Buku terbaik yang pernah saya
baca. Inilah tema tantangan untuk pekan ketiga di ODOP. Bukan hal mudah menentukan
buku terbaik yang pernah kubaca. Bagiku, tiap buku punya pesonanya
masing-masing dan meninggalkan kesan berbeda kepada setiap pembacanya. Lagi
pula, adakah ukuran paten sebagai tolak ukur menentukan predikat ‘terbaik’
untuk sebuah buku? Kurasa tidak, setiap orang bebas menentukan predikat itu
sesuai seleranya, bukan? Maka biarlah aku mengukurnya berdasarkan seberapa
besar kesan yang kurasakan dari buku yang kubaca.
Baiklah, pada tantangan ini aku
memilih menjadikan novel-novel dari novelis idolaku sebagai buku yang paling
mengesankan. Menyisakan bekas yang tak biasanya. Bukan tanpa alasan kukatakan
demikian. Inilah beberapa alasanku:
1. Aku membaca novel-novel ini tidak hanya sekali. Berulang kali.
Tanpa bosan. Biasanya, aku hanya membaca sekali untuk buku bergenre fiksi. Di
sekolahku, alias pesantrenku, ada banyak sekali novel. Bukan hal sulit jika
hanya ingin membaca novel. Tinggal berkunjung ke perpustakaan sekolah dan
silahkan memilih aneka judul yang tersedia, jumlahnya tidak sedikit. Dan juga, kebanyakan
santri memang hobi baca dan punya banyak koleksi novel. Selalu ada judul baru
yang menarik untuk dibaca, jadi tak ada waktu untuk membaca ulang novel yang
sudah ‘khatam’.
Lalu, mengapa
aku membaca novel-novel ini berulang kali? Inilah alasan pertama mengapa aku
menempatkan karya novelis idolaku sebagai ‘buku yang paling berkesan’. Kita
membaca buku yang sama secara berulang, apalagi kalau bukan karena buku itu
berkesan?
2. Untuk pertama kali aku mengubah ‘persepsiku’ tentang novel. Aku
penggila novel, tapi tak pernah terpikir untuk membelinya. Kurasa, novel hanya
sebagai penghibur, saat membacanya aku sangat senang dan terhibur. Setelah
selesai, maka hiburan itu akan tertinggal, terganti dengan cerita baru. Begitu seterusnya sampai aku sudah lupa
berapa banyak novel yang sudah kutamatkan dengan beragam ceritanya. Aku ‘hanya’
penikmat buku-buku fiksi, kecuali setelah membaca ‘sebuah buku’ non-fiksi.
Untuk pertama kali dan merupakan awal aku mulai membaca selain fiksi.
Tentu ada
pelajaran dari setiap novel yang kubaca. Tapi pesan yang ingin disampaikan
kebanyakan penulis tidak sampai ke aku. Yang tersisa hanya ‘sebuah cerita’ yang
menghibur. Inilah yang melahirkan ‘image’ bahwa novel hanyalah hiburan belaka.
Dan aku pun berprinsip untuk tidak akan pernah membeli buku bergenre fiksi.
Cukup sebagai pembaca, tapi tidak untuk memiliki.
Tapi,
novel-novel ini berbeda. Aku merasakan setiap pesan yang ingin disampaikan oleh
penulisnya. Sebuah cerita dengan pesan-pesan yang berhasil mengubah persepsiku
tentang ‘novel’. Kumpulan novel yang mengejariku pentingnya ‘pemahaman baik’.
Sebuah istilah yang sering digunakan penulis.
Untuk pertama
kali aku ingin membeli novel bahkan berniat untuk mengumpulkan semua novelnya.
Saat ini, aku punya beberapa novel dengan satu pengarang, Tere Liye. Belum
lengkap memang, tapi insyaAllah akan lengkap. Aamiin.
Novel-novel ini sukses
membuatku membelinya. Dan mulai berfikir bahwa ada novel yang layak untuk
dimiliki. Itulah novel yang mampu memberi pemahaman yang baik.
3. Aku penggila novel. Itu dulu, saat aku masih berstatus santri.
Setelah menamatkan Aliyahku (sederajat SMA), perlahan minatku membaca novel
berkurang. Aku lebih senang membaca buku-buku motivasi. Biasanya, saat melihat
novel aku langsung tertarik untuk membacanya. Tapi sekarang tidak lagi, saat
melihat novel yang biasa dibaca adikku, tak ada rasa antusias itu lagi.
Palingan hanya bertanya, ‘novel apa?’ setelah mendengar penjelasan singkat, aku
kembali cuek. Termasuk novel ‘AYAH’ karya Andrea Hirata yang lagi populer.
Melihatnya aku tak tergerak untuk melahapnya, tak lagi seperti dulu.
Mungkin aku
berhenti membaca novel, tapi tidak untuk novel dari Tere Liye. Satu-satunya
novel yang masih kubaca sampai saat ini. Bahkan senanntiasa menunggu buku
terbarunya. Mengapa? Entahlah, yang pasti ini cukup menjelaskan mengapa aku
menetapkannya sebagai ‘buku yang paling berkesan’.
Cukup tiga alasan ini untuk
menjelaskan betapa berkesan novel-novel ini. Tiap orang punya penilaian pribadi
pada setiap buku yang dibacanya. Dan ini hanya apa yang kurasakan, tentu
berbeda dengan yang lain. Pendapatku ini khusus untuk buku bergenre fiksi.
Bagaimana bisa buku fiksi disamakan dengan non-fiksi? Tentu berbeda, kan?
Aku suka semua novel Tere Liye.
Tapi beliau juga kerap kali bertanya di page nya tentang buku yang paling kita
suka dari buku-bukunya dan apa alasannya. Biasanya akan kujawab ‘Rembulan
Tenggelam di Wajahmu’ dengan beberapa alasan. :)
Aqilah
El-Hafizhah
#OneDayOnePage
Pekan
ke-3: Hari ketiga


1 komentar:
Waahh aku juga suka Tere Liye. Tapi belum sebanyak itu koleksinya hehe. Kereen ^^
Posting Komentar