Kamis, 10 Maret 2016

Mengapa Aku Menulis?


"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat terhadap manusia lainnya"


Sebuah ungkapan yang menjadi salah satu alasan kuat mengapa aku menulis. Ungkapan yang menjadi prinsip, tujuan, dan cita-cita hidupku sejak pertama kali aku mendengarnya. Ungkapan dari sosok termulian dan penuh keteladanan, dialah orang berpengaruh nomor satu dalam catatan sejaran. Rasulullah, Muhammad sallaahu alaihi wasallam.

Aku menulis, berharap lewat tulisan ini aku bisa berbagi manfaat meski tak semua orang mengambil manfaat dari apa yang mereka baca. Semua kembali pada tujuan pembaca. Tapi aku yakin, tak ada sesuatu yang diniatkan kebaikan kecuali akan menghasilkan kebaikan pula.

Menulis hanyalah nama lain dari bicara. Jika berkata pada orang dengan hati, penuh ketulusan, maka yang mendengarpun akan menerimanya dengan hati. Begitu pun dengan menulis. Jika menulis dengan hati, tulus ingin berbagi kebaikan. Maka seperti itu pulalah pembaca kelak akan merespon tulisan itu. Setidaknya, ini yang aku yakini.

Aku menulis, seperti ribuan orang lainnya juga sedang menulis, entah di mana dan siapa mereka. Hanya saja, tiap kami punya niat dan tujuan masing-masing dalam menulis. Tujuan yang boleh jadi sama dan mungkin juga berbeda.

Dari begitu banyak tulisan yang tercipta, entah berapa orang yang akan menjadi pembaca setiap tulisan itu. Mungkin ada yang sekali melepas tulisan, ratusan bahkan ribuan orang akan berebut antusias untuk segera membaca tulisannya. Bahkan sejak jauh hari atau tiap saat senantiasa menunggu dan berharap sang penulis idolanya segera membagikan tulisan baru.  Tapi tak semua tulisan bernasib sama. Tidak menutup kemungkinan, ada tulisan yang hanya akan dibaca oleh sang pemilik tulisan itu sendiri. Begitulah, ada banyak kemungkinan untuk nasib sebuah tulisan.

Seandainya nasib tulisan kita seperti yang kugambarkan terakhir, apa yang akan kita lakukan? Jika tulisan kita hanya dibaca oleh kita sendiri. Tak seorangpun berminat untuk membacanya. Tulisan di blog sepi pengunjung bahkan tak punya pengunjung, apa lagi follower. Status di fb pun bernasib sama, tak menuai satupun jempol ‘like’, bahkan di semua sosmed yang kita punya, seolah tak ada yang berminat membaca tulisan kita. Pun penerbit buku dan media cetak lainnya, sama tak berminatnya untuk menerbitkan tulisan kita. Jika demikian, apa yang akan kita lakukan? Bagaimana perasaan kita?

Sedih? Kecewa? Lalu menyerah dan memilih berhenti menulis?

Atau tetap tersenyum dan teus menulis? Berharap kelak akan ada yang membacanya.

Sulit dibayangkan. Tapi percayalah, ada tulisan yang bernasib seperti ini. Lantas sikap kita seperti apa, inilah yang terpenting. Sepintas mungkin dengan tegas kita akan memilih sikap kedua. Bertahan dan tetap menulis. Tapi aku tak seyakin itu jika kita benar-benar dalam situasi itu.

Sikap kita pada situasi seperti ini ditentukan pada jawaban atas pertanyaan, ‘mengapa aku menulis?’ Jawablah! Maka akan ada sedikit bayangan dan kemungkinan tentang sikap kita.

Jika alasan menulis itu untuk menjadi penulis hebat dan terkenal, mungkin saja kita akan berhenti saat tak ada penerbit yang bersedia mencetak tulisan kita. Jika tujuan kita menulis di blog agar banyak yang membaca tulisan itu, mungkin juga akan bernasib sama, berhenti saat menyadari tulisan kita tidak diminati dan blog kita sepi pengunjung. Jika tulisan di fb mengharapkan jempol ‘like’ dari teman-teman facebook, saat tersadar jarang bahkan tak ada yang member jempol, sangat mungkin kita akan berhenti menulis. Begitulah, ada banyak sekali peluang yang bisa membuat seseorang yang awalnya begitu bersemangat menulis tiba-tiba memutuskan untuk berhenti. Minimal mulai merasa malas dan bosan karena sebab tadi ataupun sebab lainnya. Kecuali jika kita benar-benar punya alasan terbaik untuk menulis.

Yah, alasan terbaik. Alasan terbaik adalah alasan yang tak akan pernah membuat kita berhenti menulis. Misal, Bang Syaiha bilang ‘menulislah untuk keabadian’ jika ini adalah salah satu alasan Bang Syaiha menulis, coba tanyakan padanya, akankah ia berhenti menulis? Kurasa jawabannya, TIDAK! Meskipun tak ada yang membaca tulisannya, beliau akan tetap menulis karena bukan itu tujuan utamanya. Tapi mencipta keabadian.

Bagaimana denganku? Sudah kukatakan di awal, aku hanya ingin menebar manfaat semampuku. Jika kuanggap menulis adalah salah satu caranya, itulah yang kulakukan. Sekalipun blog ini tak punya pengunjung. Trus, gimana bisa memberi manfaat kalo gak ada pembaca? Aku pun tak tahu, aku hanya yakin bahwa ini salah satu cara yang bisa kulakukan. Selama aku yakin telah menulis kebaikan dalam blog ini, yang kuniatkan untuk berbagi, maka tugasku cukup. Urusan ini biar diselesaikan oleh-Nya, sang pengendali kehidupan.

Percayalah, kebaikan hanya akan dibalas kebaikan. Ini janji pasti, cobalah buka QS. Ar-Rahman: 60. Sebuah janji pasti sebagai balasan bagi orang yang berbuat baik. Selalu ada sebab dan akibat dari semua yang terjadi dalam hidup ini, termasuk soal menulis. Mungkin bukan sekarang, juga bukan orang yang kita kenal yang akan membaca tulisan kita. Jika yang ditulis adalah sebuah kebaikan dan kebenaran, tentu akan ada orang-orang yang senang mencari kebaikan dan kebenaran, maka semoga tulisan itu sampai pada mereka, sang perindu kebaikan dan pencari kebenaran.

Milikilah alasan terbaik untuk menulis. Alasan yang tak akan membuat kita berhenti menulis. Pegang erat ia dan jangan biarkan lepas. Dan satu hal yang tak boleh dilupakan, pastikan yang kita tulis adalah tulisan yang baik-baik. Jangan tulis hal-hal buruk, tinggalkan jejak baik saja. Paling tidak, jika tulisan kita tak dibaca orang lain, pastikan ia layak untuk menjadi warisan bagi anak cucu kita, generasi kita. J

Saat ini, mungkin aku belum bisa menghasilkan tulisan penuh manfaat seperti harapanku. Tapi biarlah aku terus melatih diri, semoga suatu hari nanti aku bisa seperti yang kuharapkan. Temanku bilang, ‘Menjadi orang penting itu baik, tapi menjadi orang baik jauh lebih penting lagi’. Bermanfaatlah! Ada banyak cara untuk menjadi makhluk bermanfaat, tulisan hanya salah satunya, BUKAN satu-satunya.

Terima kasih Tere Liye yang telah banyak mengajarkanku banyak hal. 

 Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost
Pekan ke-2: Hari ketiga

Tidak ada komentar: