Bangun tidur aku langsung
menyalakan laptop. Semalam aku tidur cepat karena kelelahan, belum sempat untuk
menyelesaikan materi pembelajaran untuk penelitianku hari ini. Butuh persiapan
yang matang sebelum masuk kelas jika tak mau bingung di kelas. Bukan hanya
materi pembelajaran yang harus disiapkan, lebih dari itu, juga harus
mempersiapkan mental dan pengetahuan. Guru harus belajar sebelum mengajar agar
menguasai apa yang akan diajarkan.
Kumandang azan subuh
sahut-menyahut, sebuah panggilan kemenangan di subuh hari. Kuhentikan sejenak
kegiatanku. Ada beberapa rutinitas yang harus kutunaikan.
Pukul tujuh lewat sekian, aku
kembali melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda. Semua penghuni rumah sudah
larut dalam kesibukan harian masing-masing, menyisakan aku yang masih sibuk
menyelesaikan segala persiapan mengajar.
Pukul 08.55!
Mataku sejenak melirik jam hp
tepat di sampingku. Tersisa 25 menit lagi! Aku masih harus sarapan, menyetrika
dan mandi. Kubereskan kertas-kertas yang masih berantakan dengan gerakan kilat
sementara kepalaku sibuk memperhitungkan setiap menit yang masih tersisa. Semoga
tidak telat! Bisik hatiku penuh harap.
Pukul 08.27. Terlambat!
Bagaimana bisa aku telat di
hari pertama mengajar? Ya Allaah.. tolong aku, do’aku dalam hati. Aku
melangkah secepat yang kubisa, tak lagi peduli setiap kejadian kecil yang ada
di sepanjang jalan.
Hanya butuh kurang dari lima
menit untuk tiba di sekolah. Rumahku memang dekat dari SPIDI (Sekolah Putri
Darul Istiqamah). Kusempatkan singgah di kantor SMA untuk konfirmasi jadwal dan
kehadiranku.
“Assalamu’alaikum” ucapku
lirih sambil mendorong pintu. Kak Etty terlihat sibuk di depan computer, beliau
bagian tata usaha untuk SMA.
“Sir Umar, ada?” tanyaku
sesopan mungkin.
“Dia lagi ke rumah Ustadz
Musdi, ada urusan katanya”
“Ini sudah jadwalnya Bahasa
Inggris untuk kelas sepuluh kan, Kak?” tanyaku basa-basi. Tangannya sigap
menarik jadwal pelajaran, mencari kelas sepuluh.
“Owh.. iya, silakan dimulai
kelasnya”
Aku bergegas keluar setelah
mengucap terima kasih dan salam. Kembali dengan langkah terburu-buru menuju
kelas sepuluh. Para siswa sedang asyik berdiskusi saat aku tiba di kelas.
Berlarian mengatur duduknya saat menyadari kehadiranku.
Ini pertama kali aku memberikan
pelajaran, sebelumnya aku hanya memberikan test awal untuk mengetahui pemahaman
dasar mereka tentang materi yang akan kuteliti, Recount Text. Dan hari
ini, dengan penuh percaya diri aku memulai pengalaman mengajarku. Kelas
berjalan sesuai rencana. Anak-anak sedang diskusi kelompok saat pintu kelas
diketuk. Dari balik pintu muncul Kak Etty. Beliau tidak datang sendiri, di
belakangnya menyusul seorang lagi.
Deg! Pak Alvian.
Aku teringat pertama kali bertemu
beliau. Selaku direktur SPIDI, beliau mewawancaraiku tentang segala hal terkait
penelitianku untuk mendapat izin meneliti. Hampir setengah jam beliau
menyerangku dengan berbagai pertanyaan, dan aku berusaha menangkisnya dengan
jawaban terbaik yang bisa kuberi. Wawancara yang menurutku lebih berat dibanding
saat aku seminar proposal. Jujur, Speaking beliau sempat membuatku tak
percaya diri. Bagaimana tidak, beliau lulusan universitas di Eropa.
“May I take your time about
ten minutes?” Aku kembali tersadar.
“Yes, please Sir..” ucapku
sedikit grogi sambil tersenyum.
Beliau sekedar berjalan-jalan ke
semua kelas untuk memberikan sedikit motivasi, termasuk kelas yang kuajar.
Motivasi yang luar biasa, membuatku ikut terhanyut hingga sepuluh menit itu
terasa begitu singkat. Di akhir beliau bertanya kepada siswa tentang cara
mengajarku. Entah tulus atau tidak, tapi siswaku memberi penilaian positive
tentangku.
“InsyaAllah.. she will be your
English teacher for the next year. Right?” Ia berbalik ke arahku saat
mengucap right?,berarti pertanyaan ditujukan padaku. Aku kaget, masih
bingung dengan pernyataan dan pertanyaan tiba-tibanya, dengan spontan kujawab “I
don’t know.” Bisa kupastikan ekspresi wajahku pastilah seperti orang
kebingungan.
“Yes, insyaAllah you will”
Pernyataan ini seolah untuk menjawab kebingunganku yang tergambar jelas di
wajah. Beliau akhirnya pamit setelah mempersilakanku melanjutkan pembelajaran.
Aku melanjutkan pelajaran, tapi sebagian pikiranku masih berkelana pada
kejadian barusan.
***
Setelah mengajar aku langsung ke
masjid yang merupakan tempat pusat kegiatan
santri yang memilih focus pada program penghafalan Al-Qur-an. Kakak
iparku dan seorang teman merupakan Pembina tahfizh. Pembina lainnya pun
kenalanku, karena dulu aku juga bagian dari mereka. Di sinilah aku sering melebur
diri bersama mereka saat semua urusanku selesai.
Kuceritakan kejadian barusan pada
mereka. Dan aku baru paham tentang pembicaraan hari-hari sebelumnya. Saat Kak
Cica tiba-tiba bertanya “Kalau kamu ditawari ngajar di sini, mau nggak?” dan
hanya kujawab “Entahlah.”
![]() |
| Suasana Kantin SPIDI |
Kepulanganku sedikit tertunda
karena hujan, dan aku tak membawa payung. Aku memilih berteduh di foodcuort.
Beberapa siswa masih jajan, memanfaatkan beberapa menit lagi sebelum kantin
tutup. Dari kantin kutatap kembali sekolah ini, kampus yang menyimpan beribu
kenangan.
Akankah aku kembali ke sini? bukan sebagai santri, tapi seorang guru. Entahlah!
Akankah aku kembali ke sini? bukan sebagai santri, tapi seorang guru. Entahlah!
Selasa, 29 Maret 2016
Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost
Pekan Ke-5: Hari Kedua



Tidak ada komentar:
Posting Komentar