Saat aku memutuskan untuk menunda wisuda, rasanya begitu yakin dengan pilihan itu.
Kupikir, itu akan menjadi jeda untukku belajar lagi. Membuat persiapan yang mantap untuk hasil yang kuharapkan bisa membuatku puas. Agar aku tak merasa minder sebagai 'sarjana pendidikan bahasa inggris'. Yah, seperti itulah yang kufikirkan, keputusan yang kurasa aku begitu yakin dengannya. Itu menjelang pelaksanaan KKN.
Sampai KKN berakhir, aku masih yakin dengan pilihan ini. Tapi sayang, tak banyak yang setuju dengan pilihan ini. Beberapa komentar 'bertentangan' mulai kudengar, 'kita tidak tau apa yang akan terjadi kedepan, selagi bisa dikejar, sebaiknya dikejar'. Komentar lain, 'Lebih cepat lebih baik, kenapa mesti ditunda?' Lain lagi, 'kan bisa, sambil mengejar yang cepat, juga belajar serius', dan beberapa komentar lainnya.
Keyakinanku mulai meredup, tidak sekokoh dulu lagi. Perlahan membuatku berpikir kembali, 'apa sebaiknya yang aku lakukan?'
Seperti itulah seterusnya, sampai aku kembali sibuk dengan tugas-tugas perkuliahan yang datang bagaikan hujan, keroyokan. Seolah tak memberi jeda untuk istirahat sehabis KKN. Aku tak ada waktu mengurus proposal, lebih fokus mengerjakan tugas-tugas kuliah.
Begadang kembali menjadi kebiasaan, dan buruknya, kebiasaan mengeluhku ikut kambuh. Tapi tak semua seperti aku, beberapa teman juga sibuk mengurus proposal. Aku tak tahu bagaimana mereka bisa mengatur waktu antara mengerjakan tugas dan proposal. Mungkin aku berbeda dengan mereka.
Setelah ujian semester berakhir, barulah aku mulai sibuk mengerjakan proposalku. Sambil mengurus lelaksanaan PPL yang juga dalam waktu dekat. Benar-benar pusing saat itu, kesibukan yang datang bersamaan. Terlihat hanya ada dua kegiatan saja, proposal dan PPL. Tapi sayang, aku juga sibuk dengan beberapa kegiatan belajar online yg kuikuti. Ada lebih 20 grup whatsapp yang kuikuti, beberapa diantarax menggunakan sistem tugas dan DO bagi yang tidak aktif, jadi menuntut keseriusan. Di samping itu, aku ada kegiatan yang paling tidak mungkin untuk diabaikan, menghafal Al-Qur'an. Seperti inilah yang harus kulewati.
Tiba saatnya pendaftaran seminar proposal. Ini pendaftaran untuk yang kedua bagi angkatanku, beberapa teman sudah mendaftar. Aku masih belum siap untuk itu, karna aku masih lebih sibuk memikirkan persiapan pembelajaran untuk PPL-ku. Meski proposal tetap kukerjakan sedikit-sedikit. Dan saat itu, keyakinanku masih setengah-setengah untuk lulus segera.
Hari itu, beberapa teman kelasku seminar proposal. Aku tak menyaksikannya, tapi sangat bahagia saat melihat foto mereka dengan seragam hitam putih. Seragam khas saat ujian. Entahlah, foto itu diambil sebelum atau setelah seminar. Yang pasti saat itu adalah perasaanku. Aku bahagia melihat mereka, dan tiba-tiba aku juga ingin segera menyusul mereka. Sepertinya, saat itu, aku bulat ingin segera lulus, menyelesaikan perkuliahan, melupakan keputusan yang sempat begitu kuat kupegang.
Aku punya semangat lebih setelah hari itu, mulai memperbanyak waktu untuk mengerjakan proposal. Sambil ngajar, juga banyak menghabiskan waktu dengan proposal, perlahan bertemu pembimbing, konsultasi.
Waktu semakin sempit, hari H semakin dekat. Perasaan ragu mulai datang perlahan, 'apa saya bisa meyelesaikannya?'. Ragu, tapi aku tetap berusaha, didekatku ada mereka, sahabat Muslimahku yang juga sedang berjuang untuk mengejar waktu seminar. Bersama mereka terasa lebih baik, setidaknya aku merasa lebih rilex, bisa tertawa dan bercanda bersaama saat lelah itu sudah dipuncak. Yah.. saat itu, aku tak pernah sendiri, selalu ada mereka bersamaku.
Bersambung..
Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost
Pekan ke-2: Hari keempat
1 komentar:
Posting Komentar