Sudah menjadi kebiasaanku selalu
bercerita pada Ibu segala kesulitan yang kuhadapi. Tujuannya agar mendapat nasihat
bijak dari beliau dan minta didoakan selalu. Meski kutahu bahwa seorang Ibu tak
pernah berhenti mendo’akan anak-anaknya tanpa diminta sekalipun. Tapi dengan
bercerita, Ibu bisa tahu do’a seperti apa yang sangat kubutuhkan saat itu.
Aku begitu yakin dengan ijabahnya
do’a orangtua, terlebih seorang Ibu. Tiap kali salaman sambil mencium tangannya
saat pamit, tak pernah lupa kuselipkan kalimat ‘Do’akan saya, Bu’. Selama kuliah
kan tidak tinggal di rumah, pulang sekali dua kali saja dalam sebulan. Begitu
juga setiap kali menelpon dengannya. Tak pernah lupa kututup dengan kalimat
ini.
Suatu ketika, saat Ibu yang
menelponku. Tepat saat aku benar-benar pusing dengan urusan proposal yang tak
kunjung kelar. Merupakan kebiasaan Ibu bertanya kabar dan apa yang kulakukan saat menelpon,
maka kujelaskan situasi yang membuatku pusing. Kulepaskan semua uneg-unegku
hingga pada kalimat “Bu, saya pusing sekali dengan semua ini”. Spontan Ibu memotong
ucapanku dengan suaranya yang tenang dan selalu lembut, “Eh.. kenapa kamu
pusing? Kamu punya Allah, hanya orang yang tak punya Tuhan yang boleh pusing”
Ibu terus melanjutkan nasihatnya, mengingatkanku. Kalimat spontan ini sangat
‘ngena’ sama aku. Kalimat yang hingga saat ini selalu terngiang. Apalagi saat
aku benar-benar merasa pusing dengan segala problematika yang kuhadapi.
Memikirkan nasihat ini semakin
menyadarkanku bahwa kita memang tak punya alasan untuk pusing. Seberat apapun
masalah atau kesulitan yang kita hadapi. Bukankah kita punya Tuhan yang maha
segalanya? Zat yang berkuasa terhadap semua yang terjadi di muka bumi ini. Dialah
Allah yang segalanya terjadi atas izin-Nya, sesuai taqdir yang telah tertulis
di kitab Lauhul Mahfuz. Lalu, apa yang membuat kita pusing?
Kata Ibu,”Jangan pusing terhadap
sesuatu yang sudah ‘pasti’, tugas kita hanya berusaha. Kalau kamu sudah
mengusahakan dengan maksimal, berdo’alah dan tawakkal. Peranmu suduh cukup. Jadi
tak usah pusing, apapun keputusan-Nya, maka terimalah.”
Tidak semua orang bisa
mengamalkan nasihat berharga ini. Butuh keyakinan untuk bisa bersikap tenang
seperti yang Ibu nasihatkan. Keyakinan terhadap keputusan Allah, inilah rukun
iman yang kelima, beriman kepada takdir baik dan buruk. Jika kita punya pondasi
iman yang kuat, maka nasihat ini akan terasa mudah dan tentu kita tak akan
pusing terhadap apapun.
‘Kamu punya Allah, kenapa kamu
pusing?’ aku selalu tersenyum mengingat nasihat ini. Ia seolah menjadi alarm
untukku kembali mengingat bahwa tak ada yang perlu kita pusingi jika Allah
bersama kita. Maka, perbaiki hubungan dengan-Nya, mendekatlah hingga bisa
meraih cinta-Nya. Sungguh, tak ada kejelekan yang akan menimpa orang-orang yang
dicintai Allah. Penderitaan sekalipun akan menjadi nikmat bagi orang yang
mencintai dan dicintai-Nya. Itulah hakikat cinta sejati.
Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost
pekan ke-4: Hari Kedua


2 komentar:
Bijak..saya suka nasehatnya
suddenly miss mom:"(
Posting Komentar