Tema pekan ini lumayan lama
membuatku berpikir. Ada banyak sekali pengalaman yang berkesan dalam perjalanan
hidupku. Memilih yang paling berkesan sama sulitnya saat harus memilih buku
terbaik yang pernah kubaca. Tapi okelah.. saya akan bercerita satu di
antaranya.
Salah satu pengalaman yang berkesan
adalah saat MTQ Mahasiswa Nasional XIII tahun 2013 lalu. Saya turut menjadi
salah satu peserta yang mewakili kafilah untuk kampusku, UMI Makassar. Ada seratus
lebih universitas se-nusantara yang turut berpartisipasi dalam kegiatan ini,
entah berapa tepatnya. Tak semua universitas mengutus perwakilan, tak tahu apa
alasannya. Dari Makassar sendiri yang ikut hanya tiga kampus, UNHAS, UIN, dan
UMI. Tapi kampus-kampus besar rata-rata berpartisipasi.
| Pelepasan kafilah UMI; Sehari sebelum keberangkatan. |
Kami menjadi salah satu kafilah
terbesar saat itu, kafilah yang mengutus perwakilan hampir untuk semua cabang
lomba. Jumlah kami 24. Kampus lain, ada yang
mengutus hanya lebih sepuluh, ada enam, bahkan ada yang henya mengutus dua
orang perwakilan. Beragam. Dan yang terbanyak tentu tuan rumahnya sendiri. UNAND
(Universitas Andalas) dan UNP (Universitas Negeri Padang) menjadi tuan rumah
kali ini.
Sebuah perjalanan yang cukup
lama, sekitar delapan hari. Juga perjalanan yang lumayan jauh, dari kota
Makassar, tempatku menetap-menuju
Padang, Sumatera Barat. Dari Makassar ke Padang harus transit dulu di Jakarta. yang
bikin repot kalau bongkar muatan, harus fokus sama barang-barang, jangan sampai ada yang
ketukar atau kelupaan.
Perjalanan jauh dan melelahkan,
tapi terbayar dengan perasaan bahagia setelah tiba di kota Padang. Dua orang CO
menyambut kami di bandara, mereka siap untuk direpotkan oleh kami selama di
Padang. Tentunya mereka sudah dilatih untuk itu. Ada bus yang siap membawa kami
ke tempat menginap. Kegiatan ini
dilaksanakan di dua tempat, UNAND dan UNP. Jadi kami dibagi dua sesuai cabang
lomba yang diikuti.
Saya bersyukur ditempatkan di
Universitas Andalas. Kampus yang lumayan jauh dari keramaian kota. Perjalanan dari
bandara ke Andalas terasa sangat lama. Pikiranku sibuk menebak kampus seperti
apa yang kami tuju. Sepanjang jalan terlihat rumah-rumah dengan desain Rumah
Gadang, rumah adat sumatera barat. Rumah-rumah tradisional dengan atap
melengkung dan runcing. Bukan hanya rumah, perkantoran, bank, bahkan masjid
semua didesain dengan ikon rumah gadang. Aku sangat menikmati perjalanan ini. Dan
aku sangat suka dengan desain rumah dan semua bangunannya. Atap melengkung dan
runcing.
![]() |
| Desain bangunan yang ditemui sepanjang jalan. |
Saya langsung suka dengan kampus
ini, udaranya sangat sejuk karena di bangun di daerah perbukitan. Meski jauh
dari kota, kampus ini sangat besar dengan bangunan yang tak lepas dari kesan
budayanya. Semua fakultas didesain dengan atap khas rumah adat Minangkabau. Aku
suka sekali dengan desainnya. Sangat menarik melihat bangunan dengan model
seragam dan ikon yang tak pernah lepas dari nilai budaya.
![]() |
| Suasana di Universitas Andalas |
Setelah pembukaan, kompetisi
dimulai sesuai jadwal masing-masing lomba. Kami sibuk dengan berbagai
persiapan. Bertemu dengan teman baru dengan latar belakang daerah yang berbeda
terasa menarik. Kami berkenalan, bertukar cerita dan banyak hal lainnya kami
lakukan di sini. Beberapa universitas baru kudengar namanya. Pastinya, banyak
hal menarik di sini.
Ada sekelumit kegiatan yang tak
mungkin kuceritakan di sini, butuh berlembar-lembar untuk menulis berbagai
pengalaman menarik dan luar biasa ini. Singkatnya, setelah semua cabang lomba
selesai tibalah di malam puncak acara, penutupan. Penutupan diadakan di stadion
Agus Salim. Ada banyak pertunjukan malam ini, salah satunya tarian daerah (aku
lupa namanya : ) dan tercatat sebagai tarian terpanjang. Beberapa juara
berhasil kami raih, dan kami menjadi juara umum ketiga.
| Foto di Malam Penutupan: Lapangan Agus Salim |
Hari terakhir kami habiskan
dengan berkunjung ke tempat-tempat bersejarah. Ada banyak tempat yang kami
kunjungi, dan yang terjauh adalah perjalanan ke kota Bukittinggi. Kota kelahiran
salah satu proklamator RI, Mohammad Hatta. Perjalanan ke kota ini lumayan
panjang, ada banyak tempat yang kami lewati dan singgahi. Kunjungan ke Bukittinggi membuatku belajar lebih banyak tentang sejarah kota ini.
![]() |
| Padang Panjang: Perjalanan ke Bukittinggi |
![]() |
| Jam Gadang |
![]() |
| Jembatan Siti Nurbaya: Kami sempatkan singga sekedar untuk melihat-lihat :) |
Aku jadi teringat firman Allah, sebuah perintah untuk berjalan-jalan di muka bumi untuk melihat keagungan ciptaan-Nya. Inilah makna sebenarnya dari setiap perjalanan. Subhanallah..
Kurasa cukup saja. Ah.. ada
banyak cerita yang tak bisa kutuliskan semua di sini. cukup menjadi kenangan
dalam memori. Ada perasaan yang sulit kugambarkan saat meninggalkan kota
Padang. Kuharap suatu saat masih bisa
berkunjung ke sana. Akhirnya, sekitar pukul 24.00 WITA kami tiba di kota daeng.
Padang sudah jauh tertinggal, tapi setiap kenangan di sana masih sangat
membekas dalam memori.
Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost
Pekan ke-4 : Hari
kelima





7 komentar:
Wih keren mba Muallimah, tempat-tempatnya juga indah...
duh jadi pengen ke sana T.T
Kereeennn... mbak mualimah ikut lomba cabang apa?
Ka, bawa Nadilla ke bukit tinggi, jam gadang, juga jembatan siti nur baya dong... :D keren...
Masha Allahhh... indah nian tempatnya
keren mbak bisa masuk kafilah MTQ
Mungkin itu tari Galombang, Mbak. Emang panjang banget. Saya waktu ikut nari bisa sampai sejam kayaknya. :D
Oh ya, teman-teman ODOP ayo ke Sumbar. ^^
Posting Komentar