Selasa, 01 Maret 2016

Merajut Harapan Bersama ODOP (2)

Part 2: Kutemukan Jalannya

Membawa kekecewaan sepulang workshop kepenulisan bukan berarti membuatku berhenti dan berputus asa untuk menulis. Aku tetap menulis seperti biasa, beberapa cerpen yang selalu kutulis di buku tulis khusus. Saat itu belum ada laptop. Meski tetap menganggap menulis, menulis, dan menulis itu bukan sebuah tips, entah mengapa, itu terus saja terngiang tanpa kurencanakan.

Saat mulai bosan menulis cerpen, kuputuskan untuk mencoba menulis novel. Bukan bosan karna sudah banyak menghasilkan cerpen, hanya ada beberapa cerpen yang sempat kutulis dan aku sudah bosan, aneh kan? Maka kumulai menulis novel sedikit demi sedikit, sangat perlahan. Jujur, aku nulis hanya saat semangat saja. Tak terasa buku tulis yang kugunakan untuk novel sampai pada halaman terakhir, maka kulanjutkan ke buku kedua. Sementara menulis di buku baru, buku pertama dibaca teman-temanku secara bergilir. Buku pertama itu terus berpindah dari tangan ke tangan hingga tak keliatan lagi rimbanya. Buku itu hilang dan tak ada yang bertanggung jawab atas kehilangannya, hilang saat jalan ceritanya masih jauh dari kata finish. Kurelakan saja, dan berhenti melanjutkan buku keduanya, buat apa?

Dan itu adalah saat terakhir aku menulis. Aku berhenti menulis, benar-benar vakum dari dunia tulis-menulis. Lima tahun,inilah waktu yang kulewati tanpa tulisan, tapi hobi bacaku tak pernah berhenti. Aku tak lagi berpikir banyak tentang ‘Menjadi penulis’.

Perkuliahan, dunia baru yang mempertemukanku dengan sosok-sosok baru. Salah satunya, seorang teman yang kembali membawaku ke dunia ‘menulis’. Bersamanya aku mulai menulis, bahkan mengajakku bergabung dengan salah satu organisasi kepenulisan. Harapannya, aku bisa konsisten untuk menulis, nyatanya? Sama saja, aku masih selalu malas menulis, ini penyakit. Aku menulis hanya saat ada tugas menulis dari organisasi. Hanya itu.

Subuh sekali, saat adikku yang juga senang menulis memperkenalkan ODOP kepadaku. Awalnya aku cuek tak peduli, karena aku sudah bergabung di sebuah organisasi kepenulisan dan juga sebuah grup menulis online. Tapi aku terusik juga melihat adikku yang begitu antusias. Kumintalah dia menjelaskan lebih detail tentang ODOP, tapi dia hanya mengirimiku sebuah link, blognya Bang Syaiha. Kubaca dengan teliti sambil berpikir, mempertimbanhkan.

Akhirnya, pagi itu kuputuskan untuk bergabung. Apa yang membuatku yakin dengan program ini? Pertama, aku sadar bahwa jika serius ingin meningkatkan kemampuan menulisku, caranya Menulis, menulis, dan menulis tiada henti. Membiasakan diri untuk menulis apa saja yang terlintas di pikiran. Dan ini tentu tidak mudah, hanya orang-orang konsisten yang bisa melewatinya. Ini adalah tantangan!

Kedua, aku yang malas menulis, ini adalah penyakit, kekurangan yang harus ditutupi. Dan cara menutupinya adalah, dengan mengikuti program yang ketat dengan aturan. Aku mungkin malas, tapi aku tipe orang yang peduli peraturan (mulai ge-er). Aku berpengalaman mengikuti kelas-kelas online dengan peraturan super ketat, dan berhasil menjadi bagian yang lulus sampai akhir, meski harus melewatinya dengan terseok-seok, wuiiih…. Pede bingits. Belajar dari pengalaman, maka rasanya aku telah menemukan jalan untuk bisa konsisten menulis, ikut program ODOP.

Maka bagiku, ODOP adalah tempatku merajut kembali harapan untuk menjadi seorang penulis. aku berharap ODOP bisa menjadi jalan untukku konsisten menulis. Tentu ada banyak tantangan kedepannya, dan aku tak tahu sampai kapan aku  bisa bertahan. Tapi besar harapku, bisa menuntaskan program ini sampai akhir untuk menciptakan karakter baru dalam diriku, mampu konsisten menulis.

Bismillah… semoga kita semua bisa bertahan hingga akhir, melewati semua tantangan hingga mencapai tujuan yang kita harapkan. Nun, demi pena.

Aqilah El-Hafizhah

ODOP hari ke-2

7 komentar:

Ainayya Ayska mengatakan...

Masa Mts dulu, novel karangan Nadilla juga sering jadi buku bergilir, kak. Hihihii manakala sudah pada selesai baca, kelanjutan daripada cerita sudah ditagih. Seneng rasanya kalau ada banyak yang baca gitu. Selain nambah termotivasi, terkadang dapat dukungan yang membangun. Hihihii pinginnya dibaca ama guru bhs Indonesia juga biar sekalian dapat koreksi. Ahihi #ngarep

Sasmitha A. Lia mengatakan...

Aamiinn... semangattt mbak..^_^

Ai-Raa mengatakan...

adikku yang juga senang menulis memperkenalkan ODOP kepadaku-Tapi aku terusik juga melihat adikku yang begitu antusias"Selamat berjuang sist:)
Semoga bisa sama2 konsisten,,Terimakasih selalu membersamaiku, dan membuatku semangatt setiap kali kamu memuji tulisankun yang menurutku masih jauh dibawahmu..*duh,,malah baper:')

Aqilah El-Hafizhah mengatakan...

nadilla: tuntaskan novelx, smoga bisa segera tembus media..

semangat jg mbak sasmita.. :)

aira, haha.. believe yourself sista, u can be better than your sister :)

Ainayya Ayska mengatakan...

Aamiin..., semoga bisa. Bismillah...
Makasih,,kaka... hehehe

Aqilah El-Hafizhah mengatakan...

Ada kebahagiaan tersendiri saat ada yg mau membaca tulisan kita.

Aqilah El-Hafizhah mengatakan...

Ada kebahagiaan tersendiri saat ada yg mau membaca tulisan kita.