Kemarin sempat ada ketegangan di antara kita. Tentang sebuah keputusan yang kubuat. Aku tahu, sebagian kalian mungkin merasa berat menerimanya. Bahkan mungkin ada yang merasa keputusan ini tidak adil baginya. Meski aku tidak serta-merta mengetuk palu untuk keputusan ini, kubiarkan kalian sendiri yang memutuskan. Aku hanya berharap, penjelasan yang kuberikan bisa membuat kalian melunak atas keputusan yang akan kuambil. Agar tak ada rasa terpaksa.
Aku bersyukur, perlahan kalian bisa menerima. Mengizinkan. Tak
tahu, apakah persetujuan kalian tulus seratus persen, atau hanya setengah hati,
atau hanya terpaksa. Aku sungguh tak tahu apa yang ada di hati kalian. Tapi semoga
itu adalah sebuah ketulusan. Semoga. Terima kasih atas kesempatan yang kalian
berikan untuk kawan-kawan kalian. Percayalah, Allah akan memudahkan urusan orang yang memudahkan urusan saudaranya. Ini janji Allah, maka yakinilah.
Dan hari ini, aku melihat sebuah penerimaan yang tulus. Iya,
aku melihat kalian semua tulus atas keputusan yang kubuat. Kalian saling
mendukung, sama-sama berusaha mencapai target masing-masing. Tak lagi peduli
soal keberatan kalian yang kemarin. Turut bahagia melihat teman yang lain
bahagia mencapai target. Bukankah ini menyenangkan? Bisa ikut tersenyum melihat
orang lain bahagia? Cobalah untuk melapangkan, maka semuanya akan mudah dan menenangkan.
Dek, ketahuilah..
Menghafal Al-Qur’an itu bukan hanya sekedar siapa yang
terjauh hafalannya, bukan pula tentang siapa yang lebih dulu menyelesaikan
hafalan. Tidak sesederhana itu, Dek. Ada hal lebih penting yang harus kalian
pahami, lebih dari sekadar kompetisi.
Tentang tujuan kalian.
Coba pikirkan kembali alasan kalian menghafal, apakah itu
tentang menjadi yang tercepat khatam? Atau menjadi lebih cepat dari si ‘Dia’ ?
atau hanya untuk mengikrarkan pada dunia, bahwa inilah aku, seorang hafizhah
dengan pencapaian khatam hanya sekian bulan, atau setahun sekian bulan? Atau sekadar
untuk membuat orang berdecak kagum dan bangga atas prestasi hafalan kalian?
Inikah tujuan menghafal kita.
Tentu tidak demikian. jangan sampai, Dek. Terlalu hina jika
mengharapkan hal-hal semu. Ini bukan kompetisi untuk menentukan siapa yang
lebih baik, atau siapa yang tercepat. Bukan. Sama sekali bukan. Tentu kalian
paham tujuan hakiki yang kumaksudkan.
Jalan yang sama-sama sedang kita tempuh ini terlalu mulia untuk kalian nodai dengan egoisme. Jangan lakukan itu, kumohon.
Jalan yang sama-sama sedang kita tempuh ini terlalu mulia untuk kalian nodai dengan egoisme. Jangan lakukan itu, kumohon.
Sangat penting memahami tujuan, agar kalian bisa menghafal
dengan tenang tanpa rasa khawatir. Agar kalian bisa menjadi kawan yang bisa
tulus saling mendukung untuk maju. Dan ikut tersenyum saat teman kalian bisa
maju, bahkan jika ia lebih baik dari kita. karena bukankah kita punya tujuan
yang sama?
Saya berharap, proses karantina ini mengajarkan kalian
tentang pentingnya menjadi kawan yang saling mendukung. Mengabaikan segala
perasaan yang hanya akan membuat kalian berpecah. Kalian punya tujuan yang
sama, maka melangkalah bersama. Jadilah kawan yang sungguh-sungguh ingin
melihat kawan kalian sampai pada tujuannya, tidak tertinggal. Agar kalian bisa
sampai pada tujuan bersama-sama.
Akan lebih indah jika kelak kalian bisa saling mengenang sebagai kawan yang saling mendukung, menghabiskan sebulan yang indah. Bukan saling berlomba dan akhirnya terkenang sebagai teman yang dahulu tak pernah memberi dukungan hanya untuk menjadi yang 'lebih' dari yang lain.
Tanyakanlah pada hati, Mengapa aku menghafal Al-Qur'an? Semoga hati kita masih bersih untuk menjawabnya dengan jujur.
*Untuk kalian, adik-adikku, dalam misi mulia. Sukses selalu.
Akan lebih indah jika kelak kalian bisa saling mengenang sebagai kawan yang saling mendukung, menghabiskan sebulan yang indah. Bukan saling berlomba dan akhirnya terkenang sebagai teman yang dahulu tak pernah memberi dukungan hanya untuk menjadi yang 'lebih' dari yang lain.
Tanyakanlah pada hati, Mengapa aku menghafal Al-Qur'an? Semoga hati kita masih bersih untuk menjawabnya dengan jujur.
*Untuk kalian, adik-adikku, dalam misi mulia. Sukses selalu.
Aqilah El-Hafizhah
In Quarantine Program

Tidak ada komentar:
Posting Komentar