Senin, 28 November 2016

Peringatan Hari Guru

Hari guru memang sudah lewat, tapi kami baru bisa memperingatinya hari ini. Tak masalah, bahkan harusnya kita tak butuh satu hari paten untuk memperingati hari guru, bukan? Hari ini, tepat saat pelaksanaan Apel pagi yang rutin dilaksanakan tiap hari Senin kami rangkaikan dengan perayaan hari guru. Membuat upacara pagi ini sedikit berbeda dengan apel-apel sebelumnya. 

Sebenarnya cukup sederhana dan biasa, tapi cukup berkesan. Kali ini bukan para santri yang bertugas memimpin berjalannya Apel. Mulai pemimpin upacara, protokol, pembacaan tilawah, pembacaan ayat keyakinan, juga pembacaan do’a, semua dipimpin langsung oleh para guru.

Suasana Apel pagi ini: Senin, 28 November 2016

Seluruh santri berbaris rapi di lapangan, pun tim paduan suara. Yang membuat pagi ini sedikit berbeda karena barisan depan yang biasa diisi santri kini diambil alih oleh para guru yang sudah bersiap menggantikan posisi santri yang biasanya bertugas.

Bagian paling menarik dan mengharukan dari rangkaian apel pagi ini adalah saat pemimpin upacara memberikan nasehat. Kali ini dipimpin oleh Ibu Syamsiah Sa’ad, Ibu manager operasional SPIDI. Singkatnya, di akhir speach beliau mengenang guru-guru yang pernah berjasa mengajar dan mendidik beliau. Mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala jasa mereka. Bahwa tanpa mereka, para guru, beliau tak akan bisa berdiri hari ini seperti yang kami saksikan. Dan masih banyak lagi yang beliau sampaikan. (Lagu tentang guru mengalun lirih mengiringi kalimat-kalimat beliau, membuat suasana pagi ini semakin mengharukan)

Pujian dan ucapan terima kasih ini diucapkan secara langsung pada guru-guru beliau yang sampai hari ini masih berstatus sebagai guru di SPIDI. Menyebutkan nama mereka satu-persatu. Diantaranya ada Ibu Heri, Ibu Fatimah, Ibu Ida, Ibu Dima, mereka yang hingga kini masih setia dengan profesi yang amat mulia. Hari ini mereka menyaksikan satu dari sekian banyak amal jariah mereka berterima kasih dengan tulus. Tentu amat membanggakan dan membahagiakan bagi mereka bisa menyaksikan hari ini.

Sebagai apresiasi terima kasih mereka diundang ke tengah lapangan. Ibu Syamsiah menyerahkan secara langsung bingkisan untuk mereka, sambil bersalaman dan berpelukan. Pemandangan yang mengharukan! Butiran bening mengalir tulus dari mata para hadirin. (music terus mengalun)

Di barisan depan, barisan para guru saya berdiri takzim menyaksikan pemandangan mengharukan ini. Tak kuasa menahan air mata menyaksikan semuanya. Bukan hanya karena peristiwa ini memang  mengharukan. Tapi karena mereka, para guru yang berdiri di tengah lapangan itu, mereka juga adalah guru-guruku. Guru yang amat berjasa membagikan ilmu mereka, memberikan keteladanan seorang guru yang sesungguhnya.

Yah.. mereka, para guru yang dengan bangga selalu kuceritakan tentang mereka pada teman-teman kuliahku; bahwa saya mempunyai guru-guru yang luar biasa. Guru yang mengajari kami dengan tulus. Ah.. butuh tulisan khusus untuk menceritakan mereka. Dalam catatan khusus mungkin.

Barisan bubar, segera kutemui mereka, guru-guruku. Memulainya dari Ibu Ina, guru idola dan fafvoritku. Kusalami dan kucium tangannya. Kupeluk erat beliau. Jujur, baru kali ini saya memeluk beliau seperti ini. ingin sekali kuucap terima kasih tak terkira dan memohon maaf, tapi lidahku seakan kelu. Tak ada sepatah katapun mampu terucap, hanya air mata yang terus mengucur deras. Tapi beliau membisikkan beberapa kalimat yang terus terngiang sampai saat ini. Beliau terus memegang kepalaku dan mengucapkan harapan-harapan beliau padaku. Itulah yang sempat kutangkap dari setiap kalimatnya. Sesaat sebelum para santri ikut bergabung, berlomba menyalaminya.

Aku melangkah, menemui guruku yang lain. Menyalami dan memeluk erat Ibu Fatimah, kami sama-sama menangis. Tanpa kata-kata, hanya ada air mata. Begitu juga dengan Ibu Ida, kusalami dan kupeluk beliau. Sayangnya tak sempat kusalami Ibu Heri, beliau sudah jauh bergabung dengan para santri yang juga sibuk menyalami para guru. Saya memilih menunduk, menyembunyikan muka saat santri-santri menyalamiku. Ah.. saat seperti ini, tak perlu kata-kata untuk menjelaskan perasaan kita, setiap kejadian sudah cukup memberi penjelasan atas suasana hati kami saat ini.

Terima kasih untuk hari ini. Hari yang memberikan kesempatan untukku bisa memeluk erat guru-guruku. Merasakan kembali betapa berjasanya mereka. Semoga kami bisa menjadi salah satu amal jariyah bagi kalian. Mari saling mendo’aakan.


Aqilah El-Hafizhah 

Tidak ada komentar: