Selasa, 22 Maret 2016

Nasihat Singkat Dari Ibu.



Sudah menjadi kebiasaanku selalu bercerita pada Ibu segala kesulitan yang kuhadapi. Tujuannya agar mendapat nasihat bijak dari beliau dan minta didoakan selalu. Meski kutahu bahwa seorang Ibu tak pernah berhenti mendo’akan anak-anaknya tanpa diminta sekalipun. Tapi dengan bercerita, Ibu bisa tahu do’a seperti apa yang sangat kubutuhkan saat itu.

Aku begitu yakin dengan ijabahnya do’a orangtua, terlebih seorang Ibu. Tiap kali salaman sambil mencium tangannya saat pamit, tak pernah lupa kuselipkan kalimat ‘Do’akan saya, Bu’. Selama kuliah kan tidak tinggal di rumah, pulang sekali dua kali saja dalam sebulan. Begitu juga setiap kali menelpon dengannya. Tak pernah lupa kututup dengan kalimat ini.

Suatu ketika, saat Ibu yang menelponku. Tepat saat aku benar-benar pusing dengan urusan proposal yang tak kunjung kelar. Merupakan kebiasaan Ibu bertanya kabar dan apa yang kulakukan saat menelpon, maka kujelaskan situasi yang membuatku pusing. Kulepaskan semua uneg-unegku hingga pada kalimat “Bu, saya pusing sekali dengan semua ini”. Spontan Ibu memotong ucapanku dengan suaranya yang tenang dan selalu lembut, “Eh.. kenapa kamu pusing? Kamu punya Allah, hanya orang yang tak punya Tuhan yang boleh pusing” Ibu terus melanjutkan nasihatnya, mengingatkanku. Kalimat spontan ini sangat ‘ngena’ sama aku. Kalimat yang hingga saat ini selalu terngiang. Apalagi saat aku benar-benar merasa pusing dengan segala problematika yang kuhadapi.

Memikirkan nasihat ini semakin menyadarkanku bahwa kita memang tak punya alasan untuk pusing. Seberat apapun masalah atau kesulitan yang kita hadapi. Bukankah kita punya Tuhan yang maha segalanya? Zat yang berkuasa terhadap semua yang terjadi di muka bumi ini. Dialah Allah yang segalanya terjadi atas izin-Nya, sesuai taqdir yang telah tertulis di kitab Lauhul Mahfuz. Lalu, apa yang membuat kita pusing?

Kata Ibu,”Jangan pusing terhadap sesuatu yang sudah ‘pasti’, tugas kita hanya berusaha. Kalau kamu sudah mengusahakan dengan maksimal, berdo’alah dan tawakkal. Peranmu suduh cukup. Jadi tak usah pusing, apapun keputusan-Nya, maka terimalah.”

Tidak semua orang bisa mengamalkan nasihat berharga ini. Butuh keyakinan untuk bisa bersikap tenang seperti yang Ibu nasihatkan. Keyakinan terhadap keputusan Allah, inilah rukun iman yang kelima, beriman kepada takdir baik dan buruk. Jika kita punya pondasi iman yang kuat, maka nasihat ini akan terasa mudah dan tentu kita tak akan pusing terhadap apapun.




‘Kamu punya Allah, kenapa kamu pusing?’ aku selalu tersenyum mengingat nasihat ini. Ia seolah menjadi alarm untukku kembali mengingat bahwa tak ada yang perlu kita pusingi jika Allah bersama kita. Maka, perbaiki hubungan dengan-Nya, mendekatlah hingga bisa meraih cinta-Nya. Sungguh, tak ada kejelekan yang akan menimpa orang-orang yang dicintai Allah. Penderitaan sekalipun akan menjadi nikmat bagi orang yang mencintai dan dicintai-Nya. Itulah hakikat cinta sejati.

Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost
pekan ke-4: Hari Kedua

2 komentar:

Na mengatakan...

Bijak..saya suka nasehatnya

Ai-Raa mengatakan...

suddenly miss mom:"(