Jika anda ditanya dan diminta
mendeskripsikan sosok seperti apa seorang guru itu, apa yang akan anda katakan?
Aku yakin, tak seorangpun yang
akan memberi komentar dan penggambaran negative tentang guru. Karena secara umum, yang kita tahu bahwa guru
itu adalah seorang patriot, pahlawan bangsa. Sosok yang patut digugu dan ditiru,
yang membagikan ilmunya untuk menerangi kehidupan para pencinta ilmu. Mereka adalah
orang-orang yang berjuang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan masih banyak
lagi pujian, apresiasi, dan label yang baik untuk menggambarkan seorang guru.
Yah, seperti inilah posisi dan
penggambaran seorang guru seharusnya. Meski pada kenyataannya, saat seorang
anak atau peserta didik ditanya tentang guru-guru di sekolahnya, jawaban mereka
kebanyakan berbeda dari penggambaran umum yang mereka ketahui. Semua kembali
seperti apa guru itu bersikap. Apakah ia benar-benar bertindak layaknya seorang
‘guru’, ataukah ia bersikap sesuka hatinya tanpa memperdulikan hal-hal yang
seharusnya dilakukan.
Terlepas dari semua itu, kembali
pada deskripsi seorang guru. Yang kutahu tentang guru sangat standar, bahwa guru
adalah dia yang mengajar di kelas. Itu saja. Tapi jika diminta memberikan
deskripsi tentang guru tentu akan kujawab lebih panjang, dengan memberi tambahan-tambahan
pujian dan sebagainya. Sesederhana itulah sosok guru dari sudut pandangku.
Suatu waktu, saat itu aku sudah
lulus Aliyah (sederajat SMA), melewati masa pengabdian di pondok pesantren. Sebagia
pembina, kami diikutkan dalam sebuah training untuk para guru; ‘Quantum Teaching
Training’ selama tiga hari. Di sinilah kutemukan deskripsi luar biasa
tentang sosok guru. Saat sang trainer menggambarkan sosok guru, aku
terhanyut sampai meneteskan air mata karena terharu. Betapa luar biasanya sosok
guru itu.
Kata beliau, “Guru itu adalah Dia
yang bersungguh-sungguh mengantarkan anak didiknya ke gerbang kesuksesan. Segala
upaya akan ia lakukan untuk memberikan yang terbaik pada siswanya, semua dilakukan
agar anaknya mampu meraih sukses. Jika diibaratkan kesuksesan itu adalah buah
apel pada pohon yang berada di seberang sungai, maka seorang guru akan berusaha
menjadi jembatan bagi siswanya. Jika tak bisa, dia akan berusaha mengarahkan
pada si anak agar bisa menyeberangi sungai dan sampai pada pohon apel. “Di
sanalah sukses itu,Nak! Kesanalah, lewati jembatan ini dan ambillah apel itu!” segala upaya ia lakukan.
“Jika si anak berhasil sampai di
bawah pohon dan tangannya tak sampai untuk memetik buah apel, maka sang guru
akan menyodorkan kursi, “Naikilah kursi ini, Nak! Dan petiklah apel itu! Kau
harus bisa.” Saat sang anak masih
tak mampu memetik buah apel itu lantaran tingginya. Maka sang guru akan
menyodorkan dirinya seraya berkata, “Nak, injak kepala Ibu! Injak kepala
Ibu, naiklah.. kamu harus memetik buah apel itu.”
Kurang lebih seperti itulah yang
disampaikan. Sulit menuliskannya secara persis. Sang trainer membawakannya
penuh penghayatan dengan intonasi suara yang disesuaikan, juga ekspresi yang
mampu menyihir kami. Matanya berkaca-kaca saat menyampaikan bagian terakhirnya.
Mataku ikut berkaca-kaca, begitu juga peserta lainnya.
Hari itu, kutemukan makna baru
seorang guru. Aku jadi paham seperti apa guru yang sebenarnya, dan bagaimana
sikap mereka seharusnya. Begitu hebat
dan luar biasanya mereka. Meski pada faktanya sangat sulit menemukan sosok yang
seperti ini. Inilah tujuan training ini, bagaimana menciptakan guru-guru luar
biasa, guru yang diidolakan, dicintai, dan dirindukan oleh murid-muridnya.
Inilah deskripsi seorang guru
yang selalu kuingat. Menjadi motivasi untukku bisa menjadi guru seperti itu. Sungguh,
kesuksesan peserta didik itu tak lepas dari peran para guru.
Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost

6 komentar:
Kalau peribahasa dalam bahasa sunda, Guru = digugu dan ditiru
Guru, digugu lan ditiru,
tak kira cuma bahasa jawa a'.. disunda juga sama toh?
Tapi ada sosok guru yang tidak boleh "diGUgu dan ditiRU" yaitu guru Drona (Resi Dorna) yang justru memihak kebatilan (Kurawa) dalam perang Baratayudha.
btw tulisan mbk Muallimah keren banget :)
MAsihkan sekarang label guru pahlawan tanpa tanda jasa berlaku?
Duuh, aku guru loh, mau jawab pertanyaan mb wid, bingung aku
Guru. Profesi impian
Posting Komentar