Kamis, 31 Maret 2016

Saat Diam Menjadi Pilihan



“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata baik atau diam (HR. Bukhari & Muslim)

Berapa banyak kata yang terlontar dari lisan kita dalam sehari? Adakah yang bisa menghitungnya? Kebanyakan kita tentu tak mampu menghitung jumlah kata yang telah terucap, okelah. Lalu, seberapa bermanfaatkah ucapan-ucapan kita yang tak terhitung itu? Adakah mengandung banyak kebaikah dan manfaat yang bisa menambah pundi-pundi pahala kita? ataukah justru menambah pundi-pundi dosa yang sudah tak terhitung?

Ah.. terlalu banyak tanya yang tak sanggup kujawab. Beginilah jika diri masih selalu abai pada nasihat-nasihat agama. Bukankah Rasulullah telah menasihatkan untuk cukup berucap yang baik-baik, dan jika tak mampu berucap yang baik maka diamlah. Inilah nasihat agama yang sering terabaikan. Sehingga tanpa sadar banyak yang terluka akibat permainan kata yang tak terkontrol.

Berpikirlah sebelum berucap. Apakah yang akan kita ucapkan ini akan membawa manfaat dan kebaikan atau justru akan menjadi dosa? Adakah yang akan tersakiti jika aku berucap demikian? Pertimbangkan segala kemungkinan sebelum kalimat itu terlontar. Sekali sudah terucap, maka sulit untuk memperbaikinya.

Mengontrol ucapan bukan perkara mudah. Seringkali ucapan itu terlontar dengan spontan, dan tersadar setelah ucapan itu terlanjur melukai orang lain. Karena itulah pentingnya membiasakan diri dengan ucapan yang baik. Jika sejak kecil kita hanya terbiasa dengan kata-kata yang baik, maka sulit bagi kita berucap yang buruk-buruk. Kembali pada pembiasaan.

Adakalanya diam adalah yang terbaik meski kita tahu segalanya. Diam adalah pilihan walau sebenarnya kita mampu mendebat, karena kita sadar bahwa ucapan kita tak akan bermanfaat. Maka bijaklah dalam berucap, paham kapan harus bicara dan kapan harus diam. Sebuah pepatah arab mengatakan:

“Barang siapa yang diam maka selamatlah ia”

Hal lain yang harus kita ingat, bahwa tulisan mengambil hukum ucapan. Maka berhati-hatilah saat harus menulis, apalagi di sosmed. Berpikirlah sebelum melepas sebuah status atau memberikan komentar, pikirkan baik dan buruknya. Jangan sampai tulisan kita memberi dampak negative.

Ketahuilah, dalam banyak situasi diam seringkali menjadi pilihan terbaik. Dengan diam, kita bisa selamat dari banyak kemungkinan buruk. Maka pandailah membaca situasi.

Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost

Pekan Ke-5: Hari Ketiga

2 komentar:

Fika AJ mengatakan...

Untunglah aku pendiam, Mbak.

Sekali sudah terucap, tidak bisa ditarik kembali.

Kalo soal menulis, mungkin harus berpikir matang-matang ya, Mbak. :D

Terima kasih telah mengingatkan.^^

Ainayya Ayska mengatakan...

Adakalanya kita harus diam juga berkata. Betul, kaka... kita harus pandai dalam membaca situasi.