Hari ini, rasa bahagia tak terkira kembali kurasakan saat
menyaksikan satu santri kami berhasil menyelesaikan hafalan juz 30-nya. Hafalan
yang sudah dimulai sejak 21 Juli lalu akhirnya berhasil diselesaikan hari ini,
26 September 2016. Mungkin ada yang bilang, “Itu waktu yang cukup lama untuk
hafalan satu juz,” ataupun komentar lainnya.
Yah! hafalannya memang tak secepat teman-teman yang lain. Fika
menjadi satu-satunya santri di halaqoh kami yang masih berkutat pada juz 30
saat teman yang lain sudah beralih menghafal Juz 1 ataupun Juz 2. Salah satu
penyebab utamanya karena dia memang baru mulai menghafal, sementara kebanyakan
temannya sudah punya hafalan sebelumnya.
Apakah dia iri melihat hafalan teman-temannya yang sudah lebih
jauh? Tentu saja, dia saaangat iri. Dia pun ingin seperti teman yang lain, sangat
ingin mulai menghafal Juz 1. Apakah Ia pernah merasa bosan? Tentu saja! Apakah dia pernah mengeluh? Tak diragukan
lagi, entah berapa kali ia mengeluh.
“Ustadzah, macam
mana nih hafalan, susah betul dihafal”
“Aku sudah capek,
Ustadzah”
“Capek betul aku
ulangi ustadzah, tapi tidak mau lancar”
(Dengan logat
khas-nya)
Seperti inilah kerap kali keluhan-keluahan yang disampaikan
dengan berbagai ekspresi. Kadang disampaikan dengan biasa saja, tapi kadang
juga dengan perasaan jengkel pada hafalannya yang tidak mau ‘dihafal’. Kadang pula
dia meneteskan air mata untuk itu. Tapi untuk setiap keluhan, kesedihan, bahkan
kemarahannya, izinkan saya lima-sepuluh menit memberikan nasihat/motivasi/ceramah/ataupun
bujukan, maka dia akan membaik. Sebuah kesyukuran karena dia mudah paham dengan
penjelasan-penjelasan yang diberikan.
Dia bahkan pernah bilang saat saya menasihatinya, “Ustadzah
tak paham, capek betul saya menghafal. Ustadzah enak, tidak capek karena hanya
mendengarkan. Kita ini yang capek karena harus menghafal.” Komentar yang
kusambut dengan tawa sambil memikirkan jawaban terbaik untuk menanggapi
argumennya kali ini. Selalu ada banyak tanya dan komentar darinya, dan saya pun
sudah terbiasa untuk itu.
Jika dia pernah bosan dan sering mengeluh, pernahkah ia
berpikir untuk menyerah?
Inilah yang tidak dimilikinya. Meski dia sering mengeluh, hafalannya
sudah tertinggal, dan menyatakan rasa iri-nya terhadap hafalan teman-temannya, tapi
ia tak pernah sekalipun mengatakan ingin menyerah. Dia tidak menyerah meski
harus berjalan lambat untuk mencapai tujuannya. Saya bisa melihat keseriusannya
ingin menghafal Al-Qur’an meski saat itu belum tahu alasan pastinya.
Perjalanan menghafalnya masih seumur jagung. Tapi ada banyak
sekali cerita yang tercipta. Cerita yang mungkin terlihat sederhana dan biasa
saja, tapi sangat membekas buat saya pribadi sebagai pembina halaqohnya. Menemaninya
menghafal setiap hari membuatku paham betul bagaimana perjuangan dia
menyelesaikan Juz 30. Itu sungguh bukan hal yang mudah. Sesuatu yang diperoleh
dengan usaha.
Suatu waktu, untuk pertama kali ia bercerita panjang lebar tentang
keluarganya. Sebuah cerita yang mengharukan. Baru kali itu saya melihat si
ceria Fika menangis sesegukan. Terutama saat bercerita tentang Ibu-nya. Seseorang
yang menjadi alasan mengapa dia harus menghafal Al-Qur’an.
---------------------
Dan hari ini, setelah menyetorkan hafalan Qs.Al-Qari’ah.
“Dengarkan Ustadzah, hari ini saya bahagia sekali karena
hafalan saya sudah Qs. At-Takatsur. Saya sudah hafal sampai selesai karena ini
sudah saya muroja’ah di TPA, jadi saya akan khatam ustadzah” ucapnya dengan
senyum bahagia.
Dengan semangat dia mulai menghafal surah demi surah hingga
Qs.An-Naas.
Selamat, Nak. Kalau kau sangat bahagia hari ini, Ustadzah pun
sangat bahagia melihatmu berhasil menyelesaikan Juz 30. Teman-teman kalian pun
turut bahagia dan mengucapkan selamat untuk itu. Mereka paham betapa sulitnya
kau sampai pada titik ini. Tapi karena pantang menyerah akhirnya kau berhasil.
Terima kasih karena telah menjadi pembawa keceriaan di
halaqoh kita. Kau sangat pandai membuat kami tertawa. Kau bahkan menghafal segala yang pernah ustadzah nasihatkan dan menyampaikannya lagi kepada teman-teman. Meski mereka lebih sering tertawa, tapi begitulah kehangatan yang ada dalam halaqoh kita. Ada banyak hal yang bisa kutuliskan tentangmu, tapi mungkin di lain waktu.
------------------
Menyelesaikan Juz 30 hanyalah sebuah awal dari perjalanan
menghafalmu. Masih ada 29 Juz lagi yang harus kau lewati. Semoga Allah
memberikan kesempatan, keistiqamahan, kesabaran, dan kemudahan untuk bisa
menyelesaikan hingga 30 Juz. Allaahumma aamiin..
Sebuah catatan kecil
di hari bahagia Fika,
Aqilah El-Hafizhah

1 komentar:
Seriusan. Nangis Ade bacanya.
Semangat untuk Fika.
Ade macam Fika yang hafalannya selalu... Huft.
#nangis dipojokan.
Posting Komentar