Jumat, 22 April 2016

Orangtua VS Anak


Ayyad, ponakanku yang sudah berusia delapan tahun melangkah pelan memasuki rumah. Mengndap-endap bagai pencuri yang takut tertangkap tuan rumah. Matanya awas memperhatikan sekitar, melangkah takut-takut. Baju yang dikenakan kotor oleh lumpur. Saya tersenyum melihat tingkahnya, kutahu ia berusaha menghindar dari umminya.

Sayang sekali, si ‘ummi’ tepat berada di dapan kamar mandi yang dituju. Membuatnya gagal menyembunyikan jejak bermain lumpur. Insiden dua hari lalu kembali terulang. Sederet nasehat dan peringatan kembali menggema. Menjadi penutup hari sebelum senja tiba.

Saya tersenyum, teringat masa kanak-kanakku. Ada banyak hal yang kusukai tapi tak bisa kulakukan sesuka hati. Saya rindu masa itu, saat pemikiran kita masih polos. Tak dibebani banyak permasalahan yang bikin mumet. Saat segalanya terlihat sangat sederhana.

Ada banyak sekali moment menyenangkan bagi anak-anak yang tak bisa dipahami orang dewasa. Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Sepanjang itu menyenangkan, maka semmuanya akan dilakukan. Tanpa mempertimbangkan banyak hal yang selalu dikhawatirkan oleh orang dewasa. Misal, bagi seorang Ibu bermain lumpur itu kotor, maka ia selalu melarang anaknya bermain lumpur. Sementara bagi si anak, bermain lumpur itu menyenangkan dan ia tidak peduli jika bajunya akan kotor.

Contoh lain, bermain hujan. Hampir semua anak senang bermain hujan. Berlarian kesana-kemari menantang hujan, tertawa, bergembira, dan bermain apa saja di tengah hujan bersama teman-teman, semua ini menyenangkan. Mereka tak khawatir akan sakit. Berbeda dengan Ibu yang selalu khawatir anaknya akan sakit karena hujan-hujanan. Beginilah perbedaan cara pandang anak-anak dan orangtua. Perbedaan yang akhirnya berbuah marah dari orangtua, dan sang anak harus menerima resiko.

Dalam kasus ini, apakah anak salah? Pantaskah ia disalahkan karena perbuatannya yang tak sesuai keinginan orangtua?

Bagi saya pribadi, orangtualah yang seharusnya berusaha memahami anak-anaknya. Tentu lebih mudah bagi seorang Ibu memahami dunia anak-anak karena mereka pernah berada pada fase itu. Sementara anak-anak, bagaimana bisa ia memahami pemikiran orang dewasa dengan otaknya yang juga masih kanak-kanak? Mustahil bagi anak-anak memahami orang dewasa. Maka tak pantas ia disalahkan.

Saya teringat sebuah buku yang harusnya tiap orangtua wajib membaca buku ini, “Orangtuanya Manusia” karya Munif Chatib. Buku ini mengajarkan bagaimana seharusnya orangtua itu bersikap pada anak-anaknya. Penulis mengatakan bahwa tiap anak itu adalah bintang.

Yah, setiap anak adalah bintang, maka akan tiba saatnya ia bersinar. Disinilah peran orangtua dalam pendidikan sang anak. Utamanya pendidikan dalam lingkup keluarga. Bagaimana orangtua berusaha menanamkan karakter yang baik pada anaknya dengan memberikan keteladanan.

Jadi, bagaimanapun sikap seorang anak, pahamilah ia. Tidak semua permasalahan  harus diselesaikan dengan emosi. Pikirkan cara terbaik untuk membuatnya memahami hakikat baik dan buruk tanpa mengabaikan kesenangannya. Bimbing ia hingga bisa bersinar bagai bintang. Berjuanglah, karena kesuksesan orangtua mendidik ananya adalah kunci untuk kesuksesan anak di hari esok.

Aqilah El-Hafizhah

#OneDayOnePost

10 komentar:

Unknown mengatakan...

Tiap anak adalah bintang. Keren mbk... ^^

Lisa Lestari mengatakan...

Betul sekali, orang tualah yang harus memahami anak....

Lisa Lestari mengatakan...

Betul sekali, orang tualah yang harus memahami anak....

Ciani Limaran mengatakan...

Horee... Aku bintang ayah ibuku...

Nychken Gilang mengatakan...

Anak adalah bintang yang memberikan terang .

Dymar Mahafa mengatakan...

Bagus sekali tulisannya mbak Muallimah. Saya suka. :)

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

benar...orang tua yang harus memahami anak..

Sang Mahadewa mengatakan...

Anak ... bintang masa depan kita

Sasmitha A. Lia mengatakan...

Mbak Muallimah ini keren banget..👍i like it..

Unknown mengatakan...

Anak punya kebiasaan meniru kebiasaan orang tuanya soo jadi orang tua yg baik yuk
Keren mbk lanjutkan 😊