Rabu, 30 Maret 2016

Kegiatan Hari ini

Bangun tidur aku langsung menyalakan laptop. Semalam aku tidur cepat karena kelelahan, belum sempat untuk menyelesaikan materi pembelajaran untuk penelitianku hari ini. Butuh persiapan yang matang sebelum masuk kelas jika tak mau bingung di kelas. Bukan hanya materi pembelajaran yang harus disiapkan, lebih dari itu, juga harus mempersiapkan mental dan pengetahuan. Guru harus belajar sebelum mengajar agar menguasai apa yang akan diajarkan.

Kumandang azan subuh sahut-menyahut, sebuah panggilan kemenangan di subuh hari. Kuhentikan sejenak kegiatanku. Ada beberapa rutinitas yang harus kutunaikan.

Pukul tujuh lewat sekian, aku kembali melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda. Semua penghuni rumah sudah larut dalam kesibukan harian masing-masing, menyisakan aku yang masih sibuk menyelesaikan segala persiapan mengajar.

Pukul 08.55!

Mataku sejenak melirik jam hp tepat di sampingku. Tersisa 25 menit lagi! Aku masih harus sarapan, menyetrika dan mandi. Kubereskan kertas-kertas yang masih berantakan dengan gerakan kilat sementara kepalaku sibuk memperhitungkan setiap menit yang masih tersisa. Semoga tidak telat! Bisik hatiku penuh harap.

Pukul 08.27. Terlambat!

Bagaimana bisa aku telat di hari pertama mengajar? Ya Allaah.. tolong aku, do’aku dalam hati. Aku melangkah secepat yang kubisa, tak lagi peduli setiap kejadian kecil yang ada di sepanjang jalan.

Hanya butuh kurang dari lima menit untuk tiba di sekolah. Rumahku memang dekat dari SPIDI (Sekolah Putri Darul Istiqamah). Kusempatkan singgah di kantor SMA untuk konfirmasi jadwal dan kehadiranku.

“Assalamu’alaikum” ucapku lirih sambil mendorong pintu. Kak Etty terlihat sibuk di depan computer, beliau bagian tata usaha untuk SMA.
Sir Umar, ada?” tanyaku sesopan mungkin.
“Dia lagi ke rumah Ustadz Musdi, ada urusan katanya”
“Ini sudah jadwalnya Bahasa Inggris untuk kelas sepuluh kan, Kak?” tanyaku basa-basi. Tangannya sigap menarik jadwal pelajaran, mencari kelas sepuluh.
“Owh.. iya, silakan dimulai kelasnya”

Aku bergegas keluar setelah mengucap terima kasih dan salam. Kembali dengan langkah terburu-buru menuju kelas sepuluh. Para siswa sedang asyik berdiskusi saat aku tiba di kelas. Berlarian mengatur duduknya saat menyadari kehadiranku.

Proses Belajar Berkelompok
Ini pertama kali aku memberikan pelajaran, sebelumnya aku hanya memberikan test awal untuk mengetahui pemahaman dasar mereka tentang materi yang akan kuteliti, Recount Text. Dan hari ini, dengan penuh percaya diri aku memulai pengalaman mengajarku. Kelas berjalan sesuai rencana. Anak-anak sedang diskusi kelompok saat pintu kelas diketuk. Dari balik pintu muncul Kak Etty. Beliau tidak datang sendiri, di belakangnya menyusul seorang lagi.

Deg! Pak Alvian.

Aku teringat pertama kali bertemu beliau. Selaku direktur SPIDI, beliau mewawancaraiku tentang segala hal terkait penelitianku untuk mendapat izin meneliti. Hampir setengah jam beliau menyerangku dengan berbagai pertanyaan, dan aku berusaha menangkisnya dengan jawaban terbaik yang bisa kuberi. Wawancara yang menurutku lebih berat dibanding saat aku seminar proposal. Jujur, Speaking beliau sempat membuatku tak percaya diri. Bagaimana tidak, beliau lulusan universitas di Eropa.

May I take your time about ten minutes?” Aku kembali tersadar.
Yes, please Sir..” ucapku sedikit grogi sambil tersenyum.

Beliau sekedar berjalan-jalan ke semua kelas untuk memberikan sedikit motivasi, termasuk kelas yang kuajar. Motivasi yang luar biasa, membuatku ikut terhanyut hingga sepuluh menit itu terasa begitu singkat. Di akhir beliau bertanya kepada siswa tentang cara mengajarku. Entah tulus atau tidak, tapi siswaku memberi penilaian positive tentangku.

“InsyaAllah.. she will be your English teacher for the next year. Right?” Ia berbalik ke arahku saat mengucap right?,berarti pertanyaan ditujukan padaku. Aku kaget, masih bingung dengan pernyataan dan pertanyaan tiba-tibanya, dengan spontan kujawab “I don’t know.” Bisa kupastikan ekspresi wajahku pastilah seperti orang kebingungan.

Yes, insyaAllah you will” Pernyataan ini seolah untuk menjawab kebingunganku yang tergambar jelas di wajah. Beliau akhirnya pamit setelah mempersilakanku melanjutkan pembelajaran. Aku melanjutkan pelajaran, tapi sebagian pikiranku masih berkelana pada kejadian barusan.

***

Setelah mengajar aku langsung ke masjid yang merupakan tempat pusat kegiatan  santri yang memilih focus pada program penghafalan Al-Qur-an. Kakak iparku dan seorang teman merupakan Pembina tahfizh. Pembina lainnya pun kenalanku, karena dulu aku juga bagian dari mereka. Di sinilah aku sering melebur diri bersama mereka saat semua urusanku selesai.

Kuceritakan kejadian barusan pada mereka. Dan aku baru paham tentang pembicaraan hari-hari sebelumnya. Saat Kak Cica tiba-tiba bertanya “Kalau kamu ditawari ngajar di sini, mau nggak?” dan hanya kujawab “Entahlah.”

Suasana Kantin SPIDI
Kepulanganku sedikit tertunda karena hujan, dan aku tak membawa payung. Aku memilih berteduh di foodcuort. Beberapa siswa masih jajan, memanfaatkan beberapa menit lagi sebelum kantin tutup. Dari kantin kutatap kembali sekolah ini, kampus yang menyimpan beribu kenangan.


Akankah aku kembali ke sini? bukan sebagai santri, tapi seorang guru. Entahlah!

Selasa, 29 Maret 2016

Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost
Pekan Ke-5: Hari Kedua



Tidak ada komentar: