Kamis, 16 April 2015

SAAT IA MELUPAKANKU


Entah harus kumulai dari mana kisah ini. Kisah tentang dia yang telah menjadi sahabat sekaligus telah kuanggap adik. Yah... sampai saat ini aku masih menganggapnya demikian meski aku harus menerima kenyataan pahit bahwa saat ini, dia tak lagi mengenalku seperti dulu. Tepatnya, dia telah melupakanku, melupakan segala memori yang pernah kami lewati bersamm.

oh... aku salah! sebenarnya dia tidak melupakanku, dia hanya kehilangan memorinya karena sebuah sebab, yang berarti dia melupakan segalanya. Menyakitkan memang! Saat orang yang dianggap sangat dekat harus melupakan kita. Sangat menyakitkan saat bertemu dengannya dan kita menjadi orang asing baginya, bahkan tak lagi mengenal wajah dan nama kita. Rasanya ingin menangis bahwa semua ini nyata. Kadang aku berfikir kalau ini hanya cerita fiktif seperti cerita-cerita sinetron, tapi sekuat apapun aku berfikir demikian, ini benar-banar nyata,

Dia yang selalu sangat ceria setiap kali berjumpa dengan semua orang yang dikenalnya, menyapa semua orang dengan wajah ceria kini hanya diam tanpa sapaan sedikitpun, dia benar-benar lupa kalau ia pernah mengenalnya.

Dia yang kukenal sebagai sosok yang selalu semangat dan antusias dalam segala hal kini lebih sering bingung tentang apa yang akan dilakukannya.

Dia yang selalu datang padaku dengan segudang cerita dan informasi, bercerita dengan semangat, kini entah kapan dia akan kembali datang menemuiku seperti dulu.

Dia yang selalu memujiku dengan pujian berlebihan dan selalu menganggapku hebat. Masih kuingat sebuah sms yang ia kirim untukku, sms yang panjang dan berisi pujian darinya. Katanya, baginya aku adalah motivator terhebat melebihi seorang Mario Teguh, yang apabila aku bicara maka tersihirlah dunia. Aku tersenyum saat membacanya sekaligus menangis karena sms panjang itu aku tahu bagaimana dia menilaiku berlebihan... "aku masih jauh dari semua itu, dek!".

Dia... yang tanpa ragu mencerikan segala hal tetang dirinya dan rahasianya karena dia selalu percaya padaku. Dia, yang sekaligus menjadi figur dan penyemangatku untuk bersama menjadi seorang penulis. Aku kembali menulis setelah mengenalnya, karena aku belajar banyak darinya.

Aku selalu bangga padanya, seperti dia yang selalu bangga padaku.

Persahabatan ini berawal sejak kami menjadi teman sekamar. Di sanalah kami saling mengenal dan akhirnya saling percaya. Persahabatan yang terbentuk karena proses kebersamaan.

 Dan sekarang...dia melupakanku. Persahabatan itu entah bagaimana nasibnya karena saat ini aku dan yang lainnya sama di matanya. Awal bertemu kembali dengannya aku berusaha bersikap seperti dulu, bahwa kami sangat akrab, tapi saat melihatnya bingung, aku sadar bahwa dia tak lagi mengenalku seperti dulu. Diam-diam aku menangis, sangat menyedihkan saat mengetahui fakta menyakitkan ini.

Hubungan ini harus dimulai dari awal, tapi kesempatan untuk kembali seperti dulu sangat sulit karena kami tak lagi tinggal bersama. Kami hanya bertemu sekali-sekali dan pertemuan itu sangat biasa, benar-banar aneh rasanya.

Meski aku bersyukur karena bukan aku yang lupa padanya. Bagiku, akan lebih menyakitkan jika aku harus melupakan orang yang sangat berharga. Biarlah dia yang melupakanku karena aku tak sanggup melupakannya, semua ini menjadi kenangan buatku, aku hanya berharap kebaikan salalu padanya. Semoga dia akan kembali menemukan orang -orang yang bisa ia percaya. Orang yang tentu akan menggantikan tempatku.

Tentangmu yang kini
telah 'berbeda'

Aqilah El-Hafizhah

Tidak ada komentar: