Sebuah ungkapan yang menjadi
salah satu alasan kuat mengapa aku menulis. Ungkapan yang menjadi prinsip,
tujuan, dan cita-cita hidupku sejak pertama kali aku mendengarnya. Ungkapan
dari sosok termulian dan penuh keteladanan, dialah orang berpengaruh nomor satu
dalam catatan sejaran. Rasulullah, Muhammad sallaahu alaihi wasallam.
Aku menulis, berharap lewat
tulisan ini aku bisa berbagi manfaat meski tak semua orang mengambil manfaat
dari apa yang mereka baca. Semua kembali pada tujuan pembaca. Tapi aku yakin,
tak ada sesuatu yang diniatkan kebaikan kecuali akan menghasilkan kebaikan
pula.
Menulis hanyalah nama lain dari bicara.
Jika berkata pada orang dengan hati, penuh ketulusan, maka yang mendengarpun
akan menerimanya dengan hati. Begitu pun dengan menulis. Jika menulis dengan
hati, tulus ingin berbagi kebaikan. Maka seperti itu pulalah pembaca kelak akan
merespon tulisan itu. Setidaknya, ini yang aku yakini.
Aku menulis, seperti ribuan orang
lainnya juga sedang menulis, entah di mana dan siapa mereka. Hanya saja, tiap
kami punya niat dan tujuan masing-masing dalam menulis. Tujuan yang boleh jadi
sama dan mungkin juga berbeda.
Dari begitu banyak tulisan yang
tercipta, entah berapa orang yang akan menjadi pembaca setiap tulisan itu.
Mungkin ada yang sekali melepas tulisan, ratusan bahkan ribuan orang akan
berebut antusias untuk segera membaca tulisannya. Bahkan sejak jauh hari atau
tiap saat senantiasa menunggu dan berharap sang penulis idolanya segera
membagikan tulisan baru. Tapi tak semua
tulisan bernasib sama. Tidak menutup kemungkinan, ada tulisan yang hanya akan
dibaca oleh sang pemilik tulisan itu sendiri. Begitulah, ada banyak kemungkinan
untuk nasib sebuah tulisan.
Seandainya nasib tulisan kita
seperti yang kugambarkan terakhir, apa yang akan kita lakukan? Jika tulisan
kita hanya dibaca oleh kita sendiri. Tak seorangpun berminat untuk membacanya.
Tulisan di blog sepi pengunjung bahkan tak punya pengunjung, apa lagi follower.
Status di fb pun bernasib sama, tak menuai satupun jempol ‘like’, bahkan
di semua sosmed yang kita punya, seolah tak ada yang berminat membaca tulisan
kita. Pun penerbit buku dan media cetak lainnya, sama tak berminatnya untuk
menerbitkan tulisan kita. Jika demikian, apa yang akan kita lakukan? Bagaimana
perasaan kita?
Sedih? Kecewa? Lalu menyerah dan
memilih berhenti menulis?
Atau tetap tersenyum dan teus menulis?
Berharap kelak akan ada yang membacanya.
Sulit dibayangkan. Tapi
percayalah, ada tulisan yang bernasib seperti ini. Lantas sikap kita seperti
apa, inilah yang terpenting. Sepintas mungkin dengan tegas kita akan memilih
sikap kedua. Bertahan dan tetap menulis. Tapi aku tak seyakin itu jika kita
benar-benar dalam situasi itu.
Sikap kita pada situasi seperti
ini ditentukan pada jawaban atas pertanyaan, ‘mengapa aku menulis?’ Jawablah!
Maka akan ada sedikit bayangan dan kemungkinan tentang sikap kita.
Jika alasan menulis itu untuk menjadi
penulis hebat dan terkenal, mungkin saja kita akan berhenti saat tak ada
penerbit yang bersedia mencetak tulisan kita. Jika tujuan kita menulis di blog
agar banyak yang membaca tulisan itu, mungkin juga akan bernasib sama, berhenti
saat menyadari tulisan kita tidak diminati dan blog kita sepi pengunjung. Jika
tulisan di fb mengharapkan jempol ‘like’ dari teman-teman facebook, saat
tersadar jarang bahkan tak ada yang member jempol, sangat mungkin kita akan
berhenti menulis. Begitulah, ada banyak sekali peluang yang bisa membuat seseorang
yang awalnya begitu bersemangat menulis tiba-tiba memutuskan untuk berhenti.
Minimal mulai merasa malas dan bosan karena sebab tadi ataupun sebab lainnya.
Kecuali jika kita benar-benar punya alasan terbaik untuk menulis.
Yah, alasan terbaik. Alasan
terbaik adalah alasan yang tak akan pernah membuat kita berhenti menulis.
Misal, Bang Syaiha bilang ‘menulislah untuk keabadian’ jika ini adalah salah
satu alasan Bang Syaiha menulis, coba tanyakan padanya, akankah ia berhenti
menulis? Kurasa jawabannya, TIDAK! Meskipun tak ada yang membaca tulisannya,
beliau akan tetap menulis karena bukan itu tujuan utamanya. Tapi mencipta
keabadian.
Bagaimana denganku? Sudah
kukatakan di awal, aku hanya ingin menebar manfaat semampuku. Jika kuanggap
menulis adalah salah satu caranya, itulah yang kulakukan. Sekalipun blog ini
tak punya pengunjung. Trus, gimana bisa memberi manfaat kalo gak ada pembaca?
Aku pun tak tahu, aku hanya yakin bahwa ini salah satu cara yang bisa
kulakukan. Selama aku yakin telah menulis kebaikan dalam blog ini, yang
kuniatkan untuk berbagi, maka tugasku cukup. Urusan ini biar diselesaikan
oleh-Nya, sang pengendali kehidupan.
Percayalah, kebaikan hanya akan
dibalas kebaikan. Ini janji pasti, cobalah buka QS. Ar-Rahman: 60. Sebuah janji
pasti sebagai balasan bagi orang yang berbuat baik. Selalu ada sebab dan akibat
dari semua yang terjadi dalam hidup ini, termasuk soal menulis. Mungkin bukan
sekarang, juga bukan orang yang kita kenal yang akan membaca tulisan kita. Jika
yang ditulis adalah sebuah kebaikan dan kebenaran, tentu akan ada orang-orang
yang senang mencari kebaikan dan kebenaran, maka semoga tulisan itu sampai pada
mereka, sang perindu kebaikan dan pencari kebenaran.
Milikilah alasan terbaik untuk
menulis. Alasan yang tak akan membuat kita berhenti menulis. Pegang erat ia dan
jangan biarkan lepas. Dan satu hal yang tak boleh dilupakan, pastikan yang kita
tulis adalah tulisan yang baik-baik. Jangan tulis hal-hal buruk, tinggalkan
jejak baik saja. Paling tidak, jika tulisan kita tak dibaca orang lain,
pastikan ia layak untuk menjadi warisan bagi anak cucu kita, generasi kita. J
Saat ini, mungkin aku belum bisa
menghasilkan tulisan penuh manfaat seperti harapanku. Tapi biarlah aku terus
melatih diri, semoga suatu hari nanti aku bisa seperti yang kuharapkan. Temanku
bilang, ‘Menjadi orang penting itu baik, tapi menjadi orang baik jauh lebih
penting lagi’. Bermanfaatlah! Ada banyak cara untuk menjadi makhluk bermanfaat,
tulisan hanya salah satunya, BUKAN satu-satunya.
Terima kasih Tere Liye yang telah banyak mengajarkanku banyak hal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar