Selasa, 27 September 2016

Hari Bahagia Fika

Hari ini, rasa bahagia tak terkira kembali kurasakan saat menyaksikan satu santri kami berhasil menyelesaikan hafalan juz 30-nya. Hafalan yang sudah dimulai sejak 21 Juli lalu akhirnya berhasil diselesaikan hari ini, 26 September 2016. Mungkin ada yang bilang, “Itu waktu yang cukup lama untuk hafalan satu juz,” ataupun komentar lainnya.

Yah! hafalannya memang tak secepat teman-teman yang lain. Fika menjadi satu-satunya santri di halaqoh kami yang masih berkutat pada juz 30 saat teman yang lain sudah beralih menghafal Juz 1 ataupun Juz 2. Salah satu penyebab utamanya karena dia memang baru mulai menghafal, sementara kebanyakan temannya sudah punya hafalan sebelumnya.

Apakah dia iri melihat hafalan teman-temannya yang sudah lebih jauh? Tentu saja, dia saaangat iri. Dia pun ingin seperti teman yang lain, sangat ingin mulai menghafal Juz 1. Apakah Ia pernah merasa bosan? Tentu saja!  Apakah dia pernah mengeluh? Tak diragukan lagi, entah berapa kali ia mengeluh.
 
“Ustadzah, macam mana nih hafalan, susah betul dihafal”
“Aku sudah capek, Ustadzah”
“Capek betul aku ulangi ustadzah, tapi tidak mau lancar”
(Dengan logat khas-nya)

Seperti inilah kerap kali keluhan-keluahan yang disampaikan dengan berbagai ekspresi. Kadang disampaikan dengan biasa saja, tapi kadang juga dengan perasaan jengkel pada hafalannya yang tidak mau ‘dihafal’. Kadang pula dia meneteskan air mata untuk itu. Tapi untuk setiap keluhan, kesedihan, bahkan kemarahannya, izinkan saya lima-sepuluh menit memberikan nasihat/motivasi/ceramah/ataupun bujukan, maka dia akan membaik. Sebuah kesyukuran karena dia mudah paham dengan penjelasan-penjelasan yang diberikan.

Dia bahkan pernah bilang saat saya menasihatinya, “Ustadzah tak paham, capek betul saya menghafal. Ustadzah enak, tidak capek karena hanya mendengarkan. Kita ini yang capek karena harus menghafal.” Komentar yang kusambut dengan tawa sambil memikirkan jawaban terbaik untuk menanggapi argumennya kali ini. Selalu ada banyak tanya dan komentar darinya, dan saya pun sudah terbiasa untuk itu.

Jika dia pernah bosan dan sering mengeluh, pernahkah ia berpikir untuk menyerah?

Inilah yang tidak dimilikinya. Meski dia sering mengeluh, hafalannya sudah tertinggal, dan menyatakan rasa iri-nya terhadap hafalan teman-temannya, tapi ia tak pernah sekalipun mengatakan ingin menyerah. Dia tidak menyerah meski harus berjalan lambat untuk mencapai tujuannya. Saya bisa melihat keseriusannya ingin menghafal Al-Qur’an meski saat itu belum tahu alasan pastinya. 

Perjalanan menghafalnya masih seumur jagung. Tapi ada banyak sekali cerita yang tercipta. Cerita yang mungkin terlihat sederhana dan biasa saja, tapi sangat membekas buat saya pribadi sebagai pembina halaqohnya. Menemaninya menghafal setiap hari membuatku paham betul bagaimana perjuangan dia menyelesaikan Juz 30. Itu sungguh bukan hal yang mudah. Sesuatu yang diperoleh dengan usaha.

Suatu waktu, untuk pertama kali ia bercerita panjang lebar tentang keluarganya. Sebuah cerita yang mengharukan. Baru kali itu saya melihat si ceria Fika menangis sesegukan. Terutama saat bercerita tentang Ibu-nya. Seseorang yang menjadi alasan mengapa dia harus menghafal Al-Qur’an.

---------------------

Dan hari ini, setelah menyetorkan hafalan Qs.Al-Qari’ah.

“Dengarkan Ustadzah, hari ini saya bahagia sekali karena hafalan saya sudah Qs. At-Takatsur. Saya sudah hafal sampai selesai karena ini sudah saya muroja’ah di TPA, jadi saya akan khatam ustadzah” ucapnya dengan senyum bahagia.


Dengan semangat dia mulai menghafal surah demi surah hingga Qs.An-Naas.

Selamat, Nak. Kalau kau sangat bahagia hari ini, Ustadzah pun sangat bahagia melihatmu berhasil menyelesaikan Juz 30. Teman-teman kalian pun turut bahagia dan mengucapkan selamat untuk itu. Mereka paham betapa sulitnya kau sampai pada titik ini. Tapi karena pantang menyerah akhirnya kau berhasil.

Terima kasih karena telah menjadi pembawa keceriaan di halaqoh kita. Kau sangat pandai membuat kami tertawa. Kau bahkan menghafal segala yang pernah ustadzah nasihatkan dan menyampaikannya lagi kepada teman-teman. Meski mereka lebih sering tertawa, tapi begitulah kehangatan yang ada dalam halaqoh kita. Ada banyak hal yang bisa kutuliskan tentangmu, tapi mungkin di lain waktu.

------------------

Menyelesaikan Juz 30 hanyalah sebuah awal dari perjalanan menghafalmu. Masih ada 29 Juz lagi yang harus kau lewati. Semoga Allah memberikan kesempatan, keistiqamahan, kesabaran, dan kemudahan untuk bisa menyelesaikan hingga 30 Juz. Allaahumma aamiin..

Sebuah catatan kecil di hari bahagia Fika,

Aqilah El-Hafizhah

1 komentar:

Ainayya Ayska mengatakan...

Seriusan. Nangis Ade bacanya.
Semangat untuk Fika.
Ade macam Fika yang hafalannya selalu... Huft.

#nangis dipojokan.