Jumat, 25 Maret 2016

Pengalaman Yang Mengesankan

Tema pekan ini lumayan lama membuatku berpikir. Ada banyak sekali pengalaman yang berkesan dalam perjalanan hidupku. Memilih yang paling berkesan sama sulitnya saat harus memilih buku terbaik yang pernah kubaca. Tapi okelah.. saya akan bercerita satu di antaranya.

Salah satu pengalaman yang berkesan adalah saat MTQ Mahasiswa Nasional XIII tahun 2013 lalu. Saya turut menjadi salah satu peserta yang mewakili kafilah untuk kampusku, UMI Makassar. Ada seratus lebih universitas se-nusantara yang turut berpartisipasi dalam kegiatan ini, entah berapa tepatnya. Tak semua universitas mengutus perwakilan, tak tahu apa alasannya. Dari Makassar sendiri yang ikut hanya tiga kampus, UNHAS, UIN, dan UMI. Tapi kampus-kampus besar rata-rata berpartisipasi.

Pelepasan kafilah UMI; Sehari sebelum keberangkatan.
Kami menjadi salah satu kafilah terbesar saat itu, kafilah yang mengutus perwakilan hampir untuk semua cabang lomba. Jumlah kami 24. Kampus lain,  ada yang mengutus hanya lebih sepuluh, ada enam, bahkan ada yang henya mengutus dua orang perwakilan. Beragam. Dan yang terbanyak tentu tuan rumahnya sendiri. UNAND (Universitas Andalas) dan UNP (Universitas Negeri Padang) menjadi tuan rumah kali ini.

Sebuah perjalanan yang cukup lama, sekitar delapan hari. Juga perjalanan yang lumayan jauh, dari kota Makassar, tempatku  menetap-menuju Padang, Sumatera Barat. Dari Makassar ke Padang harus transit dulu di Jakarta. yang bikin repot kalau bongkar muatan, harus fokus  sama barang-barang, jangan sampai ada yang ketukar atau kelupaan.

Perjalanan jauh dan melelahkan, tapi terbayar dengan perasaan bahagia setelah tiba di kota Padang. Dua orang CO menyambut kami di bandara, mereka siap untuk direpotkan oleh kami selama di Padang. Tentunya mereka sudah dilatih untuk itu. Ada bus yang siap membawa kami ke tempat menginap.  Kegiatan ini dilaksanakan di dua tempat, UNAND dan UNP. Jadi kami dibagi dua sesuai cabang lomba yang diikuti.

Saya bersyukur ditempatkan di Universitas Andalas. Kampus yang lumayan jauh dari keramaian kota. Perjalanan dari bandara ke Andalas terasa sangat lama. Pikiranku sibuk menebak kampus seperti apa yang kami tuju. Sepanjang jalan terlihat rumah-rumah dengan desain Rumah Gadang, rumah adat sumatera barat. Rumah-rumah tradisional dengan atap melengkung dan runcing. Bukan hanya rumah, perkantoran, bank, bahkan masjid semua didesain dengan ikon rumah gadang. Aku sangat menikmati perjalanan ini. Dan aku sangat suka dengan desain rumah dan semua bangunannya. Atap melengkung dan runcing.

Desain bangunan yang ditemui sepanjang jalan.
Saya langsung suka dengan kampus ini, udaranya sangat sejuk karena di bangun di daerah perbukitan. Meski jauh dari kota, kampus ini sangat besar dengan bangunan yang tak lepas dari kesan budayanya. Semua fakultas didesain dengan atap khas rumah adat Minangkabau. Aku suka sekali dengan desainnya. Sangat menarik melihat bangunan dengan model seragam dan ikon yang tak pernah lepas dari nilai budaya.
Suasana di Universitas Andalas
Setelah pembukaan, kompetisi dimulai sesuai jadwal masing-masing lomba. Kami sibuk dengan berbagai persiapan. Bertemu dengan teman baru dengan latar belakang daerah yang berbeda terasa menarik. Kami berkenalan, bertukar cerita dan banyak hal lainnya kami lakukan di sini. Beberapa universitas baru kudengar namanya. Pastinya, banyak hal menarik di sini.

Ada sekelumit kegiatan yang tak mungkin kuceritakan di sini, butuh berlembar-lembar untuk menulis berbagai pengalaman menarik dan luar biasa ini. Singkatnya, setelah semua cabang lomba selesai tibalah di malam puncak acara, penutupan. Penutupan diadakan di stadion Agus Salim. Ada banyak pertunjukan malam ini, salah satunya tarian daerah (aku lupa namanya : ) dan tercatat sebagai tarian terpanjang. Beberapa juara berhasil kami raih, dan kami menjadi juara umum ketiga.

Foto di Malam Penutupan: Lapangan Agus Salim
Hari terakhir kami habiskan dengan berkunjung ke tempat-tempat bersejarah. Ada banyak tempat yang kami kunjungi, dan yang terjauh adalah perjalanan ke kota Bukittinggi. Kota kelahiran salah satu proklamator RI, Mohammad Hatta. Perjalanan ke kota ini lumayan panjang, ada banyak tempat yang kami lewati dan singgahi. Kunjungan ke Bukittinggi membuatku belajar lebih banyak tentang sejarah kota ini.

Padang Panjang: Perjalanan ke Bukittinggi
Jam Gadang

Jembatan Siti Nurbaya: Kami sempatkan singga sekedar untuk melihat-lihat :)

Aku jadi teringat firman Allah, sebuah perintah untuk berjalan-jalan di muka bumi untuk melihat keagungan ciptaan-Nya. Inilah makna sebenarnya dari setiap perjalanan. Subhanallah..

Kurasa cukup saja. Ah.. ada banyak cerita yang tak bisa kutuliskan semua di sini. cukup menjadi kenangan dalam memori. Ada perasaan yang sulit kugambarkan saat meninggalkan kota Padang.  Kuharap suatu saat masih bisa berkunjung ke sana. Akhirnya, sekitar pukul 24.00 WITA kami tiba di kota daeng. Padang sudah jauh tertinggal, tapi setiap kenangan di sana masih sangat membekas dalam memori.


Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost

Pekan ke-4 : Hari kelima

7 komentar:

Unknown mengatakan...

Wih keren mba Muallimah, tempat-tempatnya juga indah...
duh jadi pengen ke sana T.T

Sasmitha A. Lia mengatakan...

Kereeennn... mbak mualimah ikut lomba cabang apa?

Ainayya Ayska mengatakan...

Ka, bawa Nadilla ke bukit tinggi, jam gadang, juga jembatan siti nur baya dong... :D keren...

Raida mengatakan...

Masha Allahhh... indah nian tempatnya

Wiwid Nurwidayati mengatakan...

keren mbak bisa masuk kafilah MTQ

Fika AJ mengatakan...

Mungkin itu tari Galombang, Mbak. Emang panjang banget. Saya waktu ikut nari bisa sampai sejam kayaknya. :D

Fika AJ mengatakan...

Oh ya, teman-teman ODOP ayo ke Sumbar. ^^