkenang sebagai teman yang dahulu tak pernah memberi dukungan hanya untuk menjadi yang 'lebih' dari yang lain.

Tanyakanlah pada hati, Mengapa aku menghafal Al-Qur'an? Semoga hati kita masih bersih untuk menjawabnya dengan jujur.

*Untuk kalian, adik-adikku, dalam misi mulia. Sukses selalu.

Aqilah El-Hafizhah
In Quarantine Program

Tidak ada komentar: