Kamis, 31 Maret 2016

Waktu Yang Tak Pernah Cukup


Saat ini perkuliahanku sudah semester akhir. Kalau flashback semester-semester yang telah lalu, ada satu kebiasaan buruk yang masih kupertahankan hingga saat ini. Kebiasaan yang membuat waktu terasa tak pernah cukup. Sepanjang kuliah, aku selalu dikejar deadline. Sering mengerjakan tugas kuliah saat sudah kepepet.

Persoalannya, saat akan mengerjakan tugas seringkali terbentur hal-hal yang sulit, akhirnya menutup kembali dan menyimpannya. Hingga deadline pengumpulan tugas tinggal sehari, barulah sibuk semalaman, mengorbankan waktu istirahat untuk menyelesaikan tugas. Herannya, jika sudah kepepet begini barulah semua ide muncul begitu saja. Tiba-tiba paham bagaimana cara mengerjakan, padahal sebelumnya terasa sangat sulit. Giliran otak encer penuh inspirasi, malah waktu yang terasa tak cukup untuk mengerjakan semuanya.

Aku sama sekali bukan tipe yang cuek sama tugas kuliah. Dikejar deadline bukan berarti aku tak peduli sama tugas-tugas itu. Aku hanya menunda pengerjaannya, tapi sepanjang waktu otakku sibuk memikirkan cara terbaik menyelesaikannya. Seperti inilah aku melewati semester demi semester, terasa waktu tak pernah cukup untuk menyelesaikan semuanya.

Dan hal ini lagi-lagi terulang. Menyusun skripsi sebagai tugas akhir terasa berat sekali. Harusnya sambil menyelesaikan penelitian aku mulai menyusun skripsiku, memperbaiki segala kekurangannya agar nanti tinggal memasukkan hasil penelitian. Nyatanya, saat berhadapan sama laptop, aku hanya menatap lama kalimat demi kalimat sampai akhirnya menyerah dan berpikir untuk mengerjakannya lain waktu. Pola yang sama masih terulang, padahal aku sadar betul kalau aku tak punya banyak waktu jika ingin lulus lebih cepat.

Jika kebiasaan ini terus kupertahankan, pada akhirnya akan sama, waktu terasa tak pernah cukup untuk menyelesaikannya. Aku banyak merenung tentang ini. Renungan yang membawaku pada kesimpulan bahwa sebenarnya waktu untuk menyelesaikan semua tugas-tugasku selalu cukup jika aku tak memutuskan untuk menunda pengerjaannya. Berapapun banyaknya waktu yang diberikan tak akan pernah cukup untukku jika aku tetap teguh dengan sifat menunda-nunda sampai mendekati deadline. Tak seharusnya aku menyerah saat merasa kesulitan. Betapapun itu terasa sulit, aku tak boleh menyerah dan menundanya lagi dan lagi. Aku harus mencari jalan keluar, beginilah harusnya.

Tulisanku sebelumnya, Sang Pencuri Waktu dan Paksa Diri, sungguh mereka kutulis untuk diriku sendiri yang sangat membutuhkannya saat itu dan sekarang, bahkan untuk kedepannya. Setidaknya dengan tulisan itu aku bisa menyadarkan diriku tentang sikap yang harusnya kuambil. Siapa lagi yang akan membuat diri ini kuat kalau bukan diriku sendiri? Semua  yang telah kutuliskan adalah pengingat untukku. Aku adalah pembaca setia untuk tulisanku, melalui tulisan bisa kuungkapkan segala hal yang sejatinya aku butuhkan. Termasuk untuk waktu yang tak pernah cukup, inilah saat untuk membuatnya cukup. Paksa Diri.. dan jangan terjebak lagi olehnya, Sang Pencuri Waktu.

Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost

Pekan Ke-5: Hari Keempat

1 komentar:

Sasmitha A. Lia mengatakan...

sepertinya aku juga harus memaksa diriku.. huhuhu
*tipe pengguna power of kepepet juga :D